Kutukan Dua Bahasa

Kutukan Dua Bahasa
Bab 37: Minta Izin


__ADS_3

Clara tidak henti-hentinya mengadukan kedua jari telunjuknya. Ia tengah resah memikirkan cara untuk meminta izin pada pamannya karena besok ia akan pergi ke puncak bersama Amber, Bian, Guy, dan Reynaldy.


"Kamu kenapa?" Tanya Nicolas yang heran melihat tingkah ponakannya yang tengah memikirkan sesuatu.


"Eh?" Clara tersentak kaget saat Nicolas tiba-tiba mengatakan sesuatu. Ia menggelengkan kepalanya pelan.


𝐴𝑑𝑒𝒉 ... 𝑔𝑒𝑒 𝑖𝑧𝑖𝑛 π‘”π‘Žπ‘˜ π‘¦π‘Ž? πΎπ‘Žπ‘™π‘Žπ‘’ π‘›π‘”π‘”π‘Žπ‘˜ 𝑖𝑧𝑖𝑛 π‘π‘Žπ‘ π‘‘π‘– π‘‘π‘–π‘šπ‘Žπ‘Ÿπ‘Žπ’‰π‘–π‘› ... Keluh Clara dalam hati.


"Mmm, besok Clara mau pergi quality time sama teman-teman." Kata Clara akhirnya. Ia melirik pamannya sekilas.


"Terus?" Ucap Nicolas tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun.


π½π‘Žπ‘›π‘”π‘Žπ‘› π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘’π‘ -π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘’π‘  π‘›π‘‘π‘Žπ‘Ÿ π‘˜π‘’π‘π‘™π‘Žπ‘π‘Žπ‘ π‘Žπ‘› π‘™π’‰π‘œ


"Rencana kami mau pergi ke puncak sekalian menjemput lukisan Clara yang ketinggalan."


Nicolas mengalihkan pandangannya ke arah Clara sekilas. "Gak akan angky izinkan meski kamu mau menjemput lukisan kamu!"


"Kenapa Ang?"


"Emangnya Angky perlu alasan untuk melarang kamu pergi?" Tanya Nicolas dengan santainya.


"Ya perlu lah, Ang. Masa' iya angky seenaknya saja melarang Angky pergi?"


"Kamu tahu kan kalau daerah Puncak itu berbahaya?" Nicolas mulai serius sekarang.


"Clara tahu kok kalau daerah Puncak agak berbahaya. Tapi kan Clara bisa jaga diri, Ang. Gak mungkin kan Clara mencelakai diri Clara sediri!"


Clarissa Rasandra Wiratama memiliki sifat keras kepala dari ibunya. Ia akan melakukan segala cara agar keinginannya terpenuhi.


"Kamu gak tahu bahaya apa yang ada di sana, Ra! Apalagi kamu perempuan!" Ucap Nicolas. Ia sengaja mengatakan hal itu tanpa sedikitpun melibatkan isu gender.


"Yang namanya bahaya nggak akan ada yang tahu kali, Ang! Tapi Clara pasti akan bisa menjaga diri. Clara kan kuat!" Clara tetap bersikukuh pada pendiriannya. Benar-benar keras kepala. Ia bahkan tidak terpengaruh saat Nicolas memanggilnya dengan kata RA.


"Disana itu dataran tinggi, Clara. Gimana kalau kamu teledor sedikit saja? Kamu tahu kan kalau akibatnya akan sangat fatal?"


"Angky jangan ngomong sembarangan, ya?" Clara memperingatkan sambil menatap tajam kearah pamannya yang masih fokus menyetir kendaraan.


"Memangnya kenapa? Angky kan cuma memperumakan. Dan kalau itu sampai terjadi, siapa yang akan bertanggung jawab?"


"Angky kenapa sih? Clara kan nggak pergi sendirian!" Clara mulai emosi. Begitu juga dengan pamannya. Mereka berdua sama-sama keras kepala sih. Makanya kalau ada sedikit saja perbedaan langsung terjadi perdebatan.

__ADS_1


"Ada atau tidak adanya teman yang bersama kamu masih tidak bisa menjamin bencana akan datang!" Ucap Nicolas memperingatkan, "Sekali-kali berpikirlah dewasa, Clara!"


******


Clara merapat bibir. Menatap Nicolas dengan tatapan tidak percaya. Ia memijit pelipisnya pening. Makin kesini makin rumit. Gimana cara meminta izinnya kalau pamannya saja dalam mode tidak mau dibantah. Sama dengan dirinya.


π»π‘Žπ’‰π’‰π’‰, π‘—π‘Žπ‘‘π‘– 𝑛𝑦𝑒𝑠𝑒𝑙 𝑔𝑒𝑒. πΆπ‘œπ‘π‘Ž π‘Žπ‘—π‘Ž π‘‘π‘Žπ‘‘π‘– π‘‘π‘–π‘‘π‘Žπ‘˜ π‘šπ‘’π‘šπ‘–π‘›π‘‘π‘Ž 𝑖𝑧𝑖𝑛 π‘ π‘Žπ‘šπ‘Ž π΄π‘›π‘”π‘˜π‘¦. πΎπ‘Žπ‘™π‘Žπ‘’ π‘ π‘’π‘˜π‘Žπ‘Ÿπ‘Žπ‘›π‘” π΄π‘›π‘”π‘˜π‘¦ π‘—π‘Žπ‘‘π‘– π‘‘π‘Žπ‘‘π‘– π‘˜π‘Žπ‘™π‘Žπ‘’ π‘–π‘Ž π‘šπ‘Žπ‘’ π‘π‘’π‘Ÿπ‘”π‘– π‘˜π‘’ π‘ƒπ‘’π‘›π‘π‘Žπ‘˜.


Nicolas menghela nafas setelag adu argument dengan ponakannya itu. Ia mengusap rambut Clara dengan penuh kasih sayang.


"Maaf. Angky sama sekali tidak berniat untuk berdebat dengan kamu. Apalagi sampai membentak." Ucapnya dengan nada penuh penyesalan.


Clara mendongak menatap wajah Angky-nya. "Jadi Angky ngizinin Clara pergi?" Tanya Clara dengan mata berbinar penuh harap.


Nicolas menatap Clara dengan tatapan tajam. Dengan segera ia menjauhkan tangannya dari kepala Clara. Sepertinya ponakannya ini menyalahkan artikan kebaikan dirinya.


"Jangan salah paham, Clara. Angky ngomong begitu bukan berarti Angky mengizinkan kamu pergi!"


Yahhh turun rahang. Baru saja pamannya itu menunjukkan kasih sayangnya yang jarang nampak, dan sekarang pamannya itu kembali ke sifat aslinya. Menyebalkan. Kalau begini mah lebih baik nggak usah ngomong.


Clara menggigit bibir bawahnya. Otaknya berpikir keras. Memikirkan bagaimana caranya supaya Nicolas memberinya izin untuk pergi ke Puncak. Oh ayolah, apa perlu Clara manipulasi otak pamannya itu? Tapi bagaimana caranya?


Mobil yang Clara tumpangi akhirnya sampai di depan rumahnya. Nicolas turun lebih dulu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Clara menatap sinis dari balik punggung pamannya. Ingin rasanya ia menendang pamannya dari belakang, tapi urung karena ia masih sayang nyawa. Coba saja kalau Daddy dan Mummy-nya ada di sini, pasti mereka berdua langsung mengizinkan Clara pergi.


Clara melangkahkan kakinya memasuki rumah. Ia duduk diruang keluarga dan menghidupkan televisi. Untung ia sudah memesan makanan untuk mereka makan malam ini. Jadi ia tidak perlu repot-repot masak.


Nicolas turun dari kamarnya setelah mengganti pakaiannya dengan pakaian kasual. Ia kemudian bergabung dengan Clara. Disana juga sudah ada Raymond.


"Dek, kakak pergi ke kamar dulu, ya?" Ucap Clara saat melihat pamannya berjalan kearah mereka berdua. Ia mengecup pipi Raymond dan berjalan menuju kamarnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


*****


"Besok kita semua jadi pergi, kan?" Tanya Clara.


"π½π‘Žπ‘‘π‘– π‘‘π‘œπ‘›π‘”!" Jawab seseorang dari seberang sana.


"Bagus, jam berapa kita pergi ke sana?"


"π½π‘Žπ‘š 𝑠𝑒𝑝𝑒𝑙𝑒𝒉 π‘π‘Žπ‘”π‘–. π‘‡π‘’π‘Ÿπ‘’π‘  π‘π‘’π‘ π‘œπ‘˜π‘›π‘¦π‘Ž π‘˜π‘–π‘‘π‘Ž π‘π‘’π‘™π‘Žπ‘›π‘”."

__ADS_1


"Aku besok bawa apa aja?"


"πΊπ‘Žπ‘˜ π‘π‘’π‘Ÿπ‘™π‘’ π‘π‘Žπ‘€π‘Ž π‘Žπ‘π‘Ž-π‘Žπ‘π‘Ž. πΎπ‘Žπ‘› π‘ π‘’π‘šπ‘’π‘Žπ‘›π‘¦π‘Ž π‘ π‘’π‘‘π‘Žπ’‰ π‘Žπ‘˜π‘’ π‘ π‘–π‘Žπ‘π‘–π‘›!"


"Terimakasih, terus rencananya mau kumpul dimana?"


"𝐷𝑖 π‘Ÿπ‘’π‘šπ‘Žπ’‰ π΅π‘–π‘Žπ‘› π‘ π‘Žπ‘—π‘Ž."


"Oke!"


Clara menutup panggilan telepon secara sepihak saat tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Menampilkan sosok Nicolas yang langsung masuk ke dalam kamarnya.


"Ngapain Angky masuk ke dalam kamar Clara?" Tanya Clara sambil menatap sinis kearah pamannya itu.


"Kamu marah sama Angky?" Nicolas balik bertanya dan sama sekali tidak mengindahkan pertanyaan sinis ponakannya.


"Kenapa? Kalau cuma mau tanya saja mending gak usah!" Ketus Clara.


Nicolas menghela nafas panjang. Menghadapi Clara yang seperti ini harus ekstra sabar dan gak boleh sampai emosi.


"Baiklah, kamu angky izinkan pergi asal jangan sampai ke Puncak. Kamu hanya boleh mengambil lukisan kamu dan pulang. Mengerti?" Kata Nicolas akhirnya, "dan berhubung besok Angky masih ada pekerjaan, biar Raymond yang menemani kamu!" Kata Nicolas akhirnya.


Gak apa-apa tuh, memberi izin kayak gitu? Bisa-bisa Clara nyasar sampai ke Puncak!


"Tapi Clara gak mau langsung pulang ke rumah! Clara mau nginep!" Ucap Clara. Ia juga sangat ahli dalam π‘šπ‘’π‘›π‘”π‘Žπ‘šπ‘π‘–π‘™ π‘˜π‘’π‘ π‘’π‘šπ‘π‘Žπ‘‘π‘Žπ‘› π‘‘π‘Žπ‘™π‘Žπ‘š π‘˜π‘’π‘ π‘’π‘šπ‘π‘–π‘‘π‘Žπ‘›.


"Oke. Tapi ingat Clara. Kamu tidak boleh pergi ke Puncak bareng teman-teman kamu, atau kamu akan tahu sendiri akibatnya!" Ancam Nicolas. Setelah mengatakan itu, Nicolas langsung keluar dari dalam kamar Clara untuk menemui Raymond. Ponakan laki-lakinya itu sedikit bisa diandalkan dalam menjaga kakaknya.


"Lah? Kok Ray harus ikut kak Clara mengambil lukisannya di villa sih, Ang?" Tanya Raymond. Besok weekend dan ia punya acaranya sendiri!!!


"Memangnya kamu mau menjaga rumah ini sendirian?"


"Kan ada kak Guy Ethan?!" Jawab Raymond dengan entengnya.


"Dia mau pergi sama teman-teman kakak kamu."


"Ray juga mau pergi sama teman-teman Ray!"


Nicolas menghela nafas jengah. Menurutnya baik Clara maupun Raymond tidak ada bedanya. tapi Clara lebih parah lagi.


"Raymond Sea, dengar. Kamu gak mau kakak kamu celaka gara-gara main ke Puncak, kan?" Raymond menggeleng, "kalau kamu gak mau kakak kamu sampai kenapa-kenapa maka kamu harus selalu mengawasi kakak kamu supaya dia tidak pergi ke tempat lain selain villa. Kamu mengerti?"

__ADS_1


__ADS_2