Kutukan Dua Bahasa

Kutukan Dua Bahasa
Bab 33: Mengeluh


__ADS_3

Pagi ini, Clara akhirnya berangkat ke kampus bareng dan sekarang ia tidak punya apa-apa lagi karena semua fasilitasnya disita. Berasa jadi gelandangan.


"Pagi Clara ku sayang!" Sapa Amber saat masuk ke dalam kelas dan duduk disebelah Clara seperti biasa.


"Pagi!" Jawab Clara lesu.


T"Ditekuk mulu tuh muka, memangnya ada apa?" Tanya Rey. Ia juga baru datang dan duduk ditempatnya yang bersebelahan dengan tempat duduk Guy.


"Hp sama fasilitas gue disita sama Angky!" Keluh Clara. Ia benar-benar kesal saat mengingat kejadian waktu Nicolas hendak menyita dompet, ATM, mobil, dan lain sebagainya. Beruntung handphonenya tidak ikut kesita.


"Lah, kok bisa?" Tanya Amber sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Aku ketahuan membawa kabur mobilnya dan pergi tanpa pamit." Jawab Clara jujur.


Rey sebenarnya hendak mengomeli sahabatnya itu, tapi tidak tega saat melihat wajah Clara yang muram.


"Mana sekarang gue jadi asisten Angky lagi!"


*****


Clara mencatat materi sambil menopang dagu dengan tangan kiri. Malas, lelah, dan bosan berkumpul menjadi satu.


"Dosennya keterlaluan banget, ya. Dia ngomong kita disuruh nyatet. Mana ngomongnya cepat lagi!" Keluh Amber.


Clara diam sambil terus mencatat materi. Gadis itu terlalu malas untuk menanggapi keluhan sahabatnya.


Saat jam istirahat, Clara, Rey, Amber, dan Guy duduk disalah satu meja kantin sambil mengerjakan tugas yang baru saja diberikan oleh dosen. Sengaja mereka mengerjakannya sekarang supaya gak terlalu menumpuk kalau terus ditunda.


"Eh guys, temenin gue ke toko buku yuk!" Ajak Rey pada ketiga sahabatnya.


"Ngapain? Mau membeli buku serian karya Mummy-nya Clara?" Tanya Amber sambil menyeruput jus jeruknya.


"Enak aja! Aku mau cari buku untuk referensi tugas, pe'a. Kayaknya perlu buku tambahan deh!"


"Ayoklah. Kita perginya pas pulang aja. Kalau sekarang kan jadwal istirahatnya mau abis!" Usul Clara yang langsung dibalas oleh anggukan kepala oleh yang lainnya.


*****


Clara berjalan beriringan dengan Guy dan Amber, sedangkan Rey sudah berjalan mendahului mereka untuk mengambil mobil  diparkiran.


Kini mereka tengah berada didalam perjalanan menuju toko buku. Hanya butuh waktu lima belas menit saja mereka sampai ditempat tujuan.


Mereka turun setelah Rey memarkirkan kendaraan. Kemudian berjalan beriringan menuju ke toko buku.


Nicolas tanpa sengaja melihat Clara tengah masuk bersama sahabat sehidup sematinya. Ponakannya itu pasti lupa kalau ia mau menjemputnya.

__ADS_1


Nicolas sebenarnya berencana untuk menjemput Clara dan membawanya ke kantor perusahaan. Tapi karena ia melihat ponakannya itu masuk ke dalam toko buku, mau ia pun menepikan mobil mewahnya tersebut.


Nicolas mengambil ponselnya dan menghubungi Clara.


               Angky galak ia calling ...


"Tumben," gumam Clara saat melihat nomor Angky-nya masuk pertanda panggilan.


"Halo?" Ucap Clara saat panggilan sudah terhubung.


"Hebat banget kamu ya, bukannya nunggu Angky dikampus malah kelayapan bareng teman! Keluar sekarang!"


"Hah?"


"Angky bilang keluar, kalau tidak kamu tidak keluar sekarang Angky pastikan fasilitas kamu tidak akan kembali untuk selamanya!" Ancam Nicolas tidak main-main, lalu memutuskan panggilan sepihak.


"Sialan!" Umpat Clara sambil menatap handphonenya. "Guys, aku balik dulu ya? Ditungguin Angky soalnya!" Ucapnya berpamitan, lalu keluar dari toko buku.


Clara keluar dari dalam toko buku kemudian menyusui trotoar. Belum lama ia melangkah, pintu mobil Bentley yang ada disampingnya terbuka, menampilkan wajah datar paman sekaligus dosennya itu.


"Masuk!" Suruh Nicolas dingin.


Clara pun membuka pintu penumpang.


Clara menghela nafas panjang. Lalu memutari mobil dan duduk di kursi sebelah pengemudi.


Nicolas pun mengemudikan mobilnya. Tak ada percakapan diantara mereka. Clara sibuk dengan ponselnya dan Nicolas sibuk menyetir dengan sangat hati-hati.


"Angky kenapa sih? Clara kan mau beli buku untuk referensi tugas?!" Ucap Clara membuka obrolan.


Krik krik krik krik


Hanya suara jangkrik yang menyahuti ucapan Clara. Gadis itu menatap heran ke arah Nicolas yang sama sekali tidak membalas ucapannya.


"Yah kacang!"


Clara menguap karena mobil yang ia tumpangi tidak kunjung berhenti. Rencananya yang hendak tidur siang lenyap seketika. Ia sudah terlalu mengantuk untuk sekedar mengajukan pertanyaan.


Persetan dengan Angky-nya ini.


Tak lama kemudian, Nicolas melirik ke arah ponakannya. Ia penasaran sama Clara yang diam sejak tadi. Tidur, ya tidur. Clara sedang tidur dengan nyenyaknya dengan sambut pirang yang menutupi sebagian wajah cantiknya.


Sebelah tangan Nicolas terulur untuk menyibakkan rambut ponakannya yang menghalangi wajah.


Lima belas menit kemudian, mobil yang Nicolas kendarai akhirnya berdiri didepan sebuah gedung pencakar langit. Nicolas turun dan memutari mobil untuk menggendong Clara yang masih terlelap dengan damainya.

__ADS_1


Nicolas berjalan sambil menggendong Clara. Ia meletakkan kepala Clara didadanya karena tidak ingin tidur ponakannya terganggu.


Banyak pasang mata yang terkejut saat melihat adik pimpinan mereka tengah menggendong seorang gadis. Karena mereka semua tahu kalau Nicolas tidak punya kekasih sama sekali.


Sebagian besar dari mereka menatap keduanya dengan tatapan iri. Hanya sedikit yang menatap mereka dengan tatapan memuji.


Nicolas terus bejalan menuju lift khusus ekslusif. Saat lift terbuka ia masuk ke dalam dan menekan angka empat puluh empat dengan bersusah payah.


Lift pun akhirnya sampai ditempat yang dituju. Disana terlihat Lisa yang menunduk hormat. Ia heran saat melihat atasannya yang menggendong Clara yang sudah ia ketahui sebagai asisten Nicolas.


"Buka pintunya!" Ucap Nicolas saat ia sudah berdiri didepan pintu ruangannya yang tertutup rapat.


Mendengar itu, Lisa buru-buru membukakan pintu dan membuntuti Nicolas. Lalu membuka pintu kamar di ruangan itu.


"Kalau dia sudah bangun bilang saja saya sedang menghadiri meeting." Ucap Nicolas sambil berlalu pergi.


*****


"Aaarrrggghhh! Clara maraah!"


Clara berteriak frustasi saat membayangkan pertemuan keduanya dengan sekertaris Nicolas.


Nicolas yang mendengarnya pun langsung menatap ponakannya itu. Clara sedang memakan camilan sambil menggerutu. Ia sangat kesal dengan sikap sekertaris Nikolas yang sok berkuasa.


Coba saja kalau tuh orang tahu kalau Clara keponakan Nicolas dan anak kandung Angelo, pasti dia langsung mati ditempat.


"Kok Angky mau-maunya menjadikan dia sekertaris sih? Udahlah sok berkuasa, sok cantik pula! Masa' Clara dituduh meniru orang-orang barat!" Omel Clara ke Angky-nya itu.


"Memangnya kenapa? Suka-suka Angky dong. Lagian kamu tidak bilang kamu ponakan Angky sih!"


"Angky juga kenapa gak bilang kalau Clara itu ponakan Angky?" Clara balik bertanya. Emangnya Nicolas saja yang bisa nyalahin orang? Clara juga bisa kali!


"Sudah pintar melawan kamu, ya? Mau angky jadikan kamu mahasiswa abadi?" Tanya Nicolas disertai ancaman yang selalu menjadi andalannya.


Clara bertambah kesal saat Nicolas mengancamnya seperti itu. Bisa gak sih, sehari saja Nicolas tidak mengancam Clara? Perlu Clara mutilasi sekarang juga?


Tak lama kemudian, Raymond yang baru saja pulang sekolah masuk ke dalam rumah. Belum sempat ia mengatakan apa-apa, Clara sudah menyemburnya dengan segala unek-uneknya.


"Ini lagi! Pulang sekolah apa kencan sih? Lama amat!"


Lah??


"Kan adik sudah bilang kalau ada pelajaran tambahan! Kakak gimana sih?!" Protes Raymond. Ia tidak terima diomelin begitu saja oleh kakaknya.


"Udah diam, diam! Berisik! Jangan ngomong!" Teriak Clara frustasi. Raymond dan Nicolas saling pandang. Ingin rasanya Raymond tertawa, namun urung karena ia masih sayang nyawa.

__ADS_1


__ADS_2