Kutukan Dua Bahasa

Kutukan Dua Bahasa
Bab 31: Asisten Nicolas


__ADS_3

Clara bersyukur karena adiknya sudah membaik sekarang. Demamnya turun dan Raymond juga bilang kalau kepalanya tidak pusing lagi. Clara memang jarang sekali melihat Raymond sakit, makanya ia khawatir saat Raymond sakit gara-gara makan udang.


Clara tengah menyiapkan sarapan dan bekal makan siang untuk adiknya. Ia rasa sekarang ia harus menyiapkan bekal makan siang untuk Raymond supaya adiknya tidak jajan sembarangan lagi.


Tak lama kemudian, Bian, Guy, Nicolas, Paula, dan Raymond sudah duduk manis di meja makan. Semua sudah rapi hendak memulai aktivitas di pagi yang cerah ini. "Dek, ini bekal makan siang kamu. Ingat pesan kakak: 𝑗𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑚𝑒𝑚𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑢𝑑𝑎𝑛𝑔 𝑙𝑎𝑔𝑖 𝑎𝑡𝑎𝑢 𝑘𝑎𝑘𝑎𝑘 𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑚𝑒𝑚𝑒𝑐𝑎𝑡 𝑘𝑎𝑚𝑢 𝑠𝑒𝑏𝑎𝑔𝑎𝑖 𝑎𝑑𝑖𝑘!"


Raymond yang potongan apel yang sengaja Clara letakkan diatas meja hanya mengangguk patuh.


"Nanti kamu ada jadwal kuliah?" Tanya Nicolas ke Clara.


"Nggak," jawab Clara singkat. Ia free hari ini. "Emangnya kenapa Ang?"


"Bagus, kamu ikut Angky ke kantor!"


"Lah?"


*****


Nicolas bersiap hendak pergi ke kantor, begitu juga dengan Clara yang terpaksa mengikuti pamannya. Sebenarnya Clara malas banget pergi ke kantor perusahaan keluarganya, tapi karena sudah dipaksa sama Nicolas, jadi apa boleh buat?


"Bawakan tas Angky!" Ucap Nicolas sambil menyerahkan tas kerjanya ke Clara.


Clara hanya bisa menatap nyalang ke arah pamannya itu sembari mengikutinya dari belakang. Sumpah, kalau membunuh orang itu tidak berdosa maka Clara pasti akan membunuh pamannya itu. Ia memukul-mukul udara yang ada dibelakang Nicolas.


BUAGH!


"Aduh!" Nicolas meringis kesakitan seraya membalikkan badannya untuk menatap Clara.


MATI.


"Kamu kenapa mukul Angky, hah? Mau jadi ponakan durhaka kamu?" Tanya Nicolas yang tidak terima karena dipukul begitu saja sama ponakannya.


"B, bukan Clara, Ang!" Jawab Clara gelagapan.


"Terus siapa, hah?" Ucap Nicolas tidak santai. "Kamu pikir Angky akan percaya begitu saja kalau ada setan yang memukul Angky?"


"Yaa gak mungkin lah, orang Angky sendiri setannya!" Ucap Clara asal


"Apa kamu bilang?" Tanya Nicolas sambil menatap tajam kearah ponakannya yang suka mencari gara-gara itu.


Clara panik sendiri karena mengatakan hal itu pada pamannya. Aduhh, kalau Nicolas marah beneran bisa-bisa Clara tinggal nama ntar.


Nicolas menghela nafas kasar, lalu berlalu meninggalkan Clara.


"Kamu yang nyetir!" Suruh Nicolas sambil melemparkan kunci mobil ke arah Clara. Kayaknya ia melupakan sesuatu deh.


Clara menerima kunci itu dengan senang hati. Ia mulai menjalankan mobilnya keluar dari pekarangan rumah mereka. Ia menginjak pedal gas hingga mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Saat itulah Nicolas sadar akan kesalahannya dalam meminta Clara mengemudikan mobil.


"Kalau mau mati jangan mengajak Angky!" Ucap Nicolas saat Clara semakin menjadi-jadi.

__ADS_1


"Salah sendiri nyuruh Clara nyetir!" Balas Clara.


"Kamu berani menyalahkan Angky?"


"Udah lah Ang, yang penting kan kita sampai ke kantor!" Ucap Clara sambil menyudahi pembicaraan mereka. Kalau diteruskan bisa-bisa Nicolas akan membawa-bawa jabatannya sebagai dosen Clara.


Clara turun dari mobil terlebih dahulu. Ia menunggu Angky-nya turun dari dalam mobil.


Nicolas menatap Clara dengan tatapan tajam sebelum akhirnya masuk ke dalam kantor. Saat memasuki kantor, Clara bisa melihat seorang wanita cantik yang tengah menunggu Nicolas di lobi. Mungkin dia sekertarisnya Nicolas. Hmm, selera Nicolas boleh juga.


"Jadwal anda hari ini bertemu dengan Tuan Sanjaya di jam makan siang, terus jam 2 ada jadwal rapat dengan pemegang saham, dilanjutkan dengan tanda tangan kontrak dengan tuan Kim." Kata wanita itu membacakan jadwal untuk Nicolas hari ini. Tuh kan.


"Terus?" Tanya Nicolas.


"Setelah itu anda luang, sir." Jawab sekertaris yang bernama Lisa Soraya Andriana tersebut sambil menundukkan kepalanya. Ia sempat melirik ke arah Clara dengan tatapan tidak suka.


Itu wajar saja karena yang tahu siapa Clara hanyalah para petinggi saja.


Nicolas mengangguk dan memasuki ruangannya diikuti oleh Clara. Kok rasanya Clara dijadikan babu oleh pamannya sendiri, ya? Wah, gak bener nih.


Nicolas duduk di kursi kebesarannya. "Mana tas Angky?" Pintanya. Clara pun menyerahkannya.


"Kamu duduk disana, dan salin semua berkas ini!" Ucap Nicolas sambil menunjuk sudut ruangannya. Disana sudah ada meja dan kursi untuk bekerja.


Clara melirik ke arah meja dan kursi tersebut, "Angky ngapain ngajak Clara ke kantor sih?" Tanya Clara.


"Ya untuk menyalin berkas-berkas itulah. Kamu kan asisten Angky!" Jawab Nicolas enteng.


"Mulai sekarang kamu jadi asistennya Angky. Jadi selama orang tua kamu diluar negeri kamu yang bakal menolong semua pekerjaan Angky."


"Idih! Enak aja nyuruh-nyuruh! Clara gak mau jadi asistennya Angky!" Tolak Clara.


"Oh ya udah, kalau kamu nggak mau jadi asisten Angky, maka semua fasilitas kamu Angky sita. Itu masih mending daripada kamu kena marah sama Mummy dan Daddy kamu?!"


Kapan sih Clara menang debat sama Angky-nya ini? Ngancam mulu kerjaannya.


Karena masih sayang fasilitasnya, Clara terpaksa menuruti semua permintaan Angky-nya itu. Ia duduk ditempatnya dan fokus mengerjakan tugasnya.


Jari-jari lentiknya dengan anggun menari diatas keyboard. Sudah empat jam lamanya Clara mengetik tapi pekerjaannya tidak kunjung selesai. Gadis itu sudah mulai merasa bosan.


Clara meregangkan tangannya yang terasa kaku. Akhirnya pekerjaannya selesai juga. Ia menatap seisi ruangan Nicolas yang sepi dan sunyi. Hanya ada dirinya saja disini. Nicolas sudah pergi keluar karena menghadiri rapat.


Lapar. Clara melirik jam yang ada di dinding ruangan ini. Sudah jam satu. Pantas saja perutnya terasa lapar. Gadis itu menghembuskan nafas panjang. Tanpa sengaja, ia melihat kunci mobil yang terletak diatas meja Nicolas.


Seketika saja, otak cerdiknya berkembang pesat. Ia langsung berdiri dan mengambil kunci mobil itu, lalu keluar ruangan tanpa meninggalkan pesan. Lagipula ia cuma pergi sebentar untuk membeli makanan. Gak mungkin kan Clara beneran membawa lari mobil pamannya, bisa-bisa ia mendapat murka.


Saat masuk ke dalam mobil, Clara tanpa sengaja mendengar suara beberapa orang yang kebetulan ada di sana.


"Eh, itu bukannya mobil Sir Nicolas, ya?"

__ADS_1


"Iya, ya,"


"Gawat, kayaknya mobil atasan mau dibawa lari!"


"Beritahu Sir Nicolas, cepat!"


Entah kenapa, Clara menjadi panik seketika. Tanpa berpikir panjang, gadis itupun langsung mengemudikan mobil Nicolas keluar dari dalam kantor tersebut.


Masa' bodoh dengan Angky-nya nanti. Salah sendiri kan tidak memberinya makan siang. Sudah tahu Clara punya penyakit mag. Jadi jangan salahkan Clara kalau ia pergi begitu saja.


Pergi untuk kembali, wahh dapat kata darimana tuh?


Sesampainya direstoran, Clara memilih duduk dimeja paling pojok karena ia tidak suka duduk ditengah-tengah. Ia melambaikan tangannya untuk memanggil pelayan.


Tak lama kemudian, seorang pelayan datang menghampiri Clara. "What do you want, Ma'am?" Tanya pelayan tersebut sambil tersenyum ramah. Beda sekali dengan Clara yang langsing tersenyum kikuk saat pelayan itu menanyainya dalam bahasa Inggris. Untung ia selalu memakai alat kesayangannya.


Setelah Clara menyebutkan pesanannya, pelayan itu langsung berlalu pergi. Disaat ia menunggu pesanannya tersebut, Clara dikejutkan oleh seseorang yang tiba-tiba menepuk pundaknya. Gadis itu menoleh dan mendapati Reynaldy sudah ada di dekatnya.


"Lo ngagetin banget sih!" Keluh Clara sambil menatap sahabatnya itu dengan sinisnya.


Reynaldy tertawa ngakak. Dasar sahabat gak ada akhlak!


"Hehehe, Lo kenapa bisa ada disini? Nyasar Lo?" Tanya Reynaldy sambil menaikkan sebelah alisnya. Lokasi restoran ini cukup jauh dari rumah Clara sih.


"Makan siang." Jawab Clara, "Lo sendiri kenapa bisa ada disini?"


"Gue udah sering kesini kali."


"Jadi pelayan?"


"Sembarangan!" Reynaldy menjitak kepala Clara yang seenak jidatnya saja mengatakan kalau ia pelayan di restoran milik keluarganya sendiri. "Ini restoran bokap gue, Cla. Berhubung karena Lo mau makan siang, gue traktir deh. Jarang-jarang kan sahabat terbaik gue makan di restoran gue!"


Reynaldy melambaikan tangannya untuk memanggil pelayan, lalu memesankan makanan terbaik untuk sahabat sekaligus orang yang ia cintai selama ini.


Lupakan soal Clara yang sudah memesan makanan tadi, okey?


"Kayaknya kita jadi pusat perhatian deh!" Ucap Clara. Bersamaan dengan itu, pesanan Rey pun tiba.


"Bukan kita, tapi Lo. Mereka kira Lo bule kesasar kali!" Ucap Rey yang langsung dihadiahi sebuah jitakan oleh Clara. "Bercanda elah, mungkin mereka pikir aku pacar kamu!"


Clara mendelik kesal saat Rey mengatakan hal itu "Enak aja! Gue sahabat Lo pe'a!"


Reynaldy tersenyum getir, "Iya, aku sahabat terbaik kamu, kamu sahabat terbaik aku!"


"Amberta juga sahabat terbaik kita!"


"Terserah. Buruan makan gih, entar mag kamu kambuh lagi!" Ucap Rey yang langsung diangguki Clara.


Mereka pun makan dengan lahap. Tanpa mereka sadari, Guy mengawasi mereka berdua dengan tatapan nanar. Rencananya tadi ia mau makan bersama Rey, tapi malah gagal karena Rey makan bersama Clara. Bahkan Guy merasa yakin kalau teman dekatnya itu lupa akan keberadaan dirinya.

__ADS_1


Dan Clara, mau sampai kapan mereka seperti ini, ya? Sampai kapan Guy harus memendam perasaannya terhadap gadis yang sempat menemani masa kecilnya itu?


__ADS_2