
Clara menatap layar laptopnya dengan perasaan gundah. Bayangan tentang penyiksaan anak kecil yang mirip dengannya itu terus terbayang diingatannya. Sudah belasan kali gadis itu mencoba melupakan hal itu dengan tumpukan berkas yang ada diatas meja kerjanya. Namun sayangnya nihil alias tidak membuahkan hasil. Ia bahkan malas untuk memeriksa berkas-berkas yang sudah menggunung itu.
Clara menghela nafas panjang. Pandangan matanya tertuju ke arah jam yang ada di dinding ruangannya. Pukul 12.00 WIB, waktunya makan siang. Clara segera bangkit dari kursinya dan merapikan pakaian kerjanya yang agak kusut. Lalu berjalan keluar ruangan.
Banyak orang yang menatap Clara dengan tatapan kagum plus iri. Diantara mereka bahkan ada yang masih tidak menduga kalau Clara anak kandung Presdir. Jadi wajar saja diusianya yang baru menginjak 20 tahun sudah diberi kepercayaan untuk mengantikan posisi Nicolas.
Untung ia tidak diberi tugas untuk mengurus pekerjaan Diamond karena sudah ada Feng yang bisa dipercaya. Kalau iya mah, gak kebayang lagi gimana repotnya Clara.
"Mbak Clara mau makan siang bareng kami?" Tanya salah seorang karyawati ramah.
Clara menggeleng sambil tersenyum. "Terimakasih. Tapi saya makan diluar aja. Ada janji sama sahabat saya soalnya." Tolaknya halus.
Karyawati itu hanya mengulum senyum. Clara sangat baik pada mereka. Bahkan pada Tasya, Joanna, Lisa, dan yang lainnya. Jadi nyesel deh percaya begitu saja pas ada yang bilang kalau Clara itu pacarnya Nicolas. Padahal ponakannya.
Clara keluar dari lobi sambil tersenyum pada beberapa orang pegawai yang sempat berpapasan dengannya. Baru saja ia hendak membuka pintu mobilnya, ponselnya berbunyi pertanda ada panggilan masuk. Ternyata dari Reynaldy.
"Halo?" Sapa Clara saat panggilan sudah terhubung.
"π»πππ? πΆππ, ππππ’ ππππππ π ππ? ππππ πππ’ π‘π’ππππ’ ππππ π‘πππ, πππ. πΎπππ’ ππππ πππππ π ππππ πππ πππ, πππ?"
"Ya jadi lah. Ini aku lagi ada dijalan."
"πΆππππ‘ππ πππ€π πππππππ¦π. π·ππ ππ’ππ’π‘ππ πππ’ ππ’ππππ’ππ ππππ’!"
"Iya, iya, bawel banget sih."
Setelah panggilan terputus, Clara segera masuk ke dalam mobil dan memasang sabuk pengaman. Lalu mengemudikan mobilnya keluar kantor menuju ke restoran tempat Reynaldy bekerja.
Setelah sampai di restoran, Clara segera turun dari dalam mobilnya. Ia berjalan memasuki restoran ala Itali tersebut. Suasana restoran yang klasik dan elegan tapi mewah membuat semua pengunjung betah lama-lama berada disana.
Banyak kalangan atas yang makan di restoran itu. Clara melihat ke sekeliling tempat itu, mencari keberadaan sahabatnya yang entah dimana.
Clara mengeluarkan ponselnya dan mencari kontak Reynaldy. Lalu mengirimkan pesan untuknya.
Kamu ada dimana sih?
Tak lama kemudian, balasan dari Rey pun masuk.
__ADS_1
π΅πππ’ πππ‘ππ-πππ‘ππ, πππππ π ππππππ ππππ.
Clara mengikuti arahan Reynaldy. Masih nggak ada. Tuh bocah ngerjain Clara atau gimana sih?
Tanpa Clara sadari, sosok Reynaldy sudah ada dibelakangnya sambil terkikik geli pas ngeliat sahabatnya itu celingak-celinguk mencari keberadaan dirinya.
Clara tersentak kaget saat sebuah tangan memegang pundak sebelah kanannya. "Lagi cari siapa neng?" Tanya Reynaldy sambil tertawa ngakak pas ngeliat wajah Clara yang menyorotnya dengan tatapan horor.
"Lu mau buat gue jantungan, hah?" Tanya Clara sambil menatap sahabatnya itu dengan tatapan horor. Benar-benar sialan tuh sahabat satu. Ada yang mau tukeran sahabat gak? Ogah Clara punya sahabat usil bin jail seperti Reynaldy.
"Abisnya Lo lama banget sih." Kata Rey membela diri.
"Aku kan lagi banyak kerjaan." Keluh Clara.
"Yuk ah, katanya kamu lapar kan?" Rey menarik tangan Clara dan mengajaknya ke kursi yang sudah ia siapkan. Clara melihat hidangan yang ada diatas meja dengan tatapan memuja. Pas banget. Ia memasng sedang kelaparan sih karena nggak sempat sarapan.
"Buruan gih dimakan. Katanya sibuk, kan?"
Clara mengangguk. "Terima kasih ya, Rey. Senang banget gue punya sahabat kayak Lo!" Katanya sambil tersenyum ceria.
"Iyalah. Bisa minta traktiran kan?" Tanya Rey dengan nada mengejek. Kalian tau? Sebenarnya Rey lah yang sering mentraktir Clara. Bagi Rey, Clara itu orang yang sangat berarti baginya. Karena itulah ia selalu memperlakukan Clara dengan istimewa.
"Cla." Panggil Reynaldy disela-sela mereka makan.
"Ya?"
"Sebenarnya aku suka sama seseorang, lho."
"Oh ya? Siapa?"
"Ntar kamu juga tau." Reynaldy tersenyum penuh arti. Clara mengangkat bahunya acuh tak acuh. "Tapi sayangnya dia sudah ada yang punya."
Clara tercengang, "orang yang kamu sukai sudah ada yang punya?"
Rey meringis, "Dari awal Maba aku sudah tertarik sama dia. Tiap kali aku mau menyatakan perasaan pasti ada kendala. Belum lagi teman ku juga suka."
"Hahahah!" Clara tertawa kurang ajar. "Cerita kamu lucu banget."
__ADS_1
Tuh kan, sahabat nggak ada akhlak emang si Clara itu. Temannya curhat bukannya di nasihati atau apa kek malah ditertawakan. Benar-benar gak ada akhlak. Pasti Clara jalan-jalan entah kemana pas pembagian akhlak. Makanya dia kurang seliter seperti ini.
Reynaldy menyorot Clara dengan tatapan malas. "Kamu udah biasa ya, menertawakan orang." Katanya sambil geleng-geleng kepala, "Aku mah sudah pasrah aja. Lagian dia sudah aku anggap saudara kok."
Clara menghentikan tawanya dan menatap Reynaldy dengan tatapan penuh arti. "Kalau dia sudah kamu anggap sebagai saudara, jangan rusak perasaan itu hanya karena cinta yang bisa membuatmu kehilangan dia."
"Memang itu yang aku lakukan." Jawab Reynaldy sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Lagipula cewek kan bukan dia aja. Masih banyak cewek yang ada di luar sana."
"Bener banget. Kalau cewek cantik mah, dijalanan kan ada." Ujar Clara sambil mengunyah makanan yang belum habis. Tuh kan, keluar lagi sifat jail nya. padahal dia tadi nasehatin orang dengan serius.
"Idih, kamu kira aku mau sama cewek murahan apa?" Sinis Reynaldy.
"Ya kirain aja mau." Jawab Clara sambil tertawa ngakak.
Clara boleh dimasukkan ke dalam karung dan dibawa pulang gak sih? Nyebelin banget tuh orang. Reynaldy hanya bisa mengelus dadanya dramatis. Mimpi apa dia ya sampai bisa sahabat kurang sehelai seperti Clara? Kalau Amber mah mending, dia cuma kumat pas kehabisan obat.
Bercanda elah. Amber cuma suka cari gara-gara pas nggak ada Clara sih.
Jujur saja, Reynaldy sebenarnya pengen bilang kalau ia suka sama Clara. Tapi karena ia tidak mau merusak persahabatan diantara mereka yang nantinya akan membuat ia kehilangan Clara untuk selamanya, makanya ia cuma bisa memendam perasaan sampai sekarang.
Sakit banget emang. Apalagi susah banget bagi Rey untuk jatuh cinta ke lain hati. Tapi itulah resikonya mencintai sahabat yang sudah ia anggap sebagai saudara.
Suara deringan ponsel mengalihkan perhatian Clara yang sedang memakan makanan penutup. Ternyata dari Elizabeth, sekertaris Clara yang sudah bekerja padanya sejak beberapa Minggu yang lalu.
"Ya Liz, ada apa?"
" ... "
"Ada rapat jam dua?"
" ... "
"Ya, ya, aku ke sana sekarang."
Clara segera bangkit dari tempat duduknya dan merapikan pakaian kerjanya. "Aduh Rey, maaf ya. Aku nggak bisa lama-lama. Ada meeting mendadak soalnya."
"Sans aja kali, Cla. Aku ngerti posisi kamu, kok!"
__ADS_1
Setelah mengucapkan terimakasih pada sahabatnya, Clara pun bergegas keluar dari restoran dan melajukan mobilnya ke perusahaan.