
...Villa yang menjadi tempat tujuan Angelo, Sarah, Guy, Clara, dan Raymond...
Hawa dan aroma segar alam di kota ini menyambut kedatangan mereka dengan sangat ramah.
"Raymond, you for Daddy and Guy to include items we into , yes?" Pinta Sarah sambil tersenyum ke arah anak keduanya itu.
...Sarah D'angelo Thompson...
"No need, Mummy, let's be the two who do it! " Tolak Angelo, ia tahu kalau putarannya itu pasti sudah ngantuk.
...Angelo Juanda Wiratama...
Sarah mengangguk. Kemudian menuntun dan membawa Clara dan Raymond masuk ke dalam villa.
...Clarissa Rasandra Wiratama...
Meski sudah sering menginap di sini, Clara masih terkagum-kagum saat melihat villa yang akan mereka tempati beberapa Minggu ini. Sangat jauh dari kata sederhana, bahkan memberi kesan elegan dan mewah.
"Ayo anak-anak!"
Clara dan Raymond mengikuti langkah Sarah disampingnya, mereka naik ke lantai dua dan melewati beberapa pintu kamar.
Kamar Clara berada ditengah-tengah antara kamar Raymond yang ada di sebelah kirinya, dan kamar orangnya yang ada disebelah kanannya. Sedangkan kamar yang di sediakan untuk Guy berada didepan kamar Clara.
Clara masuk kedalam kamarnya dan mengunci pintu dari dalam. Ia menghela nafas panjang saat menatap sekeliling kamarnya yang tertata rapi. karena ia sangat suka dengan warna biru, jadi warna birulah yang menjadi nuansa kamarnya saat ini. Sama dengan kamar Clara dirumah. Tidak hanya itu saja, dikamar ini juga banyak terdapat foto dan lukisan laut yang sangat indah. Clara bersyukur, meski ia sekarang berada di villa yang ada di Puncak, Bogor tapi rasanya ia berada di rumahnya. Dan itu membuatnya betah untuk berlama-lama tinggal di sini.
Tok tok tok
Clara terperanjat kaget saat pintu kamarnya diketuk dari luar. "Iya, sebenar ... " Gadis itu segera membuka pintu dan mendapati Guy ada di depan pintu kamarnya.
__ADS_1
...Guy Ethan...
"I, itu, kamu mau apa, Guy?" Tanya Clara dengan wajah yang tiba-tiba memerah. Guy yang sedikit mengerti apa yang di katakan Clara segera menunjuk ke arah koper yang berisi pakaiannya. Untung Clara cepat tanggap.
"Le, letakkan saja di dalam!"
Guy mengangguk. Saat hendak keluar dari kamar Clara, Guy kagum melihat banyaknya foto laut yang menghiasi dinding kamar Clara.
"Wahhh, the sea is really visible! Beautiful ~ " puji Guy, ia beralih menatap Clara yang kelihatan aneh saat bersama dengannya, "You really like the sea, huh? " Tanyanya.
Clara yang tidak benar-benar mengerti apa yang Guy katakan mengangguk ragu.
"So yes ..." Setelah mengatakan itu, Guy pun segera keluar dari dalam kamar Clara.
*****
Clara berbaring sambil menatap lukisan laut yang menghiasi kamarnya. Memangnya salah, ya, kalau Clara suka sama laut? Bahkan, diam-diam Clara punya keinginan yang besar terhadap laut, lho. Suatu saat nanti, kalau sudah punya pasangan, Clara ingin pergi ke laut bersamanya.
Clara terbangun saat ia mimpi jalan-jalan ke laut bersama Guy sambil mendengarkan musik. Saat bangun, ia menyadari kalau hari sudah pagi. Lagi-lagi Clara ketiduran. Tumben hari ini ia tidak mimpi bertemu dengan putri berambut pirang dan pangeran berambut hitam.
"Iya Dad, sebentar!"
Sebuah panggilan melayang menyebut nama Clara saat ia dan Angelo tiba diruang tamu.
Clara mengangkat kepalanya dan terkejut saat ia mendapat pelukan erat dari seorang pria yang sudah berumur. Clara yang merasa tidak nyaman langsung melepaskan pelukan yang terasa asing.
"Om siapa sih? Datang-datang langsung main peluk aja, gak sopan!" Kata Clara penuh emosi. Emang orang itu pikir Clara cewek murahan, apa? Dasar Om-om hidung belang gak tahu aturan! Maki Clara dalam hati.
"Cla, kamu gak ingat sama Om kamu sendiri? Ini Ommy lho, adiknya Daddy kamu!" kata om-om itu. Idih, malah sok ngaku-ngaku jadi pamannya Clara lagi! Dia kira Clara bakalan percaya gitu aja?
"Jangan ngada-ngada, deh! Adik Daddy kan, Angky Nicolas!"
...Diamond Sky Wiratama...
__ADS_1
"Clara masih kecil saat kakak masih tinggal di Indonesia!" Nicolas yang menghampiri mereka bertiga langsung memperkenalkan kakaknya yang satu lagi ke Clara yang memang tidak ingat dengan orang itu, "Kenalkan, dia kakak Angky, namanya Om Diamond. Waktu kamu kecil, kamu sering panggil dia dengan sebutan Ommy!"
...Nicolas Franklin Demasa Wiratama...
"Clara gak ingat, tuh!" Ia berusaha mengingat-ingat tentang pamannya yang satu ini, namun segera di cegah oleh Daddy-nya.
"Jangan diingat-ingat, Sayang, nanti kamu malah pusing!" Angelo mengusap punggung Clara dan menuntunnya agar duduk di jajaran kursi yang berbahan dasar kayu.
"Daddy kamu benar, sayang ... kamu jangan mengingat apa yang kamu lupakan. Bisa-bisa kepala kamu sakit!" Sarah mengusap rambut Clara dengan penuh kasih sayang. Seolah memang kasih sayang lah yang sedang dibutuhkan oleh Clara di saat kondisinya yang seperti ini.
"Nanti siang sahabat Daddy akan mampir ke sini sama anak-anaknya!" Kata Angelo sambil menyeruput kopi hangat buatan isteri tercintanya.
"Ray sama Guy mana, Mum?" Tanya Clara saat tak mendapati Raymond dan Guy ada disana bersama dengan mereka.
"Di sini!" Sahut Raymond yang tahu-tahu muncul bersama Guy sambil menenteng plastik berisi makanan. Lalu mengambil salah satu isinya dan memberikannya ke Clara. Clara menerima sandwich dalam kemasan itu dengan senang hati. Mungkin Mummy-nya sedang malas masak, makanya meminta tolong mereka berdua untuk membeli makanan untuk sarapan.
...Raymond Sea Wiratama...
"Oh iya, Cla, sebenar lagi kamu bakal naik ke semester empat lho, kalau kamu masih tidak lancar bahasa Inggris, bisa-bisa mata pelajaran kamu tetap rendah di mapel Angky!"
Clara tersedak saat Angky-nya mengungkit soal nilai disaat mereka sedang liburan semester. "Ihh, Angky! Jangan bawa-bawa soal kuliah di saat kita liburan dong!" Pinta Clara dengan wajah memelas.
"Clara benar, Nicolaa. Jangan bawa soal itu disaat kita liburan seperti ini!" Sahut Sarah memperingatkan. Nicolas berdecih saat lagi-lagi kakak dan kakak iparnya memanjakan Clara seperti ini.
Itu wajar saja, karena Clara sangat membutuhkan kasih sayang yang lebih besar dari siapa pun juga setelah apa yang dialaminya delapan tahun yang lalu. Peristiwa yang dinamakan sebagai 'kutukan' yang mengakibatkan Clara tidak bisa lagi berbicara dan mengerti bahasa Inggris.
Sampai sekarang, peristiwa itu masih membekas di ingatan setiap anggota keluarga Wiratama. Bahkan, Raymond yang kala itu masih berusia tujuh tahun saja masih mengingat jelas apa yang sudah dialami kakaknya delapan tahun yang lalu. sangat jelas. seolah peristiwa itu akan terus membekas diingatan mereka dan memberikan kesan trauma yang amat mendalam.
...Mummy Sarah dan Daddy Angelo, orang tua Clara dan Raymond yang masih tampak awet muda....
__ADS_1
...keluarga kecil Wiratama: Angelo, Sarah, Clarice, dan Raymond...