Kutukan Dua Bahasa

Kutukan Dua Bahasa
Bab 56: Pertanda Buruk


__ADS_3

Setelah acara kelulusan tadi siang, Nicolas langsung mengajak pulang. Diamond dan Raymond tidak jadi melihat Clara diwisuda. Entah apa alasannya. Masih ambigu. Tapi bukan itu yang membuat Clara uring-uringan saat ini.


Sesampainya di rumah, Clara langsung pergi ke kamarnya. Habis sudah. Gadis yang baru saja merayakan wisuda itu tidak terima dengan keputusan Daddy dan Mummy-nya.


Sehari sebelum wisuda, orang tuanya pernah bilang kalau ia bakal diajak jalan-jalan ke Amerika. Makanya mereka meminta Clara untuk rajin berlajar supaya dapat nilai terbaik. Nah, pas hari wisuda, eh mereka malah melarang Clara untuk ikut ke Amerika.


Hahhhh, padahal Clara sudah seneng banget pas Mummy-nya bilang kalau ia boleh ke Amerika. Lah sekarang udah jadi larangan aja. Mana nanti ia menghuni rumah sebesar ini sendirian lagi!


Rencananya, Nicolas hendak mengantar Raymond ke Amerika menyusul Angelo dan Sarah, sedangkan Diamond kembali ke China untuk mengurus beberapa buah pekerjaan. Bryan dan Paula juga akan pulang ke negara asalnya. Sedangkan Guy, cowok itu juga ikutan ke Amerika.


Huft, ini kenapa Clara sendiri sih yang nggak boleh pergi ke Amerika. Dari dulu Clara kan penasaran dengan kehidupan orang-orang di barat, tapi malah ...


Yahh, kalian juga pasti tau kan alasan kenapa mereka melarang Clara pergi ke Amerika?


Amerika merupakan titik awal Clara kenal dunia. Namun sayangnya, di Amerika juga lah Clara mendapatkan luka fisik dan mental yang baru sembuh setelah Clara menjalani proses pencucian otak yang bertujuan untuk menghilangkan memori buruk itu dan menghilangkan kemampuan berbahasa Inggris Clara.


Clara menghela nafas. Satu jam lamanya ia merobek-robek kertas majalah hanya untuk melampiaskan rasa kekesalannya sendiri. Rasanya capek juga.


𝐻𝑢𝑢𝑢 𝑏𝑖𝑙𝑎𝑛𝑔 𝑎𝑗𝑎 𝑘𝑎𝑙𝑎𝑢 𝑚𝑎𝑢 𝑚𝑒𝑛𝑦𝑢𝑟𝑢𝒉 𝑎𝑘𝑢 𝑔𝑎𝑛𝑡𝑖𝑘𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎𝑎𝑛 𝐴𝑛𝑔𝑘𝑦. 𝑀𝑎𝑛𝑎 𝑝𝑎𝑘𝑎𝑖 𝑎𝑐𝑎𝑟𝑎 𝑚𝑒𝑙𝑎𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑝𝑒𝑟𝑔𝑖 𝑘𝑒 𝐴𝑚𝑒𝑟𝑖𝑘𝑎, 𝑙𝑎𝑔𝑖!


Gadis itu mengedarkan pandangannya ke seisi kamar. Bosen juga lama-lama berdiam disini doang. Berasa dipingit tau, nggak?


Dengan malas Clara pun bejalan keluar kamar dan duduk di sofa. Lalu menghidupkan tv. Tanpa ada niatan sedikit pun Clara mulai mencari film yang menurutnya menarik untuk ditonton. Pilihannya akhirnya jatuh ke film sinetron yang bucin keromantisan.


"Kak!" Panggil Raymond. Ia duduk disebelah Clara yang kelihatan suntuk berat. "Kakak kecewa ya, sama keputusan Mummy sama Daddy?"


Clara melirik adiknya itu sekilas. "Kalau sudah tau kenapa nanya?"


Tuh kan, nge-gas.


"Sensi amat sih kak hari ini." Raymond bertanya sambil menatap heran ke arah Clara. "Lagi datang tamu, ya?"


"Diam, jangan ngomong!" Desis Clara.

__ADS_1


Raymond menurut. Anak itu langsung membungkam mulutnya. Kok yang ada Clara makin kesal, ya?


"Dek." Panggil Clara pelan.


Tidak ada sahutan.


"Adek?" Panggil Clara lagi.


Masih tidak ada sahutan.


"RAYMOND SEA!" Jerit Clara kencang.


"Apa'an sih kak? Teriak-teriak aja. Memangnya ini di hutan?" Ucap Raymond sambil mengusap-usap telinganya pelan.


"Makanya kalau dipanggil itu jawab!" Sahut Clara nyolot.


"Tadi Raymond kan disuruh diam!" Kata Raymond membela diri. "Adek ngomong disuruh diam, diam disuruh bicara, nggak sekalian kakak nyuruh adek buat mati aja?"


"Ya untuk kerja menggantikan posisi Angky lah, kak. Kami kan mau pergi ke Amerika beberapa bulan." Jawab Raymond. Clara memutar bola matanya malas. Tuh kan benar dugaannya. Dengan sadisnya gadis itu malah mengusir adiknya supaya meninggalkan dirinya sendirian.


𝑆𝑖𝑎𝑙𝑎𝑛. 𝑈𝑛𝑡𝑢𝑛𝑔 𝑘𝑎𝑘𝑎𝑘. 𝑘𝑎𝑙𝑎𝑢 𝑛𝑔𝑔𝑎𝑘 𝑠𝑢𝑑𝑎𝒉 𝑎𝑘𝑢 𝑡𝑒𝑛𝑑𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑘𝑒𝑚𝑎𝑟𝑖𝑛-𝑘𝑒𝑚𝑎𝑟𝑖𝑛. Gerutu Raymond dalam hati.


"Dilarang ngumpat." Tegur Clara yang membuat Raymond semakin kesal pada kakak yang sangat ia sayangi itu.


******


Di bandara, Clara dan kedua sahabatnya sedang mengantar Nicolas, Raymond, Guy, Bryan, dan Paula yang akan terbang ke Amerika. Sedangkan Diamond sudah tebang naik pesawat kemarin.


"Kalian hati-hati, ya." Ucap Clara sambil tersenyum. Meski ia masih tidak ikhlas karena dilarang pergi ke Amerika. Ia memeluk Raymond erat. "Jangan lupa jaga kesehatan."


"Iya kak." Raymond membalas pelukan kakaknya. "Kakak juga baik-baik aja ya, disini. Kakak tenang saja. Kak Guy perginya cuma sebentar kok!" Raymond melepaskan pelukannya dari Clara dan menoleh ke arah Guy.


Guy mengangguk.paling cuma beberapa hari saja ia pergi ke Amerika. Setelah itu kembali ke Indonesia.

__ADS_1


"Ya sudah, kalau begitu kami berangkat dulu, ya?" Pamit mereka. Lalu masuk ke dalam pesawat. Clara menurunkan tangannya saat mereka sudah benar-benar naik ke dalam pesawat. Ia menatap nanar ke arah pesawat yang mulai lepas landas itu.


Kapan ya, ia bisa pergi ke Amerika seperti mereka?


*****


Clara menaiki tangga rumahnya dengan perasaan sepi. Meski di rumah ini sudah mempekerjakan beberapa orang asisten rumah tangga lengkap dengan satpamnya, entah kenapa Clara masih merasa sepi. Mungkin karena orang yang selalu mengajak dan diajaknya ribut sudah pergi ke Amerika untuk waktu yang cukup lama.


Clara membuka pintu kamar dan menguncinya dari dalam. Lalu merebahkan tubuhnya diatas kasur. Lelah sekali rasanya. Jadi pengen berenang dialam mimpi deh. Clara pun memejamkan matanya dan masuk ke dunia mimpi.


Zzzzz zzzzz zzzzz


Lagi-lagi Clara terdampar di negri dongeng kayak gini dan menjadi sosok putri berambut pirang, Clarissa. Kali ini ia kembali didatangi penyihir baik hati yang hendak memperingatkan Clara tentang bencana yang akan terjadi dalam waktu dekat.


"Kamu harus mempersiapkan diri mu untuk menghadapi masa lalumu, putri berambut pirang Clarissa. Karena sebentar lagi kamu akan bertemu dengan orang yang menyebabkan kan kamu terluka dimasa lalu."


Menghadapi masa lalu?


Orang yang menyebabkan Clara terluka?


"Apa maksudmu, penyihir yang baik hati?" Tanya putri Clarissa heran. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakan penyihir itu.


"Dia sudah ada didekat mu, putri berambut pirang. Dan dia sudah mulai mengawasi mu. Karena itulah kamu harus selalu berhati-hati dan pandai menjaga diri. Agar luka lama tidak berdarah kembali." Tanpa mengindahkan pertanyaan putri Clarissa, penyihir itu terus memperingatkan.


"Cepat atau lambat kamu akan tau apa yang sebenarnya terjadi, putri berambut pirang." Jawab penyihir itu.


Bayangan tentang Clara yang ada di negeri dongeng telah lenyap digantikan oleh kejadian yang sangat menyayat hatinya.


Dengan jelas Clara bisa melihat seorang anak kecil berusia sepuluh tahun yang sedang mengalami kekerasan fisik dari beberapa orang dewasa yang benar-benar biadab. Meski anak kecil itu sudah menangis meraung-raung bersimbah darah, mereka masih saja terus menyiksanya.


Kasihan sekali anak itu. Tapi Kenapa wajah anak yang sedang disiksa itu mirip sekali dengan dirinya, ya? Dan apa-apaan ini? Kenapa Clara merasa pernah mengalami ini semua?


Ya Tuhan. Pertanda apa lagi ini? Apa ia hanya bermimpi buruk? Kenapa mimpi penyiksaan terhadap anak dibawah umur itu begitu nyata seolah-olah Clara pernah mengalaminya?

__ADS_1


__ADS_2