Kutukan Dua Bahasa

Kutukan Dua Bahasa
Bab 67: Pulang ke Indonesia


__ADS_3

Seorang pelayan menghampiri keduanya dan menyerahkan buku menu.


"Kamu mau makan apa, Claire? Makanan disini enak semua lho, kamu pasti suka." Ucap Rebecca sambil melihat daftar menu yang diberikan oleh pelayan.


"Samakan saja dengan kamu." Jawab Clara sambil nyengir kuda. Tak bisa dipungkiri, ia senang bertemu dengan Rebecca yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri.


Rebecca mengulum senyum tipis. Gadis yang ada didepannya ini benar-benar bodoh ya. Hanya dengan sedikit kebaikan hati darinya yang sama sekali tidak keluar dari dalam hati, Clara sudah menganggapnya baik hati. Benar-benar bodoh dan tidak bisa menilai orang lain. Sama seperti dulu.


Rebecca memesan menu yang menurutnya enak. Setelah pelayan itu pergi menyiapkan makanan, Clara menatap Rebecca sambil bertopang dagu.


"Jadi, apa alasanmu hengkang dari perusahaan? Padahal aku sudah mempercayai mu sebagai sekertaris ku, lho." Ujarnya.


"I, itu, sebenarnya aku tidak begitu cocok bekerja di perusahaan. Makanya aku memutuskan untuk berhenti saja." Jawab Rebecca.


Clara menganggukkan kepalanya mengerti. "Padahal aku sudah merasa nyaman denganmu, lho. Kabarnya kamu akan kembali ke Amerika, ya?"


"Yah, salah seorang anggota keluargaku sakit parah. Makanya aku harus segera kembali ke sana. Dan ini bisa jadi salah satu alasan kenapa aku mengundurkan diri dari jabatan ku sebagai sekertaris mu, lho."


Clara tidak segera menyahuti perkataan Rebecca. Ada yang aneh dalam dirinya. Ia memang kecewa karena Rebecca akan pergi sih, tapi dilain sisi entah kenapa ia merasa lega karena Rebecca tidak lagi menjadi sekertarisnya. Seolah ancaman yang terbesar dalam dirinya berkurang.


Tak lama kemudian, pesanan mereka berdua pun datang. Clara dan Rebecca makan dengan lahap tanpa mengucapkan sepatah katapun karena Clara hanyut dalam pikirannya.


Disela-sela makan, handphone Rebecca tiba-tiba berbunyi. Wanita itu pun mengangkat panggilan telepon dan berbicara dengan seseorang yang ada diseberang sana. Setelah panggilan terputus, Rebecca pun bangkit dari tempat duduknya.


"Sepertinya aku tidak bisa berlama-lama ada disini." Ucapnya dengan nada agak menyesal. Clara menatap ke arahnya. Gadis itu mengangguk. Mungkin Rebecca sedanga ada urusan, begitu lah pikirnya.


Rebecca mengeluarkan sebentuk amplop dari dalam tasnya dan menyerahkannya ke Clara. "Ini, anggap saja sebagai hadiah perpisahan kita." Ucapnya.


Meski agak heran, Clara pun menerima amplop tersebut. Ia sempat mengucapkan terimakasih sebelum Rebecca benar-benar meninggalkannya.


Dengan kening yang berkerut heran, tangan Clara pun menyobek amplop itu dan melihat isinya. Hampir saja ia melihat isinya, seseorang tiba-tiba menahan tangannya. Clara mendongak dan mendapati Guy dan Feng ada disana.

__ADS_1


"Kamu ngapain disini?" Tanya Feng.


"Justru aku yang harus tanya itu sama kakak. Kenapa kalian bisa ada disini? Kalian tidak mengikuti ku, kan?" Tanya Clara sambil menatap kedua orang itu dengan tatapan penuh curiga.


Feng mengangkat bahu acuh tak acuh. Memang itulah kenyataannya. Pandangan mata Feng tertuju ke arah amplop yang ada ditangan Clara. Dengan cepat pemuda itu menyambar amplop itu dan membaca isinya.


Clara yang tidak terima amplop itu direbut begitu saja dari tangannya berusaha merebutnya kembali. Namun, belum sempat ia meraih surat itu Feng sudah merobek-robek isinya  sambil tersenyum.


"Kak Feng apa-apaan sih? Kok kertasnya disobek? Clara kan belum melihat isinya?" Protes Clara sambil memasang wajah perang. Feng sama sekali tidak menghiraukannya. Akan sangat gawat kalau Clara melihat isi amplop yang diberikan oleh Rebecca.


"Pulang." Kata Guy yang sejak tadi hanya diam saja. "Keluarga kamu sudah pulang semua, lho." Imbuhnya lagi.


Clara membelalakkan matanya. Keluarganya sudah pulang?


"Masa'?" Tanyanya tidak langsung percaya. Bisa saja kan itu cuma akal-akalan Feng dan Guy saja.


Guy memutar bola matanya malas. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan handphone. Lalu memperlihatkan sesuatu pada Clara.


Clara menyorot Guy dengan tatapan malas. "Enak aja lumutan. Emangnya keluarga aku batu, apa?!"


"Bukan keluarga kamu kali, Cla. Tapi kamu. Dasar kepala batu!"


"KAK FENG!" Clara menjerit histeris. Enak aja Feng bilang kalau ia keras kepala seperti batu. Tapi emang benar sih. Hehehe.


"Udah ah, pulang!" Tanpa banyak bicara lagi, Guy langsung menyeret Clara dan membawanya pulang ke rumah. Berhubung karena Guy dan Feng tadi naik taksi, kedua orang itupun nebeng di mobil Clara.


*****


Angelo tampak serius saat membaca pesan yang baru saja dikirim oleh Feng ke ponselnya. Jadi dugaan mereka benar, ya. Kedua orang itu sudah merencanakan sesuatu untuk menjebak Clara.


Dan Angelo akui, cara mereka kali ini sungguh berbahaya. Andai saja Feng dan Guy tidak datang tepat waktu ke tempat Clara, entah apa yang terjadi pada anak gadisnya nanti.

__ADS_1


"Feng bilang apa, Dad?" Tanya Sarah sambil meletakkan secangkir teh hangat diatas meja dan duduk disebelah suaminya.


"Rebecca berencana menyerahkan amplop ke Clara." Jawab Angelo sambil menyeruput teh yang baru saja dibuatkan isterinya. Meski raut wajahnya tampak tenang, tapi hatinya benar-benar gelisah.


Sudah dua puluh tiga tahun, tapi kenapa wanita itu sama sekali belum bisa melepaskan dirinya dan membiarkan keluarganya hidup dengan tenang, ya? Dia dan adiknya bahkan sudah mulai berkeliaran didekat Clara.


Lengah sedikit saja, bisa-bisa kedua anaknya terancam bahaya.


"Amplop?"


Angelo menatap manik mata indah isterinya. "Kamu ingat kan  pas Clara ikut lomba Storytelling dan mendapatkan juara?" Sarah mengangguk. "Lomba itu diberitakan dalam bentuk surat kabar USA. Dan surat kabar itulah yang sebenarnya mau diperlihatkan Rebecca padanya."


Sarah merapatkan bibir. Menatap Angelo dengan tatapan tidak percaya. Jadi wanita itu berniat memperlihatkan surat kabar yang memuat lomba Storytelling yang pernah dimenangkan Clara saat Clara masih kecil? Gila. Ini benar-benar gila. Bisa-bisa Clara langsung tau kalau dirinya pernah lancar berbahasa Inggris.


Sarah memijit pelipisnya pening. Makin kesini dua orang itu makin berani. Kenapa sih mereka tidak membiarkan Clara setelah kejadian itu. Dan kalau Jessica dendam padanya yang sudah menjadi isteri Angelo, kenapa harus Clara sih yang menjadi sasaran balas dendamnya? Kenapa bukan dirinya saja?


"Daddy, Mummy." Panggil Raymond yang baru saja menuruni tangga dan berjalan menghampiri kedua orangtuanya dengan wajah yang ditekuk. "Kakak mana sih? Kok lama banget." Gerutunya.


Sarah tersenyum tipis sambil mengusap rambut pirang anak bungsunya. Kedua anaknya sudah tumbuh dewasa. "Kamu yang sabar dong sayang, kakak kamu pasti akan datang." Hiburnya. Sarah juga sudah sangat merindukan anak perempuannya itu sih. Sudah berbulan-bulan lamanya mereka tidak berjumpa.


BRAK!


Pintu masuk rumah terbuka lebar. Menampilkan sosok Clara yang bersungut-sungut karena belum sempat melihat isinya. Gadis itu terpaku saat melihat Daddy, Mummy, dan adiknya sudah ada disana.


"Kak Clara!" Raymond berlari menghampiri Clara memeluknya dengan sangat erat. "Adek kangen banget sama kakak!"


Clara memukul punggung adiknya karena merasa sesak nafas. Raymond pun melepaskan pelukannya dan menatap kakaknya dengan wajah perang. "Kamu mau membunuh kakak, ya? Sesak tau dipeluk seperti itu!" Gerutu Clara.


"Kakak nggak kangen sama aku, ya?" Tanya Raymond. Clara menggelengkan kepalanya sambil tersenyum lima jari. Sialan. Jadi cuma dirinya saja yang merindukan kakaknya ini, ya?


Clara berjalan menghampiri kedua orangtuanya dan memeluk mereka. "Daddy sama Mummy kok lama banget sih perginya, Clara kangen banget sama kalian berdua."

__ADS_1


__ADS_2