
"Hai, Feng."
Clara tersenyum manis saat masuk ke dalam ruang kerja Feng. Seperti yang sudah dikatakan Feng kemarin, hari ini mereka berdua akan menyeleksi beberapa orang calon karyawan untuk perusahaan mereka.
Sebenarnya Feng bisa saja sih mengambil keputusan itu sendirian. Namun, karena ia sangat menghormati posisi Clara sebagai anggota keluarga Wiratama, pemuda itu pun berencana merekrut anggota baru dengan persetujuan Clara langsung.
"Oh, hai, Clara. Tumben jam segini udah datang." Ucap Feng sambil mengalihkan perhatiannya yang sejak tadi tertuju ke layar laptop.
"Nggak ada kerjaan di kantor. Makanya aku bisa langsung kesini." Jawab Clara sambil berjalan menghampiri Feng. Ia melihat layar laptop Feng, melihat apa yang sedang dilakukan oleh sepupunya itu.
Entah kenapa, jantung Feng berdetak kencang saat Clara begitu dekat dengannya. Ia menjadi gugup seketika. Astaga. Apa-apaan ini? Kenapa perasaannya jadi begini, ya?
Clara yang mengamati layar laptop Feng jadi tidak menyadari perubahan sifat sepupunya itu. Di layar monitor laptop terdapat foto belasan orang perempuan yang berwajah cantik. Clara mengerutkan keningnya saat tidak mendapati foto laki-laki disana. Ia melirik Feng dengan tatapan malas.
"Laki-lakinya mana?" Tanya Clara tiba-tiba.
"Hah?"
Feng jadi gelagapan sendiri saat Clara berbicara dengannya secara tiba-tiba. "I, itu, apa?"
"Ini semua calon karyawan perusahaan keluarga kita, kan? Yang laki-lakinya mana? Kok perempuan semua?" Ulang Clara sambil menatap layar laptop Feng.
"Oh, yang mau direkrut cuma perempuan saja kok. Kenapa, kamu takut kalah saing sama mereka, ya?" Goda Feng sambil menaikkan sebelah alisnya.
Clara yang gemas dengan pertanyaan sepupunya itu langsung mencubit pinggang Feng. "Idih, mana ada ATASAN yang iri dengan BAWAHAN. Yang ada bawahannya kali yang iri sama atasan."
"Gaya kamu, Cla. Kepedean tingkat kronis."
Clara memutar bola matanya malas. "Iya lah, kakak aja yang belum tau. Yuk kak, kita mulai seleksi calon karyawan kita." Ajak Clara sambil menarik lengan Feng. Memaksa cowok itu untuk berdiri dan berjalan keluar ruangan.
"Mereka ada dimana?" Tanya Clara. Sebuah ide muncul dikepalanya.
"Di ruang tunggu. memangnya kenapa?" Feng yang melihat gelagat diwajah Clara jadi curiga. Jangan-jangan sepupunya ini mau ...
"Jangan bilang ke calon karyawan kita kalau aku anak Presdir atau Wakil Direktur utama, ya?" Pinta Clara sambil memasang wajah memelas pada sepupunya itu.
"Mau menyamar lagi?" Tebak Feng. "Jangan mulai lagi. Baru kemarin-kemarin kamu kena gosip gara-gara gak mengatakan siapa kamu yang sebenarnya malah mau main rahasia-rahasiaan lagi."
__ADS_1
"Oh ayolah, kak. Kita kan mau menyeleksi calon karyawan di perusahaan ini. Jadi kakak percaya saja sama rencana aku, ya?" Setelah mengatakan itu, Clara berbisik di telinga Feng. Mengatakan idenya pada kakak sepupunya itu.
Feng yang mendengar ide cemerlang Clara hanya bisa pasrah. "Ya udah sana, sana. Tapi jangan melakukan hal yang aneh-aneh, ya?"
Clara mengangguk mengerti. Ia sempat mengecup pipi Feng sebelum berlalu pergi. Feng berdiri kaku ditempatnya. Barusan Clara mencium pipinya? Mencium pipinya? Astaga, apa yang aneh dengan Clara, ya?
Salah. Harusnya Feng yang aneh. Kenapa bisa-bisanya ia merasakan gelora asmara pada adik sepupunya sendiri, ya? Apa jangan-jangan Feng mulai suka sama Clara?
*****
Clara pergi ke bagian office dan mengambil mantel petugas kebersihan, lalu memakainya. Setelah itu, ia mengambil sapu ijuk dan pengki.
Gadis itu berjalan menuju ke ruang tunggu perusahaan dan mulai menyapu. Benar apa yang dikatakan Feng. Mereka, belasan calon karyawan di perusahaannya, sedang menunggu pembukaan seleksi yang ditunda setengah jam. Tanpa alasan.
Karena bangku yang ada di ruang tunggu hanya muat untuk sepuluh orang, makanya ada diantara mereka yang terpaksa berdiri. Kalau nggak salah sih, jumlah mereka sekitar 15 orang.
Hampir seluruh calon karyawan itu menatap Clara dengan tatapan jijik tanpa mau membantunya. Diantara mereka bahkan ada yang tidak beranjak dari tempatnya meski melihat melihat Clara yang sedang membersihkan tempat itu.
Dari sini Clara mengambil kesimpulan kalau tidak ada seorang pun yang tau kalau ia memiliki jabatan yang sangat tinggi di perusahaan ini.
Perkiraan Clara nyaris tepat karena ia tidak menyadari tatapan penuh kebencian dan dendam pada seseorang yang langsung mengenali dirinya lewat ciri fisik. Namun, tatapan itu bisa ia sembunyikan dengan sangat profesional.
Seorang wanita cantik berambut hitam dan bermata abu-abu cemerlang menghampiri Clara dengan sebuah senyuman. "Is there anything I can help you with, madam?" Tanyanya.
Pertanyaan itu menghentikan aktivitas Clara yang sedang menyapu lantai yang seharusnya tidak perlu disapu. Hanya orang bodoh saja yang tidak menyadari kalau sebenarnya lantai itu dalam keadaan bersih. Dan sayangnya, keempat belas calon pegawai itu tidak menyadarinya karena terlalu sibuk dengan dunia masing-masing.
Berarti mereka bodoh, dong. UPS.
"Orang luar?" Tanya Clara sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Iya, saya orang Amerika yang baru saja pindah ke Indonesia." Jawab orang itu sambil tersenyum ramah. Bahasa Indonesianya lumayan fasih.
Clara manggut-manggut mengerti. "Tidak usah, lantainya juga sudah selesai ku sapu kok. Terimakasih karena sudah berniat menolong ku." Tolaknya halus. Ia sempat melihat name tag yang bertuliskan Rebecca Alexandria pada wanita itu. Jadi namanya Rebecca, ya?
"Heh, Lo nggak liat apa kalau kita-kita ada disini? Debu tau!" Kata salah seorang calon karyawan disana.
"Tau tuh."
__ADS_1
"Tapi mbak, lantainya kan kotor, jadi harus saya sapu, dong." Sahut Clara. Semua ini sudah masuk ke dalam perhitungannya sih. Ternyata dugaannya tepat sekali. Cara ini bisa digunakan untuk melihat sifat asli calon karyawan yang ada disini.
"Heh, Lo babu diam aja. Pakai acara menjawab lagi!"
"Rasain nih!" Salah seorang calon karyawan lainnya menyiram wajah Clara dengan kopi susu. Untung saja kopi itu tidak negitu panas.
Keterlaluan banget sih mereka. Coba aja kalau Clara nggak pakai acara nyamar jadi petugas kebersihan seperti ini, pasti ia tidak akan pernah menyangka kalau mereka bisa seperti ini.
Bersamaan dengan itu, Lisa keluar dari ruangan seleksi, mengatakan kalau seleksi sudah dimulai dan mereka boleh masuk ke dalam. Untungnya ia tidak menyadari kalau petugas kebersihan yang ada disana itu Clara yang sedang menyamar. Huhh, penyamaran yang nyaris sempurna kalau saja orang itu tidak menyadarinya.
Melihat Lisa keluar dari dalam ruang seleksi, seorang wanita yang usianya tak jauh beda dengan Clara langsung berjalan kearahnya.
"Kakak ..."
Wtf?
Clara yang melihat wanita itu jadi gemas sendiri. ternyata orang yang menyiramnya dengan kopi itu asiknya Lisa. sialan bener tuh bocah. Gak ada bedanya dari sang kakak yang suka mencari gara-gara dengan Clara.
Setelah semua calon karyawan itu masuk ke dalam ruang seleksi, Clara lekas membersihkan kopi itu dari wajahnya dan masuk ke dalam.
Orang-orang yang melihatnya masuk ke dalam ruangan itu jadi heran dan bingung sendiri. Mereka semua kelabakan saat Clara duduk di kursi petinggi perusahaan dan membuka mantel petugas kebersihannya. Di pakaiannya tertera nama Clarissa Wiratama.
"Selain Rebecca Alexandria, dinyatakan gugur dalam seleksi ini." Kata Clara. Tegas dan jelas.
"Hah?"
"Tapi Mbak, disini ada adik kandung saya, lho. masa' mbak nggak mau meluluskannya juga?"
"Mau pakai startegi orang dalam? Huh, kamu pikir jabatan kamu setinggi apa sih? Setinggi langit? Kalau kamu nggak ngemis-ngemis minta jangan dikeluarkan dari perusahaan ini auto sudah kami DO kamu. Jabatan cuma sebatas pegawai sok mau memakai strategi orang pegawai segala." Cibir Clara dengan kejamnya. Itu mulut nggak pernah makan bangku sekolah, ya? Main nyerocos saja.
Melihat orang-orang itu tidak beranjak dari duduknya, Clara semakin menjadi-jadi. "Ngapain kalian masih ada disini? Keluar, keluar!" Usir Clara.
"Ta, tapi ..."
"Clarissa?" Tegur Feng yang sejak tadi hanya geleng-geleng kepala mendengar perkataan sepupunya itu. Jadi begini kalau seorang Clarissa Rasandra Wiratama sedang kesal, ya?
"Ck, iya iya, ah. Kamu, kamu, kamu, kamu, kamu, dan kamu, boleh bekerja disini asalkan tidak merugikan perusahaan." Kata Clara sambil menunjuk beberapa orang pegawai. Tadi ia semakin mempelajari nilai ijazah mereka sih, makanya ia tidak bakal salah memilih. Nantinya ia dan Feng akan menempatkan sepuluh orang calon pegawai yang lulus seleksi di beberapa perusahaan cabang yang membutuhkan tambahan pegawai.
__ADS_1
"Tak ku sangka kalau dia itu nona Clarissa Rasandra Wiratama."
"Dia pakai acara nyamar sebagai petugas kebersihan sih."