Kutukan Dua Bahasa

Kutukan Dua Bahasa
Bab 18: Rencana Kencan


__ADS_3

Tiga hari dirumah tanpa melakukan apapun membuat Clara pusing bising bukan kepalang. Bosennya itu lho. Apalagi setelah pingsan karena mag, Clara dinyatakan demam. Sekarang Clara sudah baikan.


Seperti biasa, selepas sakit Clara merengek pada Mummy-nya supaya diperbolehkan kuliah. Gak mungkin juga kan, Clara bolos terus.


"Yakin kamu udah gak apa-apa, Cla?" Tanya Sarah cemas.



"Clara baik-baik saja kok Mum. Kan sudah sembuh!" Jawab Clara sambil tersenyum manis. Ia sangat bersyukur mempunyai ibu seperti Sarah.


"Yakin mau berangkat sekarang? Udah jam segini lho. Yang lain juga udah pada berangkat duluan!"


"Gak apa-apa." Clara mengecup pipi Mummy-nya dengan penuh kasih sayang, lalu keluar kamar dan berangkat ke kampus. Sudah tidak banyak waktu lagi, karena itulah Clara semakin mempercepat laju kendaraannya.


Setelah memakan waktu belasan menit, Clara akhirnya sampai di kampus. Hufft, untung dirinya tidak terjebak macet. Saat melewati taman, Clara tanpa sengaja melihat seorang pemuda yang tengah duduk menyendiri di sana. Pemuda itu kelihatan murung sekali. Melihat hal itu, Clara jadi tidak tega dan bergegas menghampirinya.


"Hai, apa ada yang bisa aku bantu?" Tanya pemuda itu.


Si pemuda itu mendongakkan kepalanya menatap wajah Clara. Ia agak terkejut saat melihat bahwa orang itu adalah Clara, si anak blasteran yang tidak bisa berbahasa Inggris.


"A, Aku ..."


*****


"Rey, do you think Clara would like a romantic dinner?" Tanya Bryan pada Rey.


"I don't know, but why would you want to take Clara out to a romantic dinner? Wasn't the match decided by the way who got the chocolate from Clara?" Rey balik bertanya.


"Well, I think doing it is important. Who knows Clara will fall in love with me and give me chocolate!" Jawab Bryan. Sejak ia, Bian, dan Guy terlibat dalam pertandingan memperoleh coklat valentine dari Clara, mereka bertiga kini jatuh ke perang dingin.


"Wow, great idea. But can you at least take your sister too, Mr. Granger?"


Bryan menoleh ke arah adiknya yang cemberut karena tidak pernah diajak dinner.


Bryan membuka mulutnya, namun, belum sempat ia mengucapkan sepatah kata pun, seorang gadis berambut pirang masuk ke dalam kelas. Yap, siapa lagi kalau bukan Clara.


Melihat sahabatnya datang, Amber langsung berdiri dan memeluk Clara dengan sangat erat. "Aku kangen banget sama kamu, Cla!"



Clara terkekeh geli mendengarnya, "Apa'an sih, lebay sekali. Aku kan baru absen tiga hari."


Amber melepaskan pelukannya.


"Permisi ...!"


Seorang pemuda yang tadi ditemui Clara di taman masuk ke dalam kelas. Sahabat dan teman Clara yang melihat orang itu langsung terkejut setengah mati.


"Cla, apa dia pacar kamu?" Tanya Amber.


"Bukan. Dia Bima Agatha, dari fakultas ekonomi. Dia punya masalah, karena aku tidak tahu bagaimana caranya menyelesaikan masalahnya, makanya aku mengajaknya ke sini!" Jelas Amber.


Bryan, Rey, dan Guy menghembuskan nafas lega. Mereka pikir Clara sudah punya pacar. Habis sudah kalau itu terjadi.


Pemuda bernama Bima Agatha itu mulai menjelaskan masalahnya pada Clara dan teman-temannya. "Please make my date with Tessa a success!" Pinta Bima saat mengakhiri ceritanya. Pada akhirnya mereka semua mendengar kan.


"Oh, so you and Tessa were childhood friends. A week ago you shot Tessa and got accepted. then you guys are dating!" Wajah Bima memerah saat Bryan mengatakan hal itu.


"Please tell me a date plan that can make girls happy. You guys are popular, you can definitely help solve my problem, right?"


"Merepotkan saja!" Batin Bian yang sedang mengotak-atik laptopnya. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. "Alright, we'll help with your problem!" Katanya kemudian.


"Me, Bryan and Guy. The three of us will think of a date that we think is best." Jelasnya, "Tomorrow we start one by one. Clara will be our partner.And later he will decide which date is the best!"


"Eh?"


"So that means which of us can make Clara's heart flutter, I see?" Tebak Guy.

__ADS_1


"Let's have a serious match!" Bryan menarik lengan Clara dan memeluknya.


"Kamu ngapain sih, Bryan!" Ketus Clara setelah melepaskan diri dari pelukan Bryan.



"Uh? Don't be so fierce, Clara!"


"Ukh, just like an idiot. Get tight with Clara" kata Guy sambil bertopang dagu. Meski terlihat tidak peduli, sebenarnya ia mempunyai misi yang penting untuk mengingatkan kembali Clara pada dirinya.


"Can I be the first?" Tanya Bian sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Then I'm the second, and The last guy!"


*****


Keesokan harinya dirumah Bian.


"Clara, apa kamu sudah siap?" Tanya Bian sambil mengetuk pintu ruangan yang sedang ditempati oleh Clara.



"Belum!" Jawab Clara. Ia sedang memakai perlengkapan untuk latihan memanah dibantu oleh pelayan dirumah Bian. Ini kali ke sekian Clara main ke rumah Bian sih.


"Kalau begitu aku duluan, ya?"


"Iya!"


Clara menghela nafas kasar. Ia mengamati gelang pendeteksi detak jantung berdasarkan banyaknya keringat yang keluar dari denyut nadi. "Mengebalkan sekali. Aku seperti kelinci 🐰 percobaan saja!" Kata Clara pada dirinya sendiri. Ia berjalan menuju tempat latihan memanah Bian.


Sementara itu, diruang monitor, Guy, Bryan, dan Rey tengah mengamati perkembangan gelang tersebut.


Rencana kencan nomor 1 menurut Bian Saputra Adi.


"Bian, maaf ya sudah membuatmu menunggu lama!" Kata Clara.


𝑇𝑒𝑟𝑝𝑒𝑠𝑜𝑛𝑎


𝐴𝑘𝑢 𝑡𝑒𝑟𝑝𝑒𝑠𝑜𝑛𝑎 ...


"Oh hebat! Bian keren!" Alat menunjukkan kalau tensinya naik.


"Apa Clara mau mencobanya?" Tawar Bian.


"Iya! Aku mau!" Clara memegang busur dan bersiap hendak membidik, "Apa posisinya seperti ini?" Tanya Clara.


"Hmm😅 agak keatas sedikit!" Kata Bian. Ia langsung memberi arahan pada Clara. Jleb. "Kalau kamu mengingat posisi yang tadi kamu pasti bisa!"


Setelah berlatih memanah beberapa jam, Clara akhirnya jatuh tertidur. Niatnya sih mau istirahat sebentar. Tapi malah ketiduran seperti itu.


"It's Bian, no need to think about it!" Kata Bryan sambil menepuk pundak Bian, "You see me? I'll show you how to go on a date that fascinates Clara!


*****


Rencana kencan nomor 2 menurut Bryan Adams Granger


"Wahh, pemandangan malamnya bagus sekali!" Clara sangat terpesona pada pemandangan yang tampak dari jendela tempat ia dan Bryan makan malam. "Bryan, coba kamu lihat itu!"


Bukannya melihat pemandangan, Bryan malah menatap Clara dengan tatapan penuh pesona. "Bry ... Bryan, sayang sekali lho kalau kamu tidak melihat pemandangan di luar"


"Ah, sorry, but I rather than look at the sight, I feel happier to see you!" Kata Bryan memulai aksinya.



Clara tidak segera menjawab, ia meminum minumannya sambil memikirkan sesuatu, "Bryan, kamu selalu memperlakukan wanita seperti ini, ya?"


"Ng?"

__ADS_1


"Entah kenapa aku jadi tidak suka dengan perlakuan mu ini. Kencan seperti ini terlalu dewasa, yah meski kita sudah dewasa sih. Aku merasa tidak tenang!"


Alat pendeteksi mengatakan kalau detak jantung Clara biasa-biasa saja.


Bryan tiba-tiba bangkit dan menghampiri Clara, "Indeed, I often date many women, but there is no woman more charming than you . I knew that from the first time we met. this is destiny!"


Bryan mencium tangan kanan Clara. Wajah Clara memerah. Bryan mendekatkan bibirnya ke telinga Clara dan berbisik lirih, "Clarissa ..."


"Bry ... an"


Syuungg


Tiba-tiba Clara pingsan, hampir saja ia jatuh dari kursi kalau Bryan tidak segera menahan bahunya. "Very sweet!" Bryan menggendong Clara ala bridal style. "then let's go to bed now!"


Take out!


Guy, Rey, Bian, dan Bima segera menghampiri Clara dan Bryan.


"Wait a minute! Who told you to do that, huh?" Tanya Guy. Ia benar-benar emosi karena Bryan bertindak sejauh ini.


"It is okay, right.After all, that doesn't mean our clients don't do that, does it. It's actually a natural thing, right?"


"You're going overboard, Bryan. Indonesia is not America that allows free sex." Bian memperingatkan.


Sementara itu, Rey kelabakan karena Clara pingsan karena minuman yang diminumnya mengandung alkohol. "Bryan, the drink has alcohol in it, doesn't it? This is your base. If Clara's family finds out, your history is over!"


*****


Rencana Kencan 3 menurut Guy Ethan


Keesokan harinya, Clara tengah mengamati peta panduan yang ada ditaman ria. "Selanjutnya kita naik ini atau ini ya, enaknya ..."


"Hah? Just take the one closest to here!" Kata Guy dengan ekspresi tidak suka.



"Kenapa kamu bersikap seperti tidak suka begitu, sih?" Tanya Clara kesal.


"Actually, I don't really like crowded places. I already told you that I want to book this entertainment place!" Guy sebenarnya anak orang kaya raya. Ada alasan kenapa ia menetap dikediaman Wiratama.


"Untuk apa kamu mau membooking-nya? Tidak usah!" Cegah Clara, ia sebenarnya sama dengan Guy. "Terus kenapa kamu memilih taman hiburan sebagai tempat kencan?"


Guy tidak menjawab perkataan Clara. Dia nyuekin Clara, ya ...


"Aahh, membosankan sekali. Aku lebih suka dengan gaya kencan Bian dan Bryan. Lebih membuatku berdebar-debar. Kalau begini sih lebih baik aku jalan sendiri saja, deh!"


Guy terkejut saat Clara mengatakan hal itu. "Well, just do as you please!"


"Ya sudah ..." Clara langsung berbalik arah dan meninggalkan Guy ditengah keramaian. Bukan, bukan ini yang Guy mau.


Clara terlihat fokus saat bermain penjepit boneka. "Aduh, padahal tinggal sendikit lagi!" Clara menghela nafas panjang, "apa yang sebenarnya aku lakukan sih. Apa aku pulang saja, ya?"


Clara menoleh kearah tasnya. Namun sayang, tas Clara sudah tidak ada ditempat. Gadis itu segera bangkit dan mendapati kalau tasnya sudah dibawa orang yang tidak dikenal. "Pencuri!"


Clara hendak mengejar pencuri itu, namun terlambat. Tiba-tiba sebuah tempat sampah melayang ke arah pencuri dan tepat mengenai target.


Ternyata Guy. Ia mengambil tas Clara dan mengembalikannya pada sang pemilik.


"Guy, kenapa kamu memakai topeng seperti itu?" Tanya Clara heran. Bukannya menjawab, Guy malah menyerahkan buket bunga yang dibawanya pada Clara.


"Sorry, I don't know how to make you happy. I also can't say romantic like Bryan. But I won't lose to them!" Kata Guy sambil melepaskan topengnya. Wajahnya bersemu merah. Ia mengulurkan tangannya pada Clara, "Let's fix our broken date. I've decided to take this date seriously!"


Clara terkejut mendengar perkataan yang tidak disangka itu. Belum sempat ia mengatakan apa-apa, Guy sudah menarik lengannya. Melihat ekspresi Clara yang seperti orang kebingungan, Guy pun tertawa terbahak-bahak. "Why are you so surprised?"


Jantung Clara tiba-tiba berdetak kencang. Wajahnya bersemu merah. Ia jadi tidak tenang.


Sementara itu, Bryan yang tengah mengamati layar di mobil monitor bersama yang lain tampak terkejut melihat perkembangan gelang pendeteksi detak jantung, "Hah? Why? The heart monitor is broken. Mike's and his GPS are also broken. Since then the diagram has been going up!"

__ADS_1


__ADS_2