Kutukan Dua Bahasa

Kutukan Dua Bahasa
Bab 51: Gara-gara Raymond


__ADS_3

Clara dan Diamond melangkah kalinya keluar dari dalam lift. Kemudian berpisah. Diamond pergi ke ruangannya sedangkan Clara duduk dimeja kerjanya.


"Pagi Clara!" Sapa Tessa sambil tersenyum ramah.


"Pagi!"


Tasya berdehem keras sambil menatap Clara dengan tatapan tajam. "Senang ya, jadi cewek cantik. Kalau ada cowok kaya sedikit aja langsung main embat. Mana mereka masih keluarga, lagi!"


Clara melirik Tasya sekilas, ia berusaha mengabaikan segala perkataan Tasya yang bisa memancing emosinya kapan saja. Ini masih pagi guys, jadi gak seru kan kalau kelahi.


Clara membuka bungkusan makanan ringan yang sempat ia beli saat dalam perjalanan menuju kantor dan memakannya. Tasya yang melihat itu menjadi panas. "Heh, dilarang makan pas jam kantor!"


Clara menoleh ke arah Tasya dan menguapkan makanan ringan ke dalam mulutnya. "Memangnya itu berlaku untuk kekasih atasan, ya?"


"Heh, Clara, meskipun kamu kekasihnya Sir Diamond atau Sir Nicolas, kamu cuma junior disini. Hargailah kami yang menjadi senior kamu!" Tegur salah seorang pegawai laki-laki.


Clara tersenyum sambil mengangguk mengerti, "Yahh, aku memang menghargai kalian sebagai senior ku sih, hanya saja ..." Clara tidak melanjutkan perkataannya, ia menatap Tasya sambil menaikkan sebelah alisnya, "Hanya saja kalau kalian menghargai saya sebagai junior kalian."


"Clara bisa diam nggak?" Tanya Joanna.


Clara mengangkat bahunya acuh tak acuh. "Dih, nggak sadar apa kalau temannya yang memulai dulu?" Ucap Clara. Gadis itu dengan santainya kembali memakan makanan ringannya tanpa memperdulikan orang-orang sekitar.


Tiba-tiba ...


"KAKAK!"


Clara tersedak saat mendengar suara yang amat familiar ditelinganya itu. Ia kaget saat melihat Raymond sudah ada disana. Wahh gawat nih.


"KAK CLARISSA RASANDRA WIRATAMA!!!" Panggil Raymond lagi. Kayaknya dia sengaja deh menyebutkan nama Clara dengan embel-embel Wiratama.


Clara membulatkan kedua bola matanya. Begitu juga dengan seluruh pegawai yang ada disana.


Raymond menaikkan sebelah alisnya saat melihat reaksi orang-orang sekitarnya. Ia sudah pernah datang ke kantor ini beberapa kali sih. Makanya banyak orang yang sudah mengenalnya.


"Lho, kalian pada nggak tau ya kalau dia kakak kandung aku?" Tanyanya.

__ADS_1


"Kakak? Adik?" Tasya melirik ke arah Clara dengan panik. Begitu juga dengan orang-orang yang selalu mencari gara-gara dengannya.


Clara tersenyum canggung. Gara-gara adiknya, ia terpaksa mengakui ini semua didepan semua orang.


"Iya, kenapa? Aku anak pertama pasangan suami istri Angelo Juanda Wiratama dengan Sarah D'angelo Thompson. Orang yang kalian pikir sebagai kekasih ku itu dua pamanku yang aku panggil dengan sebutan Angky dan Ommy. Jelas?"


Mereka semua mengangguk percaya. Tasya dan teman-temannya mendadak pucat pasi. Mereka semua tidak menyangka kalau Clara anaknya Presdir.


Clara menatap adiknya dengan tatapan tajam. Ia berjalan menghampiri adiknya dan menjewer telinganya. Lalu menyeretnya masuk ke dalam ruangan Diamond.


Pintu ruangan Diamond terbuka. Menampilkan sosok Diamond yang menatap kedua ponakannya dengan tatapan heran. Pandangannya tertuju ke arah Raymond yang meringis kesakitan karena Clara belum melepaskan jewerannya.


"Lho, kok Raymond bisa ada disini, ya?" Tanya Diamond. Ia meminta Clara untuk melepaskan tangannya dari telinga Raymond.


"Tau tuh Om, datang-datang langsung manggil Clara dengan sebutan kakak!" Timpal Clara sambil melirik adiknya dengan tatapan sinis.


"Lah, kakak kan memang kakaknya Raymond." Balas Raymond. Ia mengusap telinganya yang nyeri setelah dijewer oleh Clara. Merah coy. Nih kayaknya Clara berbakat jadi kak RosĀ  dalam kartun Upin dan Ipin deh.


"Ngomong sekali lagi kakak coret nama kamu di KK!"Ancam Clara sambil menatap Raymond dengan tatapan tajam.


"Permisi ..."


Tasya, Joanna, dan Mila masuk ke dalam ruangan Diamond. Clara yang melihat mereka bertiga masuk sambil menundukkan kepalanya jadi heran sendiri.


"Kalian yang menyebarkan rumor kemarin, kan?" Tanya Clara sambil menaikkan sebelah alisnya, "Sekarang sudah tau kan, hubungan gue sama mereka bertiga?" Bertiga dengan Feng.


Tasya dan kedua temannya mengangguk. Dengan perasaan cemas dan gugup mereka menatap ke arah Clara. Mereka pikir Clara akan marah dan meminta mereka untuk dipecat. Tapi nyatanya tidak tuh. Buktinya saja Clara masih bersikap seperti biasa pada mereka.


"Sa, saya kesini mau minta maaf sama mbak Clara karena sudah menyebarkan rumor kayak gitu dikantor."


"Ohh, kalau boleh tau darimana kalian mendapatkan rumor itu, ya?" Tanya Raymond sambil menatap mereka bertiga dengan tatapan menyelidik.


"I, itu, Mbak Lisa yang jadi sekertaris Sir Nicolas."


"Hmm, jangan beritahu dia soal identitas ku, ya? Bisa saja dia tau dari orang lain, tapi aku pasti akan langsung menaruh curiga pada kalian meski bukan kalian lah pelakunya." Pinta Clara yang dibalas anggukan oleh mereka bertiga.

__ADS_1


Setelah ketiganya pergi, Clara duduk disofa yang ada disana. Ia memijit pelipisnya pening. Raymond berjalan menghampiri Clara dan duduk disebelahnya.


"Kakak masih marah sama Raymond, ya?" Tanya Raymond sambil memasang wajah memelas.


"Nggak. Kakak nggak marah kok." Jawab Clara sambil tersenyum simpul. Ia tidak tau apa yang hendak dilakukannya sekarang. Jatah magangnya hanya tinggal beberapa hari lagi, sedangkan orang-orang disini sudah tau kalau Clara anaknya Presdir. Rasanya nggak mungkin deh ia melanjutkan magangnya disini.


Kalau magang di kantor Angky, rasanya tidak mungkin lah. Clara kan jadi asistennya Nicolas. Entar kalau tugasnya numpuk kan repot.


Cabang perusahaan Wiratama tidak cuma satu dua sih. Tapi banyak. Clara juga tidak suka bertemu dengan orang-orang baru atau orang yang tidak dikenal. Hmm, kalau acara magangnya berhenti ditengah jalan kan sayang.


Masalah itu terus Clara pikirkan sampai ia tiba di rumah. Hari ini tidak ada jadwal ke kantor Nicolas sih. Makanya ia bisa langsung pulang.


"Murung terus, lagi mikirin apa?" Tanya Guy sambil mengagetkan Clara dari lamunannya. Clara tersentak kaget. Ia melirik Guy dengan tatapan sinis saat cinta pada pandangan pertamanya itu menertawakan dirinya.


Karena kesal, Clara pun memukuli tubuh Guy dengan bantalan sofa berkali-kali. Guy mengaduh kesakitan dan meminta ampun padanya.


"Galak amat sih neng!" Ucap Guy sambil menyenderkan punggungnya di senderan sofa. "Kamu lagi mikirin apa, hm?"


Karena merasa nyaman berada didekat Guy, Clara pun menceritakan beban pikirannya ke Guy yang sudah seperti sahabatnya sendiri.


"Ohh, kenapa kamu nggak magang di perusahaan keluarga ku saja? Perusahaan gak kalah besarnya dengan perusahaan keluarga kamu, lho!" Tawar Guy. Ia pasti akan merasa senang sekali saat Clara mau satu kantor dengannya.


"Bosen dong mata aku melihat kamu lagi. Kamu lagi." Clara berdecak, "Kali-kali liat yang bening dikit."


Wahh ini nih awal masalah calon pasangan hidup. Kurang bening apalagi Guy coba? Ganteng, so pasti. Keren? Gak usah ditanya lah. Semua orang tau kalau ia keren sejak lahir.


"Ya sudah, kamu lanjut magang aja di perusahaan keluarga Bian saja!" Kata seseorang tiba-tiba. Clara dan Guy saling pandang satu sama lain. Lalu melihat kearah sumber suara. Ternyata Nicolas yang datang bersama pria yang mirip dengan Bian. Kayaknya dia bapaknya Bian deh.


"Hah?"


"Kamu bisa lanjut magang di perusahaan keluarga Bian kok. Untung-untung buat nambah pengalaman kamu." Lanjut Nicolas lagi.


"Jadi ini yang namanya Clarissa Rasandra Wiratama itu, ya? Memang cantik seperti yang dikatakan anak saya, ya." Ucap Bapaknya Bian sambil tersenyum aneh.


"Oh iya, kenalin. Dia ayahnya Bian, namanya Om Vian. Dia mau menjalin kerjasama dengan perusahaan kita!"

__ADS_1


Ohh, jadi nama ayahnya Bian itu Om Vian, ya ...


__ADS_2