
Selama berada di Amerika, Guy selalu menelepon Clara menayangkan kabar gadis itu. Rencananya, ia mau pulang ke Indonesia karena sudah tidak ada lagi urusan yang harus ia selesaikan.
Setelah meminta izin ke Angelo, Guy membereskan pakaian untuk perlengkapan nanti. Tidak banyak sih yang mau ia bawa karena sebagian pakaiannya masih tersimpan rapi di rumah keluarga Wiratama.
Guy mengambil ponselnya, ia mencari nomor Clara untuk memberinya kabar soal kepulangannya besok.
Didering ketiga, Clara mengangkat teleponnya. Suaranya terdengar dari seberang sana. "π»πππ, πΊπ’π¦?"
"Hai, Clara. Kamu apa kabar? Sudah dua hari ini lho aku nggak mendengar kabar kamu."
"πΎππππ πππ’ ππππ πππ. πΆπ’ππ ππππ π πππ’π πππ. πΎππππ’ ππππ’ π ππππππ πππ πππππ?"
"Baik juga. Oh iya Cla. Kemarin aku udah izin sama Daddy kamu buat tinggal dirumah kamu lagi. Nggak papa kan?"
"πππ πππππ πππ-πππ πππ, πΊπ’π¦. πππππππ πππ’ π πππππ πππππ’ ππππ’ π‘ππππππ πππ πππ. πΎππ πππ π ππππππππ πππ’. ππππππππ¦π ππππ’ πππ’ πππππ ππ πΌππππππ ππ, π¦π?"
"Iya. Urusan aku udah selesai semua. Jadi gak ada gunanya aku lama-lama disini."
"ππ π¦π? π½πππ πππππ ππππ’ πππππ ππππ ππ π πππ?"
"Besok aku udah berangkat kok. Sepertinya aku udah gak sabar buat ketemu sama kamu."
"πΌπππ. ππππ ππ’ππ’ π¦π, πΊπ’π¦. π΄ππ’ ππππ ππ ππππ‘ππ π πππππ¦π."
"Iya. Yang semangat ya kerjanya, cantiknya aku."
"πΌπππ."
Panggilan pun terputus. Guy meletakkan ponselnya diatas nakas dan merebahkan tubuhnya di atas kasur. Pemuda itu menatap langit-langit kamarnya. Mendadak, ia seperti teringat sesuatu. Guy merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kotak cincin. Ia menyunggingkan senyum. Semoga saja dia mau menjadi kekasihnya.
__ADS_1
*****
Sementara itu di belahan bumi lain. Clara yang disibukkan dengan berbagai macam urusan lebih bersemangat setelah menerima telepon dari Guy. Kerjasamanya dengan perusahaan Adi berjalan dengan sangat baik hingga banyak perusahaan lainnya yang mau mengadakan kerja sama dengan perusahaannya. Sesekali Feng juga membantu dirinya setiap kali ia memiliki banyak pekerjaan. Jadi Clara tidak sendirian meski keluarganya tak ada disini.
Pintu ruangan Clara terbuka. Menampilkan sosok Rebecca yang masuk ke dalam. "Kelihatannya kamu senang banget deh, Claire. Habis menang undian, ya?" Tanyanya. Sebulan yang lalu Clara mengangkat Rebecca menjadi sekertarisnya menggantikan Elizabeth yang kini menjadi sekertaris Feng.
Rebecca juga memanggil Clarissa dengan sebutan Claire. Mungkin karena tidak biasa menyebut nama Clara meski sudah cukup lancar berbahasa Indonesia.
"Kepo." Jawab Clara sambil tersenyum manis. Rebecca geleng-geleng kepala melihat tingkah atasannya yang agak kekanakan meski usianya sudah hampir menginjak dua puluh satu tahun.
Rebecca menyerahkan map yang dibawanya pada Clara. "Ini laporan keuangan perusahaan kita. Penghasilannya naik dua puluh lima persen dari sebelumnya." Lapor Rebecca. Ia pamit undur diri setelah melakukan tugasnya.
Baru saja ia menginjakkan kaki keluar ruangan Clara, ponselnya tiba-tiba bergetar pertanda ada panggilan masuk. Wanita itu mengambil ponsel dan melihat nomor telepon kakaknya. Tertera nama Jessica disana. Rebecca mengembangkan senyum indah sambil menerima panggilan dari kakaknya.
"My sister, I've prepared a wide range of plans to trap the damn girl. All I need to do when just closing him to him not to suspect to me."
Setelah mengatakan itu, Rebecca memutus panggilan sepihak sambil tersenyum miring. Lebih baik ia menorehkan prestasi untuk sementara ini sebelum menuntut balas atas penderita kakaknya yang diputuskan oleh Angelo.
*****
Hujan gerimis terus saja turun. Ia melihat jam tangannya. Ia menghela nafas panjang. Dua puluh menit lagi ia akan terbang ke Singapura, lalu terbang ke Jakarta, Indonesia.
Guy merasa senang dan bahagia karena akan segera bertemu dengan Clara di Indonesia. Baru satu bulan lebih di Amerika Guy sudah merindukan Clara. Padahal sebelum ini ia tidak begitu mempermasalahkan Clara yang dibawa pergi jauh darinya selama bertahun-tahun.
Setelah melihat Claire-nya tumbuh dewasa menjadi seorang gadis yang sangat cantik, Guy jadi tidak rela kalau gadis itu dimiliki orang lain. Clara sudah ditetapkan jadi miliknya. Jadi siapapun tidak boleh mengisi hatinya selain dirinya. Egois memang. Tapi begitu lah seorang Guy yang mempunyai nama lain Cool.
Beruntung sekali waktu Guy tau kalau Clara belum pernah menjalin hubungan dengan pemuda manapun. Hal itu cukup memudahkan langkahnya untuk mengingatkan kembali sosoknya dimasa lalu pada Clara.
Meski Guy berusaha mengingatkan Clara tentang dirinya, tapi ia tidak akan pernah mengingatkan Clara tentang masa lalu kelamnya. Karena ia sudah berjanji pada Raymond yang langsung mengenali dirinya sebagai sosok Cool, teman masa kecil Clara.
__ADS_1
Hujan mulai mereda. Seorang wanita muda berpakaian rapi mendekatinya dan berkata. "Sorry, are you a passenger on a Singapore flight?"
Guy tergagap dan menjawab, "Yes, true."
"Sorry, please get on the plane. It's the last call."
"Yes ma'am, fine. Thank you.
Guy menghela nafas. Ia bangkit dan berjalan menuju pesawat. Hujan sudah mereda, tapi sayangnya langit masih hitam jelaga. Beberapa saat kemudian pintu pesawat ditutup. Pelan-pelan pesawat bergerak mundur menjauhi garbatara lalu bergerak ke landasan. Awak pesawat meminta agar segala jenis pesawat seluler dimatikan dan sabuk pengaman dikenakan.
Guy menatap ke luar. Hujan benar-benar telah reda. Yang tampak dari jendela hanyalah awan pekat. Sesekali pesawat goyang. Ia sama sekali tidak cemas dan tegang. Sebab ia tau begitu pesawat berhasil mengangkasa maka masa kritisnya berakhir.
Dari jendela ia melihat garis kilat menyambar. Pesawat terus melesat menerobos awan. Lampu tanda kenakan sabuk pengaman belum dimatikan. Pesawat kembali goyah.
Ia memandang keluar, lalu mendongak ke jendela. Tampak lautan luas menghampar. Dibawah sana nampak kapal-kapal kecil. Pramugari meminta penumpangnya untuk kembali ke tempat duduk masing-masing karena pesawat akan segera leading. Dari jendela Guy bisa melihat Negara Singapura semakin dekat.
Ketinggian pesawat mulai menurun. Semakin lama semakin rendah. Semakin mendekat ke arah bumi. Dan akhirnya pesawat dari Amerika itu mendarat dengan tenang di bandara internasional Singapura.
Satu persatu penumpang pesawat mulai turun, begitu juga dengan Guy. Saat ia keluar dari pesawat dan melangkah ke Terminal 2, ia mendengar suara seseorang memanggil namanya. Guy menoleh ke sumber suara. Seorang pemuda berkulit putih bersih mengangguk padanya.
"Guy Ethan, right?"
"Yes, who are you?"
"I am Clarissa Rasandra Wiratama's male cousin. My name is Feng."
"Oh, jadi kamu sepupunya Clara, ya."
"Benar. Kamu mau balik ke Indonesia kan? Naik pesawat apa?"
__ADS_1
"Pesawat Air Asia."
"Berarti sama dengan saya. Saya juga mau naik pesawat Air Asia."