
"Apa?? Jadi Mummy menyuruh aku untuk menemani kamu berbelanja?!" Tanya Clara saat mereka sudah sampai di pusat perbelanjaan. Ia kaget saat Rey menerjemahkan perkataan Guy barusan. Amber agak kasihan dengan Rey yang menjadi penerjemah bahasa dua manusia itu. Untung Rey punya rasa sama Clara.
"Yes, he said it wouldn't hurt to take you shopping every now and then. "
" Then you also asked us because you wanted to make us grocery carriers, right?" Tanya Rey sansi.
"Your feelings are sharp too, huh?" Jawab Guy sambil tersenyum, "Certainly not because I find shopping with lots of people fun! "
"You're honest too, huh ... " Rey menoleh ke arah Clara dan bertanya sesuatu padanya, "Kalau kamu, Cla? Kamu mau berbelanja apa?" Tanyanya.
"Aku juga tidak tahu. Mungkin aku butuh beberapa camilan untuk persediaan di rumah." Jawab Clara. Tanpa sengaja, pandangannya bertemu dengan Guy yang membut keduanya saling pandang satu sama lain. Clara segera memutuskan kontak mata tersebut. Entah kenapa wajahnya memerah dan jantungnya berdegup dengan kencang. Apa ia salah makan, ya?
Clara dan Amber akhirnya pergi ke bagian makanan dan minuman, sedangkan Guy dan Rey pergi ke bagian yang menjual pakaian pria.
"Mama, apa dia orang luar negeri?" Seorang anak bertanya pada Mama-nya saat melihat Clara yang tengah memilih camilan untuk persediaannya di rumah, begitu juga dengan Amber. Kedua sahabat itu saling pandang satu sama lain tanpa berniat menanggapi pertanyaan anak kecil itu.
"Clara cantik banget, ya ... cocok sekali kalau kamu jadi model!" Kata Amber tiba-tiba.
"Dibilang cantik pun aku tetap tidak punya pacar, kok!" Sahut Clara. Itu wajar sih karena Clara orangnya tinggi dan cantik. Tapi bodoh dalam bahasa Inggris. Mentang-mentang kuat, suka memulai perkelahian. Sikapnya buruk, suka kekerasan. Pemarah dan suka menentang arus. Intinya kekanak-kanakan. Tatapannya galak, ia berdiri diam saja orang bisa kabur. Tapi dia memahi penderita orang lain. Hatinya benar-benar hangat.
"Ooh, kamu kosong, ya? Padahal manis!" Kata seseorang tiba-tiba. Clara dan Amber menoleh. Ia melihat empat orang om-om berstelan jas rapi yang menghampiri keduanya.
"Kalau begitu, kamu mau main sama kami seharian?" Tanya mereka.
"Wahh, rambut di cat pirang, pakai lensa kontak, mau jadi orang barat, ya?" Sama sekali enggak tuh😅
Clara yang tidak suka melihat kedatangan pria berhidung belang itu langsung memasang wajah masam. Malah diganggu oleh orang-orang aneh.
"Tidak boleh, dia bersama saya, permisi!" Kata Amber sambil membawa Clara menjauh dari sana.
"Eh, tapi cowoknya tidak ada, kan?"
"Sebentar saja. Cuma ngobrol."
__ADS_1
"Kamu manis deh, anak SMA?"
"Bukan, kami mahasiswa tingkat tiga!" Jawab Amber.
"Jangan di jawab, Amber!" Clara memperingatkan. Jumlah mereka terlalu banyak untuk Clara lawan. Yah, cepat-cepat ke kasir saja.
"Cewek berambut hitam itu sekilas oke, tapi tidak asik, ya ..."
Salah seorang pria itu berjalan menghampiri Amber dan merayunya. Clara yang melihat itu langsung mendorong troli hingga mengenai orang itu
"Apa-apaan cewek ini!"
"Awas!"
"Sialan, nurut saja!"
"Kalian sudah cukup mental?" Tanya seseorang dari belakang. Dia meraih kepala dua orang pria tak dikenal dan menghadapkan keduanya satu sama lain. Lalu mengadukan kepala keduanya. Jedhug! Ternyata Reynaldi.
"Rey!"
"Kau temannya?"
"Sadarlah! Kau cuma sendiri! Jangan sok!"
Dengan tenangnya Rey malah berkata, "Justru kalian! Pikirkan lagi kalau mau godain cewek!" Setelah berkata begitu, Guy dan Rey memasang tampang mengerikan yang membuat mereka merinding ketakutan. Lalu menyerang habis-habisan. Seolah tidak mau tinggal diam, Clara pun juga ikut menghajar mereka hingga terjadilah keributan.
"Beraninya ... beraninya kalian mengganggu orang yang aku sukai!" Kata Rey yang membuat Clara tertegun sejenak. Mendengar suara orang ribut-ribut, petugas keamanan pusat perbelanjaan itu langsung mendatangi tempat itu. Clara, Amber, Rey, dan Guy berbegas pergi dari sana.
"Untung mereka bisa dikalahkan!" Keluh Amber saat mereka berempat sudah menjauh dari sana. Ketiga orang itu tidak segera menjawab karena nafas mereka ngos-ngosan setelah berkelahi beberapa saat yang lalu.
"Rey yang paling ngamuk, kan? Dia suka sama Amber tuh!" Kata Clara yang membuat Amber dan Rey terperanjat kaget. Salah tahu!
"After this, where are we going? " Tanya Guy. Timing yang bagus, Rey.
__ADS_1
"Up to you. Is there still a place you want to visit?" Guy balik bertanya.
"I don't think so. "
"Ah, bagaimana kalau kita ke restoran yang ada di tempat ini? Kebetulan aku laper nih?!" Usul Clara.
"Ide bagus."
"Ah, I see Guy, Clara invited us to go to the restaurant in this place. Do you mind? "
Guy melirik ke arah Clara yang berkesan menjauhi dirinya saat pertama kali bertemu. "I think that's a good idea. I happen to be hungry, here! "
Mereka berempat pun pergi ke restoran yang ada di lantai atas. Namun, begitu menaiki lift, seorang anak kecil menahan kaki Clara yang membuat langkah gadis itu tertahan. Ia melihat ke arah anak laki-laki yang sepertinya kebingungan itu.
"Lho, Ibu adek mana?" Tanya Clara. Ia sudah tertinggal dari sahabatnya yang lain. Tapi untuk meninggalkan anak ini sendirian rasanya kasihan juga.
"Pipis ... Mino kebelet pipis ..." Clara yang mendengar itu langsung panik sendiri. Tanpa berpikir panjang ia segera menggendong anak itu dan membawanya ke toilet sebelum anak itu pipis di tempat.
"Lho, Clara mana?" Tanya Amber saat tidak melihat keberadaan Clara.
"Dasar! Cewek itu gak mungkin kesasar, kan?" Meski kata-kata Rey terdengar kasar tapi dia sangat mencemaskan Clara. "Ah, sudahlah! Kita ke restoran saja. Pasti dia nyusul!" Putus Rey akhirnya. Meski berat hati, Amber akhirnya mengikuti langkah Guy dan Rey yang hendak pergi ke restoran.
"Nah, setelah itu kita cari ibu kamu, ya?" Kata Clara setelah anak itu keluar dari dalam toilet.
"Ibu ... " Mendengar kata 'ibu' anak itupun menangis. Dengan susah payah Clara akhirnya bisa menenangkan anak itu. Gadis itupun segera mencari ibu dari anak itu. Ia pun menanyai para pengunjung. Namun tidak ada satu orangpun dari mereka yang mengetahui keberadaan ibu anak tersebut.
Satu jam kemudian, ibu anak itu akhirnya berhasil ditemukan. Bersamaan dengan itu, Rey dan Guy melihat anak yang digandeng ibunya tengah melambaikan tangan ke arah Clara. Keduanya pun langsung tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Clara!" Amber yang sejak tadi mencemaskan keadaan Clara langsung memeluk sahabatnya itu.
"Kamu punya alasan kenapa memisahkan diri dengan kami, kan?" Tanya Rey. Clara mengangguk. Guy mengerahkan kantong plastik berisi makanan cepat saji pada Clara. Meski agak ragu Clara pun menerimanya.
"Rey said you were starving so I bought this for you!" Kata Guy. Persetan dengan mengerti atau tidaknya Clara dengan apa yang ia katakan. Tapi, melihat raut wajah Clara yang sepertinya sedang kebingungan, ia bisa menebak kalau Clara tidak mengerti apa yang ia katakan. Karena sudah menerima makanan pemberian Guy, Clara pun mengucapkan terima kasih.
__ADS_1
Setelah berkeliling sekali lagi, mereka berempat pun memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.