Kutukan Dua Bahasa

Kutukan Dua Bahasa
Bab 50: Masalah di Kantor


__ADS_3

Hari ini, Clara sedang berada di pantry yang ada di kantor tempatnya magang. Ia sedang berbincang-bincang dengan seorang office girl bernama Arumi. Beberapa orang pegawai lainnya mengikuti rapat sih, tapi Clara tidak ikut serta karena ia cuma anak magang.


"Mbak Clara belum nikah, ya?" Tanya Arumi.


Clara membulatkan matanya saat mendengar pertanyaan yang tidak disangka itu. "Boro-boro udah nikah, mbak. Pacaran aja kagak pernah!"


"Ohh masih jomblo akut, ya mbak?" Tanya Arumi sambil tersenyum.


Clara mengangguk. Asiap, ditanyain seperti itu rasanya Clara pengen nangis deh. Ketauan amat kalau ia masih jomblo akut.


"Lagian saya masih mau fokus sama kuliah saya kok, mbak." Jawab Clara sambil tersenyum simpul. Karena Clara orangnya perfeksionis, sampai umur begini pun masih belum punya pengalaman pacaran. Yang naksir sama dia juga banyak sih. Bisa dibilang, Clara itu tidak mau bergantung dengan siapapun.


Ayumi mengangguk paham. Wajar sih orang seperti Clara lebih memilih fokus untuk kuliah daripada menikah.


"Ayumi, kopi satu ya." Pinta karyawan yang bernama Jun.


"Oke." Ayumi segera bangkit dari tempat duduknya dan mulai membuatkan kopi sesuai pesanan karyawan tersebut. Sementara menunggu kopinya selesai dibuatkan, Jun duduk dikursi yang ada disebelah Clara.


"Kamu pacarnya Feng, ya?" Tanya Jun to the point. Clara yang mendengar pertanyaan itu jadi tersedak air liurnya sendiri.


"Gimana, gimana? Saya pacarnya Feng?" Gila aja. Masa' iya Clara disangka pacaran sama kerabatnya sendiri? Ogah kali. Kayak didunia ini sudah tidak ada cowok lain aja.


"Iya. Kemarin aku lihat kamu kayaknya akrab banget sama dia."


"Oh, bukan. Saya bukan pacarnya Feng kok. Cuma kerabatnya saja." Jawab Clara sambil tersenyum meyakinkan.


Jun menganggukkan kepalanya paham. Ia meninggalkan pantry setelah Ayumi menyerahkan kopi pesanannya.


"Oh iya, Cla. Kamu santai aja di sini. Mbak masih ada kerjaan soalnya." Ucap Ayumi sambil berlalu pergi meninggalkan pantry. Clara menganggukkan kepala. Ia memutuskan untuk membuat teh susu kesukaannya.


Baru saja Clara selesai menyeduh teh susunya, Ia dihadang tiga orang cewek yang tiba-tiba masuk ke dalam pantry dengan wajah perang. Mereka bernama Tasya Aquerella, Kamila Mila, dan Joanna Alexandra Dewi.


Clara menaikkan sebelah alisnya heran saat melihat raut wajah mereka bertiga. "Bisa tolong tuker mimik wajah kalian? Kayak setan jadinya."


Tasya menatap Clara dari atas hingga bawah. "Ckck, rambut dicat pirang, pakai lensa kotak, mau jadi bule kamu? Atau kamu sengaja mengubah penampilan kamu supaya makin dekat dengan mereka berdua?!"


"Hah? Penampilan saya nggak berubah kok, cuma yahh namanya juga anak blasteran." Jawab Clara. Ia masih menaikkan sebelah alisnya.


Mila menatap Clara dengan tatapan tajam. Auww berasa di kuliti saja. Bercanda elah. "Pakai acara ngejawab lagi!"


"Lah? Kalau saya nggak ngejawab berarti mbaknya ngomong sama patung dong. Karena saya manusia tulen, makanya saya menjawab." Clara tersenyum simpul.

__ADS_1


Tasya memutar bola matanya malas, "jangan banyak bacot deh, kamu kira semua orang nggak tau?"


"Wahh, mbaknya tau apa, ya? Kok saya nggak tau? Kasih tau dong."


Joanna mengerutkan keningnya saat melihat keberanian Clara dalam menghadapi mereka bertiga, "Jangan sok polos deh, jijik gue ngeliatnya!"


"Lah? Yang suruh Lo ngeliat gue siapa?" Clara menyeruput teh susunya dengan nikmat. Udah capek-capek dibikin, sayang kan kalau teh susunya nggak diminum. "Kalau kalian mau ngobrol siapin dulu minumannya. Gue nggak mau disuruh ngebuatin kopi lho!"


"Kamu kekasihnya Sir Nicolas, kan?" Tanya Tasya sambil menatap Clara dengan tatapan menyelidik.


Tatapan Clara yang awalnya tenang berubah menjadi tajam. Lah, tadi ia dikira pacarnya Feng. Sekarang ia dikira kekasihnya Nicolas yang notabene paman kandungnya sendiri. Emang susah ya, jadi cewek cantik. Jomblo lagi. Adududuh.


"Emangnya Lo nggak puas ya sama satu cowok ganteng? Sampai-sampai Sir Diamond dan Feng Lo embat juga. Lo itu cantik, tapi jangan sok cantik deh!"


Clara menetralkan kembali emosinya. Ia memutar bola matanya dengan malas. "Yang bilang gue kekasihnya Nicolas siapa? Orang gue asistennya saja kok."


"Gak usah pura-pura jadi asistennya sir Nicolas deh, jijik gue ngeliatnya. Jelas aja kalau Lo itu cewek murahan!" Mila menatap Clara dengan tatapan sinis.


"Emangnya gue peduli, gitu? Enggak kali, ya?!"


Dengan santainya Clara melangkahkan kaki meninggalkan Tasya dan ketiga temannya. Sebelum itu ia sempat berbisik ke telinga Tasya. "Ntar kalau Lo tau siapa gue yang sebenernya, Lo bakalan nangis. Kan nggak lucu!" Ucapnya lalu pergi begitu saja.


Saat jam istirahat, Clara membawa makanannya ke pojok kantin seperti biasa. Beberapa bisikan tentang dirinya terdengar cukup jelas.


"Tapi kok masih mengincar Feng sama Sir Diamond, ya?"


"Gak tau malu banget sih dia? Kecil-kecil dah gak waras kayak gitu."


Clara mulai menikmati makanannya dengan tangan bergetar. Emosinya sudah nyampe ke ubun-ubun dan siap meledak kapan saja.


"Clara!" Panggil Yola dan Tessa.


Clara mendongak menatap mereka berdua yang entah sejak kapan telah duduk ditempatnya. "Kenapa?"


Tessa dan Yola saling pandang satu sama lain. Sepertinya ada sesuatu yang mau mereka tanyakan sama Clara.


"Eee Lo beneran kekasihnya Sir Nicolas, ya?"


Clara menaikkan sebelah alisnya. Itu lagi itu lagi. Emang salah ya kalau Clara merahasiakan identitas aslinya sebagai anak kandung Angelo?


"Kalau kamu beneran kekasihnya Sir Nicolas, kita gak masalah kok. Cuma, jangan mengkhianati dia dengan keluadga dan kerabatnya sendiri!"

__ADS_1


Clara sudah tidak tahan lagi. "Kalian tau nama panjang ku?" Tanyaya berbisik.


Tessa dan Yola saling pandang satu sama lain. Apa hubungannya dengan nama panjang?


"Oh ayolah, jawab saja. Kalian tau nggak sama nama panjang ku?" Bisiknya lagi. Mereka berdua menggelengkan kepalanya. Memang, tidak ada yang tau nama panjang Clara selain beberapa orang saja.


"Nama panjang ku ... Clarissa Rasandra Wiratama."


Kedua orang itu menganggukkan kepalanya. Selang beberapa detik, mereka baru sadar soal apa yang dimaksud Clara. "Jangan-jangan kamu ..."


"Yah, aku anaknya Sir Angelo Juanda Wiratama. Anak kandungnya."


"Berarti kamu ponakannya mereka berdua dong?"


"Juga kerabatnya Feng." Ucap Clara sambil tersenyum, jangan bilang sama siapa-siapa ya?" Imbuhnya.


Mereka berdua mengangguk ragu. Lalu memakan makan siang dengan lahap seolah tak mendengar apa-apa. Hubungan mereka bertiga pun menjadi akrab begitu saja.


Kemudian terlihat Tasya dan beberapa orang temannya yang duduk tak jauh dari mereka bertiga. Mata Clara langsung melirik ke arah Tasya yang seenaknya saja menyebarkan fitnah tentang dirinya.


Ingin rasanya ia menjambak rambut wanita sialan itu. Tapi urung karena ia tidak mau menambah masalah baru. Biarkan saja mereka berargumen seenaknya saja. Toh suatu saat nanti mereka bakalan tau siapa Clara kok.


******


Clara tidak pergi ke kantor Nicolas hari ini. Ia butuh ketenangan. Makanya ia pergi ke cafe untuk menenangkan diri.


Ia telah melalui hari yang rumit saat ini. Ia harus bersikap tak perduli didepan orang-orang yang membicarakannya. Padahal, Clara ingin menangis lho, untuk menenangkan emosinya.


Clara menundukkan kepalanya. Menatap kedua tangannya sambil tersenyum. "Terimakasih sudah mau tetap tegar didepan orang-orang!"


Air mata Clara menetes membasahi pipinya. Gadis itu segera menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Membiarkan air matanya tetap mengalir.


"Aku lemah banget sih, masa' yang kayak gini aja aku lemah!" Ucap Clara disela isak tangisnya.


Beberapa saat kemudian, Clara merasakan dua orang tengah memeluknya. Menyalurkan ketenangan yang ia butuhkan saat ini. Clara menoleh ke kanan dan kiri. Ternyata Diamond dan Nicolas.


"Kita kan sudah bilang, kalau ada masalah itu bilang, jangan simpan sendiri!" Ucap Diamond lembut.


Clara meneguk ludahnya kasar, "Ma, maaf. Clara cuma nggak mau merepotkan Ommy sama Angky kok."


"Selama kak Angelo tidak ada disini, kami berdua yang bertanggung jawab sama kamu. Kami berdua nggak mau sesuatu terjadi sama kamu!" Ucap Nicolas. Mereka berdua mengecup pipi Clara kiri dan kanan.

__ADS_1


Tanpa mereka bertiga sadari, Raymond tengah menatap kakaknya yang menangis dengan tatapan sangar. Ia sangat tidak suka melihat kakaknya menangis seperti itu. Apalagi karena masalah kantor. Liat saja nanti. Ia pasti akan mengatakan yang sebenarnya siapa Clara.


__ADS_2