
Clara berjalan memasuki kantor sambil memijat pelipisnya pening. Ia tidak habis pikir dengan Guy yang melarangnya dekat-dekat dengan Rebecca. Clara kan sudah merasa nyaman berada didekat sekertarisnya itu.
Larangan Guy sama sekali tak beralasan. Begitu lah yang dipikirkan Clara. Bagaimana tidak? Guy dan Rebecca kan belum saling kenal. Dan lagi mereka bertemu secara kebetulan.
Setelah tiba diruang kerja, Clara langsung meletakkan tasnya di atas meja dan duduk dikursi. Sial. Ia lupa menanyakan jadwal harian pada sekertarisnya. Biasanya kan Rebecca sendiri yang akan menemui dirinya. Semua sekertaris juga seperti itu kan? Apa dia lupa, ya?
Karena tidak mau ambil pusing, Clara langsung mengangkat gagang telepon dan menghubungi pihak resepsionis. Menanyakan kabar Rebecca yang tidak menemuinya hari ini. Kabar yang ia dapatkan dari resepsionis sangat mengagetkan dirinya.
Mulai hari ini Rebecca tidak lagi bekerja di perusahaan dan menjadi sekertarisnya. Kemarin dia sudah menyerahkan surat pengunduran diri pada salah seorang petinggi perusahaan.
Mengejutkan sih karena tidak ada yang tau apa alasannya. Clara menyandarkan kepalanya disandaran kursi dan memutar-mutar kursinya.
Katro.
Udah pusing malah muter-muter kursi. Jadi tambah pusing baru tau rasa.
Sebenarnya apa yang terjadi sih? Kenapa Rebecca mendadak hengkang dari perusahaan? Ya Tuhan, apa jangan-jangan ada orang yang membuat kesalahan hingga membuat Rebecca tidak nyaman dan memutuskan pamit undur diri. Tapi siapa?
"Lagi mikirin apa neng? Fokus banget?"
Pertanyaan yang tak terduga itu mengagetkan Clara yang sedang melamun. Gadis itu terperanjat. Ia menoleh ke arah Feng yang tau-tau sudah ada di ruangannya bersama Elizabeth.
"Sejak kapan kakak ada disana?" Tanya Clara sambil menormalkan detak jantungnya yang masih tak beraturan.
"Sejak kamu muter-muter kursi kayak anak kecil," jawab Feng dengan entengnya, "jadi kayak gitu ya, yang namanya the real of masa kecil kurang bahagia?"
Clara melipat kedua tangannya didepan dada dan menatap kerabatnya itu dengan tatapan sinis. Enak aja dia bilang masa kecil Clara kurang bahagia. Masa kecil Clara sangat bahagia tau. Yah setidaknya itu yang dirasakan oleh Clara. Kedua orangtuanya pun juga mengatakan hal itu.
"Apa'an sih kak. Clara lagi mikirin Rebecca tau." Ucap Clara sambil mengerucutkan bibirnya. Hal itu membuat Feng semakin gemas dengan sepupunya itu. Yah anggap saja hubungan kekerabatan mereka seperti sepupu. Nenek Feng dengan nenek Clara bersaudara. Jadilah mereka berdua masih terikat sistem kekerabatan.
"Rebecca? Rebecca siapa?"
"Rebecca sekertaris aku lah kak. Siapa lagi?"
__ADS_1
Feng memijit pelipisnya pening. Apa wanita itu membuat ulah lagi? "Dia kenapa?"
"Nggak tau. Tiada angin, tiada hujan tiba-tiba ilang. Dia hengkang dari kantor, kak." Jawab Clara.
Feng merasa kaget sekaligus senang mendengar kabar itu. "Lah, kok bisa? Padahal kakak memang mau mengeluarkan dia dari perusahaan kita lho. Tapi dia sudah keluar sendiri. Baguslah kalau dia tau diri."
"Maksud kakak apa?" Clara menatap Feng dengan tatapan penuh curiga. "Jangan-jangan kakak lagi yang udah ngusir dia dari kantor!" Tuduhnya sembarangan.
Feng yang tidak terima dituduh seperti itu langsung berjalan menghampiri Clara dan menyentil dahinya. Clara meringis kesakitan. "Dosa kamu Cla, menuduh orang sebaik aku."
Clara mengusap dahinya sambil ngedumel nggak jelas. "Terus ngapain kakak kesini?" Tanya Clara akhirnya. Pandangan matanya jatuh ke arah Elizabeth yang berdiri diam bak patung disana.
"Oh iya, sampai lupa. Nih aku kembalikan sekertaris lama kamu. Nggak cocok aku sama dia. Cerewet banget soalnya." Feng menatap Elizabeth dengan tatapan malas. Elizabeth yang mendengar Feng mengatainya cerewet membelalakkan mata. Enak saja dia bilang dirinya yang pendiam ini cerewet.
Iya, pendiam. Saking pendiamnya, saat Elizabeth bicara langsung tamat buku yang tebalnya minta ampun. Buku Harry Potter misalnya.
"Namanya juga cewek, kak." Kata Clara malas, "Ya udah, Eliza biar kerja lagi sama aku. Malas Clara nyari sekertaris yang baru. Terus kak Feng sama siapa?"
"Sama Rihanna Alden." Jawab Feng.
Feng menatap Clara dengan tatapan sinis. Tanpa diusir pun ia bisa pergi sendiri. Toh urusannya sudah kelar. Rebecca juga sudah pergi. Jadi tidak ada yang mesti ia khawatirkan.
Sebelum pergi meninggalkan ruangan Clara, Feng sempat berbisik pelan ditelinganya. Sebuah bisikan yang menyiratkan perasaannya selama ini. Hanya saja Clara tidak bisa mendengarnya dengan jelas.
"Rihanna itu siapa?" Tanya Clara pada Elizabeth yang sudah duduk manis dikursi yang ada didepannya.
"Nggak tau. Pacarnya kali." Jawabnya acuh. Ia masih kesal karena Feng mengatainya cerewet. "Kamu tau mbak, dia itu pendiam banget. Udah kaku, dingin lagi. Kayak kulkas berjalan saja." Ocehnya sambil menggerutu.
Clara menatap Elizabeth dengan tatapan datar. "Beneran cerewet ternyata." Bisiknya pelan. Saat Elizabeth berkerja menjadi sekertarisnya dulu, ia tidak secerewet ini.
*****
Guy keluar kamar dan berjalan menuju ruang tamu. Matanya fokus pada layar ponsel yang ia bawa. Tanpa sengaja ia melihat Clara yang berjalan menuju kearahnya. Mungkin dia mau ke kamarnya. Guy memelankan langkahnya supaya berpapasan dengan Clara.
__ADS_1
Pas sudah dekat Clara baru sadar kalau dirinya mau melewati Guy. Gadis itu menundukkan kepalanya. Mungkin malu. Clara masih tampak rapi dengan pakaian kerja yang tadi pagi dipakainya. Sudah keren, cantik banget lagi.
Guy melihat Clara dengan kelopak mata yang tidak berkedip sama sekali. Langkah kaki Clara semakin cepat setelah melewati Guy. Dengan isengnya Guy memegang lengan Clara dan menahan langkahnya. Sontak Clara berhenti dan menatap wajah Guy.
Guy Berbisik, "kamu cantik."
Clara jadi salah tingkah sendiri. Ia menepis tangan Guy yang mencekal lengannya. "Apa'an sih Guy?"
Tuh kan, nge-gas mulu.
Guy melirik ke arah pipi Clara yang sudah memerah. Hahahaha ... Dia pasti malu. Aduhai, demen banget Guy ngerjain Clara sore-sore gini.
"Kapan-kapan aku ulang lagi nembak kamu, Cla." Ujar Guy dengan usilnya. Tapi pasti.
"Enak aja. Entar kalau kamu nembak aku, aku mati." Sahut Clara sok dramatis.
"Yaa nggak lah, kan aku nembaknya pakai panah asmara. Lagi pula ..." Guy menatap Clara lekat, ia tersenyum smirk. "Lagi pula, kalau kamu nggak mau menyerahkan hati kamu untuk ku akan aku jual ginjal kamu. Lumayan kan 5 M?!"
Clara menggelengkan kepalanya tak habis pikir. "Mau kamu apa sih?"
"Yaa mau kamu lah"
"Amit-amit," Clara hendak melanjutkan perjalanannya. Namun kembali dicegah oleh Guy. "Aku sayat-sayat kamu baru tau rasa."
"Sayat-sayat aja hati aku. Aku ikhlas kok."
"Astaga." Clara mengusap dadanya dramatis.
Guy berjalan mendekati Clara dan mengecup pipinya pelan. "Udah ah, aku kebawah dulu. Aku tunggu kamu di ruang makan." Katanya kemudian.
Clara berjalan menuju kamarnya sambil mengusap pipinya yang sudah dikecup Guy. Kalau dihitung-hitung sudah dua kali tuh bocah mengecup pipinya. Hadehh. Minta dibenamkan di rawa-rawa tuh orang.
Clara melemparkan tubuhnya di atas kasur. Sebuah notifikasi masuk ke dalam ponselnya. Ternyata ada pesan dari nomor tak dikenal. Clara membaca isinya sambil mengerutkan kening heran.
__ADS_1
08**: πππ ππππ’ π π’πππ ππππππππ‘πππ π π’πππ‘ πππππ’πππ’πππ ππππ? πΌππ πππ’, π ππππππ.