Kutukan Dua Bahasa

Kutukan Dua Bahasa
Bab 41: Koma setelah hampir membaik


__ADS_3

Melihat luka kakaknya kembali berdarah, Raymond pun berlari keluar kamar dengan wajah panik dan cemas. Ia berteriak-teriak memanggil dokter yang tadi merawat kakaknya. Masa bodoh sama pasien rumah sakit yang lainnya. Yang penting kakaknya lekas ditangani.


"DOKTER! SUSTER!"


Mendengar teriakan Raymond yang menggelegar itu, Diamond yang ketiduran lantas terbangun dari tidurnya. Ia menatap ponakannya dengan rasa cemas yang luar biasa.


"Ray? Ada apa, Raymond?" Tanyanya. Melihat wajah Raymond yang tegang, ia bisa menebak kalau terjadi sesuatu pada Clara. Pria itu bergegas masuk ke dalam ruangan tempat Clara dirawat dan mendapati ponakannya itu dalam keadaan t sadarkan diri.


"Clara? Clara bangun, Clara!" Ia menggoyang-goyangkan tubuh Clara. Berharap ponakannya itu cepat sadar. Namun sayangnya, harapan itu sia-sia belaka.


"Permisi ..." Suara itu mengalihkan perhatian Diamond. Seorang dokter dan beberapa orang suster masuk ke dalam. "Ada yang bisa saya bantu?"


"Tolong periksa ponakan saya, dok!"


Dokter mengangguk. Ia mulai memeriksa kondisi Clara. "Pasien mengalami masa kritis kembali."


Raymond yang sudah masuk ke dalam tersenyum kecut. "Tidak mungkin."


"Detak jantungnya lemah tuan. Harus ditangani secepatnya."


"Lakukan yang terbaik untuk Clarissa!"


Dokter mengangguk yakin. Clara segera dipindahkan ke ruang UGD kembali. Raymond yang tadinya masih bisa cengengesan sekarang diam. Ayolah, cobaan apa lagi ini? Kemarin saja Clara kritis dan sempat membaik, tapi kenapa sekarang malah kritis kembali sih?


Diamond yang melihat itu langsung merangkul pundaknya dan menenangkan. "Kakak kamu pasti baik-baik saja."


"Pasien koma!" Suster keluar dari dalam ruang UGD dengan tergesa. Ia membawa perlengkapan yang diperlukan.


"K, koma?" Raymond menatap tidak percaya, "kakak ku koma?"


Diamond menelan ludahnya kasar saat melihat Raymond yang mulai kacau. Beruntung kala itu Nicolas langsung datang saat ia memberitahukan keadaan Clara. Dia tidak datang sendiri. Ada Guy yang ikut dengannya.


"I, ini bohong kan?" Raymond kacau, "K, kakak baik-baik saja kok. D, dia gak mungkin koma kan?"


"K, kakak nggak mungkin koma!" Raymond menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Enggak!"

__ADS_1


"Ray!" Nicolas memeluknya, "kakak kamu bakalan sembuh kok!"


"AAAAARRRRRGGGGHHHH!" Raymond menjerit histeris. Setelah itu ia tidak sadarkan diri. Trauma akan bayang-bayang kehilangan kakaknya menghantuinya kembali.


*****


Percayalah, orang tua memiliki insting yang kuat terhadap anak-anaknya. Terutama ibu yang memiliki ikatan kuat dengan anaknya. Mereka bisa merasa semacam firasat buruk saat terjadi sesuatu pada anak-anaknya. Contohnya saja Sarah.


Sarah yang sedang makan malam di mansion mereka yang ada di New York city tiba-tiba merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya. Bayangan wajah anak perempuannya tak pernah lepas dari ingatannya. Seolah ada sesuatu yang terjadi pada anaknya itu.


"Kamu kenapa, Sarah?" Tanya Angelo yang heran saat melihat perubahan rona muka Sarah.


"Aku juga tidak tahu, Angelo. Firasat ku mengatakan kalau Clara sedang tidak baik-baik saja." Jawab Sarah. Ia mulai cemas. "Angelo, bisa tolong telepon Nicolas? Firasat ku benar-benar buruk sekarang."


Tanpa disuruh dua kali, Angelo pun langsung menelepon Nicolas. Betapa terkejutnya ia saat mendapat kabar dari adiknya kalau Clara jatuh dari Puncak Bogor dan koma.


"Bagaimana?" Tanya Sarah saat Angelo selesai menghubungi Nicolas yang ada di Indonesia. Rasa cemasnya semakin menjadi-jadi saat wajah Angelo pucat pasi.


Angelo menatap Sarah dengan tatapan penuh arti, "Clara jatuh dari Puncak Bogor dan koma."


Sarah merasakan tubuhnya melemas saat tahu kondisi putrinya sekarang. Dunianya runtuh seketika. Baru sembilan tahun yang lalu Clara mengalami koma, dan sekarang anaknya itu koma lagi?


COBAAN APA LAGI INI?


"Kita pulang sekarang!" Ucap Nicolas yang dibalas anggukan Sarah. Mereka berdua langsung mengemasi barang-barang dan terbang ke Indonesia.


Selama dalam perjalanan yang cukup memakan banyak waktu, Sarah dan Angelo tidak henti-hentinya berdoa atas keselamatan putra putri mereka. Saat Angelo kembali menelepon Nicolas mengatakan kalau mereka akan pulang ke Indonesia, Nicolas bilang kalau Raymond mengalami shock berat dan sekarang tidak sadarkan diri.


*****


Raymond membuka matanya secara perlahan saat merasakan usapan lembut di rambutnya. Tidak hanya itu saja, ia bahkan merasakan tetesan air yang mengenai wajahnya. Samar-samar ia mulai jelas melihat wajah Sarah yang ada disana.


"Mummy...?" Bisiknya lemah. Tubuhnya terasa lemas sekali. Melihat anaknya bangun, Sarah buru-buru mengusap air matanya dan tersenyum getir.


"Sudah bangun, sayang?" Tanya Sarah sambil menatap Raymond dengan tatapan penuh arti.

__ADS_1


Raymond mengangguk. Ia ingat dengan kakaknya. "Kakak ...?"


"Kakak kamu masih koma, sayang." Angelo yang menjawab. Ia menatap iba kearah Raymond. Pasti berat rasanya melihat Clara seperti itu lagi.


Raymond menoleh ke luar jendela. Tubuhnya terasa remuk seketika. Kenapa kejadian itu terulang kembali? Kenapa kakaknya harus jatuh dan berakhir koma seperti ini?


"Tapi kamu tenang saja, dek. Kakak kamu pasti akan baik-baik saja. Kakak kamu kan kuat!" Hibur Sarah. Ia dan anggota keluarga Wiratama yang lainnya pasti akan melakukan segala cara untuk menyembuhkan Clara.


*****


Hampir satu bulan lamanya Clara koma. Bahkan keluarganya sudah mendatangkan dokter-dokter terbaik. Namun sayangnya Clara tidak kunjung sadar dari komanya.


Teman-teman kampus Clara mulai merasakan kesepian yang amat mendalam saat Clara tidak mengikuti pembelajaran di semester terakhir ini. Pun dengan sahabat-sahabat Clara. Mereka bertiga merasa kehilangan sekali.


Seperti yang sudah diberitahukan, Bryan dan Paula kembali tinggal di rumah keluarga Wiratama dan kuliah di kampus yang sama.


Raymond Sea pun sudah duduk di kelas 12 SMA. Usianya sudah menginjak tujuh belas tahun. Tiga tahun lebih muda dari Clara yang sebentar lagi berulangtahun yang ke dua puluh tahun.


Dua Minggu yang lalu, Clara juga sudah dirawat dirumahnya sendiri. Tidak dirawat dirumah sakit lagi. Tapi meskipun begitu, dokter selalu rutin mengecek kondisinya.


Lalu, keajaiban yang selama ini mereka tunggu pun tiba. Pagi ini, Sarah datang ke kamar tempat Clara dirawat. Ia mengusap rambut Clara sambil tersenyum nyeri. Air mata jatuh membasahi pipinya. Sebagai seorang ibu, jelas ia tidak ingin kehilangan anaknya.


"Clara sayang ... Bangun, nak. Sahabat dan teman-teman kamu pada nanyain kamu, lho. Masa' kamu tidur terus?" Bisiknya lirih.


Tanpa ia duga sama sekali, bisikan penuh harapan yang murni keluar dari lubuk hati Sarah itu mampu menembus alam bawah sadar Clara.


"Lima menit lagi, Mum ..." Bisik Clara lirih. Nyaris tidak terdengar.


Sarah yang semula menundukkan kepalanya langsung menatap wajah putrinya. Clara sudah bangun dari tidur panjangnya. Dan sekarang dia membuka matanya secara perlahan-lahan.


"Silau ..." Bisiknya lagi.


Sarah mengusap air matanya dan keluar dari dalam kamar Clara. "ANGELO, DIAMOND, NICOLAS, RAYMOND ... GUY ... CLARA SUDAH SIUMAN!" Teriaknya.


Mendengar itu, semua anggota keluarga Wiratama yang masih stay dirumah sebelum memulai aktivitas langsung bergegas menuju kamar Clara.

__ADS_1


Raut wajah bahagia terpancar jelas diwajah mereka. Akhirnya Clara siuman juga. Lain kali, mereka pasti akan memperketat penjagaan dan pengawasan terhadap Clara. Supaya dia tidak seperti ini lagi.


__ADS_2