
Pagi ini, Clara tampak begitu ceria dengan pakaian yang tengah dipakainya saat ini. Ia menyisir rambut pirangnya dan membiarkannya tetap tergerai indah dengan jepitan rambut berwarna kuning.
Setelah memoleskan make up tipis warna kulit dan memakai name tag didada, barulah Clara menyambar tasnya dan berjalan keluar kamar.
Hari ini ia sangat bahagia sekali. Setelah kurang lebih dua setengah tahun ia berkuliah di jurusan TIK, akhirnya tiba saatnya untuk Clara mengikuti kegiatan magangnya selama beberapa bulan.
Gadis itu berjalan menuju dapur. Seperti biasa, ia harus menyiapkan sarapan untuk semua orang. Sebenarnya Diamond pernah menawarkannya untuk memperkerjakan beberapa orang art sih. Tapi Clara tolak karena ia tidak terbiasa dengan orang asing. Dan lagi ia masih sanggup melakukan pekerjaan rumah meski tengah sibuk dengan jadwalnya akhir-akhir ini.
Pagi ini, Clara memutuskan untuk memasak nasi goreng pagi ini. Selain tidak memerlukan banyak waktu, ia juga punya resep baru yang ia lihat di google. Clara memasak sambil bersenandung riang hingga ia tidak menyadari kedatangan Raymond disana.
"Cieee yang bentar lagi magang di perusahaan keluarga." Ucap Raymond dengan nada setengah menyidir kakaknya itu.
Clara yang sedang mengorak-arik nasi goreng melirik adiknya dengan tatapan sinis. Benar ya, kalau pedagang yang kurang kerjaan itu pedagang nasi goreng. Udah tau nasinya sudah matang, masih aja digoreng. Tapi sayangnya Clara bukan pedagang tuh.
"Ngomong sekali lagi kakak kurangi jatah makan siang kamu!" Ancam Clara tidak main-main. Setelah lulus SMA, adiknya ini malah bertambah menjengkelkan saja. Rencananya Raymond mau mengambil jurusan teknik sih.
"Bagus dong, aku kan bisa jajan diluar. Makan udang enak kali, ya?" Jawab Raymond dengan entengnya.
Clara mendelik mendengar perkataan adiknya yang sudah pandai melawan itu. Lihatlah, Raymond bahkan menyebut dirinya sendiri dengan sebutan 'aku'. Tidak 'adek' lagi seperti dulu.
"RAYMOND!!!" Teriak Clara sambil memelototi adiknya itu, "ngomong sekali lagi kakak jual ginjal kamu!"
Hampir saja Clara menjewer telinga Raymond kalau saja ia tidak ingat kalau dirinya sedang memasak. Setelah ia selesai meletakkan makanan diatas meja, satu persatu penghuni rumah ini menampakkan diri di meja makan.
Bryan dan Paula rencananya mau magang di perusahaan orang tua Bian, sedangkan Guy magang disalah satu perusahaan milik keluarganya. Dalam hati, Clara bersyukur karena ia magang disalah satu cabang perusahaan dibawah kepemimpinan Diamond.
Itu artinya Clara tidak akan bertemu dengan Angky-nya selama beberapa bulan kedepan. Sekali-kali liat yang bening kali. Gak Angky-nya terus. Begitu lah pikir Clara.
"Kita berangkat sekarang, CLA?" Tanya Diamond sambil berdiri dan merapikan setelan jas mahalnya.
Clara buru-buru meneguk habis susunya dan berlari-lari kecil dibelakang Diamond. Mereka berdua pun berangkat ke kantor.
*****
Clara melangkahkan kakinya keluar dari lift. Ia menaikkan sebelah alisnya heran saat melihat karyawan dan karyawati yang berdiri sambil tersenyum ramah.
__ADS_1
Apa ini sambutan untuk dirinya? Ah, rasanya tidak mungkin deh. Kan tidak ada yang tahu kalau ia anak Presdir perusahaan Wiratama selain para petinggi.
Clara ikutan tersenyum. Beberapa orang yang melihatnya mengerutkan kening. Apa mereka pikir Clara bule kesasar, ya?
"Salam kenal. Nama saya Clarissa Rasandra Wirata-" Clara langsung menutup mulutnya rapat-rapat saat tanpa sengaja ia menyebutkan nama keluarganya.
Salah seorang karyawati melangkahkan kakinya menuju ke arah Clara. "You're an intern?"
Clara menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, "Maaf, pakai bahasa Indonesia saja. Saya sudah lama tinggal di Indonesia kok!"
"Baiklah. Ayo ikut saya."
Clara mengangguk patuh dan mengikuti orang itu dari belakang. Orang itu menghentikan langkahnya dibarisan beberapa orang karyawati yang merapikan pakaian dan melihat kembali riasan diwajah.
Untuk sesaat, Clara merasa muak dengan pegawai di perusahaan ini. Mereka begitu memperhatikan penampilan masing-masing hingga berdandan sedemikan rupa. Mungkin bagi kalian mereka terlihat cantik, tapi Dimata seorang pecinta natural seperti Clara, mereka terlihat norak.
"Maaf, kalau saya boleh tahu mereka lagi apa ya?" Tanya Clara pada karyawati yang membawanya kesini.
Orang itu menaikkan kedua alisnya, "Kalau tidak salah mereka lagi nyambut wakil Presdir dan Direktur utama."
"Nyambut wakil Presdir dan Dirut?"
Clara menghembuskan nafas kasar. Tuh kan. Mana mungkin mereka menyambut kedatangannya.
"Eh, ini anak magang?" Tanya seorang karyawati yang berdandan cukup menor dan mengenakan pakaian yang cukup ketat.
Clara menoleh ke sumber suara dan menganggukkan kepalanya.
"Mereka sudah di lift!" Ucap salah satu karyawati. Clara mengerutkan keningnya.
HEBOH BANGET SIH?
Semua orang berdiri dengan pakaian rapi dan senyum menawan.
Dira melirik ke arah karyawati yang pertama kali melihatnya tadi, "apa setiap hari kalian melakukan hal ini?" Bisiknya.
__ADS_1
Karyawati itu mengangguk tanpa melirik sedikit pun ke arah Clara. Sialan emang. Tapi ya sudah lah.
Yang Clara tahu, Diamond menjabat sebagai wakil presidenย direktur, wakil ayahnya. Tapi ia tidak tahu siapa yang jadi direktur utama tuh. Semoga saja bukan Angky-nya.
"Bagaimana, Lisa?" Tanya salah seorang karyawati.
"Bentar lagi!" Jawab Lisa.
Clara membelalakkan matanya. Itu bukannya Lisa Soraya Andriana yang menjadi sekertaris Nicolas, ya? Kok dia bisa ada disini?
Pandangan mereka berdua bertemu. Lisa membelalakkan matanya saat melihat Clara ada disana. "Kamu bukannya Clara itukan?"
Clara hanya menatap sekertaris itu sambil tersenyum miring. Ia masih kesal dengan sekertaris yang selalu bersikap ketus padanya itu. "Iya, memangnya kenapa?" Tanya Clara sambil melipat kedua tangannya didepan dada.
"Ck, ngapain Lo ada disini? Mau menggoda Sir Nicolas lo?"
Idih, siapa yang mau menggoda om-om seperti Nicolas? Lagipula suka-suka Clara lah. Orang ini juga termasuk perusahaan keluarganya.
Tunggu. Apa jangan-jangan ...
๐๐๐๐!
Pintu lift terbuka, menampilkan sosok dua orang pria yang sangat Clara kenal. Yap, siapa lagi kalau bukan Diamond Sky Wiratama dan Nicolas Franklin Demasa Wiratama?
Clara membulatkan kedua matanya karena kaget. Ia pikir selama ia magang tidak akan pernah bertemu dengan Angky-nya. Tapi nyatanya? Sekarang mereka bertiga bekerja dibawah satu atap coy!
Gila aja. Sudahlah dirumah selalu ketemu, di kampus apalagi. Dan sekarang ia juga akan bertemu dengan Angky-nya di kantor. Turun rahang kan jadinya.
"Selamat pagi, sir!" Sapa semua orang sambil tersenyum ramah, kecuali Clara.
Diamond dan Nicolas hanya menganggukkan kepalanya dan menuju ke ruangan masing-masing.
Clara beridri kaku ditempatnya. Niatnya mau menghindar tapi malah kejebak. Mana ia masih berprofesi sebagai asisten Nicolas, lagi!
Huwaaaaa rasanya Clara mau nangis mencak-mencak saking kesalnya.
__ADS_1
Kenapa tidak ada yang memberitahu sih kalau Nicolas itu menjabat sebagai direktur utama di perusahaan keluarga?
Astaga. Makin lama makin runyam kan jadinya?