Kutukan Dua Bahasa

Kutukan Dua Bahasa
Bab 23: Menjauhlah dari Clara!


__ADS_3

Hembusan angin pagi menerpa wajah Amberta Loli Yolanda yang datar dengan earphone yang menyumpal telinga. Pikirannya benar-benar mumet dengan masalah yang menimpa Reynaldy akhir-akhir ini.


Ia menyusuri koridor kampus. Berjalan menuju perpustakaan untuk mengambil beberapa buah buku referensi yang disuruh dosen. Amber menatap lurus ke depan. Saking sibuknya ia melamun tanpa sengaja gadis itu menabrak seseorang.


Orang itu seniornya, kalau gak salah sih namanya Bella Austin. Itu lho, yang jadi salah satu kandidat ratu. Waktu itu dia bilang gini pas Paula bilang gaun Clara rusak:


"Bagus dong, itu artinya peluang gue untuk menang makin besar!"


Wajahnya memang cantik sih, cantik banget malah. Hanya saja ia terlalu sombong dan sering menganggap remeh orang lain. Pas Clara jadi ratu kampus, ia kesal banget. Padahal ia sudah dengan PD-nya mengklaim kalau dirinya yang akan jadi ratu.


Nah, pas ia tahu kalau Amberlah yang memasukkan nama Clarissa Rasandra Wiratama ke jajaran kandidat ratu kampus, asli, ia marah banget. Bella menganggap kalau Amberlah yang menjadi penyebab kenapa ia tidak memenangkan Kontes.


Lalu, apa kabarnya orang yang ia benci malah menabraknya pagi ini?


Lagian ngapain sih Bella ke fakultas ini? Bukannya dia anak hukum, ya?


"Maaf, kak!" Ujar Amber.


Bella menatap Amber dari ujung kaki sampai ke ujung rambut. Lalu menggeleng tidak terima. "Maaf kata Lo?"


Amber sebenarnya malas dalam situasi seperti ini, lho. Pasti ujung-ujungnya Bella marah-marah nggak jelas.


"Iya. Sesama manusia kan harus saling memaafkan satu sama lain. Lagian saya mengaku bersalah kok sama kakak. Kan saya yang udah gak sengaja menabrak kakak!" Kata Amber dengan polosnya. Ia memaksakan diri untuk tersenyum.



"Alah, gak usah sok polos. Lo kira dengan maaf semuanya bisa selesai begitu saja?" Bella melipat kedua tangannya didepan dada. "Sorry, gue enggak bisa segampang itu memaafkan binatang seperti Lo!"


Mata Amber membulat pas Bella memanggilnya dengan panggilan yang tidak pantas sama sekali.


"Gue udah minta maaf ya sama Lo! Tapi Lo malah keterlaluan banget manggil gue kayak gitu?" Mata Amber melotot, "jangan Lo kira gue takut sama Lo!"


"Anak kecil macam Lo tau apa sih?" Bella tertawa sinis, "Punya sahabat muka pas-pasanย  malah sok-sokan dimasukkan ke kontes raja dan ratu kampus!"



Amber mendesis. Enak aja sahabatnya yang cantik jelita itu dibilang muka pas-pasan. "Jaga ya ucapan Lo! Kalau nyatanya muka Clara pas-pasan, kenapa malah bukan Lo yang jadi ratu kampus? Gue akui, muka Lo cantik, tapi jangan sok cantik deh!"


"Tarik guys!" Bella mengangkat salah satu tangannya menginstruksikan pada kedua dayangnya untuk menyeret Amber masuk ke dalam kamar mandi. Amber memberontak. Tapi gagal. Satu lawan tiga jelas ia kalah. Amber hanya bisa berdoa semoga ia bisa selamat.


Brakk!


Bella mendorong tubuh Amber sampai membentur dinding. Gila, punggung Amber sakit banget!


"Berani banget Lo masukin Clara ke kontes!" Sentak Bella. Ia masih tidak terima dengan kekalahannya dalam kontes yang diadakan beberapa hari yang lalu.

__ADS_1


Salah Amber dimana sih? Masa' memasukkan nama Clara aja gak boleh. Wajah Clara cantik banget, Ya Tuhan. Makanya ia berinisiatif mencalonkan Clara sebagai kandidat ratu kampus. Dan menang.


Amber berdiri. Ia paling pantang ditindas seperti ini. Apalagi menyangkut harga diri sahabatnya. Bella makan nasi, bukan orang. Jadi kenapa harus takut? Kalau makan orang mah, Bella bukan manusia namanya, tapi binatang buas.


"Kenapa? Lo sirik? Makanya perawatan kecantikan dong! Ngaku kaya, tapi beli make up aja gak mampu!" Amber tertawa kurang ajar.


Plak!


Sebuah tamparan melayang mulus di pipi Amber. Panas. Kedua tangan Amber dipegang oleh dayang Bella.


"DENGAR YA! GUE BAHKAN BISA BELI PABRIK MAKE UP DALAM WAKTU SEKEJAP!" Bella mencengkeram pipi Amber.


Amber mengangguk seolah paham. "Wahh, kaya banget lu. Om-om mana yang Lo porotin, huh? Dengar ya, kak, emangnya Lo gak jijik ya badan Lo disentuh om-om hanya demi sepeser uang?"


"DASAR SIAL!"


"Gini ya kak, gue kasih peringatan sama Lo. Jangan sampai Lo kena penyakit parah hanya gara-gara gonta-ganti pasangan ranjang!" Amber bergidik ngeri.


"JANGAN SOK TAHU YA, MENTANG-MENTANG LO ANAK DOKTER!" Bella teriak didepan wajah Amber. Hujan cuy.


"Nah!" Amber berteriak tak kalah kencang, "Nah, makanya! Gue sebagai anak seorang dokter ngasih tahu Lo buat jaga-jaga. Harusnya Lo berterima kasih sama gue kak!"


Wiss, Amber mah kalau menghadapi orang kayak gini jangan pakai emosi, apalagi pakai fisik. Itu cuma merugikan diri sendiri. Main cantik bisa dong!


"LO-"


"Untuk kalian berdua, memangnya gak capek apa jadi dayangnya nih orang? Lo berdua dikasih apa aja? Emas kah? Hotel kah? Tanah kah? Setia amat sama bos Lo!"


Kedua dayang itu melepaskan tangan Amber. Amber tersenyum penuh kemenangan. Bella makin geram.


"KALIAN BERDUA NGAPAIN SIH?" Bentak Bella sama dayangnya sendiri.


Amber berjalan menghampiri Bella, "Gue menghargai Lo sebagai senior gue, ya. Lo orang berpendidikan. Tapi sayang, perilaku Lo minus. Benar-benar minus. Saking minusnya sampai-sampai gue rasa perilaku anak jalanan lebih baik dari Lo!"


Amber berjalan menuju pintu, kemudian berbalik menghadap Amber. "Oh iya, Lo itu bukannya anak fakultas hukum, ya Bell? Kok sifat Lo gak mencerminkan perilaku anak hukum gitu?"


"AMBERTA, AWAS LO!"


Amber membanting keras pintu kamar mandi. Sialan amat si Bella. Membuat orang kesal aja pagi-pagi.


Amber meletakkan buku-bukunya diatas meja. Untung dia sempat pergi ke perpustakaan. Wajahnya kesal sekali gara-gara masalah tadi.


"Mau perang Lo? Kayak gitu banget mukanya!" Tanya Rey yang sedang bermain game di laptopnya.


__ADS_1


"Diam Lo, jangan ngomong!" Amber memperingatkan. Pipinya sakit sekali. Mana punggungnya terasa nyeri lagi. Tuh cewek apa gorila sih? Kuat banget tenaganya.


Amber mengobrak-abrik isi tasnya. Niatnya sih mau nyari kaca. Eh gak tahunya ia malah nemu kertas. Pas Amber membaca isi surat itu, ia menjadi kesal puluhan kali lipat dari pada dibully sama Bella.


๐“œ๐“ฎ๐“ท๐“ณ๐“ช๐“พ๐“ฑ๐“ต๐“ช๐“ฑ ๐“ญ๐“ช๐“ป๐“ฒ ๐“’๐“ต๐“ช๐“ป๐“ช! ๐“๐“ท๐“ช๐“ด ๐“ด๐“พ๐“ผ๐“ช๐“ถ ๐“ผ๐“ฎ๐“น๐“ฎ๐“ป๐“ฝ๐“ฒ ๐“›๐“ธ ๐“ฐ๐“ช๐“ด ๐“น๐“ช๐“ท๐“ฝ๐“ช๐“ผ ๐“ณ๐“ช๐“ญ๐“ฒ ๐“ผ๐“ช๐“ฑ๐“ช๐“ซ๐“ช๐“ฝ๐“ท๐”‚๐“ช!


DASAR SIAL!


Apa-apaan ini? Kenapa ada orang yang mengirimkan surat gak bener kayak gini? Enak aja nyuruh Amber untuk menjauhi Clara yang notabene adalah sahabat terbaiknya. Gak waras emang.


Amber sebenarnya mau marah-marah, tapi urung pas Clara masuk ke dalam kelas dan duduk disebelahnya.


"Selamat pagi, Clara!" Ucap Amber antusias. Tumben sahabatnya itu baru datang. Biasanya kan dia paling cepat datangnya.


Clara melihat wajah Amber dengan tatapan heran. "Bibir kamu kenapa, Am?" Tanya Clara dengan tatapan menyelidik. Reynaldy yang mendengar itu ikutan melihat wajah Amber. Bibirnya lebam.



Tubuh Amber menegang. Ia harus menjawab apa nih? Gak mungkin kan ia bilang masalah tadi ke Clara dan Rey. Mana masalahnya menyangkut Clara lagi.


"Kebentur dinding!" Amber nyengir.


Reynaldy mengernyitkan dahinya. Secara logika, kalau kebentur dinding yang ada punggung atau lengan yang sakit, ini nggak. Malah bibirnya yang lebam. "Gak mungkin! kami berdua gak oon kali, Am!"


Clara mengusap pipi Amber yang memerah karena tamparan Bella tadi, "Ditampar sama Bella, kan?"


Amber diam. Kok Clara bisa tahu sih?


"Kata siapa?" Tanya Amber dengan gelagat sok enggak tahu.


"Aku barusan!" Clara nyengir, "Bercanda. Tadi aku dengar dari gosip. Bella sudah aku labrak!"


Mata Amber membulat. "Labrak?"


"Hmm," Clara bergumam, "Kalau ada yang berani membully kamu bilang dong sama aku. Apalagi ini masalah yang menyangkut aku!"


"Iya deh, maaf!"


Reynaldy melirik secarik kertas yang digenggam oleh Amber. Dengan cepat ia merebut surat itu dan msmbaxa isinya. Sedetik kemudian, ia menatap Amber dengan tatapan tajam. Pemuda itu merobek-robek kertas itu begitu saja dan menarik lengan Amber, lalu membawanya keluar kelas.


"Lo apa-apaan sih, Rey. Lengan gue sakit banget tau!" Kata Amber. Ia melepaskan tangannya dari cengkeraman Rey.


"Lo nggak bakalan menjauhi Clara, kan?" Tanya Rey.


"Ya kagak lah! Lo gila, ya? Mana ada sahabat yang meninggalkan sahabatnya sendiri! Lagian ya, Rey, gak mungkin lah gue kepengaruh sama kertas kayak gitu!" Jawab Amber dengan ketusnya. Ya. Ikatan persahabatan mereka bertiga sangat kuat dan tidak mungkin bisa dipisahkan oleh suatu apa.

__ADS_1


Masalahnya sekarang adalah, bagaimana caranya membalikkan citra Rey sebagai raja kampus.


__ADS_2