Kutukan Dua Bahasa

Kutukan Dua Bahasa
Bab 48: Kasih sayang seorang adik


__ADS_3

Tak lama kemudian, Clara dan Nicolas akhirnya sampai di rumah mereka. Clara masuk ke rumah terlebih dahulu. Agak tergesa sih karena ia masih harus menyiapkan makan malam. Gadis itu bergegas masuk ke dapur dan mendapati adiknya ada disana.


"Raymond?" Panggil Clara sambil menaikkan sebelah alisnya. Apa yang dilakukan adiknya disini? Apa adiknya sudah kelaparan?


"Eh, kakak?"


Clara semakin mendekat ke arah Raymond. Indra penciumannya menangkap bau lezat masakan.


"Aku sudah membuatkan makan malam untuk kakak!" Kata Raymond sambil tersenyum simpul, "Cuma spaghetti saja sih. Semoga saja kakak suka sama masakan Raymond."


Clara tersenyum mendengar perkataan adiknya. Makin lama adiknya itu mulai menampilkan sikap dewasa. Ia senang sekaligus sedih sih. Adiknya tumbuh begitu cepat.


"Kamu sudah bisa masak, dek?" Tanya Clara sambil duduk di kursi yang biasa ia tempati. Raymond menghidangkan masakannya diatas meja.


"Eee cuma spaghetti, nasi goreng, sama telur mata sapi aja kak." Jawab Raymond sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Clara menatap adiknya dengan tatapan kagum. Gak banyak lho anak muda zaman sekarang bisa masak. Yahh meski yang bisa ia masak cuma tiga macam sih. "Kapan-kapan kakak ajarin kamu masak deh." Ucap Clara. Ia mulai memakan spaghetti buatan Raymond.


Raymond yang melihat kakaknya tertegun sejenak setelah menyuapkan suapan pertama jadi harap-harap cemas. Apa jangan-jangan masakannya tidak enak ya?


"Masakan kamu enak banget, dek!" Puji Clara sambil melanjutkan acara makannya. Raymond menghela nafas lega. Syukurlah kalau kakaknya suka dengan masakan pertamanya. Awalnya ia ragu untuk memasakkan kakaknya makan malam sih, tapi karena ia kasihan pada kakaknya yang masih harus memasak ditengah-tengah kesibukannya makanya ia membuatkan saja spaghetti.


"Kapan-kapan buatin kakak spaghetti lagi, ya?" Pinta Clara sambil makan dengan lahap. Setelah selesai makan Clara menyiapkan makan malam untuk semua orang. Tidak banyak sih yang bisa ia masak. Cuma ayam tepung dan sambal rica-rica.


Nicolas langsung turun saat mencium aroma masakan Clara yang sangat lezat. Itulah yang biasa 'memanggil' penghuni rumah ini untuk turun makan. Begitu juga dengan yang lain. Bryan dan Paula kelihatan lelah sekali dihari pertama magang. Berbeda sekali dengan Clara dan Guy yang tetap kelihatan bugar.


Mereka semua makan dengan lahap. Saat mereka makan, Clara memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya untuk menanyakan aktivitas apa saja kedua sahabatnya dihari pertama magang. Tapi sayangnya Rey tidak bisa di hubungi, makanya Clara cuma bisa melakukan panggilan ke Amber.

__ADS_1


"π½π‘Žπ‘‘π‘– π‘”π‘–π‘šπ‘Žπ‘›π‘Ž, π‘˜π‘Žπ‘šπ‘’ π‘—π‘Žπ‘‘π‘– π‘π‘’π‘π‘Žπ‘  π‘‘π‘Žπ‘Ÿπ‘– π΄π‘›π‘”π‘˜π‘¦ π‘˜π‘Žπ‘šπ‘’?" Tanya Amber dari seberang sana.


"Boro-boro. Mana kemarin aku satu kantor sama Angky lagi." Jawab Clara. "Sepertinya aku ditempatkan di kantor pusat deh. Makanya kadang Angky datang ke sana." Imbuhnya lagi.


Clara sempat ingin mengatakan rencananya yang ingin mencomblangkan Amber dengan Angky-nya, tapi urung karena Clara malu mengatakannya. Clara sangat menyayangi sahabat dan pamannya, makanya ia ingin memberikan yang terbaik untuk mereka berdua.


"Oh iya Am, kamu tau nggak gimana kabarnya Rey? Dia nggak bisa dihubungi soalnya."


"𝑂𝒉, π‘˜π‘Žπ‘¦π‘Žπ‘˜π‘›π‘¦π‘Ž π‘‘π‘–π‘Ž π‘™π‘Žπ‘›π‘”π‘ π‘’π‘›π‘” π‘—π‘Žπ‘‘π‘– π‘šπ‘Žπ‘›π‘Žπ‘”π‘’π‘Ÿ 𝑑𝑖 π‘Ÿπ‘’π‘šπ‘Žπ’‰ π‘šπ‘Žπ‘˜π‘Žπ‘› π‘˜π‘’π‘™π‘’π‘Žπ‘Ÿπ‘”π‘Žπ‘›π‘¦π‘Ž 𝑑𝑒𝒉. π‘€π‘Žπ‘˜π‘Žπ‘›π‘¦π‘Ž π‘Žπ‘”π‘Žπ‘˜ π‘ π‘–π‘π‘’π‘˜."


Clara menganggukkan kepalanya. Hebat juga sahabatnya yang satu itu. Kalau Clara sih, sebenarnya ia mau langsung ditempatkan ditenaga profesional sama seperti Feng. Tapi Clara tolak karena ia masih menikmati masa-masa magang. Terbukti saja, baru kemarin dirinya magang ia sudah menunjukkan kemampuannya dibidang komputer.


"Kalau kamu gimana, Am?"


"π΄π‘˜π‘’ π‘‘π‘–π‘‘π‘’π‘šπ‘π‘Žπ‘‘π‘˜π‘Žπ‘› 𝑑𝑖 π‘˜π‘Žπ‘›π‘‘π‘œπ‘Ÿ π΄π‘›π‘”π‘˜π‘¦ π‘˜π‘Žπ‘šπ‘’, πΆπ‘™π‘Ž!" Jawab Amber, "π‘šπ‘Žπ‘›π‘Ž π‘Žπ‘˜π‘’ 𝑔𝑒𝑔𝑒𝑝 π‘™π‘Žπ‘”π‘– π‘π‘Žπ‘  π‘ π‘’π‘π‘Žπ‘Ÿπ‘Ž π‘”π‘Žπ‘˜ π‘ π‘’π‘›π‘”π‘Žπ‘—π‘Ž π‘˜π‘’π‘‘π‘’π‘šπ‘’ π‘ π‘Žπ‘šπ‘Ž π‘‘π‘–π‘Ž!"


Clara tertawa mendengar perkataan sahabatnya itu yang juga dihantui oleh sosok Nicolas. Sama seperti dirinya. Dikampus Nicolas menjadi sosok dosen dan di kantor dia jadi atasan, hadehh.


Untuk sesaat, Clara tidak mendengar jawaban dari sahabatnya itu. Apa jangan-jangan ia salah ngomong kali, ya?


"𝐼, 𝑖𝑑𝑒 πΆπ‘™π‘Ž. π΄π‘˜π‘’ π‘šπ‘’π‘šπ‘Žπ‘›π‘” π‘ π‘’π‘˜π‘Ž π‘ π‘Žπ‘šπ‘Ž π΄π‘›π‘”π‘˜π‘¦ π‘˜π‘Žπ‘šπ‘’ 𝑠𝑖𝒉. πΆπ‘’π‘šπ‘Ž π‘šπ‘Žπ‘™π‘’ π‘ π‘Žπ‘—π‘Ž π‘šπ‘Žπ‘’ π‘šπ‘’π‘›π‘”π‘Žπ‘‘π‘Žπ‘˜π‘Žπ‘›π‘›π‘¦π‘Ž. π‘Œπ‘Žπ’‰π’‰ π‘Žπ‘˜π‘’ π‘Ÿπ‘Žπ‘ π‘Ž π‘Žπ‘˜π‘’ π‘‘π‘–π‘‘π‘Žπ‘˜ π‘π‘Žπ‘›π‘‘π‘Žπ‘  untuk π΄π‘›π‘”π‘˜π‘¦ π‘˜π‘Žπ‘šπ‘’."


Clara memejamkan matanya sebentar. "Kalau soal jodoh nggak akan kemana, Am. Jadi kamu tenang saja. Aku pasti merestui kamu sama Angky aku."


Ya iyalah Clara yang merestui, orang Clara yang mau mencomblangkan mereka berdua kok. Tapi perasaan itu tidak bisa di paksakan. Clara hanya tinggal memastikan bagaimana perasaan Nicolas pada Amber.


Setelah membicarakan banyak hal, Clara pun akhirnya memutuskan panggilan karena ia sudah mengantuk. Namun, baru saja ia merebahkan tubuhnya, handphonenya berbunyi. Tertanda panggilan masuk dari Angelo. Tumben Daddy menelepon dirinya malam-malam begini.

__ADS_1


"π»π‘Žπ‘™π‘œ, π‘ π‘Žπ‘¦π‘Žπ‘›π‘”? π΄π‘π‘Ž π‘˜π‘Žπ‘šπ‘’ π‘π‘Žπ‘–π‘˜-π‘π‘Žπ‘–π‘˜ π‘ π‘Žπ‘—π‘Ž?"


"Oh, halo Dad. Aku baik-baik saja kok. Kalau Daddy sama Mummy gimana kabarnya?"


"πΎπ‘Žπ‘šπ‘– 𝑑𝑖𝑠𝑖𝑛𝑖 π‘π‘Žπ‘–π‘˜-π‘π‘Žπ‘–π‘˜ π‘ π‘Žπ‘—π‘Ž π‘˜π‘œπ‘˜." Jawab Angelo dari seberang sana. "πΊπ‘–π‘šπ‘Žπ‘›π‘Ž π‘šπ‘Žπ‘”π‘Žπ‘›π‘”π‘›π‘¦π‘Ž, π‘Žπ‘π‘Ž π‘™π‘Žπ‘›π‘π‘Žπ‘Ÿ?"


"Lancar kok, Dad. Yah meski Clara nggak bilang kalau Clara anaknya Daddy aja. Hehehehe."


"πΏπ‘Žπ’‰? πΎπ‘’π‘›π‘Žπ‘π‘Ž? πΎπ‘Žπ‘šπ‘’ π‘›π‘”π‘”π‘Žπ‘˜ π‘šπ‘’π‘›π‘”π‘Žπ‘˜π‘’π‘– π·π‘Žπ‘‘π‘‘π‘¦ π‘ π‘’π‘π‘Žπ‘”π‘Žπ‘– π‘Žπ‘¦π‘Žπ’‰ π‘˜π‘Žπ‘šπ‘’?"


"Nggak kok Dad. Siapa bilang Clara nggak mau mengakui. Cuma, Clara merasa aneh saja. Kalau mereka tiba-tiba ramah pas tahu kalau Clara anak angky, kan jadinya aneh."


"π‘Œπ‘Ž π‘ π‘’π‘‘π‘Žπ’‰ π‘˜π‘Žπ‘™π‘Žπ‘’ 𝑏𝑒𝑔𝑖𝑑𝑒, π‘˜π‘Žπ‘šπ‘’ π‘˜π‘Žπ‘™π‘Žπ‘’ π‘Žπ‘‘π‘Ž π‘Žπ‘π‘Ž-π‘Žπ‘π‘Ž π‘π‘–π‘™π‘Žπ‘›π‘” π‘Žπ‘—π‘Ž π‘ π‘Žπ‘šπ‘Ž π‘π‘Žπ‘€π‘Žπ‘›π‘” π‘˜π‘Žπ‘šπ‘’." Ucap Angelo dengan nada agak bercanda.


"Siap boss!"


Setelah panggilan terputus, Clara akhirnya merebahkan tubuhnya diatas kasur. Karena merasa cukup lelah, ia akhirnya langsung terlelap.


Tak lama kemudian, pintu kamar Clara terbuka. Menampilkan sosok Raymond yang masuk ke dalam. Ia tersenyum melihat kakaknya yang sudah terlelap dengan damainya. Raymond mengusap rambut kakaknya dan tersenyum getir.


"Adek sudah besar kak. Jadi mulai sekarang biar adek saja yang menjaga kakak. Adek sayang banget sama kakak!" Ucap Raymond.


Karena tidak mau mengganggu tidur lelap kakaknya, Raymond pun segera keluar dari dalam kamar Clara setelah menghadiahinya dengan kecupan di pipi.


Rasa sayang seorang adik yang begitu tulus dan murni membuat Raymond sangat ingin melindungi adiknya. Bagi Raymond, Clara itu dunianya.


π‘€π‘’π‘›π‘”π‘˜π‘–π‘› π‘π‘Žπ‘”π‘– π‘‘π‘’π‘›π‘–π‘Ž π‘˜π‘Žπ‘šπ‘’ 𝑖𝑑𝑒 π‘ π‘Žπ‘‘π‘’ π‘œπ‘Ÿπ‘Žπ‘›π‘”, π‘‘π‘Žπ‘π‘– π‘π‘Žπ‘”π‘– π‘ π‘’π‘ π‘’π‘œπ‘Ÿπ‘Žπ‘›π‘” π‘π‘–π‘ π‘Ž π‘—π‘Žπ‘‘π‘– π‘˜π‘Žπ‘šπ‘’ π‘Žπ‘‘π‘Žπ‘™π‘Žπ’‰ π‘‘π‘’π‘›π‘–π‘Žπ‘›π‘¦π‘Ž. Dan Clara adalah dunia Raymond. Pemuda itu berjanji tidak akan membiarkan kakaknya melewati masa-masa sulit lagi seperti dulu.

__ADS_1


π‘€π‘’π‘ π‘˜π‘– π‘ π‘’π‘œπ‘Ÿπ‘Žπ‘›π‘” π‘˜π‘Žπ‘˜π‘Žπ‘˜ π‘—π‘Žπ‘Ÿπ‘Žπ‘›π‘” π‘Žπ‘‘π‘Žπ‘’ π‘π‘Žπ’‰π‘˜π‘Žπ‘› π‘‘π‘–π‘‘π‘Žπ‘˜ π‘π‘’π‘Ÿπ‘›π‘Žπ’‰ π‘π‘–π‘™π‘Žπ‘›π‘” 'π‘Žπ‘˜π‘’ π‘ π‘Žπ‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘˜π‘Žπ‘šπ‘’ π‘Žπ‘‘π‘–π‘˜' π‘‘π‘Žπ‘π‘– π‘π‘’π‘Ÿπ‘π‘Žπ‘¦π‘Žπ‘™π‘Žπ’‰ π‘‘π‘–π‘Ž π‘ π‘Žπ‘›π‘”π‘Žπ‘‘ 𝑝𝑒𝑑𝑒𝑙𝑖 π‘π‘Žπ‘‘π‘Ž π‘šπ‘’ 𝑙𝑒𝑏𝑖𝒉 π‘‘π‘Žπ‘Ÿπ‘– π‘Žπ‘π‘Žπ‘π‘’π‘› π‘—π‘’π‘”π‘Ž. Dan Raymond sangat merasakan hal itu dari kakaknya.


Dalam hati Raymond berkata, "Aku merasakan kebahagiaan ketika aku bayi sampai sekarang. Sederhana saja, yaitu kebahagiaan ini datang dari seorang kakak yang berwibawa."


__ADS_2