Kutukan Dua Bahasa

Kutukan Dua Bahasa
Bab 34: Tugas ratu kampus


__ADS_3

Clara berbaring tengkurap di atas ranjangnya dengan kaki yang berdiri tegak. Jarinya sobuk mengetik sesuatu dan matanya fokus menatap layar laptopnya.


Tak lama kemudian, Raymond masuk ke dalam kamarnya sambil memegangi perutnya yang terasa lapar.


"Kak," panggil Raymond.



"Ya?"


"Tolong buatin Adek makanan dong kak, lapar nih!"


Clara tidak segera menjawab. Ia menutup laptopnya dan duduk, lalu menatap heran ke arah Raymond. "Lho, bukannya kamu sudah makan, ya?"


"Masih lapar kak!" Ucap Raymond sambil tertawa gak jelas.


Clara menghela nafas panjang. "Ya udah, kamu tunggu disini dulu ya? Kakak buatin kamu makanan!" Ucap Clara. Ia bangkit dan berjalan keluar kamar.



"Masak apa, ya?" Mata Clara menatap lekat bahan masakan yang ada di kulkas.


Setelah tiga puluh menit berkutat didapur, masakan Clara akhirnya jadi. Meski cuma mie instan dan telur mata sapi sih.


"Adek!" Teriak Clara memanggil adiknya. Tak lama kemudian, Raymond pun turun ke bawah dan duduk di kursi yang biasa ia tempati.


Anak itu kelihatan senang sekali waktu melihat Clara masak mie. Jarang-jarang kan kakaknya itu memasakkan mie. "Kakak juga mau makan?" Tanyanya saat melihat mangkuk berisi mie dan telur mata sapi yang ada dihadapan Clara.


Yang ditanya hanya mengangguk. Mereka berdua pun makan dengan nikmat.


"Kak, lain kali masakin adek mie lagi, ya?" Pinta Raymond disela-sela makan.


"Boleh."


*****


Pukul sebelas siang, Clara duduk di ruang tengah sambil menonton drama kesukaannya di tv. Tak lama kemudian, Nicolas muncul sambil menatapnya dengan tatapan tajam. Sial, berasa mau dikuliti aja.


"Kamu ngapain, Clara?" Tanya Nicolas.


Clara mendongak menatap wajah pamannya itu. Sudah liat kan kalau ia sedang menonton TV sambil makan cemilan? Kenapa masih nanya? Situ buta, ya?


"Menurut Angky?" Clara balik bertanya. Kebiasaan barunya adalah, menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.


"Kamu nggak kuliah?"


"Nggak."


"Ngapain?"


"Malas!"


"Kalau cuma karena malas sana berangkat ke kampus. Angky gak mau tau ya, kalau sampai kamu gak naik semester!"


__ADS_1


Ya gak mungkin lah, kalau Clara sampai gak naik semester. Kan cuma mata kuliah Nicolas saja yang selalu merah. Memang sepenting apa sih matkul English komputer di jurusan TIK?


Nicolas menatap Clara dengan tatapan sadis saat tidak ada pergerakan dari ponakannya itu. "Udah, cepat siap-siap!"


Clara tidak menanggapi ucapan Nicolas lagi. Ia sangat tahu kalau ia tetap membalas maka urusannya akan semakin panjang.


"Kayak udah pintar aja kuliahnya!"


Maksudnya apa nih? Mau bilang Clara bodoh atau apa?


Hellow, please deh. Clara itu pinter banget kali. Ya mesti gak jago bahasa Inggris sih.


"CLARISSA RASANDRA WIRATAMA!!!" Bentak Nicolas yang langsung membuat Clara tersentak kaget, "Kamu siap-siap sekarang atau nilai kamu nol di semua mata kuliah!"


Entah kenapa, Clara merasa takut sekali saat dibentak Nicolas seperti barusan. Ia langsung lari terbirit-birit masuk ke dalam kamarnya dan bersiap-siap hendak pergi ke kampus meski terpaksa.


Clara tidak mau mengambil resiko diamuk Nicolas yang tidak ketebak gimana jalan pikirannya.


Dua puluh menit kemudian, Clara turun dari kamarnya. Ia mengenakan kaos lengan panjang warna hitam dan rok panjang selutut berwarna putih. Rambutnya yang panjang dan pirang ssngaja ia geraikan begitu saja.


Dalam perjalanan menuju kampus, tidak ada yang membuka percakapan sama sekali. Clara sibuk memikirkan sesuatu yang berhubungan dengan tempat tinggalnya dulu. Ia membasahi kerongkongannya sebelum mengatakan sesuatu.


"Ang, dulu kita pernah tinggal di Amerika gak?" Tanyanya sambil menaikkan sebelah alisnya.


Nicolas melirik ponakannya sekilas. "Ngapain kamu nanya kayak gitu?" Tanya Nicolas balik.


"Yaa pengen tau aja. Kalau kita pernah tinggal di luar negeri, berarti Clara bisa berbicara dalam bahasa Inggris dong. Terus kenapa sekarang Clara tidak bisa berbicara dengan bahasa ing-"


"Turun, udah nyampe!" Ucap Nicolas memotong perkataan Clara. Bisa gawat kalau diteruskan. Bisa-bisa masa lalu Clara sedikit terungkap. Bisa gawat kan kalau itu sampai terjadi? Angelo pasti akan marah besar padanya.


"Buat apa?" Tanya Clara heran.


"Untuk uang jajan kamu!"


"Hah?" Sejak kapan Nicolas jadi perhatian kayak gini? Meski agak ragu, Clara pun menerima uang pemberian pamannya itu. Jangan sampai pamannya ngambek atau berubah pikiran dan tidak jadi memberi Clara uang jajan.


"Nanti jangan lupa tunggu Angky di depan kampus. Angky jemput!" Ucap Nicolas saat Clara benar-benar keluar dari dalam mobil. Clara hanya mengangguk pasrah. Toh gak ada gunanya juga kan nolak permintaan Angky-nya?


*****


"Selamat pagi ratu kampus!" Sapaan demi sapaan Clara dengar saat ia berjalan menuju koridor kampus. Gadis itu hanya membalasnya dengan anggukan kepala sambil tersenyum ramah.


Setelah ia memenangkan kontes raja dan ratu kampus, banyak mahasiswa/i yang mengenal dirinya. Hal itu membuat Clara heran sendiri. Pasalnya, sebelum ia menjadi ratu, banyak orang yang sudah mengenalnya lantaran penampilannya yang amat mencolok dan berbeda sekali dengan orang lokal. Hampir semua bentuk fisik Clara menurun dari ibunya yang berasal dari Amerika. Begitu juga dengan Raymond.


Salah seorang mahasiswa berlari menghampiri Clara, "Cla, Clarissa!"


Clara menoleh. "Ya ada apa, ya?"


"Kamu dicari sama dekan tuh, katanya dia mau minta tolong!" Kata mahasiswa itu sambil menoleh ke arah lain. Sama seperti mahasiswa lainnya, ia amat terpesona dengan kecantikan Clara.


"Oh, terima kasih sudah menyampaikan pada saya!" Ucap Clara sambil tersenyum tulus. Sejak ia naik ke semester lima, sifatnya yang biasanya kasar dan cukup bar-bar berubah menjadi kalem karena tidak ada lagi orang yang menghina kelemahannya dalam bahasa Inggris. Yahh meski kemampuan bahasa Inggris-nya tidak pernah berubah sih. masih parah dari sebelum-sebelumnya.


Clara masuk ke dalam ruangan dekan setelah mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Pak Arya memanggil saya?" Tanya Clara sambil tersenyum ramah.

__ADS_1


"Duduk Clarissa!" Pinta pak Arya sambil menunjuk kursi yang ada dihadapannya. Clara mengangguk, lalu duduk di kursi yang dimaksud pak Arya.



"Maaf, kalau boleh tahu ada kepentingan apa ya, bapak memanggil saya?" Tanya Clara sopan. Hehehe, Clara itu sebenarnya sopan kok. Cuma liat dulu siapa yang menyuruhnya. UPS.


"Jadi begini, saya dengar kamu sudah bisa menyalin data-data, ya?" Pak Arya balik bertanya. Roman-romannya Clara mau disuruh-suruh nih.


"Hah? Bapak dengar dari siapa?"


"Dari Sir Nicolas Franklin Demasa Wiratama. Beliau paman kamu, kan?"


"I, iya Pak."


Clara menundukkan kepalanya. Dalam hati ia menyalahkan pamannya yang seenaknya saja mengatakan pada dekan kalau ia bisa menyalin dan membuat data-data apa saja dilaptop maupun komputer.


"Jadi bapak mau minta tolong sama kamu untuk memasukkan semua data-data dosen dan mahasiswa ke file saya, bisa?"


"Ta, tapi pak saya ada jam kuliah!"


Tuh kan, ujung-ujungnya pasti minta tolong. Bukannya Clara gak mau menolong sih. Tapi malas.


"Nggak apa-apa, saya bisa meminta izin sama dosen yang mengajar dikelas kamu."


Nah, mau ngeles apa lagi sekarang.


"Kamu pakai saja komputer yang ada di labor bahasa. Bilang aja kamu disuruh sama Pak Arya Saloka Batanta" Suruh pak Arya, "Dan, anggap saja ini tugas kamu sebagai ratu kampus!"


BILANG AJA KALAU MAU JADIIN GUE ASISTEN DEKAN! Jerit Clara dalam hati. Ia tidak henti-hentinya menyumpah serapahi pamannya yang sudah ia anggap keterlaluan itu.


"Ya sudah pak, kalau begitu saya permisi dulu ya, pak!"


HUWAAA KALAU BEGINI MAH ENAKNYA GUE GAK JADI RATU KAMPUS! BIAR GAK ADA LAGI ALASAN YANG BISA DIPAKAI UNTUK MENYURUH GUE!!!


Saat keluar dari ruang dosen, Clara sempat bertemu dengan Aldiano yang hendak masuk ke ruang dosen.


"Eh, Clara, habis dari mana?" Tanya Aldiano sambil tersenyum. Melihat lawan bicaranya tersenyum mau tak mau Clara jadi ikut tersenyum.



"Dari ruang dekan!" Jawab Clara jujur. "Ya udah, aku mau pergi dulu ya, lagi banyak kerjaan soalnya!" Ucapnya. Tanpa menunggu jawaban Aldiano, Clara pun langsung berlalu pergi.


Sesampainya di labor bahasa, Clara langsung duduk disalah satu kursi dan menyalakan komputer. Eh, tunggu dulu. Berkas yang mau ia masukkan mana, ya?


Astaga! Jangan-jangan Clara lupa menaruhnya dimana. Atau ...


"Dengan Clarissa Rasandra Wiratama?" Tanya seorang pria yang baru masuk ke dalam labor bahasa.


"Iya, pak. Saya sendiri!"


"Ini dari pak Arya. Beliau lupa memberikannya tadi. Selamat bekerja!"


"Iya pak, terimakasih!"


Saat orang itu pergi, Clara menghela nafas lega. Untung emang pak Arya yang lupa memberikan berkas.

__ADS_1


Clara membuka berkas itu dan melihat isinya sekilas. Banyak banget data yang harus ia masukkan. SIAAAL!


__ADS_2