Kutukan Dua Bahasa

Kutukan Dua Bahasa
Bab 14: Ke Taman Ria


__ADS_3

KRINGGG!


Bel sekolah berbunyi, tanda waktu jam pelajaran usai.


"Well ... because the bell has sounded, you can go home! " Kata Nicolas pada semuanya. Ia merapikan semua buku yang sudah amburadul gak karuan.


"Thank you. My class is closed. Good morning!" Tutur Nicolas. Sudah jadi kebiasaan untuknya mengucapkan kalimat itu saat menjadi dosen di jam pertama.



"Thank you again. Good morning!" Kompak banget tuh satu kelas. Wajar sih, karena itu fakultas Teknologi Informasi dan Komunikasi.


Nicolas tidak membalasnya dan terus keluar kelas.


Sementara itu, Clara yang tengah memasukkan kembali buku-bukunya ke dalam kelas dihampiri oleh Bian. Wajahnya tergolong biasa dengan tinggi rata-rata anak lelaki pada umumnya. Rambutnya disisir rapi ke belakang. Nyaris sempurna.


"Jalan-jalan yuk, Cla! " Ajak Bian dengan beraninya. Berani? Iya lah. Kalian pada gak liat gimana muka perang Guy, Rey, sama Bryan saat Bian mendekati Clara? Muka mereka bertiga serem banget coy. Ngalahin orang-orang yang mau tempur aja.



Dalam hati, mereka bertiga berdo'a, semoga aja Clara meno-


"Boleh!" Jawaban itu membuat mereka bertiga melongo gak percaya. Paula yang melihat reaksi mereka bertiga heran sendiri. Sedangkan Amber hanya tertawa kecil. Amber tahu kalau sebenarnya Clara itu sangat populer dikalangan mahasiswa, sayangnya sifat Clara yang bar-bar sekali menciutkan nyali mereka untuk menembak Clara.



Hanya mereka berempat yang berani menunjukkan ketertarikannya pada Clara.


Berani?


Salah.


Yang berani menunjukkan perasaannya pada Clara hanya Bian dan Bryan saja. Wah, nama mereka mirip. Jangan-jangan mereka berdua jo ... mbo? Oke, abaikan. Sedangkan Rey dan Guy tak ada bedanya dengan mahasiswa-mahasiswa lain.


Rey tidak bisa mengungkapkan perasaannya pada Clara karena mereka sudah bersahabat sejak lama. Ia tidak mau persahabatan mereka jadi rusak gara-gara keegoisannya.


Egois?


Bukankah setiap manusia itu berhak mencintai dan di cintai?


Hanya saja, begitu banyaknya orang yang menyukai orang lain, tapi kecil kemungkinan untuk disukai pula. Bagaimanapun juga, persahabatan itu lebih berharga dari perasaan yang hanya sesaat.


Perasaan sesaat?


Sedangkan Guy, dia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya pada Clara karena khawatir dengan kondisinya.


"Kamu mau ikut jalan-jalan, Am?" Tawar Clara sambil tersenyum.


"A, Aku?"


Clara mengangguk, "kebetulan, kita bertiga kan jarang quality time. Kamu tidak keberatan kalau aku mengajak Rey dan Amber kan, Bian?" Tanya Clara pada Bian.


"Boleh, tentu saja boleh!" Jelas sekali kalau Bian tidak ikhlas. Ia ingin berduaan dengan Clara tapi orangnya malah mengajak sahabat-sahabatnya. Oh, jangan sampai ada yang mau ikut la-


"You didn't invite us to come along, Miss Wiratama?" Tanya Guy dengan suara yang mirip orang frustasi. Ia kesal karena tidak diajak jalan-jalan oleh mereka berempat.



Clara tampak berpikir sejenak, "Oh iya, kalian bertiga kan belum pernah jalan-jalan."


Oke, Clara harus segera dihentikan. Kalau tidak bisa-bisa satu gedung kampus akan diajaknya. Beruntungnya sebagian besar teman sekelas mereka sudah pada pulang. "Kenapa kamu mengajak mereka sih, Cla? Mereka kan bisa pergi jalan-jalan sendiri!"

__ADS_1


"Kok masih tanya sih, jalan-jalan itu asiknya kan bareng-bareng!"


"If you don't want to come with us, you want to go alone!" Kata Guy dengan wajah kalemnya. Ini sebenarnya yang ngajak siapa sih?



Setelah bernegosiasi agak beberapa lama, akhirnya mereka semua sepakat mau jalan-jalan ke taman ria yang ada komples perumahan Clara. Jarang-jarang kan ada taman ria disana.


Sebelum pergi, Clara sempat mengirimkan pesan pada Mummy-nya kalau ia dan ketiga tamunya akan pergi ke taman ria.


Mereka bertujuh akhirnya pergi ke taman ria. Clara, Amber, dan Paula pergi naik mobil Clara, sedangkan Guy, Rey, Bian, dan Bryan naik mobil yang dikendarai oleh Rey.


Saat ini mereka semua berada di taman ria.


"Tapi, mengejutkan ya. Amberta ternyata punya SIM mobil!" Kata Bian.


"Aku dapat SIM waktu baru masuk kuliah!" Jelas Amber tanpa diminta.



"The driving is not bad, you know, very carefully! " Sahut Paula yang juga masuk ke dalam mobil Clara.



"Untung aku tadi juga mengajak sahabat ku, Amber." Kata Clara dengan bangganya. "Padahal aku juga bisa nyetir sih!"


"Oh iya, kenapa bukan Clara saja yang bawa mobil?" Tanya Bian.


"Jangan! Sebelum sampai ada yang mati!"


"Do not! Before they arrive someone will die! "


Baik orang yang bicara bahasa Indonesia (Amber dan Rey) dan orang yang bicara bahasa Inggris (Bryan, Guy, dan Paula) sama-sama mengatakan hal yang sama.


Karena Clara, kalau mengendarai mobil cepatnya itu lho, seperti orang yang mau ngajak mati bareng saja.


"Jangan meledek kalian!" Kata Clara dengan kesal, "baiklah, pulang nanti aku yang nyetir!"


"Gyaa! Tolong jangan!"


"Bian, kamu beli karcis, sana!" Suruh Rey dengan sadisnya.



"Kenapa harus aku sih?"


"Mau protes?"


Bian yang memang ingin protes terpaksa membeli karcis untuk mereka bertujuh. Saat kembali, ia mendapati kalau mereka berenam sudah berpasangan. Clara berpasangan dengan Amber, Guy berpasangan dengan Rey, dan Bryan berpasangan dengan Paula. Kalau sudah begini Bian berpasangan dengan siapa? Masa' iya dia berpasangan dengan mascot?πŸ˜†πŸ˜†


Setelah mendapatkan karcis, mereka bertujuh pun segera masuk ke dalam taman ria.


Taman ria ini ramai sekali. Banyak pasangan muda mudi yang main ke sini. Padahal ini masih dikatakan sebagai pagi, lho!


Baru jam sepuluh. Masih pagi kan?


Baru saja mereka menginjakkan kaki ke taman ria, banyak pasang mata yang berdecak kagum melihat rombongan mereka. Kenapa tidak? Yang cewek pada cantik, dan yang cowok pada ganteng. Jarang-jarang kan mereka melihat rombongan aneh seperti itu.


Aneh?


Iyalah aneh, kan ada orang bule-nya juga. Clara di golongkan sebagai orang bule, ya? Clara kan mirip banget sama bule. Cuma gak bisa bahasa Inggris saja.

__ADS_1


Ternyata tidak sulit mendapatkan perhatian dari Clara. Meski cuma sambil lalu saja sih. Buktinya Bian masih bisa memberi Clara permen kapas. Yaa meski Clara banyak menghabiskan waktu sama Amber dan Rey sih.


Kata orang, permainan seperti biang Lala, Komidi putar berbentuk cangkir besar, dan rollercoaster itu permainan yang romantis, lho.


Eh, rollercoaster masuk ke dalam permainan yang romantis? Kan duduknya berdua-dua. Berarti bisa berpasangan kan? Anggap aja kalau permainan menegangkan yang satu itu romantis.


Nah, Clara malah memainkan itu dengan sahabatnya, Amber. Lalu, seorang anak laki-laki berambut pirang dan bermata biru tanpa sengaja bertemu Clara. Ia datang bersama dua orang teman ceweknya. Siapa lagi kalau bukan-


"Lho, kok kamu ada di sini, Raymond?" Tanya Clara pada adik kesayangannya itu.


"Jalan-jalan sebentar kak, habis pulang sekolah!" Jawab Raymond.



"Eh, kakaknya Raymond Sea!"


"Ternyata memang cantik seperti yang orang katakan, ya!"


Seperti yang orang katakan? πŸ€”πŸ€”


"Kenalkan, nama ku Stella Cornelia Regar!"


"Dan aku Jessica Jane Coles!"


Mereka berdua memperkenalkan diri. Namanya kok kebarat-baratan, ya? Jangan-jangan mereka sama dengan Clara dan Raymond? Anak blasteran.


"Pacar kamu dua, dek?" Tanya Clara.


"Bukan!"


Clara menatap adik kesayangannya itu dengan tatapan penuh arti. Namun sulit diartikan. "Kamu masih ingat sama pesan Mummy, kan?" Tanya Clara.


"Ingat kok kak, ingat. Kakak tenang saja!"


Jadi gini, mereka itu teman satu geng. Namanya geng Blasteran Indo. Cerita sedikit nih ya. Raymond itu sering banget pergi ke Club kalau ada masalah. Tapi gak pernah mabuk-mabukan dan main perempuan, ya. Sekali ia mau merusak perempuan, ia selalu ingat dengan pesan Mummy-nya.


"π½π‘Žπ‘›π‘”π‘Žπ‘› π‘ π‘’π‘˜π‘Žπ‘™π‘–-π‘˜π‘Žπ‘™π‘– π‘šπ‘’π‘šπ‘π‘’π‘Ÿπ‘šπ‘Žπ‘–π‘›π‘˜π‘Žπ‘› π‘π‘’π‘Ÿπ‘’π‘šπ‘π‘’π‘Žπ‘›, π‘Žπ‘π‘Žπ‘™π‘Žπ‘”π‘– π‘ π‘Žπ‘šπ‘π‘Žπ‘– π‘šπ‘’π‘Ÿπ‘’π‘ π‘Žπ‘˜. πΌπ‘›π‘”π‘Žπ‘‘! π‘€π‘’π‘šπ‘šπ‘¦ π‘˜π‘Žπ‘šπ‘’ π‘—π‘’π‘”π‘Ž π‘π‘’π‘Ÿπ‘’π‘šπ‘π‘’π‘Žπ‘›. πΊπ‘–π‘šπ‘Žπ‘›π‘Ž π‘Ÿπ‘Žπ‘ π‘Žπ‘›π‘¦π‘Ž π‘˜π‘Žπ‘™π‘Žπ‘’ π‘œπ‘Ÿπ‘Žπ‘›π‘” π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘˜π‘Žπ‘šπ‘’ π‘ π‘Žπ‘¦π‘Žπ‘›π‘”π‘– π‘‘π‘–π‘Ÿπ‘’π‘ π‘Žπ‘˜ π‘ π‘Žπ‘šπ‘Ž π‘π‘Ÿπ‘–π‘Ž 𝒉𝑖𝑑𝑒𝑛𝑔 π‘π‘’π‘™π‘Žπ‘›π‘”? π‘†π‘Žπ‘˜π‘–π‘‘ π‘˜π‘Žπ‘›? π‘€π‘’π‘Ÿπ‘’π‘˜π‘Ž π‘π‘Žπ’‰π‘˜π‘Žπ‘› 𝑙𝑒𝑏𝑖𝒉 π‘ π‘Žπ‘˜π‘‘π‘– π‘™π‘Žπ‘”π‘–!"


Itu yang selalu mengingatkan Raymond kalau sedang terbawa nafsu.


Setelah puas bermain, mereka duduk di kursi yang disediakan. Mereka semua beristirahat sejenak. Sedangkan dua teman Raymond sudah pamit pulang duluan.


"Kamu capek, dek?" Tangan Clara terulur mengusap keringat yang memenuhi pelipis Raymond. Adiknya itu sempat bermain bersama dengannya tadi.


"Iya!" Raymond mengangguk.


"Kalau gitu pulang sekarang yuk, guys!" Ajak Clara. Ia bangkit dari kursinya diikuti yang lain.


Clara diam. Berjalan menghampiri Bian yang sangat kesal karena niatnya melakukan pendekatan pada Clara gagal total. Setelah Raymond bergabung bersama mereka, entah kenapa ia berpasangan dengan Paula.


"Kenapa?" Tanya Bian.


"Terimakasih banyak!" Clara tersenyum manis.


"Untuk?"


"Untuk hari ini. Hehehe ... "


Bian mendekat. Dia berbisik pelan. "Apapun untuk kamu, Clara!"


Clara diam mematung menatap punggung Bian yang berjalan lebih dulu diparkiran. Kenapa rasanya jadi aneh gini, ya?

__ADS_1


Apapun, asal ia bisa mendapatkan Clara.


__ADS_2