
Clara menguap sambil meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku setelah tidur nyenyak semalaman. Gadis itu tersenyum cerah saat melihat cahaya matahari yang menembus gorden jendela kamarnya yang masih tertutup rapat.
Hari ini hari Minggu. Hari dimana Clara biasa bersantai ria. Hari dimana Clara bisa tidur seharian. Hari dimana Clara biasa jalan-jalan bersama sahabat-sahabatnya. Dan hari dimana Clara bebas dari segala hal yang berbau kuliah.
Clara mengikat rambutnya asal dan merapikan tempat tidurnya. Ia bangkit untuk mengambil celana training yang tersimpan rapi di dalam lemari. Ia biasa melakukan jonging di hari Minggu.
Clara turun kebawah untuk menyiapkan sarapan. Pagi ini ia memutuskan untuk membuat roti isi supaya tidak memakan banyak waktu.
"Kakak mau jonging?" Tanya Raymond sambil memakan potongan apel yang Clara letakkan di atas meja.
"Iya dong. Biar sehat gitu lho!" Jawab Clara sambil meletakkan sandwich diatas meja makan. Satu persatu penghuni rumah ini menampakkan diri di ruang makan,acak-acakan. Tak terkecuali Diamond dan Nicolas. Kedua paman Clara itu sudah rapi dengan jas masing-masing. Mungkin ada urusan pekerjaan.
Ckckck,rajin betul mereka berdua. Gak kayak Paula yang masih stay dengan gaun tidurnya dan rambut yang acak-acakan.
PLAK. gak boleh lho ngomongin orang lain ... Dosa.
Clara memakan sandwich sambil menatap penghuni rumahnya satu persatu. Pandangan matanya tertuju ke arah Bryan dan Guy yang sudah rapi dengan pakaian olahraga dan celana training.
"Kalian berdua mau kemana?" Tanya Clara sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Mereka berdua mau menemani kamu lari pagi." Bukan Guy maupun Nicolas yang menjawab. Tapi Nicolas. Clara menatap Angky-nya dengan tatapan heran.
"Maksudnya?"
"Jadi gini. Mulai sekarang mereka berdua akan menjadi bodyguard yang akan menemani sekaligus mengawasi kamu menggantikan kami. Yahh itung-itung sebagai sewa rumah." Jelas Diamond.
Clara mengangguk sambil memakan sandwich-nya kembali. Tumben ia tidak melawan seperti biasa?
𝐻𝑎𝑑𝑒𝒉𝒉, 𝑚𝑒𝑙𝑎𝑤𝑎𝑛 𝑠𝑎𝑙𝑎𝒉, 𝑔𝑎𝑘 𝑚𝑒𝑙𝑎𝑤𝑎𝑛 𝑠𝑎𝑙𝑎𝒉. 𝐵𝑢𝑛𝑢𝒉 𝑎𝑗𝑎 𝑎𝑘𝑢 𝑠𝑒𝑘𝑎𝑙𝑖𝑎𝑛, 𝑇𝒉𝑜𝑟! - Clara.
Setelah merasa cukup, Clara pun bangkit dari tempat duduknya dan berpamitan untuk mulai lari pagi.
"Kak, Adek ikut dong!" Pinta Raymond sambil meminum susunya hingga kandas. Lupa. Adik Clara yang satu ini juga sudah siap dengan baju olahraganya.
__ADS_1
"Boleh, berarti Paula yang menjaga rumah, ya?!"
Clara, Raymond, Guy, dan Bryan pun mulai berlari dari halaman rumah. Sesekali mereka menyapa tetangga yang juga berlari atau bersepeda pagi.
Mereka duduk ditaman setelah merasa agak kelelahan. Clara, tokoh utama kita, mengipas-ngipaskan tangannya diwajahnya setelah mereka berkeliling kompleks.
"Gilaa, capek banget. Biasanya kan nggak begini!" Gumam Clara. Raymond mengusap keringat yang ada di kening Clara dengan sapu tangan. "Tumben kamu perhatian ke kakak? Biasanya kan selalu minta perhatian."
"Sekali-kali juga. Ya elah kak, adiknya perhatian malah dipertanyakan."
"Bukan gitu dek, cuma kakak curiga saja sama kamu. Kalau kamu baik begini pasti karena ada maunya, kan?" Tanya Clara sambil menatap adiknya dengan tatapan menyelidik. Pasalnya aneh banget kan Raymond tiba-tiba kayak gini.
"Idih, kalau nggak mau adiknya perhatian ya sudah." Jawab Raymond sambil memalingkan wajahnya ke arah lain. Ngambek. Sebenarnya ia memang mau meminta satu hal dari kakaknya sih.
Di lubuk hati yang paling dalam, Raymond ingin meminta Clara selalu ada disampingnya dan tidak akan pernah meninggalkan dirinya sampai kapanpun. Biarkan maut yang memisahkan mereka. Yang lain, jangan. Tapi ia malu mengatakannya. Makanya ia cuma memasang wajah cemberut menandakan kalau ia sedang kesal.
Clara yang melihat adiknya dalam mode ngambek tertawa geli. Kakak nggak ada akhlak memang. Tapi jangan salah, gadis itu segera memeluk adiknya dan mencium keningnya lama.
"Iya deh iya. Kakak senang banget kok kamu perhatikan seperti ini. Itu tandanya kamu juga sayang sama kakak." Ucapnya sambil tersenyum manis.
Clara tertegun sejenak mendengar perkataan adiknya. Ia tersenyum dan mengusap rambut Raymond dengan penuh kasih sayang. "Iya, kakak juga gak mau pisah dari kamu."
Tak jauh dari tempat mereka berempat duduk, seekor anjing tengah berjalan-jalan santai di taman. Entah apa yang sedang dipikirkan Bryan, cowok bule itu malah menirukan suara anjing.
Alhasil, anjing yang ternyata sudah gila itu berlari ke arah mereka. Melihat anjing galak itu, Clara dan yang lainnya langsung lari lintang pukang.
Benar kata pepatah. Sekencang apapun pelari tercepat di dunia lebih kencang lari orang yang sedang dikejar anjing. Apalagi anjing gila.
Setelah dirasa aman Clara dan lainnya langsung duduk di pinggir jalan dengan nafas ngos-ngosan.
"Gila, nafas ku rasanya mau putus aja!" Keluh Raymond sambil memegangi lututnya. Ia duduk disebelah Clara yang juga ngos-ngosan.
Clara melirik Bryan dengan sadisnya. "Gara-gara Lo tau nggak, coba kalau Lo nggak nyalak ke anjing itu, pasti kita nggak dikejar-kejar seperti ini!"
__ADS_1
"I'm sorry friends. I didn't think that dogs in Indonesia could do that." Ucap Bryan dengan nada penuh penyesalan. Ia tidak menduga kalau perbuatannya itu bisa melelahkan seperti ini.
"But on the other hand, the dog can make us the fastest runners in the world, you know!" Ucap Guy sambil tersenyum geli.
"Sialan Lo. Tapi bener juga sih." Ucap Clara.
Guy melirik ke arah Clara yang sedang menatap lurus ke depan. Betapa terkejutnya ia saat menyadari kalau Clara sudah tidak lagi menggunakan handsfree penerjemah bahasa. "Kamu sudah bisa mengerti bahasa Inggris, CLA?" Tanyanya.
Raymond yang mendengar pertanyaan itu sontak melihat ke arah kakaknya. Benar saja. Kakaknya tak lagi menggunakan alat yang dulu diberikan oleh Angelo. Ia menjadi tegang seketika. Bayang-bayang peristiwa sepuluh tahun yang lalu terlintas di kepalanya.
Mengertinya Clara dengan bahasa Inggris merupakan awal dari terkuaknya masa lalu Clara.
"Iya." Jawab Clara singkat. Padat. Dan jelas.
"Sejak kapan?" Tanya Raymond.
"Entahlah. Mungkin sejak kakak terbangun dari koma."
Apa mungkin koma itu membawa keajaiban bagi Clara? Atau mungkin awal mula dari terkuaknya luka lama?
Raymond bangkit dari tempat duduknya. "Kita pulang sekarang yuk? Bentar lagi panas nih!" Ajaknya kemudian.
Clara mengangguk. "Tapi sebelum itu kita mampir ke mall dulu yuk? Ada yang mau kakak beli soalnya!" Ucap Clara sambil berdiri dari tempat duduknya. Diikuti oleh Bryan dan Guy.
"Ada yang mau kakak beli?" Tanya Raymond heran.
"Es krim!" Jawab Clara sambil nyengir tanpa dosa.
"Kalau beli es krim mah, di supermarket kan bisa." Sahut Guy sambil meregangkan otot-ototnya.
Kalau tadi Raymond yang kaget karena kakaknya sudah mengerti bahasa Inggris, sekarang giliran Bryan yang kaget saat tahu kalau Guy sudah fasih berbahasa Indonesia.
"Since when can you speak Indonesian?" Tanyanya heran.
__ADS_1
"I have no idea. Maybe because I have lived in a family that communicates in Indonesian.After all, I'm also native to Indonesia. But big in America!" Jawab Guy.
Mereka berempat pun akhirnya pergi ke supermarket untuk membeli es krim yang ingin Clara beli.