
Sudah empat jam lamanya Clara mengetik diatas keyboard komputernya, tapi sayangnya pekerjaannya belum selesai. Hari ini ia tidak punya jadwal magang, makanya Nicolas mengajaknya ke kantor.
Clara merasa bosan dengan pekerjaannya saat ini. Ia keluar dari dalam ruangan tempatnya bekerja dan berniat membuat minuman untuk menghilangkan rasa suntuk. Nicolas yang melihatnya pergi hanya mengerutkan keningnya tanpa bertanya.
Clara masuk ke dalam pantry. Disana sudah ada dua orang wanita berpakaian seksi yang melihatnya dengan tatapan sinis.
"Eh, Lo asistennya Sir Nicolas, Kan?" Tanya seorang wanitaΒ dengan rambut yang dicat pirang.
"Iya, memangnya kenapa, ya?" Balas Clara, ia mulai membuat minuman untuk dirinya sendiri. Ia memutuskan untuk membuat teh susu untuk menghilangkan rasa suntuknya.
"Lo jangan bersikap seenaknya, ya? Mentang-mentang Lo asistennya Sir Nicolas, Lo jadi bersikap seenaknya saja. Mana sok cantik lagi," Wanita itu memperingatkan.
Clara mengerutkan keningnya heran. Sejak kapan ia bersikap seenaknya saja? Bukannya dia tuh yang bersikap seenaknya pada Clara?
"Maksud mbak apa, ya?" tanya Clara sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Belagu banget sih lo? Inget ya, Lo itu cuma bocah disini! Jadi jangan cari masalah sama kita-kita!" Kata wanita yang Clara yakini sebagai teman dari wanita berambut pirang.
"Nyadar dong, bukannya kalian yang mencari masalah dengan saya?" Clara mengaduk teh susunya dengan perasaan tenang. Ia tidak takut sama sekali dengan dua orang wanita bertampang galak itu.
"Berani banget sih lo? Masih bocil sudah sok jagoan!" Wanita berambut pirang itu menjambak rambut Clara yang masih tersisir rapi.
"Lepaskan atau kalian akan menerima akibatnya nanti!" Ancam Clara tidak main-main.
"Lo pikir gue takut sama ancaman Lo?" Wanita itu mulai memperkuat jambakannya.
Clara bukan tipe orang yang diam saja bila diperlakukan tidak adil seperti ini. Ia menarik rambut wanita itu dengan kuat.
"Lepasin rambut gue, brengsek!" Teriak wanita tersebut.
Namun, bukannya melepaskan jambakannya, Clara malah semakin memperkuat jambakannya. "Lepasin dulu rambut gue, setan!"
Akhirnya terjadilah acara jambak-jambakan antara Clara dan wanita tersebut. Teman dari sang wanita memilih untuk membantu temannya dan menjabak rambut Clara.
"Sialan!" Umpat Clara kesal. Ia berteriak kesakitan saat dua wanita itu semakin menarik rambutnya dengan kuat. Karena tidak tahan lagi, Clara akhirnya melepaskan tendangannya pada mereka berdua. Keluar juga jurus andalannya.
"Jangan salahkan aku kalau kalian sampai babak belur gara-gara mencari gara-gara dengan ku!" Ancam Clara. Ia memasang kuda-kuda untuk menakut-nakuti mereka berdua.
Namun bukannya takut mereka malah semakin ganas menjabak rambut Clara. Dikira Clara main-main rupanya. Padahal Clara sudah masuk karate tingkat atas lho. Sudah lewat malah.
"Apa yang kalian lakukan, hah?" Teriak Lisa histeris saat melihat Clara dijambak oleh mereka berdua. Orang-orang yang mendengar teriakan Lisa buru-buru menghampiri mereka. Kedua orang itu lengah melihat kerumunan yang terjadi. disaat itulah Clara balas menjambak rambut mereka berdua dengan sangat kuat. Ia tidak peduli kalau aksinya diliat banyak orang. Toh mereka duluan yang mencari gara-gara dengannya.
Tidak ada seorangpun yang berniat melerai mereka bertiga kecuali Lisa. Amber yang rencananya mau mengajak Clara makan siang dikejutkan dengan kegaduhan yang terjadi di pantry. Ia menerobos kerumunan dan terkejut saat melihat sahabatnya tengah berkelahi dengan karyawan perusahaan keluarganya sendiri.
Amber melepaskan tangan wanita itu dari rambut Clara dan memisahkan mereka bertiga. Clara memberontak dari dekapan Amber. Ia masih kesal plus emosi pada mereka berdua. "Sini kalian, kalau berani!"
Wanita yang sedang dipegangi oleh Lisa pun memberontak danΒ menjambak rambut Clara kembali. Begitu juga sebaliknya.
__ADS_1
"Dasar mak-mak kurang belaian!" Ucap Clara saking gemesnya.
"Aaarrrggghhh! Dasar tukang porotin om-om!" Umpat wanita tersebut.
"Apa Lo bilang?" Clara yang tidak terima dirinya dibilang tukang porotin om-om pun langsung menjambak rambut wanita itu dengan sangat kuat.
Amber memegangi Clara supaya sahabatnya itu tidak lepas kendali dan menjadi tontonan semua orang dikantor.
"Sudah Cla, jangan ladeni dia lagi." Ucap Amber, berusaha meredakan amarah Clara yang sudah meledak-ledak.
"Lepasin aku, Am. Aku belum memberi perhitungan sama nenek lampir itu!" Ucap Clara sambil menatap wanita itu dengan tatapan sengit.
"Apa Lo bilang?" Teriak wanita tersebut.
"Apa Lo, hah? Mau Lo dipecat gara-gara berkelahi dengan gue?"
"Mbak Lisa tolong pegangi tuh orang!" Pinta Amber.
Lisa segera memegangi orang itu sedangkan Amber bergegas menyeret sahabatnya itu menjauh dari sana dan membawanya ke ruangan Nicolas.
Brak!
Nicolas tersentak kaget saat mendengar suara pintu yang terbuka dengan cukup keras. Ia bertambah kaget lagi saat melihat keadaan Clara yang mirip orang habis diterjang angin tornado.
"Clara, kamu kenapa?"
Namun, bukannya menjawab Clara malah menyumpah serapahi wanita yang baru saja berkelahi dengannya. Pandangan mata Nicolas tertuju ke arah Amber yang sedang menyabarkan Clara. Pandangan mereka berdua bertemu. Untuk sesaat suasana menjadi canggung.
"Pak, tolongin sahabat saya pak! Dia mau mengamuk!" Pinta Amber.
"Ra?" Panggil Nicolas sambil menatap tajam ke arah Clara.
Clara masih tidak bergeming dari tempatnya. Ia benar-benar emosi kali ini.
"Clara!" Panggil Nicolas sekali lagi.
"Eee saya keluar dulu, pak!" Pamit Amber sambil keluar dari dalam ruangan Nicolas. Ia masih takut saat melihat Nicolas marah.
"Kesini atau uang jajan kamu Angky kurangi!" Ancam Nicolas. Metode ancaman baru nih.
Clara menghela nafas panjang sebelum akhirnya berjalan mendekati Nicolas. Setelah ponakannya duduk, Nicolas segera merapikan rambut ponakannya itu dengan jari tangannya. Masa bodoh kalau hasilnya tidak rapi. Orang pakai jari kok.
"Kamu kenapa? Dah kayak diterpa tornado saja." Tanya Nicolas sambil menatap ponakannya itu dengan tatapan penuh arti.
"Mending Angky tanya saja sama karyawan Angky deh. Malas Clara menceritakan kronologinya." Sungut Clara.
Nicolas menghela sambil menelepon sekertarisnya. Meminta Lisa untuk mendatangkan Karyawan yang bertengkar dengan Clara tadi.
__ADS_1
Lima menit kemudian, kedua orang wanita yang bertengkar dengan Clara masuk ke dalam ruangan Nicolas dengan rambut yang masih berantakan.
"Selamat siang, sir!" Ucap mereka sambil menundukkan kepala.
"Apa yang terjadi sama kalian? Kenapa kalian bertengkar dengan ponakan saya?" Tanya Nicolas. Clara membelalakkan matanya saat Nicolas mengatakan kalau ia adalah keponakannya. Untung saja mereka berdua tidak mendengarkan perkataannya dengan jelas.
"Dia yang lebih dulu mencari gara-gara, sir!" Ucap wanita berambut pirang sambil menuding Clara.
"Enak aja Lo nuduh gue. Lo kali yang mencari gara-gara sama gue!" Sergah Clara. Ia tidak terima dituduh begitu saja. Jelas-jelas mereka yang mulai. Malah pakai acara lempar batu sembunyi tangan lagi.
"Heh, jalang murahan, kan Lo yang mulai duluan! Kenapa Lo malah menuduh gue, hah?!"
Nicolas menatap tajam ke arah pegawai rendahan yang berani mengatai ponakannya itu dengan kata-kata yang tidak pantas sama sekali. Memanggil gadis baik-baik dengan sebutan jalang itu tidak boleh sama sekali.
"Lo kali!"
"Elo!"
"Brengsek!" Clara berjalan menghampiri wanita itu dan menjambak rambutnya dengan kuat.
"Aaaa lepasin gue, bajingan!" Teriak wanita itu kesakitan. Temannya tidak berniat membelanya kayak tadi. Mungkin karena sekarang ini mereka sedang berada di ruang pemimpin.
"Sekali lagi Lo bilang gue jalan, gue pastikan Lo tinggal nama, saat ini juga!" Ancam Clara tidak main-main.
"Sialan!" Wanita itu balas menjambak rambut Clara.
"Aaarrrggghhh!" Clara semakin menguatkan jambakannya.
"Cukup. Hentikan." Pinta Nicolas dengan suaranya yang menggelegar. Kedua orang yang sedang jambak-jambakan itu menghentikan aksinya.
"Kalian berdua silahkan keluar dari dalam ruangan saya sekarang!" Pinta Nicolas dingin. Mereka berdua lantas segera keluar dari dalam.
"Clara?" Panggil Nicolas. Clara tidak menjawab. Ia tengah merapikan rambutnya yang berantakan. "Kamu nggak apa-apa?" Tanya Nicolas khawatir.
"Mana ada orang yang nggak apa-apa habis dijambak? Kepala Clara sakit banget!" Ketus Clara, "lagian kenapa dia nggak sekalian dipecat aja sih, Ang? Nyusahin orang aja kerjaannya!"
"Atas dasar apa Angky harus memecat mereka berdua?"
"Angky gimana sih? Harusnya Angky belain Clara dong! Clara kan ponakannya Angky!" Jawab Clara.
"Jadi kamu mengakui saya sebagai Angky kamu?"
πΏππ? πΈππππ ππ¦π πππ?
"Sejak kapan Clara nggak mau mengakui Angky sebagai paman Clara? Paling Angky kali yang nggak mau mengakui Clara sebagai ponakan Angky!" Ucap Clara asal.
"Oke, Angky umumkan sekarang juga kalau kamu ponakannya Angky supaya kamu yakin kalau Angky mengakui kamu sebagai ponakannya Angky!" Ucap Nicolas.
__ADS_1
"Enggak perlu, Ang. Clara percaya kok sama Angky!" Clara cengengesan tidak jelas. Bisa gawat kalau identitasnya ketahuan.
"Angky sayang banget sama kamu, Cla!" Ucap Nicolas sambil mengusap rambut Clara dengan penuh kasih sayang.