
Keesokan harinya ...
Clara menempelkan pipinya dimeja. Dari setengah jam yang lalu ia sudah duduk manis didalam kelas tapi dosennya gak dateng 🤔. Ia duduk dibarisan paling depan. Dalam hati, ia mengutuk diri sendiri. Ia sebenarnya malas duduk dibarisan depan karena berhadapan langsung dengan dosen. Apalagi dosennya Nicolas.
"Clarissa!" Reynaldi menyenggol lengan Clara. Dia duduk satu meja dengan Clara. "Paman lo mana sih, dari tadi gak dateng-dateng!"
Clara membalikkan posisinya menjadi menghadap Rey. "Mana gue tahu!"
"Lo kan ponakannya! Masa' iya gak tahu?" Rey berdecak kesal. Yee dia kira Clara itu pawangnya Nicolas apa?
Emang sih, Reynaldy itu anti sekali dalam menunggu. Kalau main sama Clara juga suka uring-uringan sendiri karena Clara ratu jam karet. Kan Clara cewek, makanya wajar aja kalau ngaret.
"Mungkin-"
𝑀𝑢𝑛𝑔𝑘𝑖𝑛 𝑠𝑎𝑛𝑔 𝑓𝑎𝑗𝑎𝑟, 𝑑𝑎𝑛 𝑠𝑎𝑦𝑎𝑝-𝑠𝑎𝑦𝑎𝑝 𝑏𝑢𝑟𝑢𝑛𝑔 𝑝𝑎𝑡𝑎𝒉.
𝑀𝑒𝑛𝑦𝑎𝑘𝑠𝑖𝑘𝑎𝑛 𝑘𝑖𝑡𝑎 𝑏𝑒𝑟𝑠𝑒𝑡𝑒𝑟𝑢, 𝑡𝑎𝑘 𝑝𝑒𝑟𝑛𝑎𝒉 𝑑𝑎𝑚𝑎𝑖
𝑀𝑢𝑛𝑔𝑘𝑖𝑛 𝑐𝑖𝑛𝑡𝑎𝑘𝑢, 𝑡𝑒𝑟𝑙𝑎𝑙𝑢 𝑘𝑢𝑎𝑡 𝑑𝑎𝑛 𝑚𝑒𝑛𝑢𝑡𝑢𝑝𝑖, 𝑗𝑖𝑤𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑒𝑛𝑑𝑎𝑚 𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑘𝑒 -- malah nyanyi.
"Good morning!" Clara sama Reynaldy melirik suara yang berasal dari pintu kelas. Nicolas Franklin Demasa Wiratama. Dia berjalan menuju tempat duduknya. Mata Clara sama dia sempat bertemu. Clara memutuskan kontak mata terlebih dahulu.
"Morning!" Seru semua siswa.
Nicolas dari tadi melihat Clara terus. Clara bingung dong. Ia salah apa? Mata Clara melirik ke belakang. Takutnya kan Nicolas menatap orang yang ada dibelakang Clara, bukan Clara.
Kok makin lama makin lama tatapannya makin berasa, ya? Clara diam. Ia mengeluarkan laptop yang ia bawa dari rumah dan membukanya untuk mengalihkan perhatian. Gila, dilihatin seperti itu gak enak banget rasanya. Clara kan jadi salah tingkah sendiri. Ini kenapa lagi sama Angky-nya ini.
"Rey!" Clara berbisik. Matanya masih fokus pada layar monitor dan keyboard laptopnya supaya Nicolas gak curiga. "Angky liatin gue, ya?"
"Hah?" REYnaldy melirik Clara sekilas. Lalu menggeleng tidak tau. "Lah, aku kira dia memperhatikan aku!"
"Kita ada salah, Reynaldy?" Cicit Clara.
"Salah apa'an?" Rey mengotak-atik laptopnya sok sibuk. Padahal Clara tahu kalau sahabatnya yang satu itu lagi takut kareja Nicolas memperhatikan dia mulu. "Kayaknya dia tak suka sama aku deh!"
"Gak suka kenapa?" Clara membeo tidak mengerti.
__ADS_1
"Aku kan duduk di dekat kamu, Clara. Kali aja dia gak suka liat ponakannya yang cantik jelita itu duduk sama sahabatnya sendiri!" Reynald mendengus. Dia mendongakkan kepalanya melirik ke Nicolas yang lagi menjelaskan materi. Rey meringis. Ternyata Nicolas masih sesekali meliriknya tajam. "Aku pindah duduk saja deh!"
"Oi, oi, Lo mau kemana?" Clara menarik lengannya yang mau bangkit dari kursi. Dia mau ninggalin Clara gitu? "Lo jangan pindah, ya. Masa' Lo mau ninggalin gue sendirian? Mana barisan paling depan lagi!"
"Emangnya kenapa sih?" Reynaldy membereskan buku-bukunya yang berserakan. "Biasanya tiap hari tinggal seatap juga!"
"Jinjay!" Clara melotot, "Memangnya kamu berani pindah kursi saat Angky Nicolas lagi ngajar?"
"Sebenarnya enggak, sih." Reynaldy menggelengkan kepalanya dengan lesu. "Ntar nilai gue taruhannya!"
"Tolong yang duduk dibarisan paling depan pojok kanan jelaskan materi yang saya jelaskan barusan!" Nicolas menatap Clara dan Reynaldy dengan tajam.
Clara menganga. Ia bahkan tidak memperhatikan penjelasan barusan.
"Mampus!" Rey menatap Clara dengan tatapan horor. Seramnya dah mirip sama hantu yang ada di film-film. "Nah, gimana kita, Cla?"
"Ka, kamu yang jelaskan sana. Kamu kan pinter bahasa Inggris!" Clara menyerahkan buku bersampul biru laut, "nih, cepetan!"
"Buku apa ini, Cla?" Reynaldy membuka buku itu. Ia tidak mengerti dan gak paham sama yang dijelaskan Nicolas barusan. "Ini buku apa, Cla?"
"Aku juga gak tahu!" Clara menundukkan kepalanya karena malu. Satu kelas pada ngeliatin mereka dengan tatapan angker. "Udah sana jelaskan!"
"Menjelaskan apa, Clarissa Rasandra Wiratama?" Reynaldy melotot. "Ah, elu sih ngajakin gue ngobrol Mulu!"
Dih, malah jadi nyalahin Clara.
Clara sama Reynaldy berdiri. Siap menjelaskan materi yang dijelaskan Nicolas barusan. Mereka saling lirik. Tidak tau mau menjelaskan apa.
"Jadi-" Reynaldy menyenggol lengan Clara. Clara melirik Reynaldy putus asa. Sudah tidak ada jalan lain lagi. keluar kelas mungkin jadi pilihan terbaik daripada mendengarkan ocehan Nicolas yang mirip radio rusak.
"Jadi kita pilih keluar saja, pak!" Clasa memberi ultimatum. Untung gak kelepasan ngomong pakai kata 'Angky'. Reynaldy melongo.
"Good. Please come out!" Nicolas menatap Clara dengan kesal. Clara keluar kelas, sebelum ia keluar, Nicolas sempat berbisik pada keponakannya yang cukup nakal itu.
"Terima hukuman kamu nanti, Clarissa!"
Jantung Clara seolah berhenti berdetak. Kelar sudah hidupmu, Cla.
"Kamu gak waras, Cla!" Reynaldy menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan keputusan yang diambil Clara. "Kamu mau dapat nilai C dari dia?"
Sebenarnya, Rey senang sekali karena bisa menghabiskan waktu bersama dengan Clara tanpa ada gangguan dari sahabat maupun teman-teman bule mereka.
"Sudah diam. Diam." Clara membekap mulut Reynaldy yang sejak tadi ngoceh mulu. "Kamu mau emang dimarahi didepan mahasiswa?"
__ADS_1
"Enggak!" Reynaldy mengajak Clara pergi ke kantin. Aneh, tumben sekali Guy sama Bryan gak bermuka perang saat melihat ia keluar kelas bersama Clara? Biasanya iya. Apa mereka sadar kalau Rey itu sahabat Clara, ya?
Pasti bukan karena itu masalahnya.
Clara nyengir dibalik punggung Rey, " kamu yang traktir ya, kan kamu yang mengajak aku!"
Rey mengangguk.
*****
Clara mendesah lesu. Selulangnya ia dari kampus, ia dimarahi habis-habisan oleh Nicolas. Di bilang kurang kerjaan lah, pemalas lah, kegatelan lah, dan lain sebagainya. Gatel telinga Clara mendengar semua omelan Angky-nya.
Yang lebih parahnya pagi, Clara disuruh menyalin semua data-data perusahaan Wiratama dengan cara dimasukkan ke dalam laptop. Gila, gak tanggung banyaknya. Bahkan lebih banyak dari rekap nilai yang harus ia masukkan beberapa bab yang lalu. Nicolas kalau mau menghukum orang itu gak tanggung-tanggung.
Udah empat jam lamanya Clara duduk diatas sofa dengan tumpukan berkas yang menggunung dimeja. Dan dengan santainya pamannya malah sibuk memainkan ponsel. Dasar paman gak ada akhlak!
Pengen rasanya Clara tabok tuh orang, tapi karena masih sayang nyawa, ia terpaksa menahan emosinya didalam dada. Wah, sabar juga ternyata.
"Angky. Clarissa sudah capek banget lho. Mana masih banyak lagi. Angky gak kasihan apa sama ponakan Angky yang cantik sekali ini?"
Nicolas hanya melirik Clara sekilas, lalu kembali sibuk memainkan ponselnya. "Buat apa merasa kasihan, kan kamu sendiri yang cari masalah!"
Wahh, paman gak ada akhlak ternyata. Memang sih Clara yang salah karena ngobrol bareng Reynaldy dan memilih untuk keluar kelas. Tapi gak gini juga kali, cara menghukumnya. Gak punya perasaan banget.
"Angky kejam banget sih sama ponakan sendiri! Ini kan tugas Angky. Kenapa malah aku yang di suruh mengerjakannya?" Protes Clara. Tangannya masih aktif menari di keyboard.
"Tapi kamu juga bisa mengerjakannya, kan?"
Clara semakin geregetan saat Nicolas mengatakan hal itu. Mentang-mentang Clara jago IT, seenaknya saja memanfaatkan kelebihan Clara. Sebenarnya bagus juga sih, dari pada Clara gak ada kerjaan, mending ikut campur dalam urusan bisnis keluarga.
Tapi masalahnya ini sudah lama, mamen. Mau dibayar berapa Clara perjam?
Clara itu manusia ya, bukan robot. Masa' ia kerja bakti selama empat jam tanpa dikasih makan?
Perut Clara sudah mulai sakit. Ia menutupi mukanya dengan telapak tangan.
"Kamu jangan pura-pura kayak gitu, Clara. Memangnya kamu pikir dengan cara begitu kamu bisa bebas dari hukuman kamu?" Nicolas berkata dingin, namun sudut matanya menunjukkan hal yang sebaiknya. Cemas.
Btw, ini mereka berdua aja lho yang jaga rumah. Orang tua Clara beserta adik dan tamunya pergi ke pesta. Dan Nicolas mendapatkan tugas dari kakaknya, Angelo untuk menjaga Clara. Kalau terjadi sesuatu sama Clara kan, bisa-bisa Nicolas mendapatkan murka.
Tapi masa' sih kalau Clara itu beneran sakit. Jangan-jangan ini cuma akal-akalan Clara saja supaya bisa terbebas dari hukumannya.
Namun, bukannya menjawab Clara malah tumbang duluan. Dia pingsan tak sadarkan diri.
__ADS_1
Nicolas segera menggendong tubuh Clara dan membawanya ke rumah sakit. Ia merutuki kebodohannya yang lupa kalau Clara punya riwayat penyakit maag.
Maafkan aku, kak ...