
"Mulai sekarang ini meja kerja kamu!"Β Ucap karyawati yang pertama kali melihat kedatangan Clara. Kalau tidak salah namanya Ayumi. Wah, nama yang sama dengan teman Conan Edogawa ternyata. Ups, bercanda teman-teman ... Tapi namanya memang Ayumi kok.
Clara menganggukkan kepala, "Baiklah." Ucapnya.
Ayumi ikutan menganggukkan kepalanya, "Kalau ada yang belum kamu mengerti, tanyakan saja pada saya. Ruangan saya ada disana." Ia menunjukkan salah satu ruangan dengan jari telunjuknya. Iyalah jari telunjuk, masa' jari tengah? Ntar dibilang tidak sopan lagi.
Clara kembali menganggukkan kepala, "Iyah."
Ayumi tersenyum. "Kalau begitu permisi dulu." Ia berpamitan pada Clara sebelum berjalan menuju ke ruangannya. Untung Clara sempat mengucapkan terimakasih karena Ayumi mau mengantarkannya ke meja. Ia tidak mau menjadi anak yang tak tahu berterimakasih pada siapa saja.
Clara duduk di kursinya dan melihat peralatan yang ada dimeja kerjanya. Selang beberapa menit, seseorang berjalan menghampirinya.
"Clarissa Rasandra, kan?" Tanya orang itu memastikan. Clara menganggukkan kepalanya dan tersenyum ramah.
"Ya saya sendiri, ada apa ya?" Tanyanya sopan.
"Kamu dipanggil wakil Presdir." Ucapnya sembari tersenyum simpul.
Clara menaikkan sebelah alisnya. Untuk apa Ommy-nya itu menyuruhnya keruangan nya?
"Iya." Clara bangkit dari tempat duduknya dan merapikan roknya.
"Ikuti saya." Pinta orang itu. Clara menganggukkan kepalanya. Ia mengikuti langkahnya.
Sesekali Clara melirik ke beberapa ruangan yang ada didekatnya. Semua orang, baik itu karyawan maupun karyawati sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Orang itu mengetuk pintu beberapa kali dan membukanya. Hingga tampaklah Diamond yang sedang memeriksa tumpukan berkas.
"Permisi, Sir." Ucap pemuda itu. Diamond menoleh ke sumber suara. Lalu tersenyum. Ia bangkit dari tempat duduknya.
"Kemarilah, Clarissa Rasandra Wiratama." Ucap Diamond sambil melangkahkan kakinya di sofa yang ada di ruangan itu.
Clara membulatkan matanya saat Diamond menyebutkan namanya. Ia melirik ke arah pemuda itu, takut kalau ia menyadari kalau ia anak Presdir dan ponakan dari Nicolas dan Diamond.
Bentar-bentar. Kok kayaknya Clara pernah ketemuan sama tuh cowok ya? Tapi dimana? Kulit putih, rambut hitam, mata sipit. Kok ciri-cirinya sama orang China, ya?
Pemuda itu mempersilahkan Clara masuk ke dalam. Dan Clara hanya membalasnya dengan senyuman. Ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan Diamond dan duduk disebelahnya.
Pemuda itu kembali menutup pintu tanpa menaruh sedikit pun pada mereka yang sedang berdua-duaan itu.
__ADS_1
"Dia siapa, Ommy?" Tanya Clara sambil menatap ke arah pintu yang sudah ditutup.
"Lah, kamu lupa? Dia kan masih tergolong kerabat kita yang ada di China. Masa' kamu lupa?"
Mendengar itu, Clara lantas menepuk jidatnya. Cowok tadi bernama Liu Shui Feng atau yang bisa dipanggil Feng. Cucu kakaknya nenek Clara. Kalau tidak salah usianya hanya terpaut lima tahun lebih tua dari Clara.
Pantas saja dia tidak kaget saat Diamond menyebut nama lengkapnya dan tidak menaruh curiga pada mereka berdua, ternyata masih tergolong kerabat. Hadehhh.
"Gimana menurut kamu?" Tanya Diamond.
"Gimana apanya, Om?" Clara balik bertanya. Ia tidak mengerti apa yang hendak diucapkan oleh pamannya.
"Orang-orang disini pada ramah, gak?" Tanya Diamond lagi. Clara menganggukkan kepalanya. Kalau bilang gitu kan jelas.
"Cuma beberapa, Om. Yang lainnya pada sombong semua. Mentang-mentang Clara cuma anak magang!"
Diamond mengerutkan keningnya. "Kenapa? Mereka tidak tau kamu anaknya kakak?"
Clara menggeleng sambil memamerkan gigi ratanya. "Nggak tahu. Mereka bahkan cuma menganggap Clara sebagai asisten Angky yang kebetulan magang disini."
"Kok bisa?"
"Hehehe, Clara kan memang asistennya Angky. Jadi wajar saja dong kalau mereka menganggap Clara begitu."
"Buat apa? Kalau ujung-ujungnya Clara mendapatkan kehormatan dari mereka, mending gak usah. Clara bukan tipe orang yang gila hormat kok."
Diamond akhirnya menganggukkan kepalanya. Ia sempat melupakan sebuah fakta kalau Clara mewarisi sifat keras kepala dari kedua orangtuanya. "Tapi kalau ada apa-apa kamu harus bilang ke Angky maupun Ommy, ya? Atau kalau perlu kamu juga bisa mengadu sama Feng."
Clara mengangguk sambil tersenyum. "Siap boss!" Guraunya sambil hormat ke arah Diamond.
Diamond hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah ponakannya itu.
ππππ!
Sebuah notifikasi masuk ke dalam handphone Clara. Gadis itu mengalihkan perhatiannya pada benda pipih kesayangannya itu. Ternyata dari Nicolas.
πΎπππ’πππππ π΄ππππ¦ π πππππππ.
Clara membulatkan kedua bola matanya. Kenapa Nicolas tiba-tiba menyuruhnya ke ruangannya? Wahh, jadi kepikiran yang macam-macam nih.
__ADS_1
"Ommy, Clara mau ke ruangan Angky dulu, ya? Disuruh sialnya." Pamitnya sambil berdiri dari tempat duduknya.
Diamond mengangguk. Pasti adiknya itu mau memberi Clara sedikit wejangan. "Ruangan Angky ada disebelah ruangan Ommy."
Clara mengangguk. Ia keluar dari dalam ruangan Ommy-nya. Beberapa orang Karyawan dan karyawati menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya. Ada urusan apa anak magang sama wakil Presdir?
Clara mengabaikan tatapan mereka dan bergegas menutup pintu ruangan wakil Presdir dan berjalan kearah ruangan Dirut yang ada disebelah ruangan Diamond, ruangan Nicolas.
Ayo Clarissa, siapkan jiwa dan ragamu untuk menghadapi Angky mu.
Clara mengetuk pintu ruangan Angky-nya beberapa kali dan membukanya. Hingga tampaklah Nicolas yang sudah duduk manis dikursi kebesarannya.
"Tumben kamu mengetuk pintu sebelum masuk? Biasanya kan kamu langsung main menyelonong aja." Ucap Nicolas. Clara memutar bola matanya malas.
"Yaa mau gimana lagi kan? Biar ada sopan santunnya, kali." Ucap Clara asal. Ia duduk dikursi yang ada dihadapan Nicolas tanpa diminta. Baru aja ia bilang biar ada sopan santunnya. Sekarang malah main duduk aja tanpa disuruh ataupun permisi. Dasar Clara.
"Angky ngapain manggil Clara ke sini?" Tanya Clara sambil menaikkan sebelah alisnya heran.
"Memangnya saya nggak boleh meminta asisten saya buat ke ruangan saya, ya?" Tanya Nicolas dengan kalemnya. Hahh, kalem-kalem gini kalau ngomong suka nyelekit lho. Jadi harus banyak-banyak sabar supaya tidak terbawa emosi.
"Maksud Angky?"
"Kamu lupa, ya? Selama kamu masih kuliah kamu akan tetap menjadi asisten Angky."
Oh ayolah ...
"Lah, Clara kan magang?!"
"Magang atau tidaknya itu bukan urusan angky. Yang jelas diluar jam magang kamu tetap asisten Angky. Mengerti?"
"Lah? Kok gitu sih? Clara gak punya waktu luang dong?" Gila aja. Paginya ia magang, dan siangnya ia harus menjadi asisten Nicolas.
"Itu bukan urusan Angky." Sahut Nicolas dengan santainya.
"ANGKY!!!" Clara menjerit histeris. Ingin rasanya ia mencakar wajah datar pamannya itu. Untung saja ruangan Nicolas kedap suara. Jadi tidak akan terdengar hingga keluar suara teriakan Clara yang menggelegar itu. Kalau sampai terjadi mah, bisa gempar nih satu kantor.
"Berisik Clara!" Nicolas memperingatkan. Ia menutup telinganya dengan tangan. Dih, lebay amat tuh om-om.
Clara menatap Angky-nya dengan tatapan sinis. Dikira Clara robot kali ya yang tidak memerlukan waktu istirahat. sudahlah harus melakukan aktivitas rumahan, magang, dan sekarang ia harus tetap menjadi asistennya Nicolas selama ia belum wisuda.
__ADS_1
DASAR OM-OM GAK BERPERASAAN!
HUWAAAAAAAA