Kutukan Dua Bahasa

Kutukan Dua Bahasa
Bab 5: Dalam Perjalanan ke Puncak Bogor


__ADS_3

"Kak Clara kok diam saja? Gak mau makan roti isi buatan Mummy." Tanya Raymond.


Sentuhan lembut dibahu Clara membuat lamunannya terhenti. Clara menoleh dan senyum menawan Mummy-nya mengarah langsung padanya. "Kamu dengar pertanyaan Raymond? Kok diam lagi? Mau Mummy suapi?" Tanya Sarah sambil menyentuh pipi Clara, yang otomatis membuat anak gadisnya itu ikutan tersenyum.


"Mau! Clara mau di suapi Mummy!" Clara berseru ceria. Ia paling suka dimanja keluarganya seperti ini.


"Dih, sudah besar masih minta di suapi!" Cibir Raymond. Ia kesal karena Clara tidak menanggapi pertanyaan barusan.


"Apa'an sih, dek? Kamu kalau mau disuapi sama Mummy tinggal bilang aja, Mummy pasti mau menyuapi kamu, kok!"


"Daddy juga mau di suapi, dong!" Angelo yang duduk di bangku penumpang dekat sopir menoleh ke belakang dan melihat isteri tercintanya yang sibuk menyuapi Clara, anak sulung mereka.


"Ih, Daddy, bukannya malu sama anak-anaknya malah minta disuapi!" Gerutu Sarah, namun dengan senang hati ia memberikan suapan cukup besar pada Angelo.


Melihat kehangatan keluarga kecil itu, Guy yang sedang mengendarai mobil menjadi iri. Sejak kecil, Guy tidak pernah merasakan kehangatan yang berasal dari keluarga. Orang tuanya meninggal saat ia masih kecil. Selama ini, Guy dibesarkan oleh kakeknya. Namun, setahun yang lalu, kakeknya meninggal karena sakit keras. Sekarang, Guy tidak punya siapa-siapa lagi. Ia hanya punya beberapa orang keluarga seperti paman dan kerabat yang mengincar hak waris yang ia dapatkan.


"What are you thinking, Guy?" Tanya Angelo. Bahaya juga kalau Guy dibiarkan melamun seperti itu. Dia kan sedang menyetir mobil!


"Nothing, Uncle. It's just that I'm thinking about my parents who are gone!" jawab Guy dengan jujur.


"Don't think about them anymore, Guy. There we are. Think of us as your family. I think your mother and father were at peace." Pinta Sarah. Ia sudah tahu banyak tentang Guy sebelum pemuda itu dititipkan kepadanya dan Angelo.


"Right! Think of us as a family of Guy! I'm glad to have a brother like Guy" Raymond menimpali perkataan Mummy-nya


Clara yang tidak mengerti apa yang mereka katakan sama sekali mau tak mau menjadi heran sendiri. Apa yang sedang mereka bicarakan, ya?

__ADS_1


Clara menatap mereka dengan lamat. Entah kenapa ia merasa kalau dirinya diasingkan begitu saja. Tanpa sengaja, tatapannya bertemu dengan mata Guy dikaca spion.


Guy menatap Clara dengan tatapan yang sulit diartikan hingga Clara kembali dihinggapi oleh perasaan aneh. Clara yang belum sepenuhnya berhasil menelan roti isinya tiba-tiba tersedak.


"Uhuk! Uhuk! Uhuk!" Mata Clara berlinang saat gadis itu terbatuk-batuk dengan cukup keras, merasakan sisa kecil roti yang tersangkut di kerongkongannya.


"Minum, kak!" Raymond menyodorkan sebotol air mineral pada Clara dengan khawatir. Clara mengambil botol itu dan meminumnya hingga kandas.


"Lain kali kalau makan hati-hati, Clara!" Sarah menghapus air mata Clara yang sempat berlinang disepanjang pipinya yang tirus.


"Ma, maaf, Mummy ... " Clara meminta maaf, dan itu membuat Sarah menjadi iba. Anak gadisnya ini pasti tadi merasa diasingkan karena mereka menggunakan bahasa Inggris untuk berkomunikasi.


"Jangan minta maaf, putri ku sayang!"


Saat Clara berusaha menyandarkan punggungnya, pandangan mata Clara bertemu dengan Guy sekali lagi. Clara membuang mukanya ke luar jendela. Entah kenapa ia merasa aneh saat bertemu pandang dengan Guy. Apa ada yang salah dengan diri Clara, ya?


Zzzzz zzzzz zzzzz


Lagi-lagi Clara berada di tempat seperti ini. sekarang apalagi yang akan terjadi, ya?


Clara melihat pangeran berambut hitam yang mirip Guy dan Putri berambut pirang yang mirip dengannya tengah berkuda melewati pepohonan yang rimbun. Tak lama kemudian, terdengar suara seorang wanita tak dikenal yang mengatakan sesuatu pada mereka berdua.


"Sia-sia saja kalian mau pergi ke suatu tempat untuk melenyapkan kutukan putri berambut pirang. Aku sudah bilang kalau kutukan itu tidak bisa terlepas begitu saja, kan??"


Astaga! Ternyata itu suara si penyihir! Mau apa lagi sih, dia? Gak puas apa memberi putri berambut pirang sebuah kutukan?

__ADS_1


..."How do you know it hasn't been tried yet?" Tanya Pangeran berambut hitam. Dia semakin mempercepat laju kudanyabtanoa menghiraukan perkataan penyihir jahat itu. Dalam hati, Pangeran berambut hitam sudah bertekad akan menghilangkan kutukan putri berambut pirang bagaimana pun caranya.



Cast Pangeran berambut hitam dan Putri berambut pirang sedang naik kuda...


Clara terharu saat melihat ketulusan pangeran berambut pirang yang serius melenyapkan kutukan penyihir berambut hitam. Seandainya saja mimpi itu benar-benar nyata. Tapi kenapa harus Guy yang menjadi pangeran berambut hitam dunia nyata sih?


Eh, Guy?


Tidur Clara terjaga saat mengingat pemuda yang beberapa bulan ini dirumahnya dan menjadi bagian dari mereka. Entah sampai kapan Guy akan tinggal dirumahnya. Dan selama itu pula, hubungan keduanya masih tak ada bedanya dari bulan-bulan yang lalu. Masih seperti dulu.


Clara mengedarkan pandangannya ke sekeliling mobil dan mendapati kalau hanya dirinya dan Guy-lah yang ada di sana. Kemana perginya Daddy, Mummy, dan Raymond?


"Kemana perginya orang tua dan adikku, Guy?" Tanya Clara. Ah, sial! Lagi-lagi ia bicara pakai bahasa Indonesia.


Guy menatap Clara dari kaca spionnya. Tinggal bersama keluarga bule yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari membuatnya mengerti bahasa Indonesia sedikit semi sedikit


"They said they were going to buy something in the market. They will come back soon."


Clara menghempaskan tubuhnya disandaran kursi dengan wajah super-duper bete. Ia kesal karena Mummy, Daddy, dan adiknya pergi meninggalkan dirinya.


Dari kejauhan, Clara melihat orang tua dan adiknya telah keluar dari minimarket dan berjalan semakin dekat dengan mobilnya. Clara menghembuskan nafas lega. Setidaknya ia tidak lagi berada dalam situasi canggung saat ia dan Steve memutuskan untuk sama-sama diam.


Saat membuka pintu, Sarah cukup terkejut melihat Clara yang sudah bangun dari tidurnya. "Lho, sayang, kamu kok cepat bangunnya? Kita belum sampai ke villa, lho!"

__ADS_1


"Clara lapar, mah ..." Jawab Clara, tidak sepenuhnya bohong. Mana mungkin ia mengatakan kalau dirinya bangun karena mimpi soal pangeran berambut hitam yang mirip sekali dengan Guy? Dan lagi, dia memang merasa lapar kok.


"Pas benget, kak! Raymond beli kue strawberry kerusakannya kakak!" Kata Reamond sambil memperlihatkan plastik hitam berisi kue strawberry berukuran sedang. Clara yang melihat itu langsung girang. Butuh waktu beberapa jam lagi hingga mereka akan sampai di villa keluarga Clara yang ada di Puncak, Bogor.


__ADS_2