
Clara berjalan tergesa-gesa menaiki tangga rumahnya. Tadi pas dikampus, ia mendapat kabar dari pamannya kalau Raymond sakit. Padahal waktu Clara membangunkan adiknya itu, Raymond dalam kondisi sehat dan baik-baik saja. Tapi kok sekarang dia sakit ya. Aneh banget.
Serius, Clara khawatir banget sama kondisi Raymond. Ia membuka pintu kamar Raymond dan mendapati kalau adiknya itu sedang terbaring lemas dikamar. Wajahnya merah padam. Mungkin suhu tubuhnya panas.
Clara merangkak naik ke atas ranjang dan meletakkan tangannya di atas dahi Raymond. Panas. Dari gejalanya kayaknya Raymond kena penyakit alergi deh.
"Dek, adek, bangun!" Clara menggoyang-goyangkan tubuh adiknya supaya dia lekas bangun. Untungnya Raymond gak latihan mati kayak kemarin-kemarin, jadi cepat banget bangunnya.
"Kakak?"
Clara menatap adiknya dengan tatapan tajam seolah hendak mengintrogasi adiknya. Emang benar sih Clara mau mengintrogasi Raymond. "Jelasin sama kakak, kamu makan apa waktu sekolah tadi?"
Raymond meringis saat melihat wajah galak kakaknya. Ia menggigit bibir bawahnya dan memalingkan muka. Clara yang melihat itu jadi makin kesal.
"Kalau ditanya itu jawab Raymond Sea Wiratama!" Bentak Clara.
"A, Adek beli seafood kak!" Jawab Raymond agak terbata. Ia takut sekali sama kakaknya kalau lagi marah kayak gini.
"Terus kamu makan udang?"
"Iya!" Jawab Raymond lagi.
"Jangan bercanda! Kamu alergi udang Raymond! Kalau sudah sakit gini siapa yang susah, hah? Mana Mummy sama Daddy gak ada di rumah lagi!" Sentak Clara. Ia tidak habis pikir dengan adiknya yang satu ini. Sudah jelas punya alergi terhadap udang, masih aja makan udang.
"Ya udah, kakak gak usah merawat Adek. Toh Adek gak bakal mati kalau gak dirawat kakak kok!" Sakit banget hati Raymond saat Clara mengatakan hal itu.
PLETAK!
"Bilang sekali lagi, kakak bunuh kamu!" Ancam Clara dengan sadisnya, "Memangnya kamu pikir aku tipe kakak yang tidak perhatian sama adiknya, hah? Kamu pikir aku ini tidak bisa merawat kamu tanpa bantuan Mummy dan Daddy?"
HIKS
"Ma, maaf kak!" Cicit Raymond.
__ADS_1
"Sudah diam! Kamu tidur lagi sana! Kakak mau siapin makan siang dulu!" Setelah mengatakan itu, Clara pun keluar dari dalam kamar Raymond. Ia menutup pintu dari luar dan menyandarkan tubuhnya. Ia sangat khawatir dengan kondisi adiknya. Gimana gak khawatir coba? Orang tua lagi diluar negeri Clara malah membiarkan adiknya begitu saja. Berada jadi kakak gak guna, tau nggak?
Taklama kemudian, Clara pun pergi ke dapur untuk menyiapkan makan siang. Sedangkan Raymond kembali tidur karena tidak mau kakaknya semakin marah padanya.
*****
Dari tadi Clara sibuk di dapur untuk menyiapkan makan siang dan membuatkan Raymond bubur. Sebenarnya sudah mateng semua sih. Tapi ia masih mengacak-acak teh manis tapi nggak ketemu. Perasaan kemarin masih ada stoknya.
Setelah sekian lama mencari, akhirnya ketemu. Clara menyeduhnya dengan mencampurkan susu dan meletakkannya di atas nampan bersama bubur, air putih, kompresan air hangat, dan obat beranekaragam. Batinnya menjerit saat melihat obat.
Clara membawa nampan Clara dan membuka pintu kamar. Raymond kembali tidur. Mau Clara bangunin tapi nggak tega. Kayaknya dia baru terlelap. Akhirnya Clara memutuskan untuk mengompres nya terlebih dahulu.
Tangan Clara terulur untuk membelai rambut pirang Raymond. Lama kelamaan mata Raymond membuka perlahan. Dengan cepat Clara menyingkirkan tangannya.
"Kakak ..." Ucap Raymond parau. Bola matanya sedikit kemerah-merahan pertanda kalau ia benar-benar tidur. Ia berusaha bangun, tapi agak kesusahan. Clara bantuin.
"Pelan-pelan dek!" Clara nyanderin Raymond ke papan kasur. Mangkuk yang berisi bubur ia ambil. "Makan dulu ya, habis itu minum obat?"
Clara menghela nafas panjang, "sedikit aja, biar ada tenaga!"
"Enggak mau kak, enggak mau!"
"RAYSEA!" Bentak Clara, "MAKAN. NGGAK ADA PENOLAKAN!!!"
Mendengar kakaknya menggunakan nada tinggi, Raymond langsung kicep. Ia hendak meraih mangkuk yang ada di tangan Clara, tapi di cegah oleh kakaknya. Lah, katanya tadi disuruh makan.
"Enak aja kamu makan sendirian. Kakak suapi!" Wajah Raymond yang semula muram berubah ceria kembali. Ia menerima suapan Clara dengan penuh semangat. Kakaknya itu menyuapinya dengan telaten.
"Minum dulu!" Clara menyerahkan air putih dan Raymond meminumnya sedikit.
"Udah," Raymond menyerahkan gelasnya ke Clara. Ia sebenarnya hendak menolak saat Clara memintanya untuk meminum obat. Tapi karena takut kakaknya marah lagi makanya ia terpaksa menuruti permintaan kakaknya.
"Rebahan lagi gih, kamu pusing kan?"
__ADS_1
Raymond mengangguk lemah. Badannya terasa panas dan kepalanya terasa pusing. Ia tidak menduga kalau nasibnya akan begini saat makan udang. Ia memang tahu kalau punya riwayat alergi terhadap udang sih.
Setelah Raymond membandingkan tubuhnya, Clara menyelimuti adiknya dengan selimut tebal. Ia mengusap rambut Raymond dan mengecup pipinya dengan penuh kasih sayang.
"Cepat sembuh ya, adikku sayang!" Bisik Clara tepat didekat telinga Raymond.
Tanpa mereka berdua sadari, Nicolas tengah bersembunyi dibalik pintu sambil mengamati apa yang mereka berdua lakukan. Ia tersenyum saat melihat Clara menyuapi Raymond dengan telaten. Baik Clara yang dulu maupun yang sekarang, ia tetap perhatian pada adiknya. Karena tidak tahan lagi, Nicolas pun masuk ke dalam kamar dan mengecek suhu tubuh Raymond yang masih panas.
Melihat kondisi Raymond yang agak memprihatinkan, Nicolas sudah bisa menebak apa yang terjadi pada Raymond. Ponakannya itu memakan udang.
"Kamu makan udang?" Tanya Nicolas sambil menatap Raymond dengan tatapan tajam.
Raymond tidak menjawab, anak itu malah menggigit bibir bawahnya karena takut. Barusan ia kena marah sama kakaknya, eh sekarang ia bakal kena marah sama Nicolas. Ini salanya sih. Sudah tahu alergi udang, tapi tetap nekad beli udang.
"Udah deh Ang, marahnya. Kasian Raymond. Habis Clara marahin soalnya." Tegur Clara.
"Bela terus adik kamu itu, bela. Sudah tahu dia salah masih aja dibela!" Sewot Nicolas.
Clara menatap sinis pamannya yang satu ini. "Idih, kayak gak pernah melakukan kesalahan aja!"
"Ngomong sekali lagi bakal Angky kurangi nilai kamu!" Ancam Nicolas. Ia tak pernah main-main dengan segala ucapannya.
"Dikit-dikit nilai, dikit-dikit nilai. Gak adil banget sama Clara!" Cibir Clara. Ada saja ancaman yang akan dikatakan Nicolas sama Clara. Seperti dikurangi nilai lah, apa lah, ini lah, itu lah. Pokoknya nggak banget deh.
"Tentu saja, karena Angky bukan Tuhan yang maha adil!" Sahut Nicolas yang membuat Clara menganga gak percaya.
GOLOK MANA GOLOK!
sumpah, kalau saja Nicolas bukan adik kandung ayahnya, Clara paatikan akan meracuni pamannya yang satu ini. Masih mending Diamond Sky.
Clara menghela nafas kasar. Ia menatap ke arah Raymond yang mulai terlelap. Tangannya terulur untuk membelai rambut adik kesayangannya itu.
"Besok, kalau adik kamu sudah sembuh jangan lupa menyiapkan bekal makanan supaya dia gak jajan sembarangan!" Nasihat Nicolas yang membuat Clara menepuk jidatnya. Selama ini ia tidak pernah menyiapkan bekal makan siang untuk adiknya sih. Mungkin besok ia akan mencobanya.
__ADS_1