
Clara mulai menjalankan aktivitas magangnya. Beberapa orang Karyawan dan karyawati memberikan arahan dan menjelaskan beberapa hal yang bisa Clara lakukan selama magang. Sebenarnya, hampir semua petunjuk mereka sudah Clara lakukan dengan sempurna. Tapi yah, sudahlah ...
Selang beberapa menit, salah seorang karyawati bernama Tessa Ayu Kasela datang menghampirinya. "Clarissa?"
Clara menoleh ke sumber suara dan menaikkan sebelah alisnya heran. Siapa lagi yang menghampirinya sekarang? "Iya, saya sendiri. Ada apa ya?" Tanya Clara. Mencoba bersikap seprofesional mungkin.
Tessa tersenyum kikuk sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "jangan bersikap terlalu formal kayak gitu juga kali." Ucapnya.
Clara menggelengkan kepalanya. "Bagaimanapun juga ini tempat saya magang. Jadi saya harus bersikap seperti ini supaya mendapatkan nilai lebih dari dosen saya."
Tessa menghela nafas gusar. "Yah sudahlah."
"Oh iya, kalau saya boleh tau anda punya urusan apa ya, memanggil nama saya?" Tanya Clara kemudian.
"Jadi gini, saya mau tanya, hubungan kamu sama Sir Nicolas apa, ya?"
Bukan cuma sama Nicolas. Clara juga punya hubungan dengan Diamond dan Feng kali. Juga dengan Angelo.
"Eee saya cuma asisten kampusnya yang kebetulan magang disini." Ucap Clara sambil tersenyum ramah. Berbeda sekali dengan lawan bicaranya yang hanya tersenyum komersial. Supaya keliatan ramah gitu. Sialan kan?
"Oh jadi begitu ya? Yah sudahlah, terimakasih banyak atas informasinya!" Ucap Tessa sambil berlalu pergi.
Dalam hati Clara menghujat Tessa habis-habisan. Ia pikir cewek itu mau nanya apa. Ee ternyata cuma nanya apa hubungannya dengan Nicolas. Yaa Clara jawab aja itu. Gak perlu kan ia bilang kalau sebenarnya ia ponakannya Diamond dan Nicolas?!
Clara menggelengkan kepalanya dan kembali fokus ke layar komputer didepannya.
Tak lama kemudian, jam istirahat makan siang pun tiba. Clara berjalan menuju kantin bersama Feng, kerabat yang menjadi salah satu tenaga profesional diperusahaan itu. Mereka berdua ngobrol sambil sesekali terkekeh. Mereka berdua cukup akrab sih meski Clara sempat lupa sama kerabatnya itu.
"Wahh, berarti kakak hebat dong. Masih muda sudah jadi tenaga profesional!" Ucap Clara dengan nada memuji setinggi langit. Begitulah sifatnya. Kalau ada yang membanggakan, ia pasti akan memuji setinggi langit. Tapi kalau ada yang menyebalkan plus menyebalkan ia pasti akan menghujat habis-habisan.
"Yang hebat justru kamu, tau. Masih jadi magang aja gayanya sudah kayak profesional!" Ucap Feng dengan bahasa Indonesia yang cukup fasih. Ia pernah belajar bahasa Indonesia sih. Makanya bisa fasih seperti ini.
"Oh ya? Tapi Clara cuma merasa biasa-biasa aja tuh. Bahkan Clara masih kalah sama kakak!" Ucap Clara yang dibalas gelak tawa oleh Feng. dia kira ini lucu kali, ya? Padahal sama sekali tidak tuh. Clara tidak pernah setengah-setengah dalam memuji seseorang hingga sering dikatakan berlebihan. Tapi gak masalah juga kali sih.
__ADS_1
Feng menggelengkan kepalanya. Baginya Clara itu kerabatnya yang paling lucu dan menggemaskan. Tapi sayang, diusianya yang masih kecil dia harus menelan pahitnya kehidupan. Disaat anak seusianya memikirkan masa depan yang membahagiakan, Clara malah memikirkan masa lalunya yang selalu membuat dirinya tertekan. Untung otaknya sudah dicuci hingga Clara tidak ingat lagi apa yang sudah terjadi padanya sampai saat ini.
Setelah mengambil beberapa buah makanan ringan dan minuman, Clara dan Feng pun duduk disalah satu bangku yang ada dipojok. Mereka berdua pun mulai menikmati makanan yang cukup lezat itu.
"Apa aku boleh bergabung bersama kalian berdua?" Tanya Yolastika Amanda karyawati yang terlihat lebih natural dari yang lain. Sepertinya ia tidak begitu suka mempercantik diri seperti Clara.
Clara dan Feng mengangguk mempersilahkan. Kasian juga sih kalau dia dibiarkan berdiri seperti itu. Yola mengucapkan terimakasih dan duduk bersama mereka berdua. Dia pun mulai menikmati makanannya.
"Oh iya, Kamu asisten Kampusnya Sir Nicolas ya, Clara?" Tanya Yola sambil menatap Clara dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.
Clara mengangguk. Ia sedang mengunyah makanan. Makanya nggak bisa menjawabnya secara lisan. Ntar yang ada ia kesedak lagi.
"Aku mau nanya nih, kira-kira Sir Nicolas cocok nggak sama mbak Lisa Soraya?"
Clara mengerjapkan matanya berkali-kali. Apa tadi? Apa Nicolas cocok sama Lisa? Hello, apa ia tida salah dengar?Enak aja mau nyomblangin Nicolas sama sekertarisnya. Yang ada tiap hari Clara tempur kali sama tuh orang.
Yola kemudian terkekeh, "bercanda kok, Clarissa. Jangan dianggap serius."
*****
Clara menghela nafas lelah. Jadwal magangnya sudah berakhir jam dua belas siang dan ia baru menyelesaikan pekerjaannya sebagai asisten Nicolas sampai jam enam sore. Mampus nggak tuh?
Mana kantor udah pada sepi lagi. Cuma ada beberapa karyawan dan karyawati yang lembur hari ini, dan Diamond salah satunya.
Clara melangkahkan kakinya menuju parkiran. Ia mencari mobil Nicolas. Setelah ketemu ia pun segera berlari ke sana. Kosong. Mungkin Nicolas belum menyelesaikan pekerjaannya.
Clara menatap ke sekeliling tempat parkir. Tidak ada tanda-tanda kemunculan Angky-nya itu. "Angky mana sih?" Mobil Nicolas dalam keadaan terkunci, makanya ia menunggu diluar seperti ini.
Selang beberapa menit, Nicolas pun keluar dari dalam gedung kantor. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Tuh dia datang ke sini.
Nicolas membuka kunci mobil dan masuk ke dalam. Begitu juga dengan Clara. Selama dalam perjalanan pulang, tidak ada yang membuka suara terlebih dahulu. Yang ada hanya keheningan semata.
Clara menghela nafas. Ia memberanikan diri untuk membuka percakapan. "Angky?"
__ADS_1
"Hmm?" Sahut Nicolas tanpa mengalihkan perhatiannya sendikit pun. Ia tidak mau kalau sampai lengah dan berakhir fatal nantinya. Hmmm, patut dicontoh nih.
"Angky jangan mau dicomblangin sama orang-orang kampus, ya?" Pinta Clara.
"Hah? Memangnya kenapa?" Nicolas melirik ke arah Clara sekilas. Kenapa ponakannya itu meminta hal itu? Memang siapa yang mau mencomblangkan dirinya? Dan dengan siapa?
"Yahh Clara gak suka aja kalau punya Tante kayak Lisa, sekedar Angky yang kayak tante-tante girang itu!" Jawab Clara jujur.
"Gak sopan kamu, Dia itu masih muda. Jadi gak pantes disebut tente-tante." Tegur Nicolas.
Clara memutar bola matanya malas, "yaa terserah Clara lah mau ngasih dia julukan apa."
Nicolas terkekeh geli. Ponakannya itu, meski sudah berusia dua puluh tahun masih saja bersikap kekanak-kanakan. Tapi ia suka.
"Ya udah, kamu aja deh yang mencomblangkan angky." Ucap Nicolas.
"Hah? Yang bener, Ang?" Tanya Clara memastikan kalau ia tidak salah dengar. Nicolas memintanya untuk mencarikan jodoh? Kok bisa?
Nicolas mengangguk. "Iya terserah. Asalkan kamu merasa nyaman sama Tante kamu nanti."
Kedua bola mata Clara berbinar cerah, "Horeee! Gimana kalau angky Clara comblangin sama Amberta!"
Nicolas agak terkejut saat mendengar perkataan ponakannya itu. Ia pikir Clara tidak akan menganggap serius ucapannya. Tapi nyatanya ponakannya itu malah langsung mengajukan calon yang menurutnya pantas baginya.
"Lah, kok jadi Amberta Loli Yolanda?" Tanyanya heran.
"Lah, kan tadi Angky bilang kalau Clara boleh memilihkan pasangan Angky. Makanya Clara tawarin aja si Amber." Heh, memangnya Amber barang apa pakai sistem tawar menawar? "Dan sepertinya Amber suka sama Angky!"
Lah?
Clara bilang apa tadi? Amber suka sama dirinya? Dosennya dikampus sekaligus Angky sahabatnya sendiri? Kok bisa? Dan sepertinya kalian tahu dari siapa Clada mewarisi sifat tidak peka akut.
Clara mengangguk. Ia yakin sekali kalau sahabatnya itu suka dengan pamannya yang masih 𝑠𝑖𝑛𝑔𝑙𝑒. Yaa kali aja mereka berdua jodoh. Ya nggak guys?
__ADS_1