Kutukan Dua Bahasa

Kutukan Dua Bahasa
Bab 25: Angelo dan Sarah Mau Pergi


__ADS_3

Setelah makan malam, semua penghuni kediaman Wiratama berkumpul diruang keluarga termasuk juga Clarissa. Gadis itu sedang duduk di sofa sambil mengotak-atik laptopnya. Sedangkan Raymond, Bryan, dan Guy Mabar. Angelo duduk di kursi sambil meminum teh susu yang disuguhkan Sarah.


"Clara sayang!" Panggil Angelo pada Clara yang sedang mengerjakan tugas kampus.



"Hmm," Clara hanya membalasnya dengan gumaman.


"Daddy mau ngomong sesuatu sama kamu!"


"Daddy kalau mau ngomong, ngomong aja. Clara lagi sibuk nih!"


"Clara, kalau orang ngomong itu liat orangnya dong!" Nasihat Sarah.


"Nggak papa, Mum. Clara dengerin kok!"


"Yang ngomong apa, yang jawab apa!" Cibir Raymond.


"Diam Lo dek. Kalau mau Mabar, Mabar aja!" Ucap Clara sambil melirik ke arah adik satu-satunya itu.


"Clara, tiga hari lagi Mummy dan Daddy mau pergi ke Amerika." Ucap Angelo sambil menatap anak perempuannya itu.


"Ohh, pergi ke Amerika ..." Gumam Clara. Ia baru menyadari apa yang dikatakan Daddy-nya setelah dua menit kemudian, "Apa? Daddy sama Mummy mau ke Amerika??"


"Bukan! Mummy sama Daddy mau ke planet Mars!" Ejek Raymond. Ia paling senang menggoda kakaknya disaat begini.



"Iya sayang, kamu gak apa-apa kan tinggal sama Ray dan yang lainnya?" Tanya Sarah sambil menatap putrinya dengan tatapan penuh harap.


"Apa'an sih? Masa' Mummy sama Daddy mau ninggalin Clara sendirian! Mummy sama Daddy gak bakalan menelantarkan kami berdua kan?"


"Ya gak gitu juga kali, Cla, responnya!" Ucap Nicolas yang sejak tadi diam.



"Tau tuh kak Clara. Orang gak sendirian juga!" Timpal Raymond.

__ADS_1


"Sttt! Diam! Jangan ngomong!" Clara memperingatkan dengan tatapan tajamnya. Rekor baru. Seorang dosen yang dikenal killer dipelototi oleh mahasiswi yang notabene adalah keponakannya sendiri!


Sarah menghela nafas panjang. Ia bangkit dan berjalan menghampiri Clara. Dielusnya rambut pirang anaknya itu dengan penuh kasih sayang. "Kamu tenang saja, Cla. Kalau kamu liburan, kalian bisa ikut kok!"


"Kenapa kami gak langsung diajak sih, Mum?!"


"Kan kamu masih kuliah, belum liburan. Adik kamu sebentar lagi juga mau ujian." Jawab Sarah sambil tersenyum.


"Ck, kenapa harus besok sih, Mum? Dad? Kenapa gak nunggu waktu liburan aja? Pasti Mummy sama Daddy lama kan pergi ke sana?" Rentetan pertanyaan itu dilontarkan Clara sebagai bentuk penolakannya karena mau ditinggal sama Mummy dan Daddy-nya.



Sarah melirik ke arah Angelo. Mencoba meminta bantuan. Ia tidak tahu lagi harus memberi pengertian pada anak gadisnya ini. Untung Angelo peka dan ikutan mendekati Clara.


"Clara sayang, Daddy sama Mummy kan pergi ke Amerika karena ada urusan kerja. Lama sih. Kalau kamu pergi sekarang, memangnya kamu sudah siap untuk menghadapi kelakuan keluarga besar Mummy?" Juga masa lalu Clara.


"Ck!" Clara berdecak kesal saat Daddy-nya menyungging soal keluarga Mummy-nya yang sebagian besar tinggal di Amerika. Kalau Daddy-nya sudah bilang begitu mah, Clara pasti malas untuk bertemu dengan keluarga dipihak Mummy-nya. Apalagi bibinya.


"Serah Mummy sama Daddy saja lah. Clara mau ke kamar dulu!" Setelah mengatakan itu, Clara langsung pergi ke kamarnya.


Kenapa sih ayahnya akan selalu menjadikan keluarga Mummy-nya sebagai alasan untuk melarangnya ikut ke Amerika? Sebelumnya ia memang pernah ikut ke Amerika sih. tapi karena respon keluarganya yang ada di sana kurang baik, makanya Clara malas bertemu mereka.


Meski sedikit enggan, Clara pun melangkahkan kaki ke ruang keluarga kembali.


Namun, belum sampai ia disana, sayup-sayup Clara mendengar suara Daddy, Mummy, dan penghuni rumah lainnya yang sedang membicarakan sesuatu dalam bahasa Inggris. Clara sebenarnya bisa saja langsung menghampiri mereka, hanya saja, sesuatu seolah melarangnya untuk melakukan itu dan memilih bersembunyi saja. Untung ia selalu memakai handsfree penerjemah bahasa otomatis.


"Clara seems really annoyed. Shall we take it, shall we?" Tanya Sarah pada suaminya. Ia kelihatan gelisah sekali.



"Don't worry about that, Sarah. Clara will be fine. Besides, I'm worried that Clara will remember her past there!" Angelo memenangkan isterinya yang mudah sekali cemas sama keluarganya ini.


Clara yang mendengar pembicaraan itu secara sembunyi-sembunyi menjadi heran sendiri. Apa maksud Angelo dengan mengatakan masa lalu Clara?


"Uncle, Aunt, what happened to Clara in the past anyway? How come you two seem to be hiding something from Clara?" Tanya Paula. Timing yang pas banget. Clara juga merasakan itu. Seolah ada yang disembunyikan keluarganya dari dirinya.


__ADS_1


Namun, bukannya menjawab, Angelo dan Sarah malah menatap Paula dengan tatapan yang menunjukkan ketidaksukaan. Mereka tidak suka pada orang asing yang ikut campur urusan keluarga mereka. Apalagi ini mengungkit masa lalu anak perempuan mereka.


"There's a thing or two you shouldn't know, Paula. So don't try to interfere with our family matters!" Angelo berkata dingin.


Clara bergidik ngeri. Baru kali ini ia mendengar Daddy-nya berkata dengan nada seperti itu.


Paula tersenyum kikuk. Wajahnya langsung pucat pasi. Selama tinggal disana, ia tahu sebetapa sayangnya keluarga ini sama anak yang bernama lengkap Clarissa Rasandra Wiratama.


Clara menghela nafas. Sebenarnya apa sih masa lalunya yang bahkan tidak boleh diketahui sama orang luar? Kalau orang luar luar saja dilarang, apa ia yang juga bagian dari keluarga ini berhak tau? Tapi masalahnya ini masa lalu lu, Clara!


Clara keluar dari dalam tempat persembunyiannya. Menuju dapur. Rasa haus tiba-tiba menghampirinya. Clara menuangkan air dengan tangan bergetar. Sebenarnya apa yang terjadi pada Clara dimasa lalu sih? Kenapa keluarga sampai merahasiakannya? Apa yang diucapkan oleh penyihir dialam bawah sadar Clara itu benar, ya? Kalau sebenarnya Clara itu bisa berbahasa Inggris?


Memikirkan itu semua membuat kepala Clara tiba-tiba terasa sakit. Samar-samar ia bisa mendengar suara seorang anak kecil yang sedang menangis diiringi suara gertakan beberaoa orang. Ini penglihatan samar apa, Ya Tuhan? Kenapa Clara gak ingat sama sekali?


Makin lama, rasa sakit dikepala Clara semakin menjadi-jadi. Matanya berkunang-kunang. Gelas yang ia pegang jatuh dan pecah berkeping-keping, menimbulkan bunyi yang cukup keras. Diiringi oleh tubuh Clara yang ambruk begitu saja. Clara pingsan.


Mendengar suara dari arah dapur, Sarah menjadi penasaran dan pergi ke sana untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Betapa terkejutnya ia saat mendapati anaknya tergeletak pingsan dilantai.


"Astaga, Clara!!"


*****


Sarah menyuapi Clara dengan telaten. "Di habisin ya, buburnya!" Ucapnya. Clara hanya mengangguk lemah. Setelah menyuapi anaknya, Sarah pun menyerahkan segelas air dan mulai mengintrogasi.


"Kamu kenapa bisa pingsan kayak gitu sih, Cla?"


"Gak tau Mum. Pas Clara mau minum, tiba-tiba kepala Clara merasa pusing!" Jawab Clara, "Mungkin karena banyak pikiran aja!" Apalagi karena memikirkan masa lalunya.


"Kamu kepikiran sama Mummy dan Daddy yang mau pergi ke Amerika, ya? Daripada cuma membebani pikiran, kamu, mending Daddy aja yang pergi deh!" Putus Sarah akhirnya. Jelas sekali kalau ia takut sesuatu yang buruk akan terjadi kalau ia dan suaminya tidak ada dirumah.


"Nggak usah. Mummy temani saja Daddy. Kasian Daddy gak ada temennya." Tolak Clara halus. Kalau dipikir-pikir tidak ada salahnya kalau Daddy sama Mummy-nya pergi ke Amerika. Toh ia gak bakalan tinggal sendirian di rumah sebesar ini.


"Yakin kamu ngizinin Mummy sama Daddy pergi?" Tanya Sarah sansi. Bukannya ia meragukan anaknya sih. Hanya saja ia cuma takut kalau pikiran Clara akan berubah nantinya.


"Iyaa!"


Sarah tersenyum sambil mengusap rambut Clara dengan penuh kasih sayang. "Terimakasih, sayang!"

__ADS_1


"Tapi Mummy sama Daddy harus jaga diri baik-baik ya, selama ada di sana! Jangan sampai kurang suatu apa!"


Sarah mengangguk menanggapi permintaan anaknya.


__ADS_2