Kutukan Dua Bahasa

Kutukan Dua Bahasa
Bab 54: Pengakuan Nicolas


__ADS_3

"Cieee yang mau jadi model buat perusahaan keluarga kita ..."


Raymond tidak henti-hentinya menggoda kakaknya yang sudah didandani sedemikan rupa. Clara yang digoda adiknya seperti itu langsung memasang wajah perang.


"Kamu bisa diam nggak, Ray?" Pinta Clara sambil menatap adikbya itu dengan tatapan tajam.


"Sans aja kali kak. Harusnya kakak senang dong." Ucap Raymond yang membuat Clara nyaris melemparkan apa saja pada adiknya itu.


Senang apa coba? Clara itu deg-degan banget. Sebab, ini kali pertama ia mengikuti pemotretan seperti ini.


Suasana riuh dan penuh kesibukan memenuhi studio tempat Clara dan Aurora melakukan pemotretan. Kilatan cahaya dari kamera sebenarnya membuat matanya perih. Tapi mereka berdua harus tetap profesional dengan pemotretan ini.


"Wah, gak ku sangka kalau ponakannya Sir Nicolas bisa melakukan pemotretan seperti ini!" Ucap sang fotografer sambil memperlihatkan hasil pemotretan itu pada Clara dan Aurora.


Melihat hasil pemotretan itu, Aurora tersenyum puas. "Makanya, aku kan sudah bilang, kamu cocok banget jadi model, Cla!"


Clara yang mendengar itu hanya memalingkan muka. Ia bersyukur karena tidak ada yang mendengar perkataan fotografer yang bernama Bisma Indra memanggilnya dengan sebutan 𝑝𝑜𝑛𝑎𝑘𝑎𝑛𝑛𝑦𝑎 𝑠𝑖𝑟 𝑁𝑖𝑐𝑜𝑙𝑎𝑠.


"Kerja bagus, Aurora, Clarissa. Kita break sebentar untuk makan siang. Nanti kita lanjutkan pemotretannya!"


"Setelah ini masih ada pemotretan?" Tanya Clara sambil membelalakkan matanya. Ia pikir pemotretannya cuma satu sesi ini saja.


"Iya dong. Kamu kira ada berapa job perusahaan ini?!" Jawab Aurora.


Clara memutar bola matanya malas. Ia menghela nafas lelah dan mengucapkan terimakasih kepada semua tim yang sudah bekerja keras hari ini. Gadis itu berjalan menuju ke ruangan Angky-nya untuk meluncurkan protes.


Brak!


Suara pintu yang terbuka itu mengalihkan perhatian orang yang ada di sana. Clara masuk ke dalam dan duduk di sofa.


Nicolas yang melihat keadaan ponakannya yang sepertinya kelelahan itu bergegas menghampirinya. "Make up kamu nggak dibersihkan dulu, Cla?" Tanyanya sambil menatap wajah Clara dengan seksama. Cantik.


Clara menggelengkan kepalanya. Ia cukup lelah sehingga tidak punya energi untuk sekedar menghapus make up nya. Nicolas bangkit dari duduknya dan mengambil tissue basah dan alat untuk menghilangkan make up. Nicolas membersihkan make up ponakannya itu dengan telaten.


Clara menatap Angky-nya dengan tatapan penuh arti. Coba aja kalau tiap hari kayak gini. Kan adem jadinya.


"Kamu ngapain liatin Angky kayak gitu?" Tanya Nicolas yang agak risih ditatap Clara sampai sebegitunya. Clara hanya nyengir tanpa dosa. Ia menahan tangan Nicolas yang menghapus make up di pipinya. Ia memejamkan mata.

__ADS_1


"Clara sayang banget sama Angky!" Ucap Clara sambil membuka matanya.


Nicolas yang mendengar itu hanya tersenyum simpul. Ia mengecup pipi Clara dan mengusap rambutnya. Lalu berdiri untuk meletakkan tissue dan alat yang ada di tangannya.


Tanpa mereka berdua sadari, seseorang tengah mem foto kedekatan mereka dan menyebarkan berita itu ke seantero kantor.


Suasana kantor yang semua adem ayem menjadi ricuh. Mereka tidak menyangka kalau Clara yang dikenal sebagai asisten Nicolas adalah kekasih atasannya itu.


Setengah jam kemudian, Clara kembali melakukan pemotretan bersama Aurora. Selama dalam pemotretan itu, Clara kembali mendengar bisik-bisik tentang dirinya dan Nicolas. Oh ayolah, masa' ia kembali dituduh sebagai kekasih Nicolas?


"Eh, Cla. Emangnya mereka tidak tau apa hubungan kamu sama Sir Nicolas, ya?" Tanya Aurora disela-sela pemotretan.


Clara menggeleng sambil memamerkan giginya. "Nggak." Jawabnya singkat padat dan jelas.


"Bodoh." Desis Aurora.


Clara meringis, Aurora kalau memaki-maki temannya sendiri tidak pernah setengah-setengah.


Clara mendengar kesal dan menghentakkan kakinya diatas lantai. Ia duduk didepan cermin dan membiarkan penata rias mendandani wajahnya yang sudah sangat cantik meski tanpa make up.


"Oh iya, ini baju terakhir kan?" Tanya Aurora sambil menatap anggota departemen desain disampingnya.


Aurora mengangguk-angguk. Ia dan Clara bergegas menaiki tangga yang muat untuk dua orang. Keduanya pun sama-sama berpose sesuai instruksi yang diberikan.


Dan entah karena ada angin apa, kedua orang itu tiba-tiba jatuh ke bawah. Aurora jatuh menghimpit Clara.


"Clara!" Panggil Nicolas yang baru saja tiba disana. Rencananya ia hendak meninjau proses pemotretan sesi terakhir ini, tapi malah dikejutkan oleh ponakannya yang jatuh dihimpit oleh Aurora.


Nicolas buru-buru mendekati Clara dan mendorong tubuh Aurora hingga terduduk. Ia lalu membawa Clara menjauhi orang-orang yang makin yakin kalau Clara itu kekasihnya Nicolas.


"Kamu mau Angky bawa ke rumah sakit?" Tanya Nicolas sambil menggendong ponakannya itu.


"Nggak mau." Rengek Clara. Ia sudah kapok mencium aroma obat khas rumah sakit. Nicolas mengangguk mengerti. Ia membawa Clara masuk ke ruangannya dan membaringkan ponakannya itu di sofa.


"Kok kalian bisa jatuh sih?" Tanya Nicolas sambil menatap Clara dengan tatapan frustasi. Sepertinya ponakannya ini tidak boleh tanpa pengawasan sebentar saja.


"Nggak tau, Ang. Tangganya tiba-tiba goyang terus kami berdua jatuh deh. Mungkin karena nggak ada yang megangin tangga." Jelas Clara.

__ADS_1


Ia bangkit dari posisi rebahannya dan mulai meregangkan otot-ototnya yang terasa sakit karena habis dihimpit oleh tubuh Aurora. Untuk tangganya tidak ikut menimpa tubuhnya.


Seseorang mengetuk pintu dari luar dan membukanya. Lalu masuk ke dalam. Rupanya Aurora.


"Duhh, maaf ya, CLA. Aku nggak sengaja menghimpit tubuh kamu tadi!" Ucap Aurora dengan nada penuh penyesalan. Ia tidak bermaksud menghimpit Clara tadi.


"Santai aja kali, Au. Orang kita berdua sama-sama jatuh kok!" Jawab Clara sambil tersenyum manis. Ia tidak pernah berpikir macam-macam soal insiden yang baru saja menimpanya. Semua ini murni karena adanya kecelakaan.


"Kita pulang sekarang?" Tanya Nicolas sambil menatap ke arah Clara yang asik berbincang-bincang dengan Aurora.


Clara melihat jam yang ada disana. Sudah pukul lima sore. Pemotretannya juga sudah selesai. Clara mengangguk. Ia dan Aurora berjalan keluar ruangan mendahului Nicolas yang mengambil kunci mobilnya di laci meja.


Nicolas berlari menghampiri Clara yang sudah jauh didepannya. Ia meraih lengan ponakannya itu dan mengandeng tangannya.


"Angky? Lepasin!" Pinta Clara yang kaget saat tangannya tiba-tiba dicekal oleh Nicolas.


"Tidak." Tolak Nicolas tegas.


"Jangan main-main Angky, kita dilihat banyak orang!" Bisik Clara yang mulai risih dengan tatapan orang-orang. Ada yang menatapnya dengan tatapan memuja, dan ada orang-orang yang menatapnya dengan tatapan iri dan dengki.


"Attention, please!" Pinta Nicolas yang langsung menarik perhatian semua orang.


Clara menelan ludahnya kasar. Rasa malu dan bingung bercampur menjadi satu. Ia bingung memikirkan apa yang akan dilakukan Nicolas didepan banyak orang. Jangan bilang Nicolas mau mengakui hubungan mereka yang sebenarnya.


"Kalian pasti salah sangka dengan hubungan kami berdua, kan?"


Clara menatap Angky-nya dengan tatapan horor. Jadi dia beneran mau mengakui hubungan mereka berdua, ya?


"Yang kalian tau dia ini asisten saya, kan? Bahkan diantara kalian ada yang menyangka dia kekasih saya." Ucap Nicolas sambil menatap Clara dengan tatapan yang sulit diartikan, "Kalau begitu akan saya perkenalan dia sebagai PONAKAN kandung saya yang bernama lengkap Clarissa Rasandra Wiratama. Anak pertama kakak saya Angelo Juanda Wiratama." Imbuhnya sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan.


"A, apa?" Ujar Lisa yang ada dibelakang Nicolas, ia benar-benar shock sekarang. "Po, ponakan?"


"Mulai sekarang dan seterusnya, apapun perintahnya nanti, mutlak sebagai perintah anggota keluarga pemilik perusahaan ini, mengerti?" Tanya Nicolas. Ia tidak menghiraukan sekertarisnya yang shock setelah tau apa hubungan mereka berdua yang sebenarnya.


"Mengerti!" Sahut mereka semua kompak.


Mereka semua sama shock nya dengan Lisa. Tapi mereka lebih memilih untuk bertanya dibelakang dari pada langsung bertanya pada orang yang bersangkutan.

__ADS_1


Ini semua karena Clara sebelumnya tidak pernah pergi ke kantor perusahaan keluarganya sendiri. Makanya mereka salah mengartikan kedekatan mereka berdua.


__ADS_2