Kutukan Dua Bahasa

Kutukan Dua Bahasa
Bab 38: Tetap ke Puncak


__ADS_3

Pagi ini, Clara memasak seperti biasanya. Wajahnya tidak semuram kemarin. Tentu saja karena Nicolas sudah mengizinkannya untuk pergi ke villa bersama adiknya.


"Besok kalian berdua jangan pulang dulu, tunggu AngkyΒ  disana." Ucap Nicolas memecah keheningan.


Clara hanya mengangguk sok mengerti. Tiba-tiba ia teringat sesuatu, "Mmm, kalau sahabatnya Clara mau nginap di villa boleh nggak Ang?" Tanya Clara sambil menatap Angky-nya dengan tatapan memelas.


"Ada ceweknya?"


"Ada, Amberta Loli Yolanda!"


π΄π‘šπ‘π‘’π‘Ÿ π‘π‘–π‘ π‘Ž π‘‘π‘–π‘π‘’π‘Ÿπ‘π‘Žπ‘¦π‘Ž.


"Ya sudah, boleh. Asalkan kamu tidak ikut sama mereka pergi ke Puncak. Mengerti?"


Ayolah! Kemarin kan sudah dibilangin. Kenapa sekarang malah diungkit lagi sih?


"Iya Ang, Clara ingat kok!"


Meski ingat, jangan harap Clara akan menurutinya. Emang sejak kapan Clara jadi nurut sama Angky-nya? Justru karena Clara gak pernah nurut sama Angky-nya lah Nicolas selalu mengancamnya.


Raymond menatap kakaknya dengan tatapan menyelidik. Ia tidak percaya kalau kakaknya akan menurut nantinya. Semoga saja tidak terjadi sesuatu pada mereka.


"Kalau begitu Angky berangkat!" Kata Nicolas berpamitan. Ia bangkit dari kursinya dan meninggalkan Clara, Guy, dan Raymond yang masih sibuk dengan sarapan masing-masing.


"Kamu nggak jadi ikut ke Puncak, CLA?" Tanya Guy sambil menaikkan sebelah alisnya. Sama seperti Raymond, ia curiga!


"Siapa bilang aku gak jadi ikut?" Tanya Clara sambil tersenyum misterius. Ia beranjak dari kursinya dan berjalan menuju kamar. Hendak bersiap-siap. Ia akan tetap pergi ke Puncak dengan atau tanpa persetujuan pamannya. Urusan dengan Nicolas akan ia pikirkan nanti. Toh ia yakin pamannya tidak akan tahu kalau ia pergi ke Puncak.


Setelah mampir sebentar ke rumah Bian, Amber, Bian, Clara, Guy, Raymond, dan Reynaldy akhirnya pergi ke villa keluarga Clara untuk beristirahat sebentar.


Bian yang semula mengira kalau Raymond itu pacarnya Clara jadi tahu kalau Raymond itu adik Clara satu-satunya.


"Kita mau cari lukisan kamu sekarang?" Tanya Amber saat mereka sudah sampai di villa.


Clara menggelengkan kepalanya. Lukisan itu lukisan laut. Paati ia menyimpannya ditempat aman. Jadi gak perlu dicari kemana-mana pun pasti sudah langsung ketemu.


"Eh, bentar lagi panas banget nih. Gimana kalau kita Muncak-nya sekarang aja?!" Usul Reynaldy yang dibalas anggukan kepala oleh yang lainnya. Mereka sangat kecewa karena Clara tidak boleh ikut bersama mereka.


"Yahh berarti aku cewek sendirian dong!" Keluh Amber sambil menundukkan kepalanya.


"Siapa bilang? Aku juga mau ikut kok!" Sahut Clara sambil merangkul pundak adiknya.

__ADS_1


"Lho, bukannya kamu nggak boleh ikut ke Puncak, CLA?" Tanya Guy. Ia sempat mendengarkan pembicaraan Clara dan Nicolas tadi.


"Masa' bodo dengan itu. Yang penting kan aku bisa ikut ke Puncak bareng kalian!"


"Terus Raymond gimana dong kak? Masa' Ray tinggal sendirian di villa?"


"Kalau kamu mau ya nggak apa-apa!" Jawab Clara dengan entengnya.


"Nggak mau lah kak! Enak aja!"


Clara tertawa mendengar penolakan adiknya. "Makanya kamu ikut aja sama kami. Tapi jangan bilang ke Angky, ya?" Pintanya sambil mengacak-acak rambut pirang Raymond.


Raymond hanya mendengus sebagai jawaban. Ia sebenarnya pengen pergi ke Puncak sih. Tapi takut minta izin dengan pamannya. Tapi sekarang, kakaknya lah yang akan mengajak dirinya tanpa sepengetahuan pamannya. Tinggal berbohong sedikit saja dia akan bisa pergi ke Puncak.


Tapi kenapa perasaannya tiba-tiba tidak enak, ya? Sama seperti saat Nicolas memintanya untuk ikut dengan kakaknya.


*****


"Wahh pemandangannya bagus sekali, ya!" Clara tidak henti-hentinya berdecak kagum saat melihat pemandangan indah di depan matanya. Selama sembilan belas tahun ia hidup, baru kali inilah ia bisa pergi ke sini. Meski secara diam-diam sih.


"Kamu nggak pernah ke sini, CLA?" Tanya Bian sambil menatap heran ke arah Clara. Menurutnya reaksi Clara agak berlebihan tuh. Kecuali kalau pujaan hatinya itu belum pernah menginjakkan kaki disini.


Bian mengangguk-anggukkan kepalanya. Paham. Clara beralih untuk menatap ke arah Amber yang sibuk foto-foto dengan hebohnya. Ia baru tahu kalau Amber bisa senarsis itu.


"Kamu juga baru pertama kalinya pergi ke sini, Am?" Tanya Clara sambil menghampiri sahabatnya itu. Sesekali narsis gak apa-apa, elah.


Amber menggeleng. Ia melihat hasil fotonya yang lumayan bagus. Ia tersenyum puas melihatnya. "Aku sama Rey sudah sering datang ke sini kok, bareng teman-teman yang lain!


Jawaban Amber sontak membuat Clara membulat kan matanya kaget. Jadi selama ini mereka berdua sudah sering pergi ke Puncak bersama teman-teman? Hebat sekali mereka. Masa' ia yang menyandang gelar sebagai seorang sahabat tidak diajak!


"Tapi kok Clara tidak pernah diajak sih?"


Pertanyaan Clara sontak membuat Amber menoleh ke arah sahabatnya itu. Belum sempat ia mengucapkan sepatah kata pun, Reynaldy sudah mentoyor kepala Clara saking gemasnya.


"Mana bisa kalau ada paman lo, bego?" Kata Nicolas dengan gemasnya.


Clara mengusap kepalanya yang habis kena jitak oleh Rey. Nih orang apa'an sih? Main toyor aja.


"Bisa nggak kalau tidak menjitak kakak Raymond? Itu sakit lho!" Pinta Raymond dengan kalemnya. Mampus. Sepertinya Rey lupa kalau ada Raymond.


"Kamu apa'an sih dek? Orang dia bercanda kok!" Tegur Clara sambil menatap adiknya dengan tatapan penuh arti.

__ADS_1


"Bercanda itu ada batasnya!" Sahut Raymond. Tak peduli kalau pelakunya itu sahabat kakaknya sendiri.


Clara menggelengkan kepalanya. Ia merangkul Raymond dan mencium pelipisnya singkat. Kalau tidak ada paman maupun orang tua, adiknya itu memang bisa posesif seperti ini sih.


"Eh, kita langsung membuat api unggun nih?" Tanya Amber untuk memecah kecanggungan diantara mereka. Ia menatap wajah mereka satu persatu.


"Aku rasa membuat api unggun siang-siang begini tidak asik sama sekali." Kata Guy yang sedang mengipasi barbeque miliknya.


"Iya sih, tapi lebih mendingkan, daripada nggak sama sekali?" Sahut Clara.


"Oh iya, Rey. Mencari kayu bakar dimana?" Tanya Amber. Sepertinya ia lupa.


"Di jurang banyak!" Jawab Reynaldy dengan nada bercanda.


"Gue nanya serius pe'ak! Ngapain bercanda?!" Amber tidak habis pikir dengan sahabat lelakinya ini.


"Bercanda elah neng, sewot amat. Tuh disana ada kayu bakar!" Reynaldy menunjuk daerah yang lebih rendah dari tempat mereka berpijak.


"Yahh kalau disana mah, aku nggak berani!" Selain tidak busa menyebrang, Amber sebenarnya juga takut jatuh.


"Aku saja deh!" Ucap Clara mengajukan diri. Sepertinya seru pergi ke daerah yang lebih rendah. Berasa manjat tebing gitu.


PLAK!


SERU ENDAS MU! BAHAYA PE'AK


"Yakin CLA?" Tanya Amber ragu.


"Kalau nggak, memangnya kamu mau pergi ke sana?" Clara balik bertanya yang hanya dibalas gelengan kepala oleh Amber.


Clara akhirnya berjalan mendekati tempat yang ditunjukkan oleh Reynaldy.


"Hati-hati, CLA. Jalannya agak licin!" Clara mengangguk. Ia berjalan hati-hati seperti yang sudah diperingatkan oleh Reynaldy.


"Adek temani, kak!" Ucap Raymond sambil berjalan mendekati Clara.


Clara berjalan beriringan dengan Raymond yang sedang memegangi ranting ditangannya. Mereka kemudian berjalan agak jauh karena hendak mencari kayu yang lebih besar lagi.


Hingga kejadian yang tidak diinginkan pun terjadi. Tanah yang menjadi pijakan Clara licin hingga gadis itu jatuh terpeleset. Na'asnya lagi, tubuh Clara menghantam batu besar yang ada di sana.


"KAKAK!!!" Raymond menjerit histeria saat melihat kakaknya berlumuran darah. Ia langsung membuang kayu yang sudah ia kumpulkan dan menghampiri kakaknya sambil berurai air mata.

__ADS_1


__ADS_2