Kutukan Dua Bahasa

Kutukan Dua Bahasa
Bab 32: Fasilitas Disita


__ADS_3

Nicolas tampak serius mendengarkan manajer kantor yang sedang menjelaskan beberapa hal mengenai pembangunan mereka yang hampir mendekati 80%. Sesekali ia mengeluarkan pendapat dan menanyakan hal yang sekiranya perlu mereka bahas sekarang.


Setelah makan siang bersama klien, ia langsung menghadiri rapat yang membahas tentang pembangunan proyek baru. Lima belas menit kemudian, rapat mereka pun selesai. Nicolas pamit lebih dulu ke ruangannya karena masih ada beberapa hal yang perlu ia selesaikan.


Ketika ia sedang sibuk membaca berkas yang diberikan sekertarisnya beberapa saat yang lalu, dua orang pegawai datang menghampirinya bersama Lisa, sekertarisnya.


"Maaf sudah mengganggu kesibukan bapak, mereka berdua mau mengatakan sesuatu!" Kata Lisa.


Salah seorang dari pegawai itu mengatakan apa yang hendak mereka berdua sampaikan, "A, anu Sir, tadi ada yang membawa kabur mobil Sir Nicolas!"


Nicolas mengernyitkan keningnya. Ada orang yang membawa lari mobilnya? Mobil mewahnya?


Matanya melirik ke arah sudut ruangan yang menjadi tempat Clara. Kenapa ia baru sadar kalau ponakannya itu sudah tidak ada disana lagi, ya? Apa jangan-jangan Clara-lah yang dimaksud oleh mereka berdua?


"What are the characteristics of the person who took my car away?" Tanyanya sambil menaikkan sebelah alis.


"Cewek, rambutnya pirang, terus pakai kemeja kotak-kotak warna merah dan rok panjang selutut warna hitam."


Tuh kan!


"Kok ciri-cirinya mirip sama ..." Lisa tidak melanjutkan ucapannya karena Nicolas tiba-tiba memotong perkataannya.


"CLARISSA RASANDRA!" Geram Nicolas. Ia marah karena Clara pergi tanpa memberinya kabar terlebih dahulu. Lihat saja nanti, ia pasti akan menghukum ponakannya yang kelewat bar-bar itu.


Dilain sisi, Clara yang baru selesai memarkirkan mobil Nicolas tanpa sengaja melihat seorang pria berpakaian ala pengantar makanan yang sedang memunguti kotak berisi makanan yang jatuh berserakan dilantai.


Wajah pengantar makanan itu tampak muram sekali. Seperti ada sesuatu yang telah terjadi padanya. Karena emang sifat dasar Clara yang tidak bisa membiarkan orang lain kesusahan, ia pun berjalan menghampiri pria tersebut.


"Permisi! Bapak kenapa, ya?" Tanya Clara.


Pria itu mendongak untuk melihat siapa yang menyapanya itu. Ia bangkit berdiri. "Itu, saya mau mengantarkan makanan ke kantor ini tapi malah ada urusan keluarga, mana kotak makanannya pada jatuh lagi. Pasti tidak ada yang mau membayarnya!" Kata pria itu sambil mengatakan keluh kesahnya. Dikira Clara anggota DPR kali, ya?


Clara menghela nafas. "Ya sudah, makanannya biar saya aja yang bayar, kalau perlu saya juga bisa mengantarkannya. Biar bapak bisa pulang cepat!"


"Yang bener, non?"


Clara mengangguk sambil tersenyum meyakinkan. Ia mengambil uang satu juta dari dalam tasnya dan menyerahkannya ke pria yang sebaya dengan Daddy-nya.

__ADS_1


Orang itu menerimanya dengan perasaan senang. Tak lama kemudian, Clara pun masuk ke dalam kantor dan langsung menjadi pusat perhatian.


Berita tentang ia yang membawa mobil Nicolas sudah menyebar dan menjadi trending topik.


"Apa? Jadi yang sudah membawa kabur mobil atasan seorang pengantar makanan?"


"Belagu banget tuh cewek, dah kayak bule kesasar aja penampilannya!"


"Aku akui kalau wajahnya memang cantik. Tapi kelakuannya kek setan."


"Berani banget dia membawa mobil atasan!"


Clara yang mendebarkan rumor itu hanya mengangkat bahu acuh tak acuh. Terserah mereka mau bilang apa. Ia masuk ke dalam lift khusus ekslusif yang hanya diperuntukkan bagi petinggi perusahaan tersebut.


Pegawai yang melihat itu langsung heboh sendiri. Mereka yang pegawai saja tidak pernah lewat lift itu, lah, ia yang hanya pengantar makanan malah berani sekali menaiki lift tersebut.


Clara akhirnya sampai di area kerja pamannya. Disana ia disambut oleh petinggi yang tidak menduga kalau dirinya akan datang. Padahal sudah datang dari tadi tuh. Namun tatapan terkejut itu bisa mereka sembunyikan secara profesional.


Clara berjalan melewati beberapa ruang meeting. Hingga akhirnya ia sampai diruang kerja pamannya yang bersebelahan dengan ruangan utama.


Dalam hati Clara berdo'a, semoga saja pamannya itu belum selesai rapat. Jadi ia tidak perlu repot-repot menjelaskan sesuatu. Tapi sayangnya, harapan Clara sirna saat ia melihat Nicolas yang sedang membaca berkas.


"Cari makananan. Nih dapat banyak!" Jawab Clara dengan entengnya.


"KAMU PIKIR TINDAKAN KAMU INI BENAR, HAH?" Bentak Nicolas sambil melayangkan asbak ke arah Clara. Asbak itu mengenai pelipis Clara hingga luka dan berdarah. Tapi sayang, Nicolas menjadi gelap mata karena amarahnya hingga ia tidak menyadari kesalahannya.


"KAMU PIKIR AKU TIDAK MENCEMASKAN KAMU YANG SELALU MEMBAWA MOBIL DENGAN KECEPATAN TINGGI TANPA SEPENGETAHUAN KU? BERANI SEKALI KAMU MEMBAWA MOBILKU TANPA SEIZIN KU! TANPA SEPENGETAHUAN KU! KALAU TERJADI SESUATU SAMA KAMU SIAPA YANG AKAN BERTANGGUNG JAWAB, HAH?!"


Clara rupanya shock berat karena dibentak pamannya seperti itu. Ia menyentuh pelipisnya yang terasa nyeri dan sakit. Berdarah.


Tanpa Nicolas sadari, bentakannya dan tindakan kasarnya yang melemparkan asbak hingga melukai pelipis Clara membuat fisik dan mental Clara kena. Gadis itu langsung down seketika.


"MULAI SEKARANG, JANGAN HARAP KAMU BISA BERKENDARA LAGI. SEGALA FASILITAS KAMU AKAN AKU SITA!"


Nicolas melihat kearah Clara yang berdiri kaku di tempatnya. Saat itulah ia menyadari sesuatu. Cepat-cepat ia merangkul Clara dan merutuki kebodohannya. Semua amarahnya langsung sirna, digantikan dengan rasa cemas yang luar biasa.


"Cla, Clara!"

__ADS_1


Nicolas tak henti-hentinya memanggil nama ponakannya itu dengan harapan gadis itu cepat sadar. Semenit kemudian, ia merasa tubuh Clara melemas diperlukannya. Clara pingsan.


Tanpa pikir panjang, ia langsung membopong tubuh Clara dan membawanya ke rumah sakit. Clara harus segera ditangani, kalau tidak maka ia pasti akan menyesal untuk ketiga kalinya.


Kenapa harus Nicolas yang terus menjadi penyebab utama mengapa Clara bisa terluka, Ya Tuhan?


Nicolas memukuli wajahnya sendiri bertubi-tubi. Entah apa yang harus ia katakan pada Raymond nanti. Bisa-bisa ponakan laki-lakinya itu terus membenci dirinya.


Dokter yang menangani Clara keluar dari ruangan. "Bagaimana keadaan ponakan saya, dok?" Tanya Nicolas dengan perasaan cemas dan takut. Ia tidak mau terjadi sesuatu sama ponakannya itu.


"Keponakan bapak baik-baik saja, sepertinya ia mengalami gejala anemia." Kata dokter itu. Setelah Nicolas mengucapkan terimakasih, dokter itu berlalu pergi karena harus memeriksa pasien lainnya.


Nicolas menghembuskan nafas lega. Syukurlah Ya Tuhan. Dalam hati, ia berjanji akan bersikap lebih lembut lagi pada ponakannya itu. Karena Nicolas tidak mau, kejadian itu terulang kembali karena dirinya.


Luka lama Clara tidak boleh dibiarkan terbuka, atau mereka semua juga akan terluka.


"Maafkan Angky, Clara!" Ucap Nicolas dengan penuh penyesalan.


Setelah agak berapa lama, Clara akhirnya membuka mata. Gadis itu terbangun karena mencium aroma obat yang begitu menyengat. Ia mengernyitkan keningnya saat mendapati dirinya ada di ruangan serba putih. Jangan-jangan ia lagi di rumah sakit. Tapi ia sakit apa, Ya Tuhan?


Eh, benar-benar. Kayaknya kepala Clara pusing banget deh. Terus, kenapa tubuhnya terasa lemas, ya? Apa jangan-jangan mimpinya itu beneran lagi. Ia mimpi Nicolas tengah melemparnya dengan asbak dan membentak-bentak dirinya. Terus pakai ngancam mau menyita semua fasilitasnya lagi. TIDAK!


"Sudah bangun?" Tanya Nicolas yang baru saja masuk ke ruangan tempat Clara dirawat.


Clara mengangguk lemas. "Kok Clara bisa ada disini ya, Ang?" Tanya Clara.


Nicolas tampak berpikir sejenak. Apa mungkin Clara lupa peristiwa beberapa jam yang lalu, ya?


"Kamu nggak ingat?" Tanya Nicolas memastikan. Clara menggelengkan kepalanya. Syukurlah. "Kamu pingsan gara-gara kejedot pintu!" Jawab Nicolas berbohong.


"Kejedot pintu?"


"Iya!" Nicolas mengangguk meyakinkan. "Mulai sekarang dan seterusnya kamu akan menjadi asisten Angky, dan segala fasilitas kamu Angky sita!"


"Lah? Emang Clara salah apa sih Ang?" Tanya Clara frustasi. Masa' iya fasilitasnya disita?


"Membawa kabur mobil angky dan pergi tanpa pamit itu kesalahan fatal. Gimana kalau kamu sampai celaka? Jadi anggap saja itu sebagai hukuman!"

__ADS_1


SIALAN! DIA PAKAI TAU LAGI!!!


selamat tinggal fasilitas ku!


__ADS_2