Kutukan Dua Bahasa

Kutukan Dua Bahasa
Bab 28: Sebuah Pertanyaan


__ADS_3

Cuaca yang cerah sangat mendukung untuk tidur atau jalan-jalan. Namun, apalah daya jika seorang mahasiswa harus disuguhkan dengan setumpuk kertas yang membuat kepala pecah.


Dari tadi Clara memijit pelipisnya pening. Gila, ini tugas belum kelar satu langsung tumbuh seribu. Kalau gini caranya bisa-bisa Clara mati muda. Apalagi satu jam lagi Clara ada kelas di labor bahasa. Mau nangis darah saja rasanya. Jadi ingat pas ia nangis gara-gara soal ujian yang gak berperasaan sama sekali. Mulut Clara udah menyumpah serapahi tugas yang diberikan pamannya. Jadi pengen bunuh Nicolas!


"Berisik Clara! Dari tadi Lo ngedumel kagak jelas!" Tegur Rey. Ia juga sama. Dari tadi membolak-balikkan makalah yang ditugaskan Nicolas.


Diantara kita semua cuma Amber yang makalahnya diterima tanpa ada coretan sedikit pun di kertasnya. Sedangkan Clara? Hampir satu bab merah sama coretan Angky-nya. Heran Clara. Kok otak Amber bisa selancar itu ya di matkul English komputer pamannya. Padahal Ray yang jago bahasa Inggris aja kena.


"Argh! Pusing gue!" Jerit Bian kesal, "Sumpah, nih dosen mau gue doa'in biar cepat mampus, tau nggak!"


Paula yang kena sembur Bian berdecak. "Why are you angry with me?"


"you're the one in front of me!" Bian membela. Diri. Tuhkan, bahkan anak-anak yang jago bahasa Inggris saja bisa kena sama pamannya. Lah, apa kabarnya dengan Clara yang tidak tahu bahasa Inggris sama sekali?


Paula melirik Bian dengan sinis. Ia meminum softdrink-nya samoai habis, "I regret sitting in front of you!"


Amber hanya menatap sahabat dan teman-temannya sambil cengengesan. Sebenarnya ia mau menawarkan bantuan ke Clara, tapi karena takut kena marah sama Nicolas, makanya ia diam saja.


"So arrogant!" Bryan menatap Amber dengan sebelah mata. Kemudian menghela nafas lelah.


Amber nyengir, "Sleep well, huh?!" Katanya yang langsung kena timpuk gorengan oleh Reynaldy. Cewek itu mendesah pelan. "Kurang ajar banget sih kamu jadi sahabat!"


"Bantuin kek!"


Amber memutar bola malas. Ia melihat ke arah Guy yang sibuk bermain game di hp nya. "Kamu nggak merevisi ulang tugas kamu, Guy?"


"No!" Jawab Guy singkat. Ia mengalihkan perhatiannya ke arah Clara yang sejak tadi uring-uringan sendiri. Lalu menatap Reynaldy yang kayaknya sudah mau putus asa. "Want me to help, Rey?"


Reynaldy menaikkan sebelah alisnya. "Did you not revise it, Guy?" Tanyanya. Guy menggeleng. "Very Fit. You are my best friend that I can rely on, Guy. Not like him!" Imbuhnya.


Rey sebenarnya hendak menyindir Amber. Namun karena Clara yang paling dekat dengannya, gadis itu malah merasa kalau dirinya yang dimaksud Rey.

__ADS_1


"Maaf ya, Rey, aku memang gak bisa kalau matkul English komputer!" Kata Clara dengan wajah muram dan suara yang terdengar menyesal.


"E, eh, aku nggak ngomongin kamu kok Cla!" Sahut Rey cepat.


"Terus, Lo nyindir gue gitu?" Tanya Amber sambil menunjuk dirinya sendiri.  Reynaldy hanya mengangkat bahu acuh tak acuh. Ia mulai fokus menyimak penjelasan dari Guy. Amber menghela nafas panjang. Kasihan juga kalau Clara dibiarkan sendiri.


"Mau dibantu, Cla?" Tawanya sambil mendekatkan diri ke arah Clara.


Clara menggeleng lemah, "Gak usah deh Am. Bentar lagi punya ku selesai kok!"


Amber mengangguk mengerti. Ia menggigit bibir bawahnya karena hendak menanyakan sesuatu pada sahabatnya.


"Mmm, CLA?" Panggilannya lirih.


Clara menoleh ke arah sahabatnya itu sambil mengerutkan keningnya. Kalau nada bicara Amber sudah seperti itu, artinya ada yang mau ia bicarakan empat mata. Alias gak mau didengar siapapun selain Clara.


"Ya?"


"Kalau ada yang mau kamu bicarakan katakan saja!" Kata Clara akhirnya. Amber menatap Clara dengan tatapan penuh arti. Seolah ada hal yang mengganjal di hati dan perasaannya. Ia melirik ke sekeliling kantin. Sahabat dan teman-temannya pada sibuk dengan urusannya masing-masing.


"Itu, Angky kamu udah punya pacar, ya?"


Pacar?


"Hmm, kayaknya enggak dek. Tapi gak tahu juga sih! Memangnya kenapa, Am?" Tanya Clara sambil menatap Amber dengan tatapan menyelidik. Apa jangan-jangan Amber suka sama Nicolas deh. Tapi kayaknya enggak deh.


"Cuma nanya!" Amber nyengir tanpa dosa, "Soalnya aneh aja. Angky kamu kan ganteng, masa' belum punya pacar!"


Dalam hati, Clara membenarkan ucapan Amber. Selama ini ia tidak pernah melihat Nicolas dekat dengan seorang wanita manapun. Aneh emang. Padahal banyak yang ngejar-ngejar Nicolas. Baik itu dari kalangan mahasiswa, maupun dari kalangan dosen sendiri.


Pas awal-awal jadi mahasiswa, banyak orang yang menyalah artikan kedekatan Clara dengan Nicolas. Mereka menganggap Clara itu pacar, istri, atau simpanan Nicolas. Clara yang mendengar itu langsung emosi sendiri. Harusnya mereka sadar dong kalau Nicolas dan Clara itu punya hubungan darah. Liat saja nama belakang mereka berdua. Clarissa Rasandra Wiratama dengan Nicolas Franklin Demasa Wiratama.

__ADS_1


Tapi untungnya hal itu tidak berlangsung lama karena Nicolas mengatakan pada mereka kalau Clara itu keponakannya, anak dari Angelo Juanda Wiratama, kakak pertamanya dengan Sarah D'angelo Thompson.


Seingat Clara, Nicolas emang belum pernah punya pacar. Padahal kan ganteng, masih muda, kaya lagi. Tapi kok jomblo, ya?


"Angky udah punya pacar belum?!" Tanya Clara setelah ia menyuguhkan kopi untuk pamannya yang sedang membaca majalah bisnis.


Brusss


Entah karena kopinya masih panas atau karena kaget karena mendengarkan pertanyaan Clara, Nicolas menyemburkan kopi yang sempat ia minum.


"Jangan tanya yang aneh-aneh, Clara!" Nicolas memperingatkan. Mendengar kata Pacar entah kenapa ia jadi mengingat cinta butanya yang dulu.


"Idih! Clara kan cuma nanya, Ang!" Cibir Clara.


"Tapi pertanyaan kamu sama sekali gak berbobot!" Oh iya, Clara kan sedang bertanya sama pamannya yang jadi dosen paling killer dikampusnya. Makanya gak bisa nanya asal-asalan.


*****


Hampir dua jam lebih Clara mencoba untuk tidur, tapi gagal. Clara insom. Sial. Clara menyibakkan selimutnya dan berjalan menuju meja belajar. Membuka laptop untuk menyelesaikan tugas. Daripada insom Clara dipakai untuk pekerjaan yang tidak bermanfaat sama sekali mending buat belajar.


Ia duduk di sofa depan ruang televisi. Memandang layar laptop yang berisi penuh tugas. Udah beberapa jam tapi tugasnya belum selesai. Saat Clara sedang fokus-fokusnya, tiba-tiba ada yang menimpuk kepalanya dengan buku.


Clara menoleh dan mendapati Nicolas lah pelakunya. "Kamu ngapain malam-malam masih di sini?" Tanyanya.


"Lagi ngerjain tugas, Ang!" Jawab Clara datar. Mendengar itu, Nicolas langsung melihat layar laptop Clara dan langsung tahu kalau tugas yang sedang dibuat Clara itu adalah matkulnya.


"Angky, bantuin Clara ngerjainnya dong!" Pinta Clara dengan wajah memelas. Meski ia tahu, meminta tolong pada Nicolas di mata kuliahnya itu percuma.


"Kamu sudah tahu jawabannya?" Tanya Nicolas dengan kalemnya, "BIG NO!"


Tuh kan ...

__ADS_1


Nicolas akan bersenang hati membantu jawab atau mencarikan buku untuk tugas-tugas Clara, kecuali untuk mata pelajarannya. Clara harus berjuang sendiri karena ia paling tahu kalau Clara itu lemah dalam matkulnya. Yah apalagi kalau bukan English komputer.


__ADS_2