
Wiuw wiuw wiuw
Sirene yang berbunyi keras itu menjadi pertanda kalau mereka dalam kondisi gawat darurat. Sebagian besar pengendara mobil maupun motor menepikan kendaraannya memberi jalan.
Kejadian itu benar-benar cepat sekali. Raymond, Amber, Rey, Guy, dan Bian benar-benar panik setengah mati saat melihat Clara tidak sadarkan diri dengan tubuh berlumuran darah. Beruntung waktu itu anggota tim medis cepat datang, dan Clara langsung dilarikan ke rumah sakit.
Mobil ambulans tersebut berhenti didepan rumah sakit terdekat. Para perawat yang sedang berjaga buru-buru membantu petugas kesehatan yang baru datang.
"Sus cepat sus!" Raymond berteriak panik sambil memegangi kepala kakaknya yang masih terus mengeluarkan darah. Suster buru-buru membawa Clara ke rumah sakit dengan Raymond yang terus berlari disamping tempat kakaknya berbaring.
Raymond hendak masuk ke dalam ruang UGD, namun dilarang oleh suster yang menyuruhnya untuk menunggu di luar. Pikirannya kalut.
Jantung Raymond berdegup kencang. Matanya menatap Clara yang berada diruang UGD dengan keadaan tak sadarkan diri. Ia merutuki kebodohannya sendiri yang tidak bisa menjaga kakaknya dengan baik. Semuanya sudah terjadi. Tidak ada gunanya kan menyesali yang sudah terjadi? Yang ada malah memperkeruh suasana. Hanya saja, ini kedua kalinya Raymond melihat kakaknya tidak sadarkan diri dalam kondisi berdarah-darah.
"Raymond!"
Raymond meluruskan pandangannya menuju lobi rumah sakit. Disana ada sahabat dan teman kakaknya. Mereka menampilkan muka yang tidak bisa diartikan. Ia bingung bagaimana caranya menjelaskan semua ini pada mereka. Juga pada keluarganya.
"Gimana keadaan kakak kamu, Ray?" Tanya Amber disela Isak tangisnya. Sama seperti yang lain, ia juga merasa bersalah karena membiarkan Clara mengikuti mereka sampai ke Puncak. Entah apa yang akan terjadi kalau dia sampai tau.
"Kak!" Raymond memeluk Amber dengan erat. Baginya, sahabat Clara sudah seperti kakaknya sendiri. Jadi jangan sampai kalian menyalah artikan kedekatan mereka, ya?
Perasaan Raymond berkecamuk mengingat Clara di ruangan sana. Belum lagi dokter yang tidak kunjung keluar dari ruang UGD. "Kak Clara jatuh karena tergelincir, kak!"
"Ba, bagaimana ini, Angky pasti marah banget sama kita!" Ucapnya agak terbata. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana seremnya Nicolas saat murka.
Sebenarnya lidah Bian sudah gatal sekali hendak menyalahkan keteledoran Raymond. Plus menanyakan bagaimana kronologi jatuhnya Clara. Tapi ia urungkan karena Raymond sepertinya merasa sangat bersalah dan belum cerita. Apalagi saat Raymond barusan menyebut nama Nicolas.
Bian heran menatap wajah Raymond, Amberta, Reynaldy, dan Guy Ethan yang berubah tegang. Melihat mereka tegang ia juga ikutan merasa tegang.
__ADS_1
Kenapa mereka bisa tegang sekali?
Jelas saja, belum habis kekhawatiran mereka terhadap Clara yang entah bagaimana kabarnya, mereka sudah dilanda rasa takut yang amat mencekam saat membayangkan wajah sangar Nicolas yang aslinya ganteng.
Amber yang diam-diam menyukai Nicolas pun merasa bersalah karena sudah dipercayai oleh Nicolas. Tapi justru ialah yang secara tidak langsung meminta Clara untuk pergi ke Puncak.
Oh, ayolah! Jangan menyesali yang sudah terjadi kalau hanya memperkeruh suasana saja.
Hampir dua jam lamanya dokter yang menangani Clara tidak keluar juga. Raymond berjalan mondar-mandir didepan ruang UGD sembari berdoa atas keselamatan kakaknya.
𝑇𝑢𝒉𝑎𝑛, 𝑗𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑗𝑎𝑢𝒉𝑘𝑎𝑛 𝒉𝑎𝑚𝑏𝑎 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑘𝑎𝑘𝑎𝑘 𝒉𝑎𝑚𝑏𝑎 𝑙𝑎𝑔𝑖. 𝐵𝑖𝑎𝑟𝑘𝑎𝑛 𝑘𝑒𝑗𝑎𝑑𝑖𝑎𝑛 𝑚𝑒𝑚𝑖𝑙𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑖𝑡𝑢 𝑠𝑎𝑗𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑛𝑦𝑎𝑟𝑖𝑠 𝑚𝑒𝑚𝑖𝑠𝑎𝒉𝑘𝑎𝑛 𝑘𝑢 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑘𝑎𝑘𝑎𝑘. 𝐻𝑎𝑚𝑏𝑎 𝑠𝑎𝑛𝑔𝑎𝑡 𝑚𝑒𝑛𝑦𝑎𝑦𝑎𝑛𝑔𝑖 𝑘𝑎𝑘𝑎𝑘 𝒉𝑎𝑚𝑏𝑎, 𝑌𝑎 𝑇𝑢𝒉𝑎𝑛.
"Dengan keluarganya pasien bernama Clarissa Rasandra Wiratama?" Akhirnya, dokter yang menangani Clara keluar setelah berjam-jam lamanya. Raymond berdiri, disusul yang lainnya.
"Saya adiknya, dok!" Raymond berjalan mendekat, "gimana keadaan kakak saya, dok?"
Golongan darah AB Rhesus negatif merupakan golongan darah yang cukup langka. Hanya dimiliki oleh satu diantara dua ribu orang. Semua anggota keluarga Wiratama (Kecuali Sarah) mempunyai golongan darah itu. Hanya saja Raymond belum cukup umur untuk mendonorkan darahnya.
"Golongan darah saya juga AB Rhesus Negatif!" Teriak seseorang dari belakang. "Saya siap mendonorkan darah untuk pasien tersebut."
Semua orang menoleh ke sumber suara. Sedetik kemudian, wajah mereka berubah menjadi pucat pasi saat melihat siapa pemilik sumber suara tersebut. Diamond Sky Wiratama.
Bukan, bukan Diamond lah yang mereka takuti. Tapi orang yang berjalan dibelakang Diamond lah yang membuat mereka langsung merinding seketika. Yap! Siapa lagi kalau bukan Nicolas Franklin Demasa Wiratama?!
"Ikut saya ke ruangan untuk mengecek darah anda!" Kata dokter itu ke Diamond yang hendak mendonorkan darahnya untuk Clara.
"Gak apa-apa nih kak, kakak mendonorkan darah untuk Clara?" Tanya Nicolas ragu.
"Kamu tenang saja, Nico. Masa' iya darah kamu terus yang didonorkan buat Clara?" Jawab Diamond.
__ADS_1
"Ya, ini berbeda dengan peristiwa sembilan tahun yang lalu. Jadi aku tidak perlu merasa bersalah. Hanya saja ..." aura Nicolas menggelap seketika saat menatap Amber, Bian, Guy, Raymond, dan Reynaldy. Terutama Raymond.
Diamond menepuk bahu Nicolas sebelum akhirnya menyusul dokter masuk ke dalam ruangan.
Nicolas berjalan menghampiri mereka berlima dengan wajah dingin nan sangarnya. Auranya semakin menggelap saat Diamond pergi. Ia menepuk tangannya beberapa kali dan berdiri tepat didepan Raymond yang menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Apa kamu sudah puas, Raymond Sea?" Tanya Nicolas sambil menatap Raymond dengan tatapan tajam nan sadis, "Aku kira kau sudah jera saat melihat kakak mu berdarah-darah seperti itu, tapi rupanya kau malah kesenangan saat diajak pergi ke Puncak, ya?"
"Lalu, Amberta Loli. Aku sangat kecewa kepadamu. Aku sudah mempercayakan ponakan ku padamu, tapi justru kaulah yang mendorong Clara untuk pergi. Harusnya kau melarangnya untuk pergi, kan?"
"Dan terakhir untuk kalian bertiga. Apa isi otak kalian hanya cinta dan bagaimana caranya mendapatkan Clara? Kalian bahkan tidak memikirkan bagaimana keselamatan orang yang kalian sukai. Hmm, AKU tebak, kalian senang kan saat Clara ikut dengan kalian?!"
"Ray kira ini semua tidak akan terjadi ..." Cicit Raymond.
"Lalu?"
"Maafkan Raymond, Ang!" Ucap Raymond sambil mendongakkan kepalanya. Air mata mengalir membasahi pipinya. Pertanda kalau ia benar-benar merasa bersalah dan merutuki kebodohannya.
Nicolas menghela nafas kasar saat melihat Raymond menitikkan air mata seperti itu. Segala macam rutukan yang telah ia siapkan untuk memarahi mereka semua menguap seketika.
Ia mengusap air mata yang membasahi pipi ponakannya itu. "Kamu cowok, jangan cengeng!" Ucapnya, "kamu tahu, kenapa Angky sampai melarang kalian pergi ke Puncak? Karena kalian berdua mempunyai golongan darah yang cukup langka. Bagaimana kalau ini semua terjadi dan kami yang sudah dewasa tidak ada ditempat. Masih untung kan saat ini ada Angky dan Ommy."
Raymond mengangguk. Ia menatap mata Nicolas lekat-lekat. Sepertinya Angky-nya tidak marah lagi. "Jangan marahi kakak, ya?" Pintanya dengan wajah memelas.
"Tergantung bagaimana keadaan kakak kamu nanti!" Nicolas beralih untuk menatap kearah Amber dan yang lainnya. "Kalian berempat pulang saja. Pasti capek, kan? Kamu juga ikutan pulang, Guy. Kasian rumah kalau tidak ada yang menjaga!"
Karena mereka tidak mau kena marah lagi sama Nicolas, akhirnya mereka berempat pun pamit undur diri. Guy juga pulang ke rumah keluarga Wiratama setelah menerima kunci dari Nicolas.
Kini tinggallah mereka bertiga yang menunggu Clara yang tak kunjung siuman. Semoga tokoh utama kita baik-baik saja. Mohon doanya ya teman-teman 🙏😆😅🤣
__ADS_1