Kutukan Dua Bahasa

Kutukan Dua Bahasa
Bab 63: Si Biang Kerok


__ADS_3

Melakukan arahan dari orang yang kamu anggap benar itu hal biasa. Tapi pernahkah kamu melakukan arahan dari orang yang kamu anggap benar tapi malah berimbas jelek dan berakhir menjerumuskan mu?


Begitu lah yang dirasakan oleh Guy Ethan. Pemuda yang beberapa hari yang lalu menembak Clara dengan cara yang luar biasa tidak romantis dan malah berkesan sebagai pemaksaan itu malah tidak jadi berpacaran dengan Clara.


Jika ada ujung, pasti akan ada pangkal. Dan pangkal dari masalah yang Guy adalah Feng. Kenapa Feng? Karena Feng lah yang memberitahu Guy cara menembak Clara.


--------------------


--- Flashback on ---


--------------------


Dalam pesawat, Feng dan Guy duduk di bangku paling belakang. Mata Feng memandang jendela dari depan. Berhubung Feng yang duduk di dekat jendela sih.


"kamu tau, sebenarnya aku paling malas naik pesawat seperti ini, lho!" Guy menyandarkan kepalanya dikursi, "Tapi karena ada urusan dengan Clara makanya aku memutuskan balik ke Indonesia."


Feng mengalihkan pandangannya menjadi menatap Guy. Niatnya sih mau tersenyum geli pas ngeliat wajah Guy yang ditekuk, tapi kagak jadi mengingat perkataan Guy barusan. "Urusan sama Clara? Urusan apa?" Beo-nya.


Guy mengulum senyum sambil melirik ke arah Feng. "Kepo."


Si anjir emang.


"Idih, nggak asyik banget sih Lo jadi kenalan baru. Main kepo-kepo'an kayak anak kecil aja. Clara kan sepupu ku." Ucap Feng sok dramatis.


"Ck, iya-iya ah. Aku mau menembak Clara. Puas?"


Seketika saja Feng membelalakkan matanya. "Jangan! Ntar sepupu aku mati."

__ADS_1


"Yaa nggak bakal mati lah. Orang aku nembak Clara pakai panah asrama." Seah, dah kayak Cupid aja yang nembak pakai panah asmara.


Mendengar itu, Feng langsung sadar arti menembak yang diucapkan Guy barusan. Seketika saja pemuda itu langsung menatap sekeliling dengan seksama. Mencari benda tajam seperti pisau atau golok untuk membunuh Guy. Tapi sayangnya benda tajam itu nggak ada didalam pesawat.


Feng mulai menyukai Clara yang notabene adalah kerabatnya sendiri. Rasanya ia nggak bakal rela kalau Clara jadi milik orang lain. Feng menghela nafas sambil melirik ke arah Guy sekilas. Kerjain dikit asyik kali, ya?


"Kamu mau menembak Clara? Emang udah tau caranya?" Tanya Feng sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Ck, ya tau lah. Nih ya, dari salah satu novel yang udah aku baca. Menembak cewek itu dengan cara jongkok dihadapan dia, terus kasih bunga. Bilang kalau kita menyukai dia. Clara kan cewek, dia pasti klepek-klepek kalau udah digituin. Yang namanya cewek kan suka sama yang romantis."


Mendengar itu, Feng tertawa ngakak. Guy yang melihat itu jadi tersinggung. "Apa ada yang salah?" Tanya Guy sambil menatap Feng dengan tatapan malas.


Feng segera menghentikan tawanya dan mengulum senyum. Saatnya beraksi. "Ah, maaf. Cuma aku nggak habis pikir aja sama kamu. Lumayan sih nembak dengan cara seperti itu. Cuma, aku heran aja, emangnya cara seperti itu bekerja ya, untuk Clara?"


Guy menaikkan sebelah alisnya, tak paham dengan maksud perkataan Feng. "Maksud kamu?" Tanyanya heran.


"Kalau pakai cincin gimana? Kan kesannya kayak orang yang udah tunangan."


Feng menyorot Guy dengan tatapan malas. Kayak Guy menatapnya tadi. "π‘Œπ‘Žπ‘Ž π‘˜π‘Žπ‘šπ‘’ π‘‘π‘–π‘›π‘”π‘”π‘Žπ‘™ π‘Žπ‘—π‘Ž π‘˜π‘Žπ‘ π‘–π’‰ π‘ π‘Žπ‘šπ‘Ž π‘‘π‘–π‘Ž. πΎπ‘Žπ‘šπ‘’ π‘π‘Žπ‘ π‘Žπ‘›π‘” π‘ π‘Žπ‘™π‘Žπ’‰ π‘ π‘Žπ‘‘π‘’ 𝑐𝑖𝑛𝑐𝑖𝑛 𝑑𝑖 π‘—π‘Žπ‘Ÿπ‘– π‘šπ‘Žπ‘›π‘–π‘  π‘˜π‘Žπ‘šπ‘’, π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘’π‘  π‘˜π‘Žπ‘ π‘–π’‰ π‘Žπ‘—π‘Ž 𝑐𝑖𝑛𝑐𝑖𝑛 π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘ π‘Žπ‘‘π‘’π‘›π‘¦π‘Ž π‘™π‘Žπ‘”π‘– π‘’π‘›π‘‘π‘’π‘˜ πΆπ‘™π‘Žπ‘Ÿπ‘Ž, π‘π‘–π‘Žπ‘Ÿ π‘‘π‘–π‘Ž π‘π‘Žπ‘˜π‘Žπ‘– 𝑐𝑖𝑛𝑐𝑖𝑛 𝑖𝑑𝑒 π‘ π‘’π‘›π‘‘π‘–π‘Ÿπ‘–. π‘‡π‘’π‘Ÿπ‘’π‘  π‘π‘–π‘™π‘Žπ‘›π‘” π‘Žπ‘—π‘Ž π‘˜π‘’ πΆπ‘™π‘Žπ‘Ÿπ‘Ž π‘˜π‘Žπ‘™π‘Žπ‘’ π‘‘π‘–π‘Ž π’‰π‘Žπ‘Ÿπ‘’π‘  π‘—π‘Žπ‘‘π‘– π‘˜π‘’π‘˜π‘Žπ‘ π‘–π’‰ π‘˜π‘Žπ‘šπ‘’, 𝑔𝑖𝑑𝑒 π‘Žπ‘—π‘Ž π‘π‘’π‘Ÿπ‘’π‘ π‘˜π‘Žπ‘›?"


"Tapi bukannya cara seperti itu nggak ada romantis-romantisnya, ya?" Tanya Guy curiga.


"Kata siapa nggak romantis. Itu lebih romantis dari kata romantis sendiri. Nembak Clara itu harus pakai sedikit paksakan. Kamu tau Guy, sejauh ini banyak orang yang udah nembak Clara pakai cara romantis, tapi di tolak."


"Darimana kamu tau?"


Feng yang mulai gemas dengan Guy langsung menjitak kepalanya. "Aku kerabatnya, bego. Jadi tau lah!"

__ADS_1


Guy mengangguk-angguk percaya. Cara yang ditunjukkan Feng boleh juga.


Feng tersebut tipis. Salah sendiri percaya sama orang yang baru bertemu dengannya. Kena kan Lo. Hahahaha.


---------------------


--- Flashback off ---


---------------------


π΄π‘ π‘’π‘š 𝑑𝑒𝒉 𝑠𝑖 𝐹𝑒𝑛𝑔. πΎπ‘Žπ‘¦π‘Žπ‘˜π‘›π‘¦π‘Ž 𝑔𝑒𝑒 π‘‘π‘–π‘˜π‘’π‘Ÿπ‘—π‘Žπ‘– 𝑑𝑒𝒉. Batin Guy. Gedeg sekali batinnya pas mengingat cara yang ditunjukkan oleh Feng. πΎπ‘œπ‘˜ π‘šπ‘Žπ‘’-π‘šπ‘Žπ‘’π‘›π‘¦π‘Ž π‘Žπ‘—π‘Ž π‘¦π‘Ž, 𝑔𝑒𝑒 π‘‘π‘–π‘π‘œπ‘‘π‘œπ’‰π‘– π‘ π‘Žπ‘šπ‘Ž 𝑑𝑒𝒉 π‘π‘œπ‘π‘Žπ’‰? π‘π‘”π‘Žπ‘ π‘–π’‰ π‘Žπ‘Ÿπ‘Žπ’‰π‘Žπ‘›π‘›π‘¦π‘Ž π‘ π‘’π‘Ÿπ‘–π‘’π‘  π‘π‘Žπ‘›π‘”π‘’π‘‘ 𝑠𝑖𝒉, π‘‘π‘Žπ‘π‘– 𝑒𝑗𝑒𝑛𝑔-π‘’π‘—π‘’π‘›π‘”π‘›π‘¦π‘Ž π‘šπ‘Žπ‘™π‘Žπ’‰ π‘Žπ‘šπ‘π‘¦π‘Žπ‘Ÿ π‘˜π‘Žπ‘¦π‘Žπ‘˜ 𝑔𝑖𝑛𝑖.


Emang ya kalau mau nilai buku itu bukan dari covernya saja. Tapi isinya. Kena mental kan. Hadehh.


Guy melirik ke arah Clara yang menuruni tangga.


"Ngapain lihat-lihat, banyak utang ke?" Tanya Clara menirukan perkataan Gopal dalam serial Boboiboy pas ngeliat Feng.


"Santai aja kali CLA." Ucap Guy sambil mengalihkan perhatiannya ke televisi kembali. Setelah kejadian itu Clara jadi menyebalkan sekali. Bawaannya pengen ngajak perang mulut mulu.


Clara duduk disebelah Guy. Gadis itu berdecak malas saat melihat film yang lagi ditonton oleh Guy. "Sinetron ke sinetron, kayak nggak ada film yang lain aja." Ia merebut remote yang ada digenggaman Guy dan mengganti filmnya dengan anime.


"Iyalah, sinetron kan romantis." Jawab Guy sambil menjulurkan lidahnya ke arah Clara.


"Idih, bucin ke romantis-romantisan aja sok. Di anime saja ada yang membuat banjir satu kota gara-gara bucin. Bleee!" Clara ganti yang menjulurkan lidahnya.


"Halah, lalu apa kabarnya dengan seorang Uchiha Obito yang membawa dunia Shinobi perang dunia ke empat gara-gara seorang cewek bernama Nohara Rin?" Tanya Guy sambil menatap Clara dengan tatapan penuh kemenangan. Kena kan dia. Hahaha. Kalau soal anime Guy juga tau kok. Meski cuma Naruto sih.

__ADS_1


Clara langsung diam seribu bahasa. Dalam hari ia membenarkan perkataan Guy barusan. Iya juga ya. Obito kan membuat perang dunia Shinobi gara-gara bucin ke Rin. Jadi Naruto lebih unggul dong. Gila tuh si Obito. Dah bucin tingkat dewa kali, ya?


__ADS_2