
"I failed to mix aphrodisiacs with him, sis. And I think they're starting to suspect me." Ucap Rebecca pada seseorang yang kini ada dihadapannya. Seseorang yang amat disayangi dan dicintai dengan sepenuh hati.
"I also can no longer work with him. Sorry that I haven't been able to destroy his family company. My sister must be very disappointed in me. Imbuhnya lagi. Ia menundukkan kepalanya. Selama ini ia belum pernah melakukan kesalahan yang membuat kakaknya marah. Makanya Rebecca takut kakaknya itu akan kecewa padanya.
Jessica Novara Alexandria tersenyum manis pada sang adik yang menundukkan kepalanya. Ia mengusap lembut pipi sang adik dengan tangan kanannya.
"You don't have to worry like that, Rebecca. I even feel happy that you are willing to take part in my revenge. Thank you.
Rebecca mendongak menatap wajah cantik kakak kakaknya. "No need to thank me, sis. It was my duty as a sister. That bastard had to pay for it for dumping big brother for another woman."
Jessica menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa. Begitu bebas dari dalam penjara busuk itu, ia langsung pergi ke Indonesia untuk menyusul adiknya. Mereka tidak bisa membalaskan dendam secara langsung pada Angelo dan Sarah. Makanya mereka berdua berniat mencelakai kedua anak mereka. Dan sayangnya cuma Clara yang bisa mereka usik. Tapi itu lebih dari cukup karena keluarga itu sangat menyayangi anak gadis itu.
"If I'm not mistaken, that damn girl's name is Clara, right?" Tanya Jessica. Mereka berdua harus menyusun rencana secepatnya agar pembalasan dendam mereka cepat terlaksana dan novel ini tamat.
"Right. As soon as they set foot in Indonesia, it seemed that they immediately changed their nickname from Claire to Clara." Jawab Rebecca. Ia menunggu langkah selanjutnya dari sang kakak. Makanya ia menceritakan apa-apa saja yang ia ketahui tentang Clara.
"It seems that the actions of our people in the past caused a very deep trauma for him and his family. I've heard that the girl can no longer speak English. In other words."
Jessica mengangguk-anggukkan kepala. Ia sudah menemukan cara jitu untuk melukai perasaan keluarga itu. Wanita dengan senyuman licik itu tersenyum miring.
"We don't have to physically hurt him anymore, Rebecca. Just mentally enough and we both managed to make that happy family completely destroyed." Ucapnya sambil mengulas senyum misterius.
"What do you mean?" Tanya Rebecca sambil menatap kakaknya dengan tatapan heran. Ia tidak paham dengan maksud perkataan kakaknya.
"Let's make that poor damn girl remember in English. That way he must remember his past and feel again what is called trauma."
Rebecca mengerti sekarang. But how do you do it? Are you going to see him right away? I think he will immediately remember the physical abuse he received eleven years ago."
__ADS_1
"Shhh there's no need to rush, Rebecca. Right now we just need to remind him that he used to speak English and lived in America. How can I prepare everything." Jessica mulai menjelaskan rencana jahatnya pada sang adik. Dan Rebecca pun mendengarkannya dengan seksama. "Kamu sudah menulis surat pengunduran diri, kan?You already wrote your resignation letter, right?"
"Yesterday I immediately handed it over to one of the company's top brass. And now he must have accepted it.."
Jessica menganggukkan kepalanya. "Now, try to text him. Asked whether the letter had reached him or not. That way he will definitely call you."
Rebecca pun meraih ponselnya dan mengetikkan sesuatu pada Clara. Lalu memperlihatkan pada sang kakak. Sudah.
"If he calls later, make an appointment for lunch in a pretty quiet restaurant. Then hand this envelope to him."
Rebecca melirik ke arah amplop yang ada ditangan kakaknya. Benar dugaan Jessica, begitu mendapat pesan dari Rebecca, Clara langsung meneleponnya.
Clara: 𝐻𝑎𝑙𝑜? 𝐴𝑝𝑎 𝑖𝑛𝑖 𝑅𝑒𝑏𝑒𝑐𝑐𝑎? 𝐴𝑘𝑢 𝑠𝑢𝑑𝑎𝒉 𝑚𝑒𝑛𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎 𝑠𝑢𝑟𝑎𝑡 𝑝𝑒𝑛𝑔𝑢𝑛𝑑𝑢𝑟𝑎𝑛 𝑑𝑖𝑟𝑖𝑚𝑢. 𝑇𝑎𝑝𝑖 𝑘𝑒𝑛𝑎𝑝𝑎 𝑘𝑎𝑢 𝒉𝑒𝑛𝑔𝑘𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑝𝑒𝑟𝑢𝑠𝑎𝒉𝑎𝑎𝑛 𝑘𝑢?
Rebecca: A, ada yang mau aku bicarakan dengan mu. Jadi apa besok kita bisa bertemu di jam makan siang?
Rebecca: Di jalan Kenanga no 103.
Clara: 𝑏𝑎𝑖𝑘𝑙𝑎𝒉, 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑎𝑖 𝑘𝑒𝑡𝑒𝑚𝑢 𝑏𝑒𝑠𝑜𝑘, 𝑅𝑒𝑏𝑒𝑐𝑐𝑎.
Rebecca: sampai ketemu besok.
Setelah panggilan telepon terputus, Rebecca menghela nafas panjang dan melirik ke arah kakaknya yang kagum atas kehebatannya dalam menguasai bahasa Indonesia. Harusnya kakaknya itu ingat kalau dirinya pernah mempelajari bahasa Indonesia disekolah.
Baik Jessica maupun Rebecca, kedua bersaudara itu tidak sabar menunggu hari esok. Betapa bodohnya Clara mau diajak makan siang bersama tanpa rasa curiga sama sekali.
*****
__ADS_1
"Clara! Cepetan turun. Kamu nggak makan malam apa?" Teriakan Guy terdengar dari ruang makan. Bersamaan dengan sambungan telepon Clara yang terputus. Gadis itu berdecak malas. Ia meletakkan teleponnya diatas nakas dan mengganti pakaiannya dengan baju santai. Masa' bodoh dengan mandi. Toh nggak mandi sekali pun badannya tetap wangi.
Setelah selesai berganti pakaian, Clara pun berjalan keluar kamar dan menuju ke ruang makan. "Teriak-teriak mulu, Guy. Kayak di hutan aja." Gerutu Clara sambil duduk di kursi yang biasa ia tempati.
Ruang makan begitu sepi. Hanya ada dirinya saja dengan Guy. Rasanya Clara rindu dengan keluarganya. Rindu dengan Daddy, Mummy, Ommy, Angky, dan Raymond. Clara dan Guy makan malam dalam diam.
Selagi makan, Clara tak henti-hentinya memikirkan ajakan makan siang dari Rebecca. Kok perasaannya jadi tidak enak, ya?
Tapi karena ia sudah janji, makanya Clara usahakan pergi ke sana. Gak enak kan dengan Rebecca. Yahh anggap saja acara makan siang mereka besok semacam perpisahan karena Rebecca tidak lagi bekerja dengannya.
*****
Keesokan harinya. Clara berjalan keluar kantor sambil berbicara dengan seseorang ditelepon.
"Aduhh, maaf ya, aku nggak bisa makan siang bareng kalian. Ada janji soalnya." Tolak Clara saat Amber mengajaknya makan siang bersama disalah satu restoran milik Rey.
Clara masuk ke dalam mobil dan melakukannya di restoran yang sudah diberitahu oleh Rebecca. Clara tidak pernah makan disana sih, tapi yah, sudahlah. Itung-itung mencari udara segar.
*****
Rebecca sama sskali tidak menyangka gadis yang menjadi incarannya dan sang kakak menerima ajakannya. Mungkin gadis itu benar-benar polos. Pukul 10.30, wanita itu berangkat sendirian dengan mobil sport miliknya.
Rebecca datang dua puluh menit lebih awal dari yang sudah dijanjikan. Ia sampai disebuah kafe yang terletak di daerah yang tak begitu ramai. Saat membuka pintu kafe, ia mendapati hanya ada beberapa pengunjung yang ada di sana. Yah, setidaknya masih ada pelayan yang menyambutnya dengan sebuah senyuman.
Rebecca duduk disalah satu meja yang ada di sana. Didalam tasnya terdapat amplop misterius yang diberikan oleh kakaknya kemarin malam. Sebuah amplop yang diyakini bisa membuat Clara ingat dengan bahasa Inggris.
Lama menunggu, akhirnya yang ditunggu-tunggu pun datang juga. Clara meminta maaf atas keterlambatannya datang kesana.
__ADS_1
"Tidak apa-apa kok, santai saja. Lokasi tempat ini juga lumayan jauh dari pusat kota." Kata Rebecca seraya mengumbar senyum ke arah Clara.