
"Sudah cukup, Clara!"
Suara itu menghentikan aksi Clara yang hendak memukul salah satu perampok yang masih tersisa sampai babak belur. Gadis itu menoleh ke belakang dan mendapati Nicolas sedang menatap tajam ke arahnya. Mampus.
Clara nyengir tanpa dosa. Karena lengah, pencuri itu dengan sigap mengambil pisau dan menggores tangan Clara hingga berdarah. Gadis itu meringis kesakitan. Ia langsung menghantam kepala perampok itu hingga pingsan seketika.
Melihat darah segar yang mengalir di lengan keponakannya, Raymond langsung menghampiri Clara dan memeriksa lukanya. Meski tidak cukup dalam namun terlihat menyakitkan baginya.
Raymond bergegas mengambil kotak P3K dan mulai mengobati luka ponakannya dengan telaten. Sesekali Clara meringis saat Nicolas mengoleskan antiseptik dilukanya. Sedangkan Guy dan Bryan membekuk kelima perampok itu dan menyerahkan ke pihak berwajib yang langsung datang setelah mendapatkan laporan dari Clara.
"Raymond mana?" Tanya Nicolas saat tidak mendapati keponakannya yang satu lagi tidak ada di sana. Ia takut terjadi sesuatu pada Clara dan Raymond disaat kakak dan kakak iparnya pergi ke Amerika.
"Nggak tahu Ang, kayaknya dia dikamar Paula deh!" Jawab Clara. ia sempat melihat adiknya naik troli tadi.
"Guy, please go to Paula's room. What's wrong with him?" Pintanya. Guy mengangguk dan pergi ke kamar Clara setelah melirik sekilas ke arah Clara yang terluka karena melawan penjahat.
Dibandingkan dulu, Claire-nya sudah semakin kuat dan pemberani.
Bryan yang mendengar kalau Raymond di kamar Paula jadi berpikiran yang macam-macam. Sama seperti yang lain, ia juga takut bila terjadi sesuatu pada adiknya itu.
Tanpa berpikir panjang lagi, pemuda itupun menyusul Guy pergi ke kamar adiknya. Disana ia hanya mendapati kamar Paula yang berantakan karena isi tasnya pada jatuh semua gara-gara ulah tak disengaja Raymond yang masih pingsan ketiban tas-tas.
Bryan makin panik saat tidak mendapati adiknya ada di sana. Namun, kepanikannya mendadak sirna saat mendengar suara adiknya yang berasal dari tangga.
"Please let me go! I'm tied up!"
Bryan langsung pergi ke tangga dan mendapati adiknya yang terikat disana. Ingin rasanya Bryan tertawa melihat ekspresi wajah Paula yang menggemaskan itu, tapi ia juga kasihan. Bryan pun langsung melepaskan ikatan adiknya dan membantu Paula berdiri.
Betapa kagetnya Paula saat melihat koleksi berharganya pada jatuh semua. Ia jadi heboh sendiri dan menyalahkan Raymond yang tidak hati-hati. Clara yang mendengar adiknya disalahkan jadi kelas sendiri.
"Cielah, tinggal di beresin lagi Napa? Sudah amat!" Cibirnya. Ia sedih saat melihat adiknya yang tidak sadarkan diri dalam gendongan Guy. Clara tersenyum getir, pasti ia akan selalu menjaga dan melindungi adiknya itu.
"Baringkan saja ia dikamar ku, Guy!" Pinta Clara yang dibalut perban, Clara pun menyusul mereka berdua diikuti oleh Nicolas yang penasaran dengan kondisi ponakan laki-lakinya itu.
Clara tersenyum saat melihat adiknya tidur dengan sangat nyenyak. Rupanya acara pingsan Raymond berlanjut jadi tidur. Mana nyenyak banget lagi.
Clara mengusap rambut Raymond dengan penuh kasih sayang. Ia menyelimuti tubuh Raymond dan mencium pipinya dengan lembut.
__ADS_1
"Kamu juga istirahat, Cla. Kan habis tempur!" Saran Nicolas dengan nada sedikit mengejek. Clara hanya mengangkat bahu dan ikutan berbaring disamping Raymond yang usianya hanya terpaut tiga tahun darinya.
*****
Pagi itu, Nicolas dan Clara sedang bekerja sama dalam menyiapkan sarapan untuk semua penghuni rumah besar nan mewah ini. Meski Nicolas sudah meminta Clara untuk diam saja karena tangannya yang masih terbalut perban, tapi Clara tidak menurutinya sehingga kini Clara ikut masak di dapur.
"Clara masih gak nyangka lho, kalau Angky bisa masak!" Puji Clara.
"Iyalah, emangnya kamu yang gak bisa ngapa-ngapain?" Sindir Nicolas. Wahh, ngajakin gelud nih dosen.
"Idih, siapa juga yang gak bisa ngapa-ngapain? Clara juga bisa masak kali!"
"Jangan sombong kamu, ditanya arti Good Morning saja gak tau!" Ejek Nicolas. Ini mereka lagi nyiapin sarapan apa mau latihan debat presiden sih? Ntar makanannya gosong mampus.
"Idih! Clara tahu kali artu good morning!"
"Iyalah tahu, kamu kan pakai alat bantu penerjemah!"
Clara menatap Pamannya dengan tatapan sinis.
"Udah lah Cla, daripada kamu ngajakin Angky ribut terus, mending kamu bangun kan adik kamu sana. Ntar dia telat lagi!"
CLARA PASTIKAN AKAN MEMBELI SIANIDA BESOK!!!
Clara menghentakkan kakinya dan menuju kamarnya yang ada di lantai atas. Meninggalkan Nicolas yang hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah keponakannya yang kini sudah menginjak usia sembilan belas tahun.
Itu berarti kejadian tragis itu sudah lewat sembilan tahun yang lalu.
Waktu yang panjang. Nicolas dan seluruh anggota keluarga Wiratama lainnya berharap kalau Clara tidak pernah dan tidak akan pernah mengingatkan kembali masa lalunya yang benar-benar kelam dan menakutkan bagi anak seusianya.
"Dek, bangun dek!" Clara menggoyang-goyangkan adiknya. Bukan Raymond Sea Wiratama namanya kalau disuruh bangun langsung bangun. Pasti dia akan menutup wajahnya dengan bantal.
"Ayo dong bangun!" Clara menarik pelan bantal yang menutupi wajah ganteng adiknya. Raymond membuka matanya sipit, lalu tidur lagi.
Rese banget nih bocah.
"Bangun adek, ini sudah pagi lho!" Clara berdiri di atas tubuh Raymond dan menariknya.
__ADS_1
Gagal.
Nih anak lagi tidur atau mau latihan mati sih? Sudah banget dibangunin.
Oke, mati satu tumbuh seribu. Untung ada nenek ku, eh? Clara mendekatkan bibirnya ke telinga Raymond. Kalau cara halus tidak bisa, cara sedikit kasar gak apa-apa kan?
"DEK, KEBAKARAN DEK! RUMAH KITA KEBAKARAN!!"
Ajaib, mata Raymond langsung terbuka lebar dan membuat kegaduhan sendiri, "KEBAKARAN? MANA KEBAKARAN? MANA, MANA?"
Melihat itu, Clara langsung tertawa ngakak. Lucu banget sumpah. Raymond menatap kakaknya dengan tatapan sinis setelah sadar kalau dirinya sedang di bohongin oleh kakaknya sendiri. Ia hendak tidur kembali, namun urung karena Clara buru-buru menarik tangannya dan melarangnya tidur kembali.
"Kamu gak liat apa hari sudah pagi? Kamu gak sekolah emangnya? Katanya bentar lagi ada ujian kan?"
Benar juga. Meski sedikit enggan, Raymond pun keluar kamarnya dan bersiap-siap hendak berangkat ke sekolah. Setelah adiknya keluar kamar, Clara langsung menyambar handuk dan mandi. Ia ada jadwal siang hari ini. Meskipun begitu, Clara sudah janji pada dua sohibnya untuk mengerjakan tugas bareng di kampus. Kalau pun nanti masih ada waktu, Clara masih bisa melanjutkan tidur di perpustakaan.
*****
Nicolas merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu. Jam masih menunjukkan pukul setengah delapan. Clara hari ini tidak ada jadwal kuliah pagi. Mata Nicolas melirik ke arah Clara yang sudah rapi dengan tas dan beberapa buah buku ditangannya. Mau kemana ponakannya itu pagi-pagi gini? Parfumnya juga wangi banget. Curiga Nicolas.
"Mau kemana?" Tanya Nicolas.
"Mau kencan sama sahabat!" Jawab Clara sambil tersenyum manis.
"Mau kencan kenapa mesti mau bawa buku segala?!" Tanya Nicolas lagi.
"Ya mau ke kampus lah, mau mengerjakan tugas."
"Tugas dari siapa?"
"Tugas dari Angky Nicolas lah!" Saut Clara nyolot, "Nih ya Ang, Clara kasih tahu. Kalau ngasih tugas sama mahasiswa itu jangan banyak-banyak dong. Udah banyak, susah banget lagi! Lama-lama kami jadi stress gara-gara banyak tugas dari dosen. Apalagi dosennya kejam banget kayak Angky lagi!" Cerocos Clara. Sumpah, sejak awal mula jadi mahasiswa Clara pengen banget ngomong ini. Ngeluarin unek-uneknya yang sudah lama terpendam.
"Itukan tugas kamu sebagai mahasiswa, kenapa malah nyalahin dosen?" Nicolas menatap Clara dengan tatapan tajam, "Lagian Angky enggak kejam kok. Enak aja bilang Angky kejam!"
"Iyalah, kuasa dosen dengan segala kebenarannya!" Cibir Clara.
"Ngomong apa tadi?"
__ADS_1
"Nggak!" Elak Clara. Bisa-bisa nilainya semakin dikurangi sama paman sekaligus dosen bahasa Inggris-nya ini. "Ya udah, Clara pergi dulu, Bye!"