
Hari ini, Clara dan Amber tengah berada di butik terkenal yang ada di kota Jakarta untuk membeli gaun yang akan dipakai Clara dalam ajang ratu dan raja kampus yang diadakan besok malam.
Sudah beberapa kali Clara keluar masuk ke dalam ruang ganti, namun tidak ada satupun gaun yang cocok dimata Mummy-nya.
Clara menatap pantulannya dicermin. Mengamati long dress warna merah muda lengan pendek. Ini dress yang kelima setelah empat kali ganti. Semoga saja ini cocok dimata Sarah.
Kaki Clara melangkah keluar. Berdiri tegak lurus didepan Mummy-nya itu. Sarah melihat Clara dari atas kebawah, dahinya berkerut. "Gaun apa ini? Kamu mau nikah?"
"Baguskan, Mum?" Clara tersenyum lebar sambil menatap long dress itu.
Sarah menggelengkan kepalanya, "Ganti."
Clara tercengang. Ia menatap Mummy-nya dengan tatapan malas, "Astaga Mummy, masa' Clara disuruh ganti lagi, sih?"
"Ganti Clara, ganti!" Sarah menggelengkan kepalanya kuat-kuat, "Warnanya tidak cocok sama kamu!"
Clara memutar bola matanya malas sambil menatap Sarah. Rasanya banyak sekali alasan yang dikatakan Mummy-nya itu. Mulai dari ukurannya yang kekecilan lah, terlalu terbukalah, dan masih banyak lagi. Meski ia malas, Clara akhirnya masuk kembali kedalam ruang ganti.
Ini gaun yang terakhir. Kalau Sarah masih memintanya ganti maka Clara akan meminta Mummy-nya untuk memilihkan gaun yang pantas untuknya. Percuma saja kalau Sarah meminta Clara untuk memilih sendiri baju yang mau ia pakai sedangkan dari tadi disuruh ganti mulu.
"Ini yang terakhir, Mum!" Clara menatap Mummy-nya dengan tatapan penuh arti.
Sarah mengangkat sebelah alisnya heran saat melihat dress yang dipakai Clara. Dress itu berwarna hitam dengan motif sederhana diatas lutut. Dress ini lebih sederhana dari long dress yang tadi Clara pilih.
"Bagus," Sarah mengangguk. Clara membuang nafas lega. Akhirnya, "kamu nyaman pakai dress itu?"
"Nyaman kok Mum, gak sempit juga dipakai." Jawab Clara sambil tersenyum.
"Ya sudah, ayo dibayar!" Sarah bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kasir, Clara mengikutinya dari belakang. Setelah membayar, mereka berdua pun langsung pulang ke rumah.
*****
"Kakak jadi beli gaun?" Tanya Raymond saat Clara dan Sarah sudah sampai dirumah.
__ADS_1
"Sudah dong!" Clara tersenyum sambil memamerkan giginya yang rata. Tanpa diminta, ia segera memperlihatkan gaun yang tadi ia beli.
"Kok sederhana gini sih, kak?" Tanya Raymond saat mengamati gaun itu.
"Baguskan, daripada kakak kamu pakai long dress yang biasa untuk orang nikah?" Sahut Sarah. Ia sama sekali tidak menduga kalau putrinya akan terpilih menjadi kandidat ratu kampus bersama Paula. Yah, meski itu gara-gara Amber yang sengaja mencalonkan Clara tanpa permisi sih
Tidak hanya itu saja, Bryan dan Guy bahkan ikut serta menjadi kandidat raja kampus bersama Reynaldy. Sungguh, suatu kebetulan yang amat kebetulan.
Anak dan tamunya cantik dan ganteng sih, makanya wajar saja kalau mereka jadi idola. Hanya saja, Sarah yakin kalau putrinya sama sekali tidak menyadarinya.
Tanpa mereka sadari, Paula tengah bersembunyi di balik dinding dekat tangga. Ia tampak iri melihat gaun sederhana yang ada ditangan Raymond.
Gaun itu tampak serasi dengan Clara. Karena itulah ia sudah merencanakan sesuatu untuk memenangkan kontes tersebut.
"Whatever happens, I will definitely beat you in the contest. We will see!"
"Sini gaunnya, mau kakak simpan!" Kata Clara sambil mengambil gaun yang tengah diamati oleh Raymond. Raymond pun segera menyerahkannya pada Clara.
Clara masuk ke dalam kamarnya dan menyimpan gaun tersebut dilemari pakaian. Meski enggan, mau tidak mau ia harus ikut dalam kontes tersebut. Masa' bodoh dengan hasil menang atau kalahnya.
Setelah merasa aman, Paula diam-diam masuk ke dalam kamar Clara yang kebetulan tidak dikunci. Ia membuka pintu lemari pakaian dan melirik ke arah Clara yang tidur dengan sangat nyenyak.
Dengan senyum devil nya, ia mengambil gaun yang tadi dibeli Clara dan mengguntingnya dengan asal-asalan. Rusak sudah gaun Clara yang hendak dipakai di kontes raja dan ratu kampus.
Dasar tamu gak ada akhlak!
Setelah dirasa cukup, Paula pun menyimpan kembali gaun itu dan keluar dari kamar Clara seolah tak terjadi apa-apa. Namun, ia tiba-tiba kepergok oleh kakaknya yang hendak pergi ke dapur karena merasa haus.
"Paula? What are you doing at this time of night?" Tanya Bryan sambil menaikkan sebelah alisnya. Ia heran saat melihat gelagat aneh adiknya yang sepertinya menyembunyikan sesuatu.
"No, nothing. What are you doing at this time of night wandering around in someone's house?"
"I am thirsty. In the room there is only a soft drink." Jawab Bryan jujur.
__ADS_1
Paula hanya ber 'oh' menanggapi perkataan kakaknya.
"Go to sleep, Paula. Tomorrow you are also participating in the contest held by the campus, right?!" Perintah Bryan.
"That is true. I hope one of us will win!" Ucap Paula.
"Are you sure you can win? Your opponent is Clarissa Rasandra Wiratama, you know!"
Paula menyunggingkan senyum misterius, "You don't have to think about me. So just think about Guy and Rey who are brother's opponents lawan As for Clara, I've thought of a strategy to defeat her!"
Bryan mengangkat bahunya acuh tak acuh. "Alright, then I'll go to my room first, okay? Good evening, Paula!
"Good night older brother!"
Sebelum pergi ke kamar, Bryan sempat menghadiahi Paula sebuah ciuman di pipinya. Ini biasa ia lakukan sebagai wujud sayangnya pada sang adik.
"Yes, I will definitely win!" Gumam Paula. Senyuman itu masih terukir di bibirnya. Gadis itupun segera pergi ke kamarnya dan tidur dengan tenang dan damai.
*****
Guy memaksakan matanya untuk terpejam. Usahanya baru berhasil swtekah memakan'waktu berjam-jam lamanya. Guy akhirnya tertidur dan jatuh ke alam bawah sadar yang pernah didatangi oleh Clara.
Guy bangun dan berdiri disebuah ruangan yang tidak berujung. Gelap tanpa adanya penerangan. "This place ..." Guy bergumam sambil mengamati sekeliling tempat ini.
"We can finally meet here, Guy Ethan." Suara lembut seorang wanita membuat Guy menoleh dan berdiri waspada. "You must always be vigilant, Guy!"
Suara wanita penyihir itu berubah menjadi tegas dan sedih, Guy diam saat merasakan aura disekelilingnya berubah aneh dan tidak nyaman. "You should always be aware of the people around you, Guy."
"Did you call me here?" Tanya Guy sambil mengernyitkan keningnya heran.
"If you don't want something bad to happen to your childhood sweetheart then you have to do something!" Wanita penyihir berambut hitam itu memperingatkan. Guy menaikkan sebelah alisnya dan memilih untuk diam mengamati wanita yang ada dihadapannya itu.
"Soon your most important enemy will show his existence, Guy. That's why you must always take care of the daughter who is destined for you. That evil woman, s would again reveal himself in front of Clara and the others. Don't let the past repeat itself, Cool Guy Ethan!"
__ADS_1
"What do you mean? I do not understand! Wait!" Guy tidak mengerti dan makin frustasi saat kabut putih tiba-tiba datang menghampirinya. Wanita penyihir itu tiba-tiba menghilang dari pandangan. Guy pun kembali ke dunianya.
"Wait!" Guy berteriak dan terbangun dengan keringat dingin yang membanjiri tubuhnya. Sebenarnya apa maksud ucapan wanita yang seperti penyihir itu?