
Bahagia, haru dan bersyukur akhirnya adek ku lulus juga, dan sebentar lagi akan menjadi pengayom masyarakat.
Sedari dulu memang cita-cita adek ku ini adalah polisi, dan lulus pas seleksi Akpol, karna itu saya bertekad akan bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan nya selama menempuh pendidikan di Akpol
Setelah Gomgom sudah jadi polisi pengayoman masyarakat, baru saya berencana akan mengakhiri masa jomblo ku ini, bukan jomblo sebenarnya ada juga yang ku tunggu, seseorang dambaan hatiku, yaitu menunggu Rohani pariban itu selesai kuliah kedokteran di universitas Negeri di Medan.
Ku lirik jam tangan ku, pemberian pak Didit saat aku ulang tahun lima bulan yang lalu, ternyata sudah jam 7 malam, tak terasa waktu berlalu.
Ku ambil Handphone yang disaku celana, ku cari kontak nomor Bapak, lalu ku hubungin.
"Pucuk di cinta ulang pun tiba, ni rencananya mamak mau menelpon Abang?"
Terdengar suara mamak diseberang, sebagai anak paling besar di keluarga sehingga bapak dan mamak biasa memanggil ku Abang.
Rasa rindu dan bahagia yang ingin ku luapkan, hanya mendengar suara nya aja sangat bahagia, di tambah kabar Gomgom yang sudah lulus sidang skripsi Akpol, tak sabar rasanya memberitahu mamak.'
"Bang Mora....
Ada dua kabar, kabar baik dan kabar buruk, mau dengar mana duluan?"
"Tumben mamak pake bahasa Indonesia?"
"Dah terbiasa mamak ber bahasa Indonesia, karna jualan di pajak mang, yang mana mau dengar duluan?"
Pajak itu adalah pasar, begitu sebutan orang Medan untuk pasar, Gomgom mencolek pinggangku dan mengisyaratkan untuk mengaktifkan loud speaker handphone.
"Kabar baik nya duluan Mak."
"Kabar baiknya bang....
pariban mu itu sudah wisuda, tambah cantik mamak tengok dia, bentar lagi jadi dokter dia, kemudian mamak tanya lah, kek gini mamak tanya sama pariban itu, Anggi ku rohani yang cantik, bentar lagi jadi dokter masih mau nya kau sama pariban mu itu?" * dialog Medan.* tengok artinya melihat."
(pariban adalah panggilan kepada Sepupu perempuan dan kebal sebaliknya juga, keponakan dari Mamak. anak perempuan dari saudara laki-laki pihak Mamak).
menurut tradisi Batak Toba, pariban ini yang bisa menikah. tradisi Batak dahulu kala, paling pantang menolak pariban. tapi itu sekarang sudah berbeda, tradisi nya sudah mulai bergeser.)
Pariban mu itu menunggu mu Anggi, dan juga menunggu wisuda si Gomgom.
Tau kau bang jawaban apa?"
(menurut tradisi Mamak akan memanggil keponakan atau anak dari saudara laki-lakinya yang perempuan dengan panggilan Anggi yang artinya adik, sebab mamak akan semarga dengan ponakan perempuannya.
jika anak laki-laki, maka akan di panggil bapak, sebab pengganti dari saudara laki-lakinya kelak Nantinya adalah ponakan laki-laki nya).
"jawabannya apa Mak?
'Dengan ber api-api atau bersemangat saat mamak menceritakan tentang pariban Ku itu.'
"Iya bou, rencananya nanti ku kasih kejutan untuk bang Mora dengan mengirimkan photo wisuda ku sama nya, kek gitu di bilang sama mamak bang."
Dan Gomgom pun mengambil handphone ku karna tidak sabar ingin ngobrol dengan mamak.
"Mak.....bilang sama pariban nya bang Mora kalau adek nya juga sudah lulus."
"Kau nya itu Gomgom?"
"Iya Mak... Gomgom juga sudah lulus sebentar lagi wisuda, mamak sama bapak harus datang ya, jangan lupa bawa pariban Abang ya."
"Terimakasih Debata....Anak ku bentar lagi jadi polisi dan buah baju ku akan menikah, muliate amang."
(Debata artinya Tuhan dalam bahasa Batak Toba).
Pak Didit dan Bu Rida, Iren, Aris, mbak Tarni dan lainnya tersenyum, ku ambil kembali handphone dari Gomgom.
" Oh ya Mak...tadi mama bilang ada kabar buruk juga, apa itu Mak?"
__ADS_1
Jujur agak sedikit malu, karna mamak pasti akan cerita tanpa henti, membahas pariban itu, buah baju itu artinya anak pertama, muliate artinya terimakasih, mamak ku memang selalu mencampur bahasa Indonesia dan bahasa Batak.
"Kalau itu Biar lah bapak mu yang cerita ya bang, pak...Mora.....oh....pak Mora, ni anak mu bertelepon...."
"Bentar Mak Mora lagi nyetor...."
(tradisi Batak Toba, panggilan suami-istri adalah nama anak pertama, makannya bapak memanggil dengan panggilan Mak Mora)
"Abang dengar itu kan, Lagi berak rupanya bapak mu"
Terlihat yang ada meja ruangan ini mencoba menahan untuk tertawa.
Tau bang, rupanya cinta kali pariban itu sama mu bang, dibilang nya loh sama mamak, sambil ditunjukkannya photo kalian itu yang berdua di danau Toba itu bang, mesra kali ku tengok klen. * dialog Medan.
( mesra kali ku tengok klen. yang artinya, mesra banget mamak lihat kalian).
Dan lagi-lagi mereka menahan ketawa dengan menutup mulut nya masing-masing kecuali Gomgom yang tertawa lepas.
"Bisa juga rupanya Abang bermesraan ya, tapi belum jebol Abang buat kan?" *dialog Medan.
(Belum jebol artinya belum berhubungan suami istri).
hahahahaha hahahaha hahahaha
Akhirnya mereka tidak bisa menahan tertawa nya, karna pertanyaan mamak ku ini.
"Lagi dimana bang, kok rame kali?" * dialog Medan, kali artinya 'banget'
"Di rumah pak Didit Mak."
"Ya Tuhan ku" ucap mamak melalui telepon yang terdengar malu akan ucapannya.
Pak Didit mengambil handphone ku dan menempelkan nya di kuping kirinya.
"Sehat bapak Aris, mamak nya Aris dan Iren apa kabar nya?"
"Sehat-sehat juga."
"Saya hanya mau menyapa aja, silahkan di lanjutkan ngomong sama Mora nya."
Pak Didit pun menyerahkan handphone kembali, bapak dan mamak memang sudah kenal dengan keluarga pak Didit, karena tahun lalu mamak dan bapak ku ajak jalan-jalan ke Jakarta dan ku pertemukan dengan keluarga pak Didit.
"Halo Mak..."
"Ya bang.....
Mamak dah bisa ngomong lagi kan?
Kata si Rohani pariban mu, kamu hanya mencium nya saja?, Ngak percaya mamak lah makanya kutanya sama Abang"
Belum juga di jawab, mamak dah trus ngomong, ku lirik disekitar ku.lagi dan lagi mereka hanya menahan tawa, dan tiba-tiba handphone ku mati, eh hhh rupanya lowbet.
"Halo....halo...halo Mak, ya lowbet."
Hahahahaha... hahahaha
Hahahaha..... hahahaha
Akhirnya semuanya tertawa lepas, karena memang sudah lama menahan nya, ku tundukkan wajah ini karna merasa malu, dan juga bahagia karena, bisa mendengar suara mamak lagi serta kabar dari pariban itu.
dan tiba-tiba juga handphone nya Gomgom bunyi pertanda ada telepon masuk.
"Bang....mamak nelpon."
"Angkat aja Gom."
__ADS_1
"Halo Mak....
"Gom....kasih kan dulu ma Abang, mamak belum selesai ngomong"
'Gomgom pun menyerahkan handphone nya'
"Halo Mak......
"Bang.... Kok mati telepon nya?"
"Lowbet Mak....
"Apa itu lobet?
"Lowbet mak bukan lobet artinya Baterei nya habis mamak ku."
"Oh.....
Bang tau ngak, tadi siang mamak sama bapak kan ikut tuh di wisuda pariban mu itu, ini pun kami baru pulang dari rumah tulang mu, ngasih upah-upah kami mang.
Sehabis makan tadi ku tanya-tanya lah kan."
(Tulang adalah panggilan kepada saudara laki-laki dari pihak Mamak dan pasangan Nya ku panggil Nantulang).
"Apa mamak tanya?"
"Abang diam dulu, mamak belum selesai bicara."
(kalau orang Medan bilang, Mamak ku ini ngomong nya ngegas yang artinya ngomong aja terus tanpa ada batasnya).
"Iya Mak lanjut lah Mak."
"Kek gini mamak bilang, Anggi kamu dah wisuda, trus pariban mu itu kek mana?
Trus di bilang pariban mu,' ya ..kalau bang Mora dah siap aku juga siap bou.
Mamak tanya lagi ya kan, Trus kek mana lah dokter mu ini?"
(bou atau Namboru adalah panggilan kepada saudara perempuan dari pihak Bapak dalam tradisi Batak Toba.).
"Apa jawaban nya ma?"
"Abang tau kan kalau Tante mu Mak Randes dan juga bapak Uda mu dokter di Jakarta, Pariban mu dah mintak tolong katanya, supaya pariban itu bisa Keos di Jakarta."
(Tante adalah panggilan kepada adik perempuan Mamak dan Sepupu perempuan dari Mamak.
bapak Uda adalah panggilan kepada adik laki-laki dari Bapak serta adik sepupu laki-laki dari Bapak* tradisi Batak Toba).
Hahahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha
Gomgom tertawa lepas, sementara yang lain masih menahan diri.
"Mak....bukan Keos, tapi Koas"
'sembari Gomgom menjelaskan ke mamak.'
"Itu lah itu, yang penting belajar kek dokter-dokter itu lah.
Kata pariban mu itu supaya dekat katanya sama Abang.
"Oh...."
"Abang senang kan?
Iren yang memang sifat nya rada-rada jail melirik ku sambil tersenyum, kemudian mengangkat kedua jempol nya, kemudian di ikuti yang lain, malu dan bercampur bahagia, itu lah yang kurasakan.
__ADS_1