
POV Rohani.**
Setelah selesai menikmati hidangan Kafe, bersama Rohani, akhirnya mereka kembali ke apartemen.
Sesampainya di apartemen dan baru saja duduk di ruang tamu tersebut, bel pintu berbunyi dan dengan sigapnya Joan membuka pintu tersebut.
Ternyata ada paket untuk Joan, terlihat dari kemasannya pengirim bernama Felix Siauw. Rohani yang penasaran menghampiri adiknya itu.
"paket dari mana?"
"hadiah dari Koko Felix."
Jawab Joan kepada Rohani, dengan santainya dan tentunya dengan senyuman sumiringah.
"siapa itu Felix? dan kenapa Felix itu memberikan kamu hadiah?"
Iren bertanya sembari duduk disamping Rohani, terlihat Iren sangat penasaran akan hadiah yang di terima Joan.
"Koko Felix itu rekan bisnisnya bang Mora, dan hadiah ini diberikan koko Felix atas kemenangan Joan lomba nyanyi lagu Batak kak."
Lagi-lagi Joan menjawab pertanyaan dari Iren dengan begitu santai dan hadiah itu terbuka juga yang merupakan sebuah gitar.
Joan terlihat begitu bahagia saat gitar itu sudah berhasil di terbuka, akan tetapi raut wajahnya Rohani terlihat semakin penasaran.
"rekan kerja bang Mora? maksudnya apa Joan?"
Joan menatap kakaknya yang bertanya itu, kemudian dengan menghela nafas panjang Joan kembali melihat gitar nya.
"masa kakak ngak tahu? mangnya mamak ngak cerita ke kakak?"
"cerita apa Joan? oh iya, mamak pernah mintak ngobrol serius sama kakak. tapi karena kakak terlalu sibuk untuk skripsi akhirnya mamak ngak ngobrol."
"okey begini kak, jadi tanah oppung yang dikampung kan terkena proyek untuk pembuatan pembangkit tenaga listrik. jadi hasil penjualan tanah tersebut kan di bagi-bagikan kepada cucunya yang laki-laki.
Sebenarnya ada juga bagian cucu perempuan, tapi tidak sebanding dengan bagian cucu laki-laki.
Lahan apertemen ini adalah tanah milik bang Mora, dan koko Felix itu adalah sahabat bang Mora waktu masih SMA.
Koko Felix itu itu pengembangan jadi koko Felix menawarkan pembangunan Apertemen di lahan ini.
Akhirnya terbangunlah apertemen ini, bangunan ini adalah milik dari Koko Felix.
Tapi Koko Felix ingin membangun usaha calon istrinya, serta kafe yang kunjungi itu. dan koko Felix kekurangan modal.
__ADS_1
Koko Felix curhat ke bang Mora, nah katanya bang Mora mendapatkan bonus yang lumayan dan pendapat lainnya dari sewa apartemen ini.
Tapi jika itu di kumpulkan belum cukup juga untuk Koko Felix, dan bang Mora menghubungi bapak.
Berhubung bapak sudah banyak dapat uang dari penjualan tanah di kampung, akhirnya bapak memberikan semua uang itu ke bang Mora.
begitu dengan uang yang diterima Bou, akhirnya semua uang yang terkumpul telah mencapai jumlah yang di inginkan oleh Koko Felix.
Koko Felix akhirnya menyerahkan apertemen ke ini ke bang Mora sepenuhnya, dan membuat perjanjian bagi hasil dengan bapak, serta bou.
Begitulah ceritanya kakak ku sayang?"
Mendengar penjelasan dari Joan, kakaknya langsung menatap pak Aris.
"Kenapa Rohani? kamu takut kalau Mora korupsi di tempat kerja nya? jawabannya tidak.
Selain menjadi asisten pribadi bapak, Mora adalah bagian dari program startup. strategi dan program dari Mora sangat luar biasa.
Wajah dong kalau bapak memberikan Mora bonus, selain bonus Mora juga memperoleh persen fee dari program tersebut serta bonus dari bapak secara pribadi karena kinerja Mora yang luar biasa.
Kekasih mu itu tahu saja ya investasi yang bagus, salut dan benar-benar ide yang luar biasa."
Rohani langsung tersipu malu ketika mendengar penuturan dari pak Didit, dan lagi-lagi itu menjadi perhatian dari Iren dan tentunya menjadi bahan olok-olokan nya.
Tentunya dong Mora berhak mendapatkan bonus akan ide nya itu, tapi memang Mora benar-benar luar biasa cara pemikiran nya.
Investasi apertemen ini merupakan pilihan yang bagus dan tepat."
"selain Apertemen ini, ada juga supermarket, coffee shop, dan beberapa ruang kosong yang disewakan kepada penyewa usaha lainnya."
Penuturan Joan membuat pak Didit dan keluarganya berdecak kagum, begitu dengan juga dengan Rohani yang masih bengong mendengar penjelasan dari Bu Rida.
"bapak Kenapa?"
Joan bertanya karena melihat pak Didit yang tiba-tiba saja wajahnya pucat, Joan dan Aris dan langsung duduk didekat nya.
"pak.. pak...
Joan dan Aris terus menerus memanggilnya tapi pak Didit semakin tidak terkendali, Joan berlari ke arah kamar untuk mengambil Sprin bed yang bisa di lipat dan membentangkan di ruang tamu sementara Aris dan mamanya menahan pak Didit agar tidak terjatuh.
Pak Didit sudah tidak sadarkan diri di pundak Aris, sementara Joan masih membentangkan Sprin bed itu.
"bang Aris, sama kita mengangkat bapak ke atas Sprin bed ya."
__ADS_1
Dengan bantuan Bu Rida, Rohani dan Iren. akhirnya pak Didit berhasil mereka rebahkan di Sprin bed itu.
"Kenapa pundak kanan bapak bercahaya ya?"
Joan bertanya karena merasa aneh ketika melihat pundak kanan pak Didit bercahaya, karena saking penasarannya akhirnya Joan membuka satu kancing kemeja yang di pakai oleh pak Didit.
Sinar itu begitu silau dan membuat semua orang yang ada di ruangan itu silau, dan kemudian redup seketika.
ah.... ahmm.... a.... a....
Suara yang dikeluarkan oleh pak Didit, dan itu benar-benar kuat dan memekakkan telinga.
"papa kenapa? kok papa kejang-kejang begini?"
Iren begitu kwatir seraya menangis melihat pak Didit yang tiba-tiba saja kejang-kejang.
"Joan, hubungi Gomgom cepat."
Perintah Rohani ke Joan dengan cara membentak, tanpa menjawab perintah kakak nya Joan langsung menghubungi Gomgom.
Ditengah kepanikan itu, Iren hanya bisa menangis saat memegangi tangan papa nya.
"kak bentar lagi bang Gomgom dan Oppung Doli Saur akan kemari, bentar ya biar Joan hubungi dulu bang Mora."
Ujar Joan dan memalingkan wajahnya dari pak Didit yang sudah di kelilingi oleh keluarganya sendiri.
Tidak berapa lama kemudian Joan sudah selesai menelpon dan langsung menoleh ke arah Tarni.
"mbak Tarni, tolong bantuin Joan untuk membuat air percikan."
Tanpa bersuara Tarni langsung menarik tangan Joan dan berlalu ke arah dapur, mereka berdua terlihat sibuk di area dapur itu.
"apa saja yang mbak siapkan?" tanya Tarni yang sudah siap siaga.
"serai di memarkan, beras dan minyak goreng Mbak."
Tarni langsung menyediakan bahan itu dan kemudian menaruh dalam wadah, setelah Joan menaruh air minum ke wadah itu.
Wadah tersebut dibawa ke ruang tamu dimana pak Didit di baringkan, air dalam wadah itu dipercikkan oleh Joan ke wajahnya pak Didit.
Baru tiga kali percikan, kemudian pak Didit sudah berhenti kejang-kejang.
"ah.... syukurlah, akhirnya bapak tidak kejang-kejang lagi."
__ADS_1
Mereka semua akhirnya menoleh ke arah Joan, dengan rasa kwatir membuat mereka masih enggan bertanya kepada Joan.