
Pak Didit juga mengenakan kain ulos padang ursa warna hitam yang di ikat di kedua lengan tangannya.
Pak Didit tidak mengenakan baju, hanya ulos yang di selempang kan di sisi kanannya dan menyatu dengan bawahannya lalu di ikat dengan kain ulos padang ursa.
Biasanya hanya memakai celana pendek yang kemudian dibalut dengan ulos yang dililitkan di pinggang.
Aris juga berpakaian sama dengan Bapaknya, hanya bu Rida dan Iren yang berbeda.
Bu Rida dan Iren mengenakan Ulos Saput, mulai dari dada sampai kebawah lutut.
Cara mengenakan seperti handuk, lalu di rambu-rambu ulos nya di ikat dibelakang.
Lalu dua ulos saput yang di selempang kan secara menyilang di kedua sisi tubuhnya.
Untuk pinggang nya di ikat dengan kain ulos padang ursa yang berwarna putih, kemudian memakai sortali khusus perempuan.
Tarni hanya mengenakan sarung dan ulos di sisi kirinya.
Kemudian oppung Doli Dison menyuruhku untuk mengganti pakaian yang sama dengan pak Didit dan juga Aris.
Sementara Joan dan bapak, hanya mengenakan ulos saput di sisi kanannya.**
Kemudian kami berkumpul dihalaman dan kepala kerbau itu sudah berada tepat dihalaman rumah ini.
Bersama keluarga pak Didit, kami mengelilingi kepala kerbau tersebut, sementara warga yang lain berbaris dua. laki-laki dan perempuan dipisahkan dengan baris dua.
Oppung Doli Dison yang didampingi oleh pak Sarma dan Oppung Doli Sarma berdiri di depan barisan.
Istri oppung Doli Dison sebagai pimpinan barusan para wanita, dan Joan yang didampingi oleh bapak berdiri disampingnya istri oppung Doli Dison.
Kemudian Joan yang membawa kendi kuning keemasan dan berjalan ke arah kami yang mengelilingi kepala kerbau, lalu menaburkan beras yang diambilnya dari kendi tersebut.
Beras itu di taburi mengelilingi kami dan setelah itu, Joan masuk ke dalam lingkaran.
"mohon perhatiannya sebentar ya, nanti kita akan manortor (menari tortor), nanti ikuti Joan, untuk saat ini jangan ada yang bertanya atau bicara."
Ucap Joan dengan penuh misteri, Joan seolah-olah kembali ke mode serius. tatapannya yang tajam ke arahku dan juga pak Didit serta adik-adik dan juga bu Rida.
Kemudian istri oppung Doli Dison menarik tangan Tarni dari barisan dan menuntun nya ke arah kami lalu Tarni masuk ke lingkaran bersama kami.
__ADS_1
ku tung.... tung..... tun......tung......
Suara tagading yang mirip gendang itu, suara itu terdengar setelah Istri oppung Doli Dison kembali ke barisan.
"di pogu ni alaman, parmean ni akka daknanak jala parpunguan ni akka natorop." *dialog Batak Toba
(ditengah-tengah halaman rumah ini, tempat bermainnya anak-anak dan tempat berkumpulnya para warga).
"asi ni roha oppung mula jadi nabolon, di pasahat tu hita tandina. marhite-hite pasu-pasu na sida." *dialog Batak Toba
(karena berkat dari Tuhan Yang Maha Esa, melalui kasih Nya yang melimpah).
"sadarion naeng tapatupa ma, sada uloan si sadarion, anggiat ma nian di pasu-pasu oppung mula jadi nabolon, ima si uloan parsadarion non." * dialog Batak Toba
(hari ini kita akan melaksanakan adat, adat dari harian yang akan berakhir satu hari. semoga Tuhan Yang Maha Esa memberkati kita semua).
"Napuran sirara uruk na peak di pinggan pasu Hupasahat hami tu hamu ulosan Debata do ianggo na ma masu-masu." *umpasa Batak, atau pribahasa atau pantun.
(Kami memberi ulos tanda cinta kasih namun yang akan memberkati adalah Tuhan.)
Begitulah penuturan Oppung Doli Dison, lalu bapak dan Bapaknya Joan melangkah ke arah kami dengan membawa ulos berwarna merah.
Pak Didit dan istrinya satu ulos serta Aris dan Iren satu ulos, setalah itu di ulos kan kepada mereka, lalu Joan mengambil ulos tersebut dan mengikatnya di pinggangnya Aris kemudian mengikatkan di pinggangnya pak Didit.
Keinginan untuk bertanya aku tunda karena Joan sudah wanti-wanti agar kami tidak bertanya kepadanya.
"nung di jalo hamu ulos na rara si ganjang rambu, sai oppung mula jadi nabolon ma namangaramoti hamu, sai las ma tondi muna, sangon las ni pambahanen ni ulos i tu hamu amang inang."
(sudah kalian terima ulos merah dan rambut nya yang panjang, semoga Tuhan Yang Maha Esa memberkati kalian, hangat tubuh kalian seperti kehangatan dari ulos tersebut.)
"Na nialap manogot tinaruhon botari, parindahan na suksuk parlompan natabo nuaeng pe di son Amang pande nami partarias namalo, marmula jadi marmula tompa, marmula denggan marmula horas. Baen damang ma jo gondang mula – mulai baen damang ma!" *umpasa Batak, atau pribahasa atau pantun.
(Yang dijemput pagi hari dan diantar pulang di sore hari, Yang mempunyai nasi lezat dan lauk yang enak. Sekarang di sini Bapak kami yang pintar! Pemain musik yang pandai, Asal mula dunia ini adalah dimulai dari penciptaan, Bermula baik bermula horas (baik) Bunyikanlah “Gondang mula-mula” Bunyikanlah wahai Bapak!)
'*naiulu amang '
(baik bapak*).
pemusik nya menjawab atau menyahuti oppung Doli Dison.
__ADS_1
Tung...tung .... ....
Hanya suara tagading atau gendang yang terdengar, kemudian oppung Doli Dison menatap ke pak Sarma.
"Amang pargocci Nami"
tung.... tung......
'nauli amang' (iya pak)
Suara tagading lalu dijawab oleh pemusiknya, seperti sahur menyahut antara oppung Doli Dison dan pemusiknya.
"Asa marsomba hami tu Amanta Mula Jadi Nabolon na tumompa langit dohot tano dohot nasa isina. Jala asa marsomba hami tu akka harajaon na adong Baen damang ma jo gondang mula – mulai baen damang ma!"
(Di sini sekarang Bapak pemain musik kami!
Supaya kami menyembah Tuhan Pencipta Alam Semesta yang menciptakan langit dan bumi serta isinya.
Dan supaya kami menyembah kepada pengetua adat yang ada di kampung ini, seluruh yang hadir dalam acara ini, kemudian kepada ‘hula-hula’ kami.
Bunyikanlah “Gondang Somba”
Bunyikanlah!)
Demikian ucap Oppung Doli Dison lalu kami menortor dengan tangan ke arah atas dan sebatas wajah.
Disini kami manortor untuk meminta berkat kepada Tuhan Yang Maha Esa, agar diberikan keselamatan dan berkat.
Kemudian kami mengikuti Joan mengelilingi kepala kerbau yang ada di tengah-tengah kami sambil manortor.
Tujuh kali keliling lalu kami kembali pada posisi semula, tidak berapa lama kemudian pak Sarma mengangkat tangannya lalu musik berhenti.
Suasana semakin tegang dan terasa dingin, padahal matahari terlihat begitu terik tapi kenapa aku merasakan kedinginan?
"Abang merasa dingin ngak?"
Ssstt.....
Aris yang bertanya kepadaKu lalu Joan menyuruhnya diam, saya rasa bukan hanya aku merasa kedinginan.
__ADS_1
Apa yang sebenarnya terjadi?
Apa yang kami lakukan seperti ritual versi Batak, dan ini benar-benar membingungkan dan amat menyeramkan.