
Perut ini terasa keram karna hanya tertawa sedari tadi, dan kemudian suasana menjadi tenang kembali.
Tetapi Gomgom dan Tika masih tetap sama, malu-malu ngak jelas, Dan hal membuat kami tertawa kembali.
Tanpa terasa jam sudah pukul 9 malam, dan saya pun beranjak untuk mencharger handphone ku yang sudah lowbet.
Terdengar handphone Gomgom berdering lagi.
"Halo pak e."
"Halo mang calon polisi ku yang ganteng, selamat ya mang atas kelulusan mu."
Terdengar jelas suara bapak dari handphone nya Gomgom karena loud speaker sudah di aktifkan olehnya.
"Terimakasih pak e."
"mamak mu dari tadi dah heboh tanya tanya warna kebaya nya nanti."
"Hahahaha hahahaha hahahaha
Mamak ada-ada aja ya pak."
"Begitu lah mamak mu mang, dulu aja waktu Abang mu wisuda, paling heboh lah itu mamak mu, uang tabungan nya saat itu kurang, dan mamak itu rela menggadaikan cincin pernikahan kami mang, demi kebaya dan seragam buat kalian."
Mendengar penjelasan bapak terngiang kembali ke masa-masa sulit itu, tetapi semua kami lalui dengan bekerja keras dan selalu bersyukur.
"Oh ya pak, kata mamak tadi mau pergi marhata sinamot, kok cepat kali pulang nya? Marhata sinamot nya dah selesai ya pak?."
(acara adat untuk menanyakan perihal Mahar pernikahan).
"Tadi kan mamak Mu bilang ada kabar baik dan kabar buruk, nah ini bapak mau kasih tau kabar buruk nya."
Dan seketika itu juga ku ambil handphone Gomgom, untuk berbicara dengan bapak.
"Halo pak, kabar bapak gimana?"
"Kabar bapak baik-baik aja bang, cuman mamak mu aja nya yang makin rajin ngomel-ngomel hampir tiap hari."
Terlihat Gomgom tersenyum karna bapak bilang kalau mamak makin rajin ngomel-ngomel.
"Biasa nya itu pak, maka nya Bapak kurang-kurang ke Lapo tuak itu."
(Lapo tuak adalah kedai atau warung yang menjual nira Yang di sadap dari pohon aren dan sudah difermentasi secara tradisional menggunakan rempah-rempah khusus yang akhirnya jadi minuman beralkohol).
"Iya bang, dah bapak stop nya minum tuak, karna perut bapak sudah tak tahan lagi, dan lagian kalau bapak minum tuak, mamak mu dan adek mu cahaya bersatu menyerang bapak, dan membuat bapak terpojokkan."
(tuak selain beralkohol, kadar asamnya juga sangat tinggi. dan ini sangat berbahaya bagi lambung yang rentan sakit maag).
"Hahahahaha hahahaha...
__ADS_1
Itu pak karna mamak dan Cahaya sayang sama Bapak."
"Itu lah bang, kata Cahaya bapak dan mamak mu ini, harus mendampingi anak-anak bapak nantinya saat menikah, dan sebenarnya bapak berharap semoga bapak sempat menggendong cucu-cucu dari kalian bang."
"Amin....semoga ya pak.
Oh ya pak kabar buruk nya apa pak, karna Mamak tadi tanggung ngomong nya."
Seketika semua nya terlihat serius sambil melihat ke arah ku.
"Gini bang, oppung doli Gaol itu kan dari desa Aek Holong, dan adek nya oppung Doli Gaol itu tinggal disana."
(oppung Doli artinya Kakek, Gaol itu adalah cucu pertamanya dari anaknya yang laki-laki.* tradisi Batak Toba).
"Trus pak."
"Kata oppung mu, orang tua dari oppung Gaol ini, lebih tepatnya oppung buyut, atau kakek buyut nya, ikut serta membakar par Begu Ganjang (pemuja Begu ganjang) itu."
Karna keluarga oppung Gaol kehilangan anak laki-laki nya karna Begu Ganjang.
Dan rupanya bang, keluarga buyut nya oppung Gaol ini adalah kakak beradik dari satu oppung dengan par Begu Ganjang itu.
"Pak e.... penjelasan bapak buat bingung, tolong jelasin dengan dengan pelan dan terperinci ya"
Tiba-tiba saja Gomgom nimbrung, sebenarnya saya juga bingung.
"Keturunan ke delapan, Maksudnya pak"
Tanya ku semakin penasaran, dan pak Didit pun melihat ke arah dengan mimik wajah bingung.
"Gini bang, misalnya ya.... Si A dan si B adalah kakak beradik kandung, si A menikah dan si B juga demikian, anak si A punya tiga anak laki-laki dan si B punya satu anak laki-laki.
Nah.... Anak si B kan laki-laki, kemudian si B menikah, karena hidup nya miskin dan tak kunjung punya anak akhirnya mereka jadi siPele Begu Ganjang atau pemuja Begu Ganjang.
Nah itu lah yang kita sebut generasi pertama si Pele Begu Ganjang atau parbegu ganjang sendiri."
" Pak...ngak masalah ini kita cerita mengenai Begu Ganjang ini?"
"Ngak lagi bang, karna menurut Titah oppung Dison, waris dari par Begu Ganjang, Keturunan dari si oppung Poltak.
Mengatakan bahwa waris dari keturunan dari par Begu Ganjang ini sudah keturunan ke delapan dan masih hidup, dan usianya genap 45 tahun lewat 3 bulan, dan setiap umur ganjil dan bulan ganjil si Pele Begu bisa kita bahas tanpa gangguan.
Seketika ku lihat pak Didit, umur pak Didit, sudah genap 45 tahun lewat 3 bulan, dan seketika wajah pak Didit terlihat semakin serius mendengar pembicaraan kami.
"Oppung Dison siapa pak e?"
"Oppung Dison itu adalah keturunan dari oppung Poltak bang."
"Apa hubungannya nya dengan oppung Poltak?"
__ADS_1
Seketika saya mengingat isi surat yang kami temukan kemarin, ada oppung Poltak disebutkan.
"Oppung Poltak ini bang, dukun yang hebat di jaman nya, dan kerabat keluarga dari par Begu Ganjang, dan hanya oppung Poltak yang bisa mengakhiri perjanjian dengan Begu Ganjang dan oppung Poltak ini adalah dulunya raja Huta (pemangku Adat) di kampung Aek Simarmata.
Nah...yang mewarisi ilmu dari oppung Poltak ini adalah keturunan nya yaitu oppung Dison yan sekarang tinggal di Aek Holong, bersama warga lainnya."
"jadi...
Hanya oppung Dison lah yang bisa mengakhiri perjanjian dengan Begu Ganjang ya pak?"
"Betul bang."
"Berarti pak e ...jika waris par Begu Ganjang ini di temukan, di suruh aja ya pak menghadap oppung Dison untuk diakhiri."
"Ngak segampang itu bang."
"Maksudnya pak e?"
"Seperti yang bapak jelaskan di awal bahwa si par Begu Ganjang ini, mempunyai saudara satu oppung, dan dari keluarga ini selalu ada meninggal secara misterius, mulai dari bayi sampai anak-anak remaja.
Dan mereka mengetahui kalau itu adalah kutukan dari Begu Ganjang yang belum diakhiri."
"Jadi maksud bapak itu tumbal untuk Begu Ganjang nya?"
"Ya benar bang, dan warga desa Aek Holong juga menjadi sasaran nya, apalagi di tahun ganjil umur dari waris par Begu Ganjang."
"Jadi pak, apa yang di lakukan oleh warga desa Aek Holong?"
"Nah biasa nya, oppung Dison melakukan ritual untuk melindungi warganya, tapi kali ini tidak bisa bang, sehingga adek nya oppung Gaol dan cucu nya jadi korban serta dua bayi dari keluarga lainnya, yang kebetulan lahir pas tahun ganjil umur waris par Begu Ganjang."
"Sebabnya apa pak, apakah ilmu oppung Dison itu sudah berkurang?"
"Bukan bang.......
kata oppung Dison, waris nya par Begu Ganjang itu juga punya anak laki-laki yang ber umur ganjil, jadi kekuatan Begu Ganjang semakin bertambah sehingga oppung Dison kewalahan."
Dan sekita juga pak Didit melirik anak nya, dan memang Minggu kemarin kami merayakan ulang tahun Aris yang ke 23 tahun.
"Trus pak."
"Karna meninggal nya adek nya oppung Gaol makanya marhata sinamot nya di batalkan, dan juga oppung mu dari desa Aek Holong bapak mintak datang kemari ke rumah kita, katanya besok pagi nyampe ke rumah kita bang.
"Jadi pak, apa yang harus di lakukan oleh warga desa Aek Holong untuk memutuskan kutuk itu?"
"Pertama harus hadir dulu waris par Begu Ganjang itu, kemudian mencari kerabat keluarga lainnya dari par Begu Ganjang itu, bapak dengar sebagian besar keluarganya tinggal di daerah toba bang, hanya dua keluarga yang di Kalimantan."
"Setelah terkumpul semua baru bisa memutuskan nya gitu pak?"
Bersambung...
__ADS_1