KUTUKAN WARIS PEMUJA BEGU GANJANG

KUTUKAN WARIS PEMUJA BEGU GANJANG
Pengalaman


__ADS_3

Pak Didit hanya tersenyum akan tindakan dari Joan yang mencium pipinya dan dibalas senyuman oleh Joan.


"Kedua amangboru Ku ini memang is the best lah, beda sama kak Ani dan bapaknya."


"kira-kira lah mang, masa pengusaha mintak uang sama pegawai? ngak cocok kan kak Ani.?"


"betul sekali pak e."


Kami tertawa kecuali Joan yang menghela napas panjang, karena kekompakan Rohani dan bapak Nya.


"persengkokolan yang luar biasa dan terstruktur ya."


"hallah.......


Joan sama mamak juga demikian, jadi ngak perlu lah menghakimi kakak dan bapak. slow anak muda."


hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha


Lagi-lagi kami tertawa karena tingkah laku mereka berdua.


"terus sisa dari kerbau di itu di apakan?"


"ya dimasak kak Iren, untuk bersama setelah acara adat selesai atau pas jamuan makan."


"siapa yang masak?"


Kali ini Joan menatap Iren yang kembali bertanya.


"yang jelas bukan kak Iren yang masak, karena itu tidak mungkin."


"Joan....."


Ucap Rohani dengan nada yang agak tinggi, karena Iren terlihat cemburut karena di ejek oleh Joan.


"iya... iya....


Jadi begini bapak-ibu, solidaritas masyarakat Desa biasanya sangat kuat.


jika ada suatu hajatan, itu masaknya rame-rame. berhubung warga desa Aek Holong tertimpa musibah mistis dan agak canggung untuk menyuruhnya masak bersama.


Oleh karena itu, Joan membawa juru masak dari dapur Joan.


itulah yang menyebabkan biaya yang Joan mintak begitu besarnya, karena Joan harus memberikan upah, biaya akomodasi dan lainnya.


Juru masak yang Joan bawa tentunya sudah berpengalaman dalam memasak sajian Batak, dan itu semua demi terwujudnya kebahagiaan bersama setelah mengalami duka yang dalam.


Cocok kan bapak-ibu?"


Sebenarnya takjub dengan penjelasan dari Joan ini, tapi kenapa Joan bermasalah dengan nilai akademis ya?


"tapi sampai ya Joan, kakak masih bingung. kalau perkataan seperti ini, ko sangat jago.


Tapi kenapa nilai akademik sangat begitu hancur? apa yang salah ya?"

__ADS_1


'hahaha.... hahahaha...'


Kami semua kaget karena pak Didit tertawa, benar-benar bingung, apakah pak Didit tertawa karena pertanyaan Rohani atau karena jawaban dari Joan?


"ngak usah bingung kak Ani, saya juga persis seperti Joan.


Nilai akademik ku itu sangat hancur, saya bisa lulus kuliah di luar negeri karena bantuan dari teman.


Tapi saya lihai dalam mencari uang, sehingga berkembang seperti saat ini. sebenarnya saya dah ngak mau sekolah, tapi kedua orang tua memaksa saya untuk tetap lanjut kuliah.


Maaf karena tadi saya tertawa, itu karena teringat dengan masa lalu."


"oh....."


Serentak kami berkata 'oh' setelah mendengarkan penjelasan dari pak Didit, lalu Joan pun mendekati pak Didit.


"berarti nanti Joan bisa dong jadi pengusaha kaya raya seperti amangboru ya."


"Amin....


Bekerja keras, pantang menyerah dan selalu bersyukur. itulah kiat sukses yang bisa amangboru berikan."


"terimakasih amangboru......


bapak dan kak Ani, beginilah Joan apa adanya dengan segala kelemahan dan kekurangan Joan.


Tapi Joan tetap bersyukur, punya mamak yang sangat mendukung ku, punya bapak dan Ani yang akhirnya mendukung Joan.


Serta Joan bersyukur karena punya kakak yaitu kak Ani yang cantik, pintar dan calon dokter.


Baik, pengertian, pekerja keras dan penyayang. bou aja sangat di cintai Nya, begitu juga harapan Joan terhadap bang Mora yang akan mencintai kakak ku dengan ikhlas dan bersyukur.


Mudah-mudahan juga bang Mora bisa mengubah cerewet dari kak Ani, minimal lima belas persen aja.


ngak usah banyak-banyak, karena nanti aneh jika kak Ani menjadi pendiam."


hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha


Diawal penuh harapan tapi akhirnya seperti menyindir, terlihat Rohani yang awalnya merasa haru kini menjadi kesal.


Karena kami tertawa, akhirnya Rohani ikut tertawa juga.


"saya rasa sudah cukup untuk hari ini, semuanya sudah jelas dan semua ada persiapan.


Selanjutnya kita akan menunggu lusa, untuk keberangkatan kita ke sana.


ada lagi yang mau di tanyakan?"


karena sudah cukup jelas dan terlihat tidak ada lagi yang bertanya.


"pak e, bawa ini Joan pulang recok kali lah." * dialog Medan


(recok\=pembuat kegaduhan).

__ADS_1


"jangan lah Ani, ntar kita sepi lagi. karena ngak ada yang stand up komedi lagi."


Kami tertawa lagi karena ucapan dari Iren, yang menolak Joan untuk pulang ke rumah Nya.


"iya mbak Ani, dengan adanya mas Joan. terasa lebih rame."


Timpal Tarni yang juga keberatan jika Joan pulang, demikian juga dengan pak Didit dan istrinya serta Aris.


Hanya Rohani yang menolak Joan disini, tapi setelah aku bujuk. akhirnya Rohani bersedia Joan tetap tinggal disini.


"janganlah gitu kak Ani, padahal Joan sangat sayang sama kak Ani."


"emangnya kenapa?"


"berhubung juga di rumah kita banyak keluarga yang tinggal, jadi ijinkan lah Joan tetap disini ya."


"iya, tapi jangan rese ya. awas aja."


"siap kakak cantik....."


Negosiasi selesai dan bapak, tulang pak Rohani, oppung Doli Saur dan Gomgom akhirnya pulang ke rumah.


Kami berbagi karena di rumah kami juga banyak keluarga, dikarenakan musibah ini.


"kasihan sekali ya bang keluarga kita yang dari kampung, pasti mereka semua pada seret (tidak punya uang).


Karena mereka tidak bekerja, kebun dan ternak mereka pasti terlantar lah itu. semoga aja bencana ini cepat selesai."


"iya Joan, ngak kebayang tidak ada pemasukan. terutama kebun dan ternak mereka yang terlantar dan itu tentunya menjadi pikiran."


Entah kenapa aku langsung menyahut omongan dari Joan dan itu terucap secara tiba-tiba.


"udah dong bang Mora, Joan. ngak ada yang menginginkan bencana. semua terjadi begitu saja.


Kita harus semangat dan terus berjuang, agar musibah ini cepat berakhir. semangat dong...."


Akhirnya kami tersadar kembali setelah mendengarkan penuturan dari Rohani.


"iya juga ya, kalau kita melo gini, iblis mudah masuk dalam jiwa kita yang akhirnya melemahkan semangat dan fisik kita.


kalau begitu Joan pesan makanan lagi ya, biar untuk kita makan."


Hanya Rohani yang terlihat kesal, akan pernyataan dari Joan. tetapi tidak dengan kami.


"Joan ini sudah jam sembilan malam, mau nyari makan dimana lagi?"


"ih... kak Ani.


kita tinggal turun dari apertemen ini lalu nyebrang, disitu banyak yang jual makanan dan minuman. serta ada juga hiburan malam Nya. kalau malas turun, sini uangnya biar Joan yang beli."


"Joan, aku ikut ya."


Aris mintak ikut dengan Joan untuk membeli makanan di seberang jalan dari apertemen ini, tapi pada akhirnya kami semua jadi ikut sama Joan.

__ADS_1


Alasannya karena bosan berada di apertemen ini, alhasil kami beramai-ramai turun dan menuju jalan seberang.


__ADS_2