
Tingkah pak Didit semakin menjadi-jadi, demikian juga dengan bu Rida. apa yang dilakukan oleh bu Rida persis seperti lomba manortor waktu sekolah tapi lupa apa jenis tortornya.
Lalu oppung Doli Dison memberikan cawan besar yang berisi air dan kumbang kepada bu Rida lalu cawan besar di letakkan di kepalanya, dan bu Rida mengambil nya serta memercikkan air tersebut ke peserta tortor dan sekitarnya.
"itu bu Rida ngapain?"
Joan menolehku setelah dia mengarahkan kameramen untuk merekam aksi bu Rida.
"itu namanya Tor Tor Pangurason atau Pembersihan, air yang dalam cawan itu berisi kumbang dan jeruk purut. tujuannya adalah untuk membersihkan area sekitar dari roh jahat."
Jelas Joan dan kemudian bu Rida memercikkan air cawan itu dengan menggunakan daun pandan yang sudah di ikat.
Hanya Joan yang terlihat tenang sembari mengarahkan kameramen agar fokus merekam aksi demi aksi.
Kini para warga yang menari semakin aneh, tapi mereka tetap manortor.
Pada akhirnya tumbang semua kecuali keluarga pak Didit, Tarni yang terlihat ketakutan kini memegang tangan kiri ku.
Lalu warga para warga yang tumbang alias pingsan dan air dari cawan itu di percikkan oleh bu Rida.
Tapi pada akhirnya bu Rida pingsan juga, demikian juga dengan pak Didit, Aris dan Iren.
Aku dan Tarni serta Joan langsung berlari melihat mereka.
Tarni memegang tubuh bu Rida, sementara Tulang pak Rohani menolong pak Didit, Aris yang aku pegang dan Joan memegang tangan Iren dan merebahkan tubuhnya di pangkuan Joan.
Musik di hentikan oleh pak Sarma dan perlahan-lahan para warga sudah mulai sadar, demikian juga dengan bapak.
Akhirnya pak Didit dan keluarga sadar dan kami kembali duduk secara melingkar dan keluarga pak Didit yang masing ada di pangkuan menjadi pusat lingkaran tersebut.
Lalu kami disuguhi lagi kopi hitam yang baru di dalam wadah yang terbuat dari bambu.
Akhirnya warga yang lain sudah merasakan kopi nya pahit lagi, terlihat mereka yang memuntahkan kembali kopi yang di minum nya.
demikian dengan kami serta bapak, kami memuntahkan kopi itu kembali karena pahit. tetapi tidak dengan pak Didit dan keluarganya.
Kopi tersebut tetap manis, terlihat Oppung Doli Dison tersenyum lega.
"Joan, kenapa oppung Doli Dison tersenyum?"
"oh itu bang, artinya arwah Kakek buyut amangboru Boru ini masih bersemayam di tubuh amangboru dan keluarganya.
Tadi itu sudah termasuk tari tortor untuk memasukkan arwah kakek buyut mereka ke jiwa pak Didit dan keluarganya."
__ADS_1
Penuturan dari Joan membuat semakin merinding, akan tetapi Joan terlihat biasa-biasa aja.
"setelah ini apa Joan?"
"kurang tahu bang, karena beda tempat beda adat Nya, kita lihat aja ya."
jawab Joan dengan santai dan kemudian meraih buah rambutan dan diberikannya kepada ku.
"makan bang, enak loh. buahnya manis, ngak usah tegang gitu dong, santai bang."
ih....
ini Joan ngak tahu situasi atau apa sih? bisa-bisanya dia makan rambutan seraya menawarkannya kepada Ku.
Gimana ngak tegang, horor begini. padahal ini masih pukul sebelas siang. terus bagaimana dengan sore dan malam hari nanti?
Gondang kembali di mainkan, tapi kali ini hanya oppung Doli Dison yang manortor, tapi lama kelamaan tortor itu agak berbeda.
"kenapa hanya oppung Doli Dison yang manortor?"
Bukannya menjawab pertanyaan, malah menyodorkan pisang dan durian kepadaKu. katanya biar ngak tegang.
dasar bocah......
itu adalah tortor untuk mediasi kepada oppung mula jadi nabolon, untuk memohon doa restu dalam menolak bala atau musibah kepada warga desa disini bang.
Tenang aja bang Mora, semua itu sudah diperhitungkan oleh pemangku Adat yaitu oppung Doli Dison."
Dengan santainya Joan menjelaskan dan kembali menawarkan pisang dan rambutan kepadaku dan bapaknya.
"itu oppung Doli Dison sudah marmoccak, tarian tortor tanpa arah, karena sudah begitu khusuk dan sebentar lagi tarian itu akan pelan."
Ungkap Joan dan lagi-lagi dia masih makan rambutan.
Tari tortor moccak itu seperti tarian orang kesurupan menurutku, tarian tidak beraturan.
Beberapa saat kemudian oppung Doli Dison duduk bersila, tapi alunan musik gondang semakin dipercepat.
Lalu datang Istri oppung Doli Dison, yang menari tortor sambil mengelilingi oppung Doli Dison yang duduk bersila.
"Joan."
aku hanya ingin mendengarkan penjelasan dari Joan, bukan meminta pisang atau rambutannya.
__ADS_1
"makan ini pisang atau rambutan."
begitu kekeh nya Joan menawarkan pisang dan rambutan tersebut, tapi ke-dua buah tidak pernah aku makan karena tidak menyukainya.
"Abang ngak suka Joan."
"iya dah, kalau tahu apapun tanya aja sama oppung Doli Dison, biar puyeng Abang mendengar bahasa batak Nya."
Ucap Joan dengan songon nya, kenapa Joan begitu ngotot menawarkan pisang dan rambutan itu ya.
Ketika Bapaknya dan bapak Ku memintak rambutan atau pisang tersebut, Joan tidak memberikannya.
Kenapa Joan hanya menawari kepadaku? sementara yang lainnya tidak.
Ada bapak, bapaknya Joan, Tarni dan warga lainnya. tapi kenapa harus kepada Ku?
Joan lagi dan lagi menawarkan pisang dan rambutan tersebut, dan gigihnya dia menawarkan nya.
Aneh, dari semua orang yang disini. hanya kepada ku tatapan istri oppung Doli Dison begitu tajam dan Joan yang terus-menerus menawarkan pisang dan rambutan tersebut.
Karena sangat penasaran akhirnya aku memilih pisang dan dengan keraguan, pisang tersebut aku makan.
"enak kan bang? santai aja rileks bang broo..."
Pisang ini seperti hambar, dimana-mana pisang itu manis tapi ini sama sekali tidak ada rasanya alias hambar.
Lalu Joan menawarkan rambutnya, karena penasaran rambut tersebut aku makan dan Joan tersenyum.
Lagi-lagi terasa hambar, tapi kenapa Joan begitu menikmatinya.
Setelah aku memakan tiga buah rambutan dan satu pisang emas itu, dan semua itu hambar.
Tiba-tiba saja Joan berdiri, lalu melangkah ke arah oppung Doli Dison yang duduk bersila seperti orang bertapa.
Sisa rambutan dan pisang dari appang itu diberikan kepada Joan kepada istri oppung Doli Dison.
(appang atau bakul, yang terbuat dari anyaman bambu dengan memiliki empat segi. biasanya digunakan dalam adat Batak Toba, untuk tempat beras atau padi dan juga lainnya yang berhubungan dengan adat.)
Joan masih berdiri di dekat oppung Doli Dison dan menatapku dengan tatapan tajam, setelah istri oppung Doli Dison meletakkan appang tersebut di kepalanya lalu manortor lagi.
Lalu Joan berjalan ke arahku dan kemudian duduk tepat dibelakang Ku, Joan duduk dibelakang tubuhku sangat-sangat begitu dekat.
"ngapain Joan? geser dikit."
__ADS_1
Joan tidak menanggapi perkataan Ku malah duduk semakin rapat dari belakang tubuhku dan kemudian memegang kedua pundak ku.