
Dengan segala keberanian aku berdiri dan itupun karena desakan dari Aris serta Iren.
Kami yang duduk satu baris dan hanya beralaskan tikar pandan, Aris memintaku untuk berdiri sementara Iren meminta Rohani berdiri.
Pastinya drama, karena Aris dan Iren meminta kami untuk saling berhadapan.
"Rohani....
pariban ku tersayang, disini sudah ada keluarga Ku, dan juga keluarga mu, serta dihadapan seluruh keluarga besar ku, warga desa Harapan Baru.
Sesuai dengan janjiku kepada Mu, bahwa saya akan melamar mu ketika sudah lulus kuliah kedokteran.
Maukah kamu menikah dengan Ku?"
"mau bang"
Tanpa ragu Rohani menjawabnya, dan langsung memelukku.
"he....heii......
main peluk aja, ngak boleh. tunggu sampai resmi menjadi suami istri."
"apa yang salah Joan, kan pariban."
"ngak boleh pak, Joan bilang ngak ya, pantang."
Si bocil rese itu mengakhiri pelukan kami berdua, dan kami langsung diminta Joan untuk duduk kembali.
"kak Iren, kalau sudah lulus kuliah mau kan menikah sama aku?"
"mau."
Begitu percaya dirinya Joan menyampaikan isi hatinya kepada Iren dan langsung diterima saat itu juga.
Tepuk tangan yang meriah serta siulan dari warga membuat susana semakin meriah.
Pada akhirnya kami harus berpisah dengan warga desa Harapan Baru.
Pemangku adat berpesan kepada pak Didit, agar tidak membantu keturunan yang lainnya jika datang untuk melepaskan kutukan.
Jauh sebelumnya para warga sudah meminta keturunan yang lainnya untuk bersama-sama menyelesaikan kutukan.
Tapi mereka menolak karena tidak mempercayai atau mungkin tidak perduli.
Sama halnya dengan pak Dhe nya atau keluarga pak Didit, satu-satunya keluarga yang dikenal pak Didit.
Waktu kami langsung di usir dari halaman rumah.
Pemangku adat juga mengingatkan kami untuk tidak berhubungan dengan parbegu ganjang dan juga kedua desa terlarang yaitu desa Aek Holong dan desa Aek Simarmata.
Jika nekat maka petaka dan penderitaan sampai beberapa keturunan kelak nantinya, jika sudah terikat atau berurusan dengan iblis maka para keturunan akan mendapatkan imbasnya.**
Sampai juga di Medan dan kali ini, pak Didit meminta untuk tinggal di rumah kami. karena rumah kami sudah sepi dikarenakan keluarga yang lainnya sudah pada pulang kampung dikarenakan sudah pindah ke desa yang baru.
Beres-beres lalu mandi secara bergantian dan berhubung sudah tiba waktunya makan malam dan kami bersama-sama makan diruang tamu ini.
__ADS_1
Tidak luput juga Rohani, Joan dan calon bapak-ibu mertuaku itu ikut makan malam bersama kami disini.
Selesai makan malam lanjut minum kopi dan kami kedatangan tamu sepasang suami-istri kira-kira seumuran dengan bapak lah.
Ternyata tamu itu adalah ketua STM (serikat tolong menolong), perkumpulan warga atau persatuan warga.
Panggilan nya pak Robert, dan kebetulan satu marga dengan kami.
Kemudian datang lagi seorang laki-laki yang seumuran dengan bapak juga, biasa dipanggil pak Daren.
Pak Daren ini satu marga dengan Rohani, seketika kami bingung dengan kedatangan tamu-tamu itu.
"selamat malam semuanya, dan semoga kasih karunia Tuhan selalu menyertai kita semua.
saya berada disini karena di mintak oleh pak Mora sebagai perwakilan untuk mempertanyakan maksud kedekatan antara anak kami Mora, dan juga Rohani.
Kami juga ingin mendengarkan kejelasan akan hubungan kalian."
"tunggu dulu pak Robert, kami sebagai keluarga parboru (keluarga pihak mempelai wanita) yang ingin mendengarkan terlebih keterangan dari Mora.
Silahkan bere (keponakan) berikan kami penjelasan yang sejelas-jelasnya."
Pinta pak Daren, perwakilan keluarga Rohani dan segera aku tarik napas dalam-dalam dan hembuskan, berusaha untuk tenang walaupun jantung berdebar kencang.
"saya sangat serius dan sudah mantap ingin menikahi Rohani, selama ini saya hanya menunggu Rohani untuk menyelesaikan kuliahnya."
"kenapa harus menunggu selesai kuliah?"
"karena perempuan juga harus pintar tulang (paman), karena kelak nantinya akan jadi ibu dari anak-anaknya dan menjadi guru untuk pertama kalinya."
Gimana inang( putriku) apakah kamu mau menikah dengan Mora?"
"mau..."
"tidak bisa uda (panggilan kepada adik bapak atau adik sepupu nya yang laki-laki)."
Seketika kami menoleh Joan yang tiba-tiba memotong pembicaraan kakaknya.
"bukan Joan yang Uda tanya."
"jangan gitu uda, Joan ini adalah perwalian kak Rohani.
Semua tindakan yang dilakukan oleh Rohani, harus ada persetujuan dari Joan."
"kalau begitu, apalah yang harus dilakukan Mora agar bisa menikahi kakak mu?"
"begini Uda, kemarin itu bang Mora dan bapaknya sudah janji mau mengajak kami semua jalan-jalan ke Brastagi.
Tunaikan dulu janji itu, barulah kak Rohani bisa menikah dengan bang Mora.
Ngak boleh tawar menawar, karena ini bukan pajak(pasar)."
"Joan........"
Kami semua menyoraki Joan, lalu pak Didit mendekati Joan.
__ADS_1
"amangboru setuju dan siap Joan, tapi tanya dulu ya sama Mora dan juga kakak mu."
Mamak nya Joan menatap anak lajang itu, tapi dengan senyuman.
"Joan....
anak gantengnya mama, ini baru marhusip loh sayang.
Sembari membuat persiapan pernikahan kakak mu dan bang Mora, jadi nanti aja jalan-jalannya ke Brastagi."
(marhusip adalah pembicaraan tentang hubungan kedua calon mempelai).
"ngak boleh, tunggu selesai urusan kak Ani. lebih cepat lebih baik.
Selesai urusan pernikahan kak Ani dan Mora, kita pergi ke Brastagi.
Setelah kita kelelahan dengan semuanya, lalu kita istirahat di Brastagi, cocok kan?"
Muach......
Joan mencium pipinya pak Didit dan kemudian pipi bapak nya lalu mamak nya.
Seketika kami tertawa dengan tingkahnya Joan yang aneh bin ajaib tersebut.
"Iren yakin memilih Joan sebagai calon suami mu kelak nanti?"
"sangat yakin amangboru."
hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha
Jawaban Iren yang malu-malu membuat kami tertawa lagi, tapi tidak dengan mamaknya Joan.
"bou tidak akan ikut campur urusan asrama dan keluarga anakku kelak nantinya.
Tapi seperti kata bang Mora, perempuan itu harus pintar, karena akan menjadi guru pertama kalinya bagi anak-anaknya kelak nanti.
Memang benar kalau ilmu itu tidak harus selalu didapatkan dari bangku sekolah, didikan orang tua, pengalaman dan juga lingkungan hidup.
Kyak Joan nih, lulus SMA aja sudah syukur, setidaknya diantara kalian berdua kelak nanti ada yang berpendidikan tinggi.
Bou harap, Iren menyelesaikan sekolah lalu kuliah dan bekerja minimal satu tahun lah.
Biar bisa menikmati gaji pertama kalinya, dan bisa menikmati bagaimana susah nya mencari uang serta menikmati masa muda dan terlebih-lebih membuat bangga orang tua."
"iya bou, karena Iren dan bang Joan sudah sepakat mengenai hal itu."
"benar itu Mak, selagi Iren menyelesaikan pendidikannya dan Joan anak mu ini akan bekerja untuk mengembangkan usaha.
Kak Iren.....
I love you....."
hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha
Kami tertawa lagi karena tingkah laku Joan, yang membuat kami semua tertawa bahagia.
__ADS_1