
Kami bersama para warga makan bersama, menu tidak mewah. hanya ikan dencis sambal dan daun ubi tumbuk yang di kasih santan.
Sangat nikmat karena kami menyantapnya dengan suka cita, dan akhirnya jamuan makan selesai juga.
kini saatnya pembicaraan mengenai ada pelaksanaan besok.
Kemudian kami disuguhi kopi hitam lagi, lalu pak Sarma mendekati pak Didit yang duduk didekat Ku.
"menurut aturan adat pak Aris dan keluarga terlebih dahulu kami bersihkan dari pengaruh hal lain, besok pagi kita akan melakukan serangkaian adat untuk pembersihan bapak dan keluarga."
"mohon maaf pak Sarma, pembersihan disini maksudnya gimana ya?"
Tanya pak Didit, papa dari Aris kepada pak Sarma. juru bicara dari Oppung Doli Dison.
"menurut oppung Doli Dison, ada keluarga yang lain dari pihak bapak yang mencoba untuk menghalangi pemutusan kutukan begu ganjang ini.
Jadi besok pagi, ada acara serangkaian adat untuk membersihkan itu semua.
Inilah bahan Nya, air yang berasal dari air terjun Aek Simarmata, tanah dari gubuk kakek buyut mu. serta kumbang tujuh rupa yang diperoleh dari sekitar gubuk kakek buyut pak Aris.
Besok pagi, oppung Doli Dison akan memimpin prosesi adat nya. setelah itu kita makan bersama.
Sore harinya kita akan memulai adat pelepasan kutukan begu ganjang, dan semoga semuanya berjalan lancar."
Penjelasan dari pak Sarma begitu mudah di mengerti, terlihat Aris fokus ke Joan yang memberikan perintah kepada para pemusik untuk segera menyelesaikan tugas Nya.
"pak saya tanya, itu Joan ngapain?"
Lalu pak Sarma menoleh ke arah Joan dan kemudian tersenyum, lalu menoleh Aris.
"anak muda yang ganteng itu ya? dia lagi mempersiapkan alat musik untuk acara ada besok dan juga sore harinya karena acara adat nya harus di iringi musik.
Anak muda yang ganteng itu sangat telaten dan berwawasan luas, anak muda itu. mengetahui apa saja yang dibutuhkan, benar-benar terhadap Nya.
Tutur bicara nya yang sopan dan tarombo nya yang mempuni yang membuat ku terkesima dengan Nya.
(tarombo\=sisilah marga atau riwayat keturunan berdasarkan marga, dalam tradisi Batak, martarambo adalah suatu keharusan.)
Orang tua nya pasti bangga punya anak seperti anak muda yang ganteng itu, putriku pada merantau semua. seandainya Sarma ada disini, pasti sudah saya jodohkan dengan anak muda yang ganteng itu.
Tulang pak Rohani langsung tersenyum ketika anaknya di puji.
"itu anak saya pak Sarma, namanya Joan. tapi dia masih anak SMA.
__ADS_1
kebetulan Joan punya usaha yang berhubungan dengan adat Batak bersama mamak nya."
"masih sekolah, pantasan kok muda sekali. tapi salut loh pak, saya kirain sudah anak lajang yang matang.
Wawasan nya itulah pak, bapak luar biasa mengajarinya. luar biasa pak."
Tulang pak Rohani hanya tersenyum, beliau terlihat puas akan penuturan Joan yang dianggap luar biasa bagi pak Sarma.
Joan memang berbeda, dan benar-benar salut kepada nya. dia mampu menyesuaikan diri di lingkungan yang baru, pantas aja Joan banyak temannya.
"jadi siapa saja yang ikut ke desa Aek Simarmata?"
Perhatian kembali ke pak Sarma, pertanyaan dari bapak membuatnya berhenti mengagumi Joan.
"mengenai hal itu sudah kami bicarakan, Mora anak pertama bapak yang menemani pak Aris dan anaknya ke gubuk itu.
Lalu istri pak pak Aris dan anak perempuan nya akan menunggu di pohon beringin itu, istri dan anak perempuan bisa memilih tiga orang yang terdekatnya untuk menemaninya.
Saya dan Oppung Doli Dison akan berada ditengah-tengah nantinya, untuk melaksanakan ritual adat.
Sementara warga desa lainnya akan melakukan prosesi adat di kampung ini."
Tiba-tiba saja Joan sudah ada di belakang Ku dengan membawa pisang dan rambutan.
"nanti yang ikut menemani kak Iren dan bou Mak Aris yaitu, mbak Tarni, amangboru pak Mora dan Joan.
Ujar Joan dengan santai, tapi sepertinya bapaknya agak keberatan.
"loh kok Joan, terus yang mengurus konsumsi disini siapa?"
Tanya bapaknya yang terlihat keberatan kalau Joan ikut.
"sudah ada oppung Doli Saur, oppung Doli Sarma dan yang lainnya.
juru masak akan dibantu oleh ibu-ibu yang ada disni dan juga bapak-bapak yang lainnya.
Bapak ngak boleh ikut dengan kami, karena bapak kurang paham mengenai hal ini."
"terserah kamu nak, tapi jaga dirimu baik-baik ya. walaupun kamu si goar dodak, kamu itu anak bapak."
Ucap bapaknya Joan dan anak rese itu langsung memeluk bapaknya di hadapan kami semu.
"nanti jaga bou itu dan kak Iren, pastikan amangboru itu tidak lari dari jalur ya. pokoknya kalian semua harus pulang dengan selamat tanpa kekurangan apapun."
__ADS_1
"amin..."
Secara bersamaan kami menginginkan doa itu dan lagi-lagi Joan memeluk bapaknya seraya memegang pisang dan rambutan tersebut.
"amangboru, bou Mak Aris, kak Iren dan mbak Tarni. nanti harus nurut sama Joan ya, jangennn ngemb..."
"Joan anak ku sayang, telan dulu makanan nya baru ngomong, nanti kamu keselak."
Joan yang masih mengunyah pisang sambil ngomong dan langsung ditegur oleh bapaknya.
Iren langsung mendekati Joan dengan membawa air mineral dalam kemasan botol lalu memberikannya ke Joan.
"minum sekarang."
Pinta Iren seraya membuka tutup botol kemasan itu, pandangan mereka berdua terlihat begitu intim.
Joan minum air dari botol kemasan itu sembari melihat ke arah Iren.
"kenapa kak Iren? suka sama Joan ya? sama dong, Joan juga suka sama kakak.
Joan ngak perduli walaupun kak Iren lebih tua dari Joan."
'huuuuuu.....'
Kami semua meneriaki Joan, terutama ibu-ibu yang ada di tempat ini.
Joan dan Iren tersipu malu, bapaknya Joan hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah anaknya.
Sementara pak Didit dan Bu Rida hanya tersenyum melihat Joan dan putrinya malu-malu ngak jelas gitu.
"benar ya kata kakak mu, kamu selalu mencari kesempatan dalam kesempitan."
"iya si abang, gini nih kalau dah ketularan sifat curiga dari kak Ani."
Sanggah Joan terhadap Ku, anak itu memang luar biasa dalam hal mematahkan argumen.
Kami semua tertawa bersama-sama karena tingkah dari Joan, kami sejenak melupakan masalah yang kami hadapi saat ini.
Terlihat oppung Doli Dison dan pak Sarma terlihat bisik-bisik, lalu pak Sarma menolah ke arah kami.
"benar kata Joan, anak muda yang ganteng ini. si ganteng ini yang akan menemani Mak Aris dan Iren."
"berarti Joan ganteng ya amangboru?"
__ADS_1
Senyuman dari pak Sarma yang menanggapi Joan, membuat kami tertawa lagi.
Lepas sudah semua beban kami saat ini, seolah-olah kami tidak mempunyai masalah.