KUTUKAN WARIS PEMUJA BEGU GANJANG

KUTUKAN WARIS PEMUJA BEGU GANJANG
Cerita Lainnya


__ADS_3

Keluarga pak Didit yang tinggal di Apertemen Mora sudah Selesai makan, dan satu persatu mandi untuk membersihkan diri.


Mereka semua kemudian berkumpul di ruang tamu apartemen itu, Tarni sudah menyajikan teh hijau untuk semuanya.


"kak Ani percaya dengan Begu ganjang?" tanya Aris kepada Rohani yang baru selesai meneguk teh hijau Nya.


"hidih.... orang Jakarta kok bahas Begu ganjang? kalau bang Aris bahas Wewe gombel masih masuk akal bang."


"eh Joan kampret, Aris itu nanya sama kakak. heboh deh." sanggah kakak nya kepada Joan yang terlihat kepo.


"aneh aja loh kok, masa orang Jakarta bahas Begu ganjang?


bang Aris, Abang datang kemari hanya ingin mencari sosok Begu ganjang ya?"


"benar Joan, keluarga kami di teror oleh Begu ganjang." jawab pak Didit.


"terus bapak percaya gitu?"


"awalnya ngak, tapi dengan semua kejadian yang kami alami dan itu memperkuat keluarga kami di kutuk Begu ganjang."


"bapak ngaco deh, di jaman modern dengan jaringan internet 4G (fourth-generation technology) seperti ini bapak masih percaya dengan cerita Begu ganjang?


Pak.... Begu ganjang itu adalah makhluk mitos yang tidak pernah terjadi, dan tidak seorang pun yang pernah mengalaminya."


"jangan nyolot lah Joan, buat apa keluarga pak Didit repot-repot datang kemari kalau bukan hanya masalah Begu ganjang?"


Ujar Rohani yang menyanggah omongan dari Joan adiknya.


"iya karena Oppung bang Mora meninggal kak, kata bang Mora. pak Didit dan keluarganya sudah seperti keluarga bagi bang Mora. ya wajar dong kalau pak Didit dan keluarga ikut melayat, namanya juga keluarga."


"Joan.......


Selain ingin melayat, bapak dan keluarga harus menyelesaikan kutukan Begu ganjang ini.


Bapak juga ngak percaya loh Joan, tapi keadaan yang membuat kami harus mempercayai nya." jawab pak Didit akan keraguan Joan.


"Joan....


Adikku sayang, oppung bang Mora meninggal karena kecelakaan di jalan dan warga desanya di teror oleh Begu ganjang.


Apa masih kurang bukti untuk mu?"

__ADS_1


"aneh aja gitu loh kak, memang cerita Begu ganjang ini pernah Joan dengar dari teman sekelas Joan.


Tapi menurutku itu hanya cerita belaka, sama seperti dongeng pengantar tidur lainnya."


"menurut Joan, apakah kutukan Begu ganjang ini bisa diselesaikan?" tanya pak Didit kepada Joan.


"begini ya pak, menurut kepercayaan Joan. Begu ganjang, Wewe gombel, kuntilanak dan apapun jenis nya itu. mereka semua adalah Iblis yang menyerupai wujud imajinasi manusia itu sendiri.


Iblis akan kalah dengan iman, hati tulus ikhlas.


iblis tidak akan pernah menang melawan iman, karena sesungguhnya iblis hanya menjerumuskan manusia itu sendiri."


"cie.... bijak amat adikku ini, tumben omongan bermakna."


"bukan masalah bijaknya loh Kakakku, begini penjelasan.


Jadi..... mamaknya teman Joan pernah mengalami kejadian yang tidak biasa, awal nya Mamaknya ini mengalami kram diperutnya.


Awalnya Mamaknya mengira sedang halangan atau menstruasi, tapi setelah di ingat nya kembali bahwa dirinya sudah Menopause.


rasa sakit itu semakin menjadi-jadi, akhirnya pergi lah ke Dokter Speaslis kandungan dan penyakit kandungan.


Setelah di cek oleh dokternya, tidak ada salah. layaknya seorang wanita yang sudah Menopause. serta tidak ditemukan penyakit apapun di perut mau organ produksinya.


hanya berselang beberapa jam, maaf ni ya. perut Mamaknya teman ku ini menjadi besar seperti ibu hamil.


Akhirnya pihak keluarga mendatangkan Pendeta untuk didoakan kesehatan nya.


Saat acara berlangsung, Mamaknya teman ku muntah darah berikut seperti daging yang ikut keluar dalam tubuhnya melalui mulut.


Muntah lagi dan lagi hingga akhirnya perut buncit tersebut menjadi kempes, dan Mamaknya teman ku di larikan ke rumah sakit.


Tapi pada akhirnya meninggal dunia, dikarenakan banyak nya darah yang keluar saat muntah itu.


Usut punya usut dan akhirnya diketahui, bahwa orang tuanya itu adalah dukun yang kemudian di turunkan kepada putrinya yaitu Mamaknya teman ini.


Kondisinya yang tidak siap menerima titah itu membuat nya harus meregang nyawa.


Dari sini kita mendapatkan pelajaran yang berharga, jangan sesekali berhubungan dengan Iblis.


Iblis hanya memberikan kesenangan dan kebahagiaan semu, yang pada akhirnya adalah kesengsaraan dan akhirat yang menyedihkan."

__ADS_1


"Joan, ini cerita horor mana ya ko ceritakan?" *dialog Medan. (ko artinya kamu).


"ini cerita nyata kakak Ku, saksi hidup masih ada yaitu teman Ku. bisa saja Joan panggil untuk bersaksi."


"ngak usah di panggil, toh cerita nya dah seram. takutnya nanti ko itu berak celana." * dialog Medan. (berak celana artinya buang air besar di celana karena suatu kondisi tertentu.)


"Joan, apa keluarga teman mu itu tidak menyadari kalau Mamaknya itu keturunan dukun?" Aris bertanya karena ingin lebih tahu mengenai hal mistis.


"bapak temannya ku ini adalah Penatua disalah satu Gereja aliran karismatik atau disebut majelis atau lebih gampang disebut pengurus gereja.


Keluarga yang religius yang anti terhadap berhala, mereka tidak pernah percaya mengenai hal seperti itu.


Tetapi keluarga teman ku hanya yakin itu adalah ulah Iblis yang bersekutu dengan manusia itu."


"menurut Joan, apakah selalu ada korban dalam menyelesaikan perkara dengan Iblis?"


lagi-lagi Aris bertanya kepada Joan yang ingin mendapatkan kejelasan yang lebih detail lagi.


"kalau masalah itu Joan ngak bisa berpendapat bang, tapi Joan yakin jika kita berserah kepada Sang Maha Pencipta. semuanya akan di mudah kan jalan nya.


Sebab Tuhan juga tidak menginginkan hamba-hamba-Nya terjerumus dosa kemaksiatan duniawi."


Rohani hanya bengong melihat dan mendengarkan penuturan dari adiknya itu, yang terdengar begitu bijaksana di penuturan Nya.


"kak mingkam, masuk nyamuk baru tahu."* dialog Medan. yang menyuruh kakak nya untuk menutup mulut karena bengong melihat Joan.


"sekarang kakak tanya, wahai Joan yang bijaksana. apakah solusi darimu wahai adinda untuk keluarga pak Didit ini."


"idih sok puitis, ngak cocok kak.


Kakak itu cocok nya, merepet dengan bahasa kalbu yang hanya kakak ngerti." *Dialog Medan. (merepet artinya ngedumel atau ngoceh. bahasa kalbu artinya bahasa yang terlalu banyak menggunakan perasaan).


"Joan, menurut apa yang bapak lakukan?" tanya pak Didit dengan suara yang rendah.


"selain berserah kepada Tuhan pak, nanti kita diskusikan kepada Orangtuanya bang Mora. seperti kata kak Ani tadi, kampung halamannya di Teror Begu ganjang.


Mudah-mudahan kita dapat solusi dari semua masalah ini."


ihhhhh............ uhmmm.....


"sakit kak."

__ADS_1


Teriak Joan yang di cubit kuat oleh kakaknya karena geram, menurutnya Joan begitu bijaksana dan lain dari pribadinya yang biasa.


Rohani memeluk adiknya dan mencubit pipinya lagi untuk memastikan itu adalah Joan adiknya.


__ADS_2