KUTUKAN WARIS PEMUJA BEGU GANJANG

KUTUKAN WARIS PEMUJA BEGU GANJANG
Berangkat Ke Desa Aek Holong.


__ADS_3

Hari Senin pagi kami sudah bersiap, dan keluarga pak Didit sudah tiba di rumah ini untuk melihat kami saat pergi ke desa Aek Holong.


Selesai sarapan, kami ngobrol sebentar dan terlihat Tulang pak Rohani menerima telpon dari seseorang.


Setelah selesai bicara melalui handphone nya, bapaknya Rohani menghampiri kami lagi, dan seraya duduk di dekat Ku.


"Tadi saya di telpon pak John, pimpinan kami di Tim ekspedisi, nanti malam jam 9 kita harus berangkat."


"Tidak masalah Tulang, toh juga sudah siap semuanya"


Kami semua hanya mengangguk tanda setuju, dan kemudian Aku dekati pak Didit yang terlihat hanya terdiam.


"Pak...


Bapak tenang, kami akan memulai terlebih dahulu, setelah informasi baru kita akan mulai misinya, Mora antar ke apartemen ya pak"


"iya Mora, semuanya juga sudah siap kok berangkat ke apartemen. Bapak Mora, Bapak Rohani, sebelum nya saya berterima kasih, karena sudah bersedia membantu ku."


ujar pak Didit dengan nada suara yang bergetar, bapak dan Tulang pak Rohani memeluk pak Didit, Joan juga ikut-ikutan memeluk, sehingga pelukan jadi berakhir.


"Joan mau ikut sama Abang ke desa Aek Holong?"


"ih..... serem....


kampung bang Mora itu serem, ada Begu Ganjang nya, Joan ngak Sudi bertemu sama yang seram."


"mana lebih seram Omelan kakak mu atau dengar kata Begu Ganjang?"


"bang Mora ......


kak Ani itu ngak akan ngomel kalau Joan ngak bandel, tapi kak Ani hanya pelitnya yang awet."


Hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha


Pelit yang awet, ini pertama kali saya mendengar nya, tapi kalimat itu mampu membuat kami tertawa.


"bang Mora, nanti Gomgom aja yang antar pak Didit dan keluarga ke apartemen. Abang siap-siap saja."


Ujar Gomgom yang menawarkan bantuan, dan sekaligus aku minta untuk menjaga keluarga pak Didit selama aku di desa Aek Holong.


Awalnya kami hanya terdiam, dan seperti biasa hanya Joan yang ngobrol dengan siapa saja yang menanggapi, setelah kakaknya yang tidak menanggapi perkataan nya, kini beralih ke aku.


"bang Mora....


nanti berapa hari di kampung bang?"


"belum tau Joan."

__ADS_1


"berarti lama lah ya bang?"


"ntah lah Joan, semoga bisa cepat kelar."


"iya bang semoga bisa cepat kelar, supaya Abang bisa ketemu sama kak Ani lagi, kelak jika kak Ani nikah sama Abang semoga pelit nya bisa berangsur berkurang."


Susana yang dari tadi yang sunyi kini kembali ramai karena ocehan Joan yang berhasil membuat Ku tersenyum, sementara yang lain tertawa.


"bang Mora.....


nanti Abang dan kak Ani nikah nya dimana?


Medan atau Jakarta?


di Jakarta aja lah ya Bang, biar Joan bisa ketemu bang Aris lagi"


"mau ketemu Aris atau mau jalan-jalan?"


"dua-duanya bang.


oh ya bang, nanti kalau dah nikah sama kak Ani, nantinya kak Ani masih bisa jadi dokter bang?"


"ya bisa lah Joan, percuma lah kakak mu sekolah tinggi, dengan susah payahnya kakak mu belajar kedokteran, eh malah cuman jadi ibu rumah tangga."


"bukannya perempuan kodrat nya jadi ibu rumah tangga ya bang?"


kalau masalah masak dan beres-beres rumah Abang juga bisa."


"cieee.... kak Ani senyum-senyum"


Iren meledek Rohani dan hal itu membuat kami tertawa lagi, syukurlah mereka berdua terlihat aktif dalam mengoceh sehingga suasana ini tidak mencekam.


"Joan, selama Abang ngak disini jangan buat keributan ya."


"siap bang, mana nih uang jajan Joan?


Auh..... sakit loh kak...."


Rohani secepat itu langsung mencubit lengan nya Joan dan anak rese itu meringis kesakitan.


"Joan, kan ada bapak. kalau masalah uang jajan itu gampang." ucap pak Didit yang berusaha menenangkan Joan.


Tentunya di sambut sumiringah dari Joan, ketika mendengar kata uang, Joan seperti terhipnotis.


"bang Mora, tolong jaga bapak dan Amang Boru di sana ya bang. pastikan kedua bapak-bapak itu ngak kelaparan.


(amangboru adalah panggilan kepada saudara laki-laki atau sepupu laki-laki dari pihak Mamak).

__ADS_1


Abang ada uang untuk membeli dua bapak-bapak itu?"


Bapak dan Tulang pak Rohani hanya tersenyum saat mendengar penuturan dari Joan yang menitipkan bapak dan Tulang kepadaKu.


"iya Joan, akan berusaha untuk menjaga kedua bapak-bapak itu."


"janji Abang akan ku tagih nantinya."


Rohani langsung menarik tangan nya Joan, karena Joan sudah mulai ngoceh yang tidak jelas.


"Aris, tolong jaga bapak, ibu dan Adek ya. Abang titip ke Aris ya."


Aris kemudian memelukku, begitu dengan Joan. Aris yang hendak menangis jadi tertunda karena tingkah dari Joan.


Ternyata Joan mampu menghapus kesedihan di keluarga ini, jahil tentu iya dan Bapaknya hanya mengelus dada melihat tingkah nya Joan.


Joan hanya bisa di kontrol oleh kakaknya, Kekasih hatiku itu memang terlihat kejam terhadap adiknya yang super jahil.


Tapi Joan tidak pernah membalasnya, bahkan dia begitu kepada kakaknya itu.


"hati-hati disana ya bang, bapak dan amangboru tolong di perhatikan."


ujar Rohani yang hendak memelukku, dan Joan langsung menarik tangannya dan akhirnya kami tidak jadi berpelukan.


"maaf ya bang Mora, kakak ku ini memang pariban abang. tapi Abang belum memeluknya sebelum menikah, ingat itu."


Nantulang Mak Rohani hanya tersenyum melihat tingkah dari Joan, begitu juga dengan mamak.


sebenarnya aku malu karena sikap dari Joan ini, tapi aku sadar itu adalah perlindungan dari seorang laki-laki kepada saudara perempuannya.


"Mora, hati-hati ya Nak."


Hanya itu yang di ucapkan pak Didit seraya memeluk Ku, begitu dengan Bu Rida dan Iren. dan lagi-lagi Joan memeluk kami semua dan itu membubarkan pelukan kami.


Gomgom akhirnya mengiring pak Didit dan keluarga masuk ke mobil yang disewa dari sahabat ku disini.


Pak Didit dan keluarganya sudah berangkat ke Apertemen, dan kami menunggu kedatangan rombongan pak John.


Tidak berapa lama kemudian, rombongan itu sudah tiba yang berjumlah 8 orang dalam dua mobil.


Kami berkenalan dan ternyata mereka sebenarnya enggan ikut karena gosip liar dan menyeramkan dari desa Aek Holong dan desa Simarmata.


Tapi ini adalah tugas yang harus mereka laksanakan, lagian mereka tidak akan ke desa Aek Simarmata, para tim hanya melakukan penelitian di desa Aek Holong.


Mobil yang kami pakai adalah mobil milik Rohani sementara rombongannya pak Jhon memakai mobil dinas.


Setelah pamit ke mamak dan keluarga yang lainnya yang sudah tiba di rumah, kami kemudian memastikan barang-barang sudah masuk semuanya.

__ADS_1


Akhirnya kami berangkat secara beriringan, aku bersama bapak dan Tulang pak Rohani yang di depan sebagai penunjuk jalan.


__ADS_2