
Setelah Keris itu aku keluarkan semua terlihat syok dan bapak juga menghampiri ku, kini pak Didit, oppung Doli saur dan bapak duduk bersebelahan dengan ku.
"bang Mora....
jelaskan sama bapak dan kepada semua yang ada disini, dari mana abang dapat benda-benda ini?"
Dengan menghela napas panjang dan tarik napas ku pandangi wajah bapak yang sangat penasaran itu.
"appuna ni Parbegu Ganjang do on sude."
(ini semua kepunyaannya pemuja Begu ganjang).
oppung Doli saur langsung nimbrung dengan berbahasa Batak nya.
(oppung Doli saur artinya Kakek saur, karena saur adalah Cucu pertama nya dari anaknya yang laki-laki.)
Oppung Doli saur adalah adik dari almarhum Kakek ku yang sudah kami kebumikan tadi kemarin siang. orang tua kandung dari Bapak ku, banyak keluarga ku yang di minta bapak datang kemari karena teror Begu ganjang.
"oppung.......
kalau Mora ngomong dengan bahasa Indonesia oppung ngerti kan?"
"mengerti pahoppu ku, mandok do au namoal." *bahasa Batak Toba.
oppung Doli saur mengerti bahasa Indonesia hanya mengucapkan nya yang tidak bisa.
karna cucu-cucunya pun menggunakan bahasa Indonesia jika pulang kampung.
"Semua tolong dengar baik-baik penjelasan ku, Mora berharap semua nya tenang ya.
begini... benda-benda ini Mora dapatkan dari rumah orang tua pak Didit."
Secara serentak mereka semua melirik pak Didit yang duduk disamping ku, kemudian fokus kepada ku lagi.
"dan kami sudah melakukan tes DNA terhadap rambut-rambut yang terikat ini, hasil nya adalah pemilik rambut itu adalah keluarga pak Didit, dan juga benda-benda yang kami dapatkan ini dari rumah orang tuanya pak Didit, itu artinya keluarga pak Didit pemuja Begu Ganjang dan seperti yang oppung Doli saur berkata kalau ini semua kepunyaannya dari par Begu ganjang."
Seketika semua terdiam dengan raut wajah yang penasaran dan sedikit ketakutan.
"alai holan obuk nai do puna ni parbegu ganjang, tung ngi, jadi maksud mu pung...... amat ta on pinoppar ni par Begu Ganjang?" dialog Batak Toba.
(tapi hanya rambut itu milik pemuja begu ganjang, maksud mu cucu ku, bapak itu adalah waris pemuja Begu ganjang?).
Oppung Doli saur menunjukan ke arah pak Didit dengan memastikan kalau keluarga pak Didit pemuja Begu Ganjang.
"ya benar oppung,
keluarga pak Didit datang bersama Mora untuk menyelesaikan semua ini."
"jadi bolo keris nai Puna ni ise pung?" (kalau keris itu punya siapa cucuku).
"oppung bisa membaca aksara Batak kuno?"
"boi." (bisa).
Surat lusuh itu langsung aku berikan kepada Oppung Doli Saur, dan beliau langsung membaca seperti membaca mantra karena mulut nya komat-kamit.
Sementara oppung Doli Saur membaca surat itu, kami semua hanya terdiam. kemudian oppung Doli Saur sudah selesai membaca surat nya dan menatap kami satu persatu dan tatapan berakhir ke pak Didit.
"na uju i, dua ma dakdanak ni si Horas, si Parbegu ganjang. siakkangan ma baoa baru paduahon mo borua.
(si Horas pemuja Begu ganjang dulu memiliki dua anak, anak pertama laki-laki dan anak kedua perempuan).
Si Gopas ma goarna nabawa, baru si Duma goarna borua.
(anak laki-laki bernama Gopas dan yang perempuan bernama Duma).
Si Gopas dohot si Duma on ma lari borngin, ala ni i ma saunnari Gabe bukkar museng parbegu ganjang.
(si Gopas dan Duma yang lari malam, sehingga pemuja Begu ganjang tidak terputus)"
__ADS_1
Mora......
berarti amatta on ma pinoppar papituhon Manang paualihon ma?" *Dialog Batak Toba.
( Mora....
bapak ini pasti keturunan ketujuh atau ke-delapan.).
"Mungkin bisa jadi oppung, pak Didit adalah keturunan ke tujuh atau keturunan ke delapan!"
Dan lagi-lagi semuanya hanya terdiam membisu, tanpa ada yang mengeluarkan omongan.
Dalam surat itu, nama anak pemuja Begu ganjang tidak sebut kan secara detail. keterangan dari oppung Doli Saor yang menjelaskan anak dari pemuja Begu ganjang yang bernama Horas.
drrt.... drrt..... drattt.....
Handphone jadul nya oppung Doli saur pun bergetar menandakan ada yang menghubungi nya.
"bereng Jo Mora ise do namartelpon non?"
Oppung Doli saur memberikan handphone kepadaku untuk melihat siapa yang menghubungi nya.
Ternyata Sihar yang menghubungi oppung Doli sahur, dan handphone tersebut ku angkat serta ku aktifkan loud speaker nya.
"halo Sihar....
ini bang Mora, sihar dan keluarga apa kabar?"
"bang Mora....
Mak..... bang Mora, ini Mak bang Mora.....
Suara Sihar sangat memekakkan telinga ku, Sihar itu adalah sepupu Ku, cucu dari oppung sahur, cucu dari anak nya yang paling kecil.
"halo bang Mora....
ini inang Uda mang, Mora apa kabar? kapan sampai di Medan? Oppung mu sudah sampai kan di situ?
"Mora sehat-sehat aja inang Uda, Mora sampai di Medan kemarin dan oppung Doli sudah di rumah kami. inang Uda apa kabar?"
"kami sekeluarga masih selamat mang."
"maksud inang Uda apa?"
"Begu Ganjang itu mang, ngamuk lagi, oppung Dison kewalahan menghadapi nya, sudah banyak korban mulai dari bayi, anak-anak remaja bahkan yang sudah dewasa, sekarang kami semua warga Aek Holong mengungsikan di aula kecamatan mang."
"Ha..... kok bisa inang Uda."
"panjang ceritanya mang, kyak nya pulsa adek mu mau habis karena belum sempat dan tidak teringat untuk isi pulsa, tolong hubungi balik ya mang."
Seketika itu juga hubungan telepon terputus, segera ku ambil handphone ku, dan ku hubungi nomor yang tadi nelpon.
"halo inang Uda...."
"halo mang."
"kelanjutan cerita Inang Uda tadi gimana?."
"begini....
pihak Pemkab mengirim para peneliti ke desa Aek Simarmata, dan oppung Doli Dison sudah melarang nya, tapi mereka tidak mendengar kan nya, karena mereka tidak percaya hal-hal mistis mang."
"trus nasib para peneliti itu gimana inang Uda?"
"Dari 39 orang hanya satu mayat yang dicampakkan ke kampung kita mang."
"maksudnya inang Uda?"
"Mayat yang datang itu seperti korban Begu Ganjang pada umumnya mang, dan tiba-tiba saja terbang ke kampung mang tepat di halaman rumah oppung Dison."
__ADS_1
"trus inang Uda?"
"sejak saat itu bencana mulai datang, makanya ku suruh dulu oppung mu ke rumah kalian dan kami nyusul."
"cepat inang Uda datang ya, sekalian Uda pak Simon." (Uda pak Simon adalah adik sepupu Bapak)
"iya mang nanti inang Uda sampai kan, tapi mang, kami ngak berani lagi datang ke rumah, ongkos kami gimana?"
"inang Uda berikan dulu sama Sihar."
"oh bang Mora ....
ni aku Sihar, gimana ni bang?"
"Sihar .....
punya kartu ATM?"
"mamak kyak punya bang, bentar ya bang....
Mak..... sini dompet mamak.
ada ni bang, dan buku tabungan nya ada kok"
"disitu ada Mesin ATM?"
"ada bang"
"nanti kirim nomor rekening nya, biar Abang transfer ongkos kemari, jangan lupa ajak Uda Simon dan keluarga nya."
"iya Bang."
"sihar ......
oppung Dison ada disitu juga?"
"ada bang, mau ngomong sama oppung Dison?"
"coba berikan telepon nya"
Ternyata oppung dison mau bicara dengan ku, setelah aku ceritakan kalau keluarga pak Didit adalah waris pemuja Begu Ganjang,
Aku memohon ke oppung Dison untuk datang ke Medan, tetapi oppung Dison tidak mau, karna dia tidak mau meninggalkan warga nya.
oppung Dison memintaku untuk datang menghadap ke sana dan jangan dulu membawa keluarga pak Didit.
Setelah selesai bicara dengan oppung Dison, aku kirim uang melalui internet banking, ke nomor rekening nya inang Uda Mak Sihar, dan berharap mereka cepat datang ke Medan dengan selamat.
"Mora.....
apa yang kalian bicarakan tadi?"
Pak Didit bertanya tentang apa yang kami bicarakan di telpon bersama oppung Dison, tentunya pak Didit tidak mengerti karna kami bicara menggunakan bahasa Batak Toba.
"Gini pak...
Oppung Dison itu adalah keturunan oppung Poltak, seperti yang kita baca disurat itu pak."
"terus."
"jadi oppung Dison, Mora mintak datang kemari pak tapi di tolak nya, karena Oppung Doli Dison tidak mau meninggalkan warga nya. oppung Doli Dison adalah Pemangku Adat sehingga beliau harus bertanggung jawab terhadap warga Adat nya. dan Mora yang di minta untuk datang ke sana"
"bapak ikut ya Mora."
"kata oppung Dison jangan dulu pak, karna harus harus ada persiapan untuk menghadapi Begu Ganjang itu, untuk sementara bapak dan keluarga harus tetap tinggal di Medan."
"oh begitu ya Mora?"
"ya pak, oh ya keluarga pak deh bapak gimana?"
__ADS_1
"belum ada kabarnya Mora, telepon bapak ngak pernah diangkat Nya."
Seketika suasana hening lagi, hanya suara Joan yang sedang mengunyah cemilan yang terdengar.