KUTUKAN WARIS PEMUJA BEGU GANJANG

KUTUKAN WARIS PEMUJA BEGU GANJANG
Perjalanan ke Desa Aek Simarmata.


__ADS_3

Senyuman jelek dan menjengkelkan dari Joan membuat ku sedikit ilfill, memang begitulah Joan, yang kadang-kadang membuat orang-orang disekitarnya menjadi ilfill melihatnya tadi terkadang membuat kita kagum kepadanya.


"nanti jam empat sore, kita memulai masuk ke desa Aek Simarmata.


Nantinya pak Aris dan istrinya akan ditemani oleh Mora, sementara saya dan happung (pemangku adat) akan memantau kalian bertiga dari kejauhan.


Mora harus menuntun pak Aris dan istrinya, seperti yang ada dalam mimpi mu.


Untuk Aris dan adiknya, nantinya hanya sampai di pohon beringin itu, mereka berdua akan ditemani oleh Joan dan juga pak Mora ya.


Joan sudah mengetahui banyak hal tentang begu ganjang ini.


Saya mohon kepada Joan, pastikan kain putih itu jangan terlepas dari matanya."


Pak Sarma berhenti bicara, karena pemangku adat berbisik kepadanya.


Setelah selesai berbisik, pak Sarma memperhatikan sekeliling kami.


"jadi begini, tadi saya berkata jam empat sore akan kita laksanakan.


Itu karena disini, pas pukul empat Sore. maka akan kabut hitam, lalu tidak berapa lama kemudian berangsur-angsur menjadi kabut putih yang tidak terlalu tebal.


Setelah sudah kabut putih nantinya, maka kita akan memulainya untuk masuk ke desa Aek Simarmata."


Seketika pak Sarma berhenti bicara, karena tiba-tiba saja kabut hitam memenuhi tempat ini, dan begitu senyap seketika.


Tidak ada suara yang terdengar, setidaknya ada suara jangkrik, tapi ini benar-benar hening.


"bolo dung sae samon nabirong on, borhat ma hamu amang."


(jika awan hitam ini sudah berlalu, maka berangkatlah kalian ke desa Aek Simarmata).


Suara itu bergema di antara keheningan ini, kepada siapa saya bertanya?


Tidak seorangpun yang bisa aku lihat keberadaan nya saat ini, tempat ini seperti ruang hampa yang gelap tanpa suara apapun.


Suara aneh barusan yang bergema telah lenyap, suasana kembali hening tanpa cahaya.


Entah berapa lama kabut tebal nan hitam itu, kini berangsur-angsur menjadi kabut putih.


"togu ma amang pinoppar hi dohot inatta nai, borhat ma hamu jala tangihon ma nahupasahat na salpi i, dang naipe dohot di parnipion mu amang."


(tuntun keturunan itu serta istrinya, pergilah ke desa Aek Simarmata. ingatlah nasihatku yang sudah aku sampaikan barusan, serta nasihat melalui mimpi mu).


Suara itu lagi yang bergema yang memenuhi tempat ini, dan aku melihat pak Didit bersama istrinya.


Lalu aku menuntun mereka berdua untuk bangkit berdiri, setelah kami bertiga berdiri dengan berpegangan tangan.

__ADS_1


Barulah terlihat Joan yang memegang tangan kanan Iren, sementara Aris dipegang oleh bapak.


Kini kabut hitam itu sudah digantikan dengan kabut putih yang tidak terlalu tebal, perlahan-lahan kami berjalan ke arah belakang rumah pemangku adat.


Sesuai dengan mimpiku, dibelakang rumah ini ada setapak jalan dan kami bertujuh berjalan menelusuri setapak jalan itu.


"jangan melihat ke belakang, apapun yang terjadi jangan lihat kebelakang."


"siap bang Mora, tolong jaga amangboru dan bou ketika di pondok itu ya."


"iya Joan, dan tolong pastikan. Aris dan Iren tidak melepaskan kain putih penutup mata mereka sampai kami selesai di pondok itu."


"siap bang Mora."


Kami terus menelusuri jalan yang penuh semak belukar, dan akhirnya kabut putih sudah menghilang.


hahahaha........ hahahaha........ Hahahaha........


hahahaha........ hahahaha........ Hahahaha........


Hahahaha........ hahahaha........ Hahahaha........


"konsentrasi, dan jangan melihat kebelakang."


Kembali aku ingatkan kepada kami semua untuk tidak melihat kebelakang, karena suara tawa dari laki-laki yang menggema.


"tolong...... tolong...... tolong......."


"ada mintak tolong itu? kita tolong yuk."


"jangan bu, itu bukan manusia. karena warga desa Aek Holong tidak akan berani masuk ke desa ini.


Tetap waspada dan jangan melihat kebelakang, jangan melakukan apapun."


Kemudian kami melanjutkan perjalanan, lalu kami berhenti karena melihat pak Sarma, pemangku adat serta istrinya yang membawa bakul di kepalanya.


"junjung ma appang si opat sogi on inang, ngolat ni on ma naboi hudongani nasida. jala bahen ma on ditonga-tonga ni jabu-jabu ni oppung ni gelleng mu."


(taruh lah bakul segi empat ini di atas kepala mu nak, sampai disinilah saya bisa menemanimu. taruh lah bakul ini di tengah-tengah pondok itu).


Kepala kerbau yang bertanduk, yang sudah dipersiapkan sebelumnya.


Lalu Istri pemangku adat menaruh bakul segi empat itu kepala bu Rida, lalu melilitkan kain putih di pinggang bu Rida.


Hal yang membuat ku kaget adalah kehadiran mereka bertiga di depan kami, padahal dari tadi aku tidak melihat mereka bertiga lewat.


Atau apakah mereka bertiga sudah jalan lebih dahulu?

__ADS_1


Saya memperhatikan mereka bertiga, mulai dari kaki hingga kepala.


Kaki mereka bertiga masih menapak tanah, itu artinya mereka bertiga adalah manusia.


"mulak ma inang, manat-manat hamu. sae ma nian nabarnit on. las ro ma si palasniroha."


(sekarang saya akan pulang, hati-hati kalian ya. mudah-mudahan penderitaan cepat berakhir dan semoga kebahagiaan yang selalu menghampiri kita.)


Setelah mengatakan demikian, lalu istri pemangku adat pergi.


Kemudian pemangku adat dan pak Sarma masuk ke arah hutan dari sisi kanan kami, sementara kami bertujuh masih terdiam di tempat ini.


"kapan mereka bertiga sampai disini ya? padahal dari tadi bapak ngak melihat mereka lewat."


"mereka bertiga sudah duluan ke sini amangboru, ketika kabut hitam memenuhi desa Aek Holong."


Pertanyaan dari pak Didit yang dijawab oleh Joan, yang membuat ku lega.


Saya pikir mereka bertiga bisa menghilang seperti yang ada di film.


Kemudian kami lanjutkan perjalanan, baru beberapa langkah dan kami harus berhenti karena ada beberapa ayam hitam yang lewat.


Ayam hitam yang banyak, seperti hewan yang melakukan trasmigrasi karena suatu hal.


ah .........akh.........


Pak Didit dan bu Rida terkejut, begitu juga denganku. karena mata ayam-ayam hitam itu sangat menyeramkan.


Terlihat semua biji mata ayam-ayam itu merah, paruhnya agak lebih panjang dari paruh ayam yang biasa.


"tenang.....


itu hanya ayam, jangan menyentuh ayam nya dan jangan melakukan apapun."


Hahahaha........ hahahaha........ Hahahaha........


Hahahaha........ Hahahaha........ Hahahaha........


Terdengar suara tertawa yang sangat melengking dan memekakkan telinga, tapi terlihat bu Rida tidak mendengar nya, karena bu Rida terlihat santai.


"jalan terus dan jangan pedulikan apapun yang terjadi."


Itulah yang aku ucapkan dan kemudian berjalan.


Kemudian kami harus berhenti lagi, karena sepasang kakek nenek berhenti dihadapan kami.


"tudia hamu? di julu maponggol jombatan, dang boi hamu lewat. eta ma tu sopo-sopo ku hita maradi, tokkin nai ro nama udan."

__ADS_1


(kemana kalian? jembatan yang didepan sudah putus, ayo ke pondok ku istrihat, karena bentar lagi hujan).


Mendengar ucapan dari nenek itu, langsung teringat akan mimpiku.


__ADS_2