
POV Pak Didit.
Jam 6 pagi Mora dan adik nya Cahaya serta Mamaknya Mora, sudah tiba di Apertemen untuk menjemput keluarga pak Didit untuk pergi ke pasar tempat pak Deh nya berjualan.
Berhubung Rohani dan Tarni, serta Bu Rida sudah selesai masak sarapan, akhirnya mereka terlebih dahulu sarapan.
Awalnya Pak Didit tidak tau kalau punya pak deh di Medan, dulu Bapaknya hanya menyampaikan kalau pak Didit masih punya pak deh di Medan, apakah dari pihak ibu atau pihak bapak sungguh beliau tidak tau.
Sisilah keluarga tidak pernah di ketahui nya, bukan karena tidak ingin tau, tapi atok Tarno selalu melarang Bapaknya untuk menceritakan sisilah keluarga.
Rahasia apa dibalik semua ini?, dan pak deh juga tidak mau diajak ngobrol, ada apa dengan keluarga pak Deh ini.
Itulah yang ada dalam pak Didit, dan hal ini menjadi perhatian Mora karena melihat pak Didit seperti melamun.
"pak, pelan-pelan kita cari tahu ya pak. bapak harus kuat demi kami semua, dan bapak harus tahu kalau saya, anak yang bapak anggap sebagai anak pertama akan selalu bersama bapak untuk menghadapi masalah ini."
Akhirnya pak Didit tersenyum kembali seolah-olah semangat nya sudah utuh seperti sediakala.
Setelah selesai sarapan saatnya pergi ke pasar, tempat pak deh berjualan. pak Didit bersama Mora, istrinya, Rohani, Cahaya dan Tarni yang ikut ke pasar. sementara Aris dan Iren mengikuti Joan untuk jalan-jalan seperti yang disepakati semalam saat di rumah Mora.
Hanya butuh waktu 15 menit dengan mengendarai mobil, akhirnya sudah sampai di pasar tempat berjualan pak deh, sebuah ruko besar dengan segala kebutuhan pakaian dalam wanita terpajang dengan rapi.
Hanya pak Didit dan Mora yang masuk, sementara yang lain berbelanja disekitar nya, dan itu semua adalah ide Mora, karena Mora tidak mau keluarganya trauma lagi saat di usir nantinya.
"pak deh....." ujar pak Didit menyapa pak Deh.
"Didit...
ngapain kamu ke sini?"
Pak deh sangat terkejut melihat kedatangan pak Didit bersama Mora, begitu juga dengan Mama nya, raut wajah kedua nya sangat tidak bersahabat.
"Sudah ku bilang jangan pernah temui kami, keluarga mu itu pembawa sial?"
Ujar ibunya pak Deh dengan raut wajahnya yang penuh amarah.
"Bu keluarga ku tidak pembawa sial, saya datang kemari untuk bicara dengan pak Deh ku"
__ADS_1
"Kamu tidak punya pak Deh lagi, sekarang kamu pergi, kehadiran mu petaka bagi keluarga ku.
pergi... pergi..... pergi......"
Kedua kali nya Mama nya pak deh mengusir pak Deh, ada apa gerangan? kenapa ibu itu selalu mengusir pak Deh.
Karena tidak ingin menjadi masalah besar dan malu di lihat oleh lain, Mora menuntun ku untuk keluar dari ruko itu.
Mora akhirnya mengajak pak Didit pulang akan tetapi karna Rohani ingin makan mie ayam, akhirnya mereka singgah di warung tidak jauh dari ruko tempat jualan pak Deh.
Setelah mie ayam itu tersaji berikut dengan teh tanpa gula, terlihat pak Didit tidak selera makan, beliau hanya menghargai yang lainnya.
"Bapak Aris sudah lah, jangan terlalu di pikirkan lagi, besok kan Senin Mora dan bapak nya serta Tulang nya akan berangkat ke desa Aek Holong, untuk mencari tau bagaimana caranya mengakhiri semua ini"
Ujar Mamaknya Mora, karena melihat pak Didit yang terdiam saja.
"iya Pak..
seperti Mora bilang, kita akan sama-sama menyelesaikan nya, jika bapak bersedih terus gimana dengan ibu, Mora dan Adek-adek pak?
bapak harus kuat ya."
"pak Kita kan keluarga, jadi sudah seharusnya salin bantu."
"pak cobain deh mie ayam nya enak kok, dan ini adalah mie Ter enak di Medan."
Pak Didit Akhirnya makan mie ayamnya, pak Didit kemudian menatap Mora yang selalu memberi nya semangat dan kekuatan baru.
Mora yang sudah dianggap anak pertama bagi keluarga pak Didit, beliau merasa tenang saat Mora berada disininya.
Setelah selesai makan mie ayam, mereka berencana untuk pulang, dan lagi-lagi Rohani mengajak kami pasar buah, Mora hanya mengelus dada, dan mereka semua hanya mengikuti nya, setelah selesai ke pasar buah kemudian Rohani mengiring Mora ke toko boneka, sebenarnya hanya Rohani, dan Tarni yang antusias.
Setelah barang bawaan penuh, baru lah Rohani berhenti menarik-narik Mora untuk berbelanja.
Akhirnya mereka pun sampai di rumah Mora, dan calon mertua Mora, mamanya Rohani menyajikan kami teh manis dingin, orang Medan menyebut nya, "Mandi" manis dingin.
Mereka semua makan siang, dan terakhir mereka beristirahat sementara, hanya pak Didit dan Mora yang tidak mandi siang.
__ADS_1
Sudah menjelang sore, Joan, Aris dan Iren belum juga nyampe di rumah. setelah beberapa lama menunggu akhirnya Joan dengan banyak barang di tangan nya datang sembari tersenyum sumiringah.
"Joan, itu apaan yang ko bawa? banyak kali?" tanya Rohani ke adiknya itu.
"inilah loh, bang Aris membelinya untuk Joan, ada PS 4, jaket terbaru, sepatu, dan mickropon yang sangat bagus."
"kurang ajar ko ya, bisa-bisanya ko memanfaatkan orang lain demi kemauan mu sendiri."
Rohani geram dengan tingkah Adek nya itu, dan berusaha mencubit nya tapi keburu di lerai oleh mamak nya.
"kak Ani, itu memang Aris yang membelikan untuk Joan. kami satu harian sudah di temani oleh Joan untuk membuat kami refreshing.
itu hanya ucapan terimakasih buat Joan, lagian itu barang-barang yang di butuhkan Joan kak, kecuali PS 4 itu."
Lagi-lagi Rohani masih terlihat dan hendak mencubit Joan Adiknya, tapi di cegah oleh Mora.
Joan masih terlihat sibuk dengan barang-barang yang baru dibeli, sementara Rohani masih terlihat kesal.
"bang Mora, dapat informasi apa?" tanya bapak nya Mora.
"ngak ada pak e, kami malah di usir lagi. benar kata Joan. keluarga itu sangat aneh."
"tadi kak Ani dan kak Cahaya ngak buat masalah kan Bang?"
"ngak Joan."
"bagus lah, terus rencananya gimana? oppung Doli jangan diam aja, ngobrol dong!"
"bolo songoni tu Huta ma lao, songon tona ni Oppung Doli Dison."
(kalau begitu pergi kalian ke desa Aek Holong, seperti yang dikatakan oleh Oppung Doli Dison).
"oppung Doli ngak usah ikut, disini aja temani kami."
Oppung Doli Saur hanya mengangguk setuju, dan sesaat kemudian mereka terdiam.
"jadi kapan bang Mora berangkat ke desa angker itu bang?"
__ADS_1
Pertanyaan Joan membubarkan lamunan mereka, dan Mora kemudian menoleh ke arah Joan.
Bapaknya Mora kemudian berdiri dan tidak berapa lama datang menghampiri mereka semua dengan membawa tas Mora.